
_________________
HAPPY READING
____________________
Entah aura apa yang membuat Ara ingin sendirian, untuk hari ini. Di halaman belakang sekolah, ia duduk di bawah pohon besar yang pernah ia bersihkan bersama Roseta. Rasanya tak ingin di ganggu bahkan Hera dengan yang lainnya pun tak di bolehkan ikut bersamanya.
Disini, ia bisa merasakan udara angin yang bertiup sepoi-sepoi. Tiba-tiba pikirannya terlintas dengan sesosok pria, yang membuatnya salting sejak pertama masuk sekolah di SMK Terlatih ini.
Sudah lama rasa nya, Ara tidak menstalking pria itu, atau lebih di kenal dengan sebutan Alex. Padahal, Alex bukan siapa-siapa Ara tapi rasa itu yang datang dengan sendiri nya. Ara merogo kantong rok nya mengambil benda pipih yang berwarna pink itu. Jari jemarinya lihai mengetik nama akun Alex.
Menyandarkan punggungnya di pohon, mencari tempat nyaman. Satu persatu memperhatikan foto Alex, terseyum sendiri seperti orang gila.
Saat melihat Snapgram Alex yang sudah lama tidak ia lihat itu lagi. Terkejut saat snapgram terakhir Alex. Tampak di situ seperti dirinya. Seorang gadis yang duduk di bawah pohon sambil memainkan ponsel dan terseyum sendiri melihat ponselnya.
Sontak itu membuat Ara terkejut, melihat sekeliling ya tapi tak ada siapa pun. Tapi, matanya tertuju ke salah satu bangku dekat pagar sekolah. Alex? Pikirnya.
Ara memerhatikan dengan sak sama, apakah benar itu Alex atau tidak. Tapi, saat ia melihat waktu snapgram itu di buat ternyata baru 7 menit yang lalu.
Pria yang duduk itu berdiri menghampirinya, saat dekat ia melambaikan tangannya. Ternyata benar, itu Alex. Batinnya.
"Sendirian aja?" Tanya Alex, duduk di samping Ara. Sontak itu membuatnya kaget dengan buru-buru Ara mengeluarkan pencarian nya.
"Eh, iya kak." Jawabnya kikuk.
Astagaaa mimpi apa gue kemarin, kak Alex ngedeketin.
Batin Ara senyam senyum.
"Lho, kok senyum-senyum?" Tanya Alex lagi mengerutkan dahinya. "Gak papa kak. Ternyata di lihat dari dekat, kak Alex gemesin." Ucapan terakhir Ara membuat Alex ikut tertawa. Aneh, banginya.
"Ada-ada aja, lo orang pertama bilang gue gemesin." Balas Alex. "Dih, serasa spesial." Ucap Ara salah tingkah.
"Btw, lo tau nama gue, tapi gue gak tau nama lo. Nama lo siapa?"
__ADS_1
"Panggil aja Ara kak." Lagi, Ara tersenyum tak menentu. Dan itu membuat Alex juga ikut tersenyum.
Rasanya Ara ingin Fly saat itu juga, Alex benar-benar menggoda. Beberapa kali Ara menunduk tersenyum. Seperti orang bodoh.
Ternyata, jika kita menjauh dia akan semakin mendekat.
Teringat snapgram Alex tadi dan Ara pun menanyakannya.
"Hm kak, yang di snap kakak tadi itu aku ya?" Alex diam sejenak.
"Menurut lo?" Ara hanya menganggukkan kepalanya. "Yaudah, berarti itu lo."
Ara kembali memalingkan wajahnya.
"Maksudnya apaan coba buat gituan, buat anak orang salting? Kuker astaga." Gumam Ara pelan. Tapi, karna di sana sepi jadi pelan pun Alex bisa mendengarnya.
"Bukan buat anak orang salting. Tapi, proses pendekatan." Balas Alex menjawab pertanyaan Ara. Dan itu membuat Ara membaling ke Alex membelalak, rasanya malu. Pipinya rasanya hangat, jantungnya semakin cepat berdebar.
Tingkahnya jadi tak terkendali dan itu membuat Alex tertawa melihatnya. Dan itu pun membuat Ara semakin malu.
"Katanya udah sans tapi kok gitu?" Tanya Alex menyudahi tawanya.
"Kakak terlalu menggemaskan." Jawabnya masih menutup wajahnya, tak berapa lama baru lah iya menatap Alex.
"Dari sisi mananya coba gue gemesin? Heran dah."
"Segalanya."
Begitu banyak hal garing dan receh yang mereka bahas. Sebenarnya semua hanya omong kosong saja tak ada faedahnya. Tapi, memiliki kenyamanan tersendiri bagi mereka. Sampai, bel masuk berbunyi mengakhiri obrolan unfaedah itu.
Satu hal yang mengejutkan baginya saat Alex mengajaknya untuk jalan nanti sore. Apa ini tidak terlalu cepat? Pikir Ara.
****
Ara sudah duduk manis menunggu Alex di halte dekat sekolah. Pakaian santai untuk sore hari dan make up yang simple, rambut tergurai dengan poni membuat Ara terlihat manis, tak berlebihan.
__ADS_1
Suara kelek son motor membuat Ara mendongak dari pandangannya di ponsel beralih ke sumber suara. Alex membuka kaca helmnya. Ara pun menghampiri Alex.
"Udah lama nunggu?" Tanya Alex.
"Enggak kok." Balas Ara.
Alex memberikan helm kepada Ara dan di terima Ara dengan senang hati.
"Maaf yah, kita naik motor mobil di bawa ayah." Ucap Alex sebelum Ara naik.
Tak masalah rambut nya akan rusak dan kusut asalkan ia bisa jalan-jalan dengan Alex. Karna, ini sebuah keajaiban, baginya.
Mereka berhenti di salah satu cafe. Ara turun dengan sendirinya memberikan helm itu kepada Alex lagi. Merekapun memasuki cafe itu, Ara hanya ingin eskrim untuk hari ini. Dengan senang hati Alex memesan pesanan Ara.
Tak butuh waktu lama, sebab hanya satu pesanan yang Alex pesan. Dan itu membuat Ara bingung.
"Lho, kok satu aja eskrimnya kak? Malah gedek lagi kaya semangka." Tanyanya tanpa ragu. Alex tersenyum tipis. "Gedek kan, jadi artinya satu untuk kita berdua." Balasnya. Ara tak ingin kejadian di halam belakang sekolah terulang lagi. Berusaha ia mengontrol bapernya.
"Kak, Ara mau nanya." Alex hanya menaikan alisnya. "Kenapa kakak gemesin?" Tanya Ara, pertanyaan yang bodoh.
"Karna, lo, "
Blus, dasar Alex kang gombal. Untung saja Ara tak meleleh di tempat. Ara hanya menunduk menahan senyum nya sedangkan Alex lagi-lagi menepuk kepalanya geram. Bahkan karna ia tak tahannya dengan Ara, ia mencubit pipi Ara yang bakpau.
"Pipi lo Ra, bakpau pengen di makan." Ucap Alex mencubit pipi Ara. Yang di cubit yah cuma bisa diem.
Mereka hanya menghabiskan waktu di cafe itu. Memang, bagi kalian tak ada yang spesial tapi bagi mereka itu sudah cukup untuk di anggap spesial.
_____________________
Annyeong Readers :)
Khusus Ara sama Alex nih :')
THANKS VOTE AND COMMEN :)
__ADS_1