
Rutinitasnya mengelilingi ruangan perpus ini hanyalah untuk bertemu dengan Kevan, kakel idamannya. Kara takan pernah ingin di ganggu oleh teman-temannya.
Hari ini, sudah sekitar lima menit Kara mondar mandir bermaksud untuk bertemu dengan Kevan walaupun tak ada obrolan di antara keduanya.
Kara berdecak sebal, pikirnya Kevan takan datang ke perpus untuk hari ini. Tapi nyatanya dia salah, saat ingin ke luar dari perpus Kara bungkam terdiam di tempat dan dengan sengaja ia memutar balik menuju dalam perpus.
Kevan yang melihat hal itu bingung, menaikan satu alisnya. Dengan ringan langkah ia memasuki perpus itu dan mulai mencari buku yang ia dinginkan. Kara merasa malu, jantung nya berdetak cepat seperti sedang lari jauh saja.
Di sela-sela buku itu Kara bisa melihat garis wajah Kevan. Kara tersenyum, bahagia bisa melihat hal itu. Buku yang di pegang oleh Kevan tak sengaja terjatuh, membuat Kara kaget.
Kevan menunduk mengambil bukunya, tapi tak juga kunjung berdiri. Hal itu membuat Kara bertandatanya. Ia berjalan sedikit ke kiri tapi matanya masih fokus ke sela-sela buku rak.
Seseorang menepuk pundaknya, tepukan pertama di tepis oleh Kara dan begitu pula yang ke dua. Saat tepukan ke tiga, baru lah Kara berdecak kesal melihat siapa yang mengganggu dia.
Bukan menggerutu melainkan Kara melotot dan malu. Ia menunduk dan mengetus dalam hati.
Astaga Kara, bikin malu aja lu.
Batinnya masih menunduk.
Kevan yang melihat hal itu hanya mendengus.
"Curi-curi pandang?" Tanya Kevan tampak mengejek. Kara mendongak dan menjawab, "Eh, ka...kak ke pedean. Siapa juga yang curi-curi pandang." Jawab Kara terbata.
__ADS_1
"Oh bukan yah, trus tadi siapa yang ngeliatin gue dari sela-sela rak buku?"
Ngeselin, bikin malu aja,
Umpat Kara dalam hati.
"Dih, gak ada yang ngeliatin kakak." Kara tak juga mengaku masih membela diri. Kevan hanya tersenyum tipis lalu menarik Kara ke bangku perpus.
Hal itu membuat Kara membelalak, memberontak percuma saja. Genggaman Kevan sedikit kuat.
Kevan mendudukan Kara di sampingnya.
"Kak, apa-apaan sih?" Tanya Kara sedikit menutupi wajahnya. Soalnya para murid yang ada di perpus memerhatikan mereka. "Disini lo bebas mandangin gue, gak perlu dari sela-sela rak buku kaya tadi." Ucap Kevan, tapi matanya fokus ke buku yang ia baca.
Asal lo tau, gue lebih bahagia dari pada lo.
Batin Kevan, ia juga mengukir senyum tipis.
Tak ada percakapan dari keduanya saling membaca buku dan saling melirik satu sama lain. Intinya tak ada yang fokus saat membaca buku itu. Hingga bel pun berbunyi membuat keduanya terasa canggung.
"Udah bel," gumam Kara.
"Hm, iya. Gak masuk kelas?" Tanya Kevan. Kara menggangguk lalu melambaikan tangannya kepada Kevan. Dan hanya di balas dengan senyum.
__ADS_1
Seperginya Kara, baru lah Kevan bisa bernapas legah. Jantungnya yang awalnya berdetak cepat, kini sudah tak lagi. Kalau di ingat, Kevan tampak malu pada saat itu. Kevan tertawa sambil menggeleng kan kepala nya lalu pergi keluar dari perpus itu.
****
Matematika adalah pelajaran yang tak di sukai oleh empat sekawan ini. Apa lagi Kara dan Ara, masuk kanan keluar kiri.
Dan yah, apa lagi yang harus di lakukan tak mengerjakan tugas dan catatan bolong banyak. Mereka harus rela di hukum panas-panasan dan menghormat bendera. Rasanya malu, sangat malu.
"Lo si Rose biasanya mau ngerjain tugas, sekarang udah engggak." Katus Ara menoleh ke kanannya. "Lho kok gue, kan gue juga gak paham sama matem." Cibirnya.
"Nah mbak Kara nih yang salah. Mbak Kara kan rajin tuh ke perpus ketemu Ka Kevan kenapa enggak minta ajarin." Sambar Hera menoleh ke samping kirinya. "Gue juga yang salah. Jelas-jelas gue tu gak pernah paham sama matem." Dengusnya memalas. Mereka hanya cengingiran.
Baru dua menit menghormat, rasanya sangat lelah, mata mereka mulai liar. Apakah Pak Sam melihat mereka atau tidak. Tapi ada yang janggal saat Kara melihat ke sudut koperasi, di situ ada Kevan yang memperhatikannya.
Kevan bisa melihat bahwa Kara melihat kearahnya. Kevan menggeleng rasanya tak percaya Kara akan di hukum. Kara menunduk lalu melihat ke posisi Kevan, yang tengah tersenyum padanya. Rasanya, senyuman itu sebuah penyemangat bagi Kara.
Lima menit sudah berlalu, mereka di ijinkan untuk kembali mengikuti pelajaran berikutnya. Rasanya lega, akhirnya bisa duduk. Saat Kara merogo laci mejanya, ada sebotol air minum dan secarik kertas.
Lain kali, jangan sampai di hukum lagi. Semangat belajarnya :')
Dua kalimat yang membuat Kara ngefly, ia tau pasti itu dari Kevan. Tapi, bagaimana Kevan meletakannya di sana? Entah lah, pikir Kara.
Cukup dengan interaksi diam dan saling memandang satu sama lain, mereka paham apa yang ada di pikiran masing-masing.
__ADS_1
________________________