
________________________
Happy Reading
_________________________
"Percaya gak? Kalo hari ini kita tutup lebih awal?" Kedua gadis itu berdiri sambil melipat tangannya di dada. Salah satu gadis itu sedikit tersenyum, belakangan ini restoran nya di banjiri pelanggan.
"Ya bagus deh kalo gitu."
"Jalan yuk." Ucap gadis yang rambutnya ia biarkan terurai. "Maaf ni yah, sebelum nya, tapi gue gak bisa. Ada janji sama pacar." Gadis itu tersenyum tiga jari. Ia mengangguk paham.
****
Ternyata, berjalan di dunia sendirian itu tak semenakutkan yang ku kira.
Batin gadis itu menyedu kopi dingin nya. Ia berjalan tak tau arah, intinya ia hanya ingin menghirup udara segar.
Entah kenapa, kaki Hera membawanya ke tempat di mana ia merasakan Cinta, Cinta pertamanya. Sekolah itu sunyi sebab hari ini libur. Hera melihat ke pos tempat di mana dulu ia menunggu Kleon untuk meminta maaf. Ia tersenyum getir, mengingat kejadian itu. Hera sengaja mendudukan dirinya di depan pagar hitam itu.
"Lucu ya kalo ngingatnya, dulu kita di hukum dan di jemur depan pagar. Kalian ingat kan." Hera bicara sendiri. Setetes air mata membasahi pipinya dan dengan cepat ia menghapus air mata itu. "Ngapain gue nangis, gak guna." Ia berdiri dari duduknya berjalan menuju belakang sekolah.
Sama, tetap sama, pintu belakang sekolah itu belum juga di perbaiki. Hanya di tutup dengan kayu saja. Hera pun masuk ke perkarangan sekolahnya dulu. Ia berlari kencang menuju pohon besar yang di belakang sekolah.
"Ara, Roseta, selalu di hukum nyapu ni sampah. Kenapa enggak mereka aja yang jadi pembersih sekolah." Lagi dan lagi ia berbicara angan dirinya sendiri.
Kini Hera memasuki area kelas. Ia melewati perpustakaan. Tempat di mana Kevan dan Kara menghabiskan waktu berdua saat jam istirahat. Lalu ia melewati ruang olahraga, ingat, sangat ingat. Kleon dan Revan sangat suka bermain basket berdua di sini. Yang Hera lakukan hanya mengelus pintu ruangan itu.
Kaki nya berhenti di lorong menuju kantin. Tempat di mana ia mulai merasakan Cinta pandangan pertama kepada Kleon dan Arta. Di tempat ini lah Hera bertengkar dan mulai di musuhi oleh Elora, hanya karna pacarnya di pandang.
Tangisnya kini sudah terisak mengingat kejadian yang kini tinggal kenangan. Hera lari ingin pergi ke rooftop tapi, ia terhenti di tangga, tempat di mana Arta memeluknya sebelum ijin darinya. Soal hadiah yang Arta berikan, Hera masih menyimpan semua itu dengan aman.
Langkahnya menelan hingga ia berhenti di ruang musik. Ia masih menangis bahkan rasanya air mata itu tak ingin berhenti. Hera terjatuh, kini ia terduduk di lantai sembari memandangi pintu di depannya.
"Hera inget banget, dulu kak Kleon nyanyiin Hera lagu. Hera kangen sama kak Kleon." Isakan itu semakin menjadi-jadi. Ia menenggelamkan wajahnya di tepak tangannya. Di sekolah itu, hanya ada dia sendiri.
__ADS_1
Ia turun menuju jalur tangga ke rooftop yang lumayan dekat dari toilet perempuan. Dan, ia kembali berhenti melangkah.
Ingatan itu kembali terlintas, bagaimana paniknya Kleon menyelamatkan nya di dalam toilet yang terkunci ini sebab Elora. Kleon bagaikan monster saat itu, ia juga panik. Dan Kleon juga yang menggendong nya ke UKS.
"Ternyata, walau pun kalian gak sini. Kalian masih ada di mana-mana."
****
Kini Hera sudah berada di rooftop, perlahan kakinya melangkah menuju pinggiran dinding. Ini tempat di mana Kleon mengungkapkan perasaannya dan tempat di mana Hera menerima Kleon sebagai pacarnya.
