
20:15
Ka Arta :*
Jen
Iya?
Sibuk gak?
Enggak, kenapa?
Mau jalan gak?
Hm boleh deh, bosen di rumah Kara sama yang lain pada main hp
Gue jemput yah
Oh yaudah
Melihat pesan terakhir itu, Hera bergegas merias wajahnya sedikit.
"Mau kemana Jen?" Tanya Roseta melihat Jennie berhias. "Mau keluar sama Ka Arta."
"Ciee, udah langsung punya doi buset dah." Sambung Ara menowel Hera.
"Paan dah? Toh Ka Arta kan juga dekat sama kita,"
Ya, belakangan ini mereka memang dekat dengan Arta dan juga Kevan karna Dyo. Terkadang mereka juga menghabiskan waktu bersama di kantin.
"Elleeh temen bisa jadi demen lho. Tia ti." Ucap Kara cemeeh.
"Bacot. Yaudah yuk temenin gue nunggu di depan." Yah biasa tanpa ada penolakan, semua ikut menemani Hera menunggu Arta.
"Lho, mau kemana Jen? " Tanya Bibi Hera yang menghampirinya.
"Mau keluar bentar Bi, sama temen."
__ADS_1
"Yaudah, hati-hati ya jangan pulang kemaleman." Hera membalas dengan mengangguk.
"Eh itu mobil Arta bukan sih?" - Ara.
"Iya tuh, yaudah sana ." Hera pun melangkah menuju mobil Arta.
"Lama yah nungguinnya?" Tanya Hera masuk ke dalam mobil itu.
"Enggak kok, santai aja." Balasnya santai.
"Kita mau kemana nih?" - Hera.
"Mau lo?"
"Pasar malam yah." Saran Hera girang. Sudah lama rasanya dia tidak ke pasar malam.
"Rame banget Jen, tadi gue lewat padat banget."
"Ya gak papa, gue lebih suka tempat yang rame."
"Yaudah, gue ngikut kata lo aja dah."
•
•
•
"Waah udah lama banget gue gak ke pasar malam." Hera terkagum senang sekaligus sedih, terakhir kali dia kesini yah saat umurnya 5thn bersama keluarganya.
"Lho, kok malah sedih Jen?"
"Hm.. gak papa kak." Jawab nya tersenyum.
"Yaudah yuk kita mau main apa?" - Arta.
"Gak main apa-apa." - Hera.
__ADS_1
"Trus kita ngapain di sini?" Tanya Arta yang tak paham maksud Hera.
"Cuma mau buat gue nyaman doang Kak." Jelas Hera tapi Arta tetap tak mengerti maksudnya apa.
"Yaudah deh serah. Lo mau beli popcorn atau gulali?"
"Gulali." Jawab Hera girang.
"Tunggu di sini yah gue beliin." Saat Arta hendak melangkah Hera menahan lengannya.
"Gue ikut,"
"Gak usah lo tunggu aja di sini."
"Gak kak, gue ikut yah." Tanpa ada penolakan Arta pun mengiyakannya.
"Nih," Arta memberikan gulali pink itu kepada Hera.
"Lho cuma satu? Buat lo?"
"Enggak, buat lo aja." Senyumnya manis.
Mereka hanya berjalan-jalan di pasar malam ini. Dan tanpa sadar, Hera dan Arta terpisah kerna ramai nya orang. Kini jantung Hera sudah tak terkendali. Napasnya juga tak beraturan. Dia takut, walau pun banyak orang tapi dia tak mengenal satu pun.
"Kak Arta, lo di mana..?" Hera sedikit mengeraskan suaranya dan mencari kesana kemari keberadaan Arta. Tapi tetap saja dia tidak menemukan Arta karna di sana memang sangat padat.
"Kak, gue takut. Lo dimana?" Tempat itu rasanya hanya dia sendiri air matanya mengalir tangannya sudah menutupi telinganya. Takut, sangat takut.
"Ma... Mama... Tolongin Hera." Gumamnya.
"Jen," Hera membuka matanya melihat Arta yang menepuk pundaknya. Refleks Hera langsung memeluk Arta karna dia takut.
"Jen lo kenapa?" Tanya Artayang tak paham dengan Hera.
"Lo dari mana?" Hera melepaskan pelukannya. Dia masih menangis.
"Maaf Jen, tadi rame banget. Lo udah jalan lebih dulu gue juga nyariin lo kok." Jelas Arta.
__ADS_1
"Gue takut kak," Hera menunduk. Yah dia masih menangis. Arta mengusap air mata Hera.
"Kita pulang yah, pengang tangan gue." Arta memegang tangan Hera dan tak ada penolakan darinya.