Dont Leave Alone(Taenie)

Dont Leave Alone(Taenie)
Dibalik segalanya


__ADS_3

Happy Reading :')


________________________


Hari ini, segala masalah soal terkuncinya Hera di toilet telah terpecahkan siapa pelakunya. Dan ternyata, memang Elora dan geng nya yang melakukan hal itu, seperti yang di katakan Ara kepada Kara lewat pesan beberapa hari yang lalu.


Elora dan teman-teman nya pun di skor, tapi, bukan Elora namanya jika tidak bisa membayar segalanya dengan uang. Lebih tepatnya uang orang tuanya. Elora dan geng nya memang kaya dan angkuh di sekolah ini. Seorang guru bisa ia buat bungkam dan membalikan fakta dengan uang nya.


Ya seperti sekarang, awalnya kepala sekolah melaporkan Elora dan geng nya akan di skor selama satu minggu. Tapi, sekarang sudah mengatakan ini bukan urusan yang besar untuk apa mereka di skor, mungkin ini salah pintu toilet yang sudah rusak.


Terkadang, dunia begitu tidak adil. Lebih tertarik kepada harta di banding ke adilan.


****


"Kenapa sih, orang kaya selalu menang? Kesel gue lama-lama." Ketus Ara memaki sendiri. Bukan hanya dia yang sebal yang lain pun juga sama dengan nya. Hera hanya diam, sebanarnya ini juga tidak adil baginya, tapi dia hanya bungkam.


"Jen, lo jangan diem aja dong, marah kek." Ketus Roseta menatap kesal Hera yang diam sambil meminum jusnya.


"Percuma kan gue marah-marah gak jelas tapi, ujung-ujungnya mereka enggak di hukum juga." Balas Hera datar. Mereka terdiam, yang di katakan Hera memang benar.


Mereka diam sembari menikmati makanan yang di pesan. Tapi, suara riuh membuat, mereka menoleh apa yang terjadi. Dan ternyata, Elo and the geng sedang menuju kantin yang penghuninya kebanyakan adik kelas.


"Tumben, ngapain tuh hama ke kanti sini, biasanya juga di kantin sebelah." Timpul Ara. "Kita ikutin aja alur main mereka." Sambung Kara.


Elora and the geng berjalan menghampiri meja Hera and the frends. Dan itu membuat, mereka mengerutkan kening bingung.


"Boleh gabung?" Tanya Nitra sedikit lebih lembut. Entah apa lah maksud mereka ini, seperti yang di katakan Kara, mengikuti alur main mereka.


Setelah itu mungkin Hera and the friends mungkin juga akan bertindak. Dan akan kah terjadi peoerangan nantinya? Ah kita tunggu saja alurnya.


Hera mengiyakan ucapan Nitra tadi dan mereka pun duduk di bangku itu. Semua murid di sana saling bisik berbisik.


Tau gak, mereka kakel yang nyeremin.


Dan mereka tu juga udah ngurung si Hera di toilet.


Tega baget kan.

__ADS_1


Gue bersyukur kak Kleon mutusin mak lampir kaya dia.


Berarti ada luang doang buat kita.


Hahaa suka bener lo.


Kata terakhir yang Elora dengan membuatnya marah, dengan kuat ia memukul meja kantin.


Praaakkk...


Semua murid menoleh.


"Jadi, kita mau pesan apa?" Tanya nya melirik teman nya. Semua tampak kaget, dan mengelus dada mereka. Hera hanya mendengus, rasanya hari ini dia hanya ingin bersantai. Sendiri.


Tapi, karna phobia ini dia tak bisa untuk berada di suatu tempat seorang diri. Itu adalah hal yang ia benci.


"Gue mau somay sama lemon tea." - Nitra.


"Gue sama aja deh." Balas Giara.


Awalnya mereka kira Elora lah yang akan memesan makanan mereka tapi, salah, dia menyuruh adik kelas untuk memesan makanan mereka dan adik kelas itu juga lah yang mengantar kan pesanan mereka.


"Kalian mau ngangguin kita lagi?" Tanya Ara amarah. Elora mendongak. "Lo gak punya mata? Kita lagi makan, gak gangguin elo." Ketusnya.


Hera berdiri dari duduk nya. "Kelas yuk, gerah lama-lama di sini." Ucapnya melirik teman-teman nya. Ara mendengus kesal dan ikut berdiri.


"Gak sopan." Gumam Elora.


"Ngacadeh, pantes gak lo di sopanin?" Ucap Kara sebelum mereka pergi meninggalkan Elora and the geng.


****


Rooftop


"Kar, gue jahat yah?" Tanya Hera yang berdiri di depan Kara. "Maksud lo?" Tanya Kara tak paham.


"Maksudnya, kenapa Elora benci banget sama gue. Sementara gue tu gak ada salah apa-apa sama dia." Linang air matanya. Kara bisa lihat itu dengan jelas saat dia maju di samping Hera.

__ADS_1


"Dia cuma iri sama lo." Kara menepuk pundak Hera.


"Tapi, kenapa harus gue?" Setetes air matanya jatuh. Kara tak menjawab ia membiarkan Hera memaki dengan sendiri.


"Dan kenapa gue harus punya phobia kaya gini Kar. Gue pengen, gak nyusahin orang, gak harus nungguin gue ini itu. Terkadang, gue benci hidup." Kini Hera sudah menangis, mengeluarkan semua kesalnya yang selama ini. Sedangkan Kara mundur, membiarkan Hera yang tampak tertekan.


"Lo gak boleh nyalahin hidup lo. Lo harus tetap semangat Jen, jangan lemah."


"Sebenarnya gue lemah, tapi berusaha tegar. Dan, itu, melelahkan Kar."


"Kalo nangis buat lo tenang, nangis sepuas lo."


Ternyata bukan hanya ada Hera dan Karai sana, ternyata ada seseorang yang memerhatikan mereka sedari tadi. Orang itu, hanya diam, bungkam. Dan orang itu adalah Kleon. Kenapa, setiap kali Hera memiliki masalah Kleon selalu ada?


Selangkah demi selangkah, Kleon berjalan memukul bahu Kara pelan. Membuat gadis itu terkejut. Kleon merintahkan Kara untuk pergi, biar dia yang menemani Hera.


"Udah nangisnya?" Hera langsung membalik karna suara Kara tiba-tiba berubah menjadi pria. Tidak lucukan kalo Kara menirukan suara pria.


"Kak Kleon,"


kejutnya lalu menghapus air mata yang membasahi pipinya. Kleon maju selangkah agar lebih dekat. Selangkah, lagi, lagi dan lagi. Dan kini tubuhnya telah memeluk tubuh Hera. Hera memblalak tak mengerti.


"Gue mau jadi orang pertama yang nenangin lo saat nangis." Bisik Kleon di pelukan itu. Hera tak membalas pelukan Kleon melainkan diam mematung.


Perlahan pelukan itu terurai. Kleon mengusap air mata yang tersisa di pipi Hera.


"Jen, salah gak kalo gue suka sama lo?"


Duk....


_________________________


Masih ada yang baca gak?


Jangan bosan-bosan yah :'D


Thanks

__ADS_1


Vote + komen+like


Byyy


__ADS_2