
Apa kau pri mimpi? Jika tidak, kenapa kau selalu
menghampiri mimpiku?
______________________
Happy Reading :)
__________________________
Sepulang dari pasar malam itu, Hera masih merasa takut. Ini sangat sulit rasanya untuk mengendalikan ketakutannya. Kara dan yang lain sangat senantiasa menemani Hera seperti biasanya sampai ia tertidur pulas.
***
Bulan malam yang terang telah berganti menjadi Mentari pagi yang masih malu untuk menampakkan wujudnya. Hera terbangun temannya masih tidur. Ia berinisiatif membangunkan mereka. Ia perlahan berjalanlah menuju sudut ruangan lalu berteriak.
"Kebakaraaaaaan....!!!" Teriakannya berhasil membuat mereka semua terbangun. Rasanya puas bisa mengerjai temannya. Mereka terbangun dengan terkejut, sedangkan Hera masih tertawa lebar atas yang ia lakukan.
"Sumpah lo ya Jen, ngeselin." Timpal Kara kesal. "Hahaha... gak lucu tau gak?" Sambung Ara menggertak. "Gue kira beneran kebakaran, kan gue belum nerima kak Revian." Lanjut Rose yang masih memegang jantungnya karna terkejut.
"Hedeh, dasar ni anak. Mangkanya buruan lo terima, awas nyesel." Balas Hera berjalan ke kamar mandi di ikuti Kara yang langsung berlari.
Pagi ini adalah hal yang menyenangkan bagi mereka. Pertama, Rose berangkat dengan Revan dan ke dua Dyo, Arta, dan juga Kevan datang menjemput mereka dalam satu mobil.
"Aduh, so sweet gitu yah liat si Rose sama Kak Revian. Pergi ke sekolah berduan." Ujar Kara mengepal tangannya berharap itu menjadi kenyataan untuk nya.
"Elleh bilang aja lo kode sama kak Kevan." Sambung Ara melirik Kevan yang berdiri di dekat mobil memasukan tangan ke sakunya. Kara juga melihat Kevan yang memerhatikannya, ia tersenyum salah tingkah.
"Alah, lo ngiri yah Ra? Mentang-mentang gak ada kak Alex lo ngibulin orang." Balas Hera terkekeh. Ara juga ikut terkekeh menutupi wajahnya dengan rambutnya.
"Kalian masih mau gosip di sini, apa mau ke sekolah nih?" Ujar Dyo menghampiri para gadis yang bergosip. "Eh, iya kak, " Mereka pun masuk ke mobil Dyo dan menancap gas menuju sekolah.
Sesampainya di sekolah, mereka seakan menjadi pusat perhatian. Termasuk Roseta dan Revian. Ada yang acuh tak acuh dengan itu dan ada yang marah dan tidak setuju dengan hubungan mereka termasuk Nitra.
Nitra dan teman-temannya yang sedang duduk di bangku taman memerhatikan kejadian pagi ini.
"Dih, itu adek kelas keganjetan banget deh. Sok cantik." Ketus Nitra yang menatap senis keduanya. Sebuah mobil pun menjadi pusat perhatian mereka juga. Itu mobil yang di tumpangi Hera fan temannya.
__ADS_1
"Kayanya mereka harus di kasi pelajaran deh, biar sadar mereka tu siapa." Timbal Elora melipat tangan di dadanya. "Siapa dulu nih, yang mau kita kerjain?" Tanya Nitra. Elora tampak berpikir, tatapannya terfokus ke Hera. "Hera." Nitra mengangguk paham, sedangkan Giara hanya ikut-ikutan saja.
***
Jam pelajaran pertama sudah selesai dan berlanjut ke jam pelajaran dua dan tiga. Hera dan Kara mengganti pakaian mereka ke toilet.
"Jen, lo udah siap belum?" Tanya Kara yang keluar dari bilik toilet.
"Belum,"
"Gue nunggu di luar, bisa kan?"
"yaudah, gak apa-apa."
Kara pun keluar dari toilet itu, sebelum keluar iya menata rambutnya agar rapi.
Kini Kara sudah berada di luar toilet. Ana, anak kelas mereka juga ada di sana. Ana berjalan menghampiri Kara.
"Kar, gue bisa minta tolong gak?"
"Gue dapet nih, tolong beliin pembalut dong Kar." Pintanya. Kara berpikir, jika ia meninggalkan Hera maka ia akan takut. Tapi, ada Ana di sini.