Hera tersenyum di balik tangisannya.
"Kalian di mana?!"
"Kenapa kalian gampang gelupain semua ini? Sedangkan gue enggak?"
"Kalian gak ada niatan balik lagi?" Hera terdiam sebentar.
"Gu... gue bukan Hera yang dulu lagi."
"Jangan balik lagi ke kehidupan gue."
Setiap kalimat itu ia terikan seperti memaki seseorang. Kini tangisannya semakin menjadi-jadi. Hera tak bisa menahan semua ini lagi. Ia berusaha tegar, tapi sejujurnya ia lemah.
Ponsel Hera bergetar, ia mengambil ponselnya dari dalam saku dan melihat panggilan tak terjawab.
"Ngehalu gue, mana mungkin dia ngehubungin gue." Ucap Hera memasukan kembali ponselnya. Dan mengusap air matanya.
"Kalo mungkin gimana?"
Suara itu, membuat Hera membalikan badan nya. Terkejut, sangat terkejut. Mana mungkin, pikirnya.
"Ya tuhan, cobaan apa lagi ini. Tingkat halu gue tinggi." Hera menutup wajahnya kembali menangis lagi bahkan tangisan itu sangat kuat.
"Lo gak ngehalu." Kleon memeluk Hera yang masih menangis itu. Ternyata ini bukan mimpi atau halusinasi, ternyata ini sungguhan. Hera melepaskan pelukan itu dan menatap Kleon lekat. Selama 3 menit keduanya saling diam.
__ADS_1
"Udah, jangan nangis, masa gue salalu jadi alasan lo nangis." Kalimat itu bukan malah meredakan tangisan Hera tapi semakin mengencang. Hera memeluk Kleon.
"Kak Kleon jahat." Ucap nya di pelukan itu. "Gue punya alasan ngelakui semua ini Jen." Balas Kleon. Pelukan itu terurai. "Lo mau liat tempat rahasia?" Hera mengangguk dan Kleon mengajaknya di salah satu ruangan kecil di sudut rooftop bahkan pintu nya juga sama seperti dinding. Benar-benar rahasia.
Saat mereka masuk, Hera rasanya ingin mati saat itu juga. Ia sudah tak mampu untuk menangis hari ini. Di tambah, semua teman-teman nya ada di sana semua. Apa lagi latar ruangan itu di penuhi oleh foto-foto dalam berbagai karakter. Ternyata, ayah Kleon pemilik sekolah ini sebabnya ia selalu berada di rooftop.
"Kalian semua jahat. Ngejebak." Pekik Hera saat Kara, Ara dan Roseta berlari memeluknya. "Maafin kita Jen."
"Kenapa kalian ngelakuin ini semua? Tau gak, rasanya dunia ini sempit tanpa kalian. Bahkan gue ingin bunuh diri aja."
"Kita cuma mau lo gak jadi pengecut kalo sendiri Jen. Dan ini ide kita semua kok." Jelas Ara mengusap air mata Hera.
"Tapi gak kaya gini juga."
"Tapi dengan cara kaya gini lo jadi pemilik restoran yang terkenal sekarang ini kan. Kita bangga kok sama lo Jen."
Hera kembali memeluk teman-teman nya. Semua orang yang pernah dekat dengannya dulu ada di sana. Bahkan Elora and the geng juga ada di sana.
"Hera, maafin gue yang dulu jahat sama lo." Elora menghampiri nya. "Gue juga."Sambung Nitra. "Udah gue maafin kok." Hera mengangguk mantap.
Arta, Dyo, Alex, Revan, Kleon dan yang lainnya, Hera sangat bahagia ternyata ia dapat melihat mereka lagi. Pikirnya, ia akan hidup tanpa teman masa lalunya lagi ternyata salah. Ia mungkin akan lebih dekat dengan mereka semua.
Hari ini aku belajar, bahwa melupakan seseorang yang kita benci sekali pun sangat sulit. Dan aku belajar, bahwa terkadang kita harus lebih mandiri melakukan segala hal sendirian. Dan akhirnya aku sadar, sendiri itu tak seburuk yang ku kira.
__________________________
Annyeong Readers
Akhirnya siap juga bonus nya :')
Agak gak masuk akal ya?
Maaf maklum lah otak ku sedang angkal.
Tapi nikmatin ajaa
__ADS_1