"Yaudah deh, lo temenin Hera yah."
Ana mengangguk, lalu Kara pergi ke koprasi sekolah.
Toilet saat ini sepi, karna masih di waktu jam pelajaran dan mereka yang terakhir menganti pakaian. Tiga orang gadis datang menghampiri Ana.
"Udah, sana lo pergi. Kerjaan lo udah Bagus." Ucap gadis itu. Ana pun pergi.
"Kar, lo masih di luar kan? Gue udah siap kok." Itu suara Hera, ia berjalan menuju ambang pintu yang tertutup. Tapi, saat iya membukanya pintu itu terkunci entah siapa yang menguncinya.
"Kar, lo jangan becanda dong." Hera berusaha membuka pintu itu tapi nihil pintunya tak bisa kebuka. Hera mulai takut, rasanya di dalam itu sesak. Tubuh nya gemetar dan kakinya rasanya tak sanggup untuk berdiri.
Iya terjatuh kelantai, menagis, memeluk kakinya sendiri dan terus menerus memanggil Kara serta ibunya. Tak ada satu pun orang yang datang ke toilet itu, sebabnya di pintu tertulis 'Toilet Rusak'
Di sisi lain. Ana menghampiri Kara dan mengatakan bahwa dia sudah memakai pembalut milik temannya. Ana juga mengatakan bahwa Hera sudah di lapangan bersama yang lain. Dan apa yang harus Kara lakukan? Ia juga menyusul yang lain ke lapangan.
__ADS_1
Tapi, saat Kara sampai di lapangan Hera tidak ada di sana.
"Kar, Hera mana?" Tanya Ara yang berlari menghampiri Kara. "Lho, tadi kata Ana, Hera udah ngumpul sama kalian." Balas Kara paning.
"Gak ada," sambung Rose. Jadi, Ana berbohong kepadanya dan Hera masih di Toilet? Mereka semua bergegas lari ke toilet.
****
Hera masih memeluk lututnya sambil menangis dan memanggil Kara serta yang lainnya. Sesekali ia juga mencoba membuka pintu. Tapi, sama sekali tak ada yang merespon usahanya itu. Ini sangat sepi, baginya. Rasanya iya ingin pingsan, ingin menangis sekuat nya atau pun menjerit.
"Tolong! Siapa pun," teriaknya dari dalam, suaranya gemetaran akibat rasa takut dan tangisannya. Iya berusaha berdiri, tapi tetap jatuh juga. Sekali lagi iya meminta tolong. Syukurlah ada respon dari luar.
"Ada orang di dalam?" Tanya pria itu sambil mengetuk pintu toilet itu. Hera bisa mendengar suara itu, sangat jelas. Iya hanya diam, hanya tangisan yang terdengar. Rasanya tak sanggup lagi untuk berkata. Pria itu juga mulai panik.
"Pintunya gue dobrak, siapa pun di dalam tolong agak jauh dari pintu." Pinta pria itu. Hera menggeserkan tubuhnya sedikit menjauh dari pintu.
Pria itu berusaha membuka pintunya, lagi dan lagi. Tiba-tiba Kara dan yang lain datang.
"Hera di dalam, tolong bukain." Pinta Ara sambil menangis membuat pria itu kaget. Mendengar nama Hera, iya kembali dengan gigih membuka pintu itu.
Mendobrak pintu dengan tubuhnya, tapi tak juga terbuka. Kini amarahnya mulai memanas, dengan kesal iya menendang pintu itu dan berhasil terbuka.
Hera terkejut karena benturan pintu dan dinding iti sangat kuat. Dan sontak itu membuatnya mendongak melihat siapa yang membuka pintunya. Hera senang, ternyata orang-orang yang ia kenal bisa ia lihat kembali.
Pria itu berjalan menghampiri nya, lalu berjongkok di depannya. Hera masih menangis dan takut, bahkan saat pria itu ingin memegangnya, Hera menunduk dan menyudutkan dirinya.
"Lo gak papa kan?" Hera mengenal suara yang familiar di telinganya. Pria itu perlahan menyentuh mengelus kepalanya. Hera semakin menangis hingga senggukan.
"Aku takut," suara pelan itu hanya di dengar oleh pria itu. Iya mengelus kepala Hera lagi. Hera mendongak ingin melihat siapa pria itu, karna iya tak begitu jelas melihat wajahnya.
"Kak, Kleon?!"
__________________
Vote and comment guys :)
Thanks reading ;)
__ADS_1