
_________________________
Happy Reading
_________________________
"Hera kangen sama kakak." Ucapnya To the poin memasang wajah sedihnya. Ingin rasanya ia memeluk Arta saat itu juga dan ingin rasanya ia menangis.
Arta tersenyum mencubit pelan pipi Hera yang mengembung. Pasalnya, Arta tak ada kabar selama kepergiannya izin tak sekolah dan medsosnya juga tak ada kabar dari sana.
Dan apa kalian tau, setiap malam Hera selalu memerhatikan foto Arta berharap saat tidur ia memimpikan Arta.
"Kakak kemana aja?" Tanya Hera cemberut. "Ada urusan keluarga Jen. Kan liburnya juga cuma 2 hari." Jawab Arta santai sesantainya.
"2 hari? Kakak ninggalin aku selama 48 jam dan itu lama kak." Ketus Hera mencibir dan itu rasanya ia ingin menonjok Arta saat itu juga. Tapi sayang, nanti Arta bonyok.
"Maaf Jen," Arta menundukkan kepalanya, Hera mendengus kesal. Padahal mereka tidak memiliki hubungan tapi, Hera sangat merindukan Arta.
"Buat lo." Arta menyodorkan paperbag dengan ukuran sedang berwarna putih yang isinya hanya baru Arta saja yang tau. Dengan senang hati Jennie menerima pemberian Arta.
"Ini apa kak?" Tanya Hera mengintip isinya tapi dengan cepat Arta menutup atas paperbag tersebut. "Liatnya di rumah aja yah." Kata Arta. Hera mengangguk paham.
Kedua nya saling diam, Hera berdiri lebih pendek satu tangga di banding Arta. Hera menunduk, kikuk memainkan kakinya. Dari keduanya tak ada yang ingin pergi masih mematung tidak jelas.
"Jen, gue juga kangen sama lo." Arta turun selangkah tepat di mana Hera berdiri dan saat mengatakan kalimat tadi Arta langsung memeluk Hera membuat gadis itu terkejut.
Arta memeluk erat Hera rasanya tak ingin melepaskan gadis itu. Gadis yang hanya baru beberapa minggu dekat dengannya dan gadis yang sudah mencuri perhatiannya.
Hera membalas pelukan itu, ia tersenyum di balik pelukan. Pelukan itu terurai saat suara deheman mengganggu mereka.
"Ehem,"
Mereka menoleh dan ternyata itu adalah Kleon, yang sedari tadi memperhatikan obrolan singkat mereka.
"udah? Jangan lama-lama meluknya, ada hati yang harus dijaga." Kleon melangkah menghampiri Hera dan Arta. Hera hanya diam memerhatikan Kleon lalu Arta.
"Ternyata, selama gue libur banyak perubahan yah dari lo Jen. Gue dukung apa pun yang buat lo senang." Arta menepuk pundak Hera sengulas senyum tipis lalu melangkah lebih dulu keruangan musik. Sebenarnya Arta tau apa maksud dari ucapan Kleon tadi dan dia memutuskan untuk pergi.
"Kok diam?" Tanya Kleon menatap Hera yang menunduk. "Jangan marah." Gumamnya. "Gak marah."
"Tapi?"
__ADS_1
"Gak ada tapi."
"Tu kan kak Kleon marah." Cibirnya menatapa Kleon yang juga memperhatikannya. "Gue gak marah, asal kan lo bisa jaga hati dan perasaan gue." Kleon menepuk-nepuk kepala Hera lalu pergi lebih dulu ke ruangan musik.
****
"Lo jadian sama kak Kleon?" Sedari tadi hanya pertanyaan itu saja yang di lontarkan ke tiga temannya ini tanpa enggan untuk ia jawab.
"Lo lupa cara ngomong yah Jen?"
"Sariawan mungkin."
"Bibir pecah-pecah."
"Minum larutan penyegar."
"Malah iklan."
Mereka saling tertawa satu sama lain dan begitu juga Hera. Kara tak henti-hentinya tertawa, hal sepele sangat lucu baginya. Humor Kara receh.
Jawab dong Jen, biasanya juga cerita sama kita ya gak guys?" Mereka mengangguk mengiyakan ucapan Roseta.
"Kalo gue jawab enggak, kalian bacot. Kalo gue jawab iya, malah lebih." Ucap Hera memainkan ponselnya.
Saat Kleon menarik paksa keluar Hera mereka sudah berbincang ini itu soal Hera dan Kleon. Ternyata, Kara benar bahwa Kleon telah resmi menjadi kekasih Hera.
"Bacot lu mbak tua,"
"Dih, kok gitu. Sesuai taruhannya gak mau tau." Tegas Kara menekan ucapnya.
"Kalian buat gue jadi bahan taruhan? Tega kalian tega." Dramatis si Hera yang takut di introgasi lagi.
"Jen gak mau tau traktir kita besok. " Sambung Roseta. "Gak ada traktiran, kaya anak-anak aja." Ucapnya mengunyah cemilan yang didepan mata.
"Oke kita gak mau banyak tanya ato banyak permintaan. Cuma satu pertanyaan."
"Katanya gak mau nanya, tuh ada satu pertanyaan. Apaan?" Tanya Hera pasrah. Rasanya ia sedang tak mood untuk berkelahi dengan mereka.
"Kangen kak Arta gak?" Tanya Ara membuat Hera bungkam. Heding seketika,
"Banget, tapi, gue gak salahkan ngerinduin olang lain sementara gue udah ada yang punya?" Hera kembali bertanya sedari tadi pikirannya di penuhi oleh kata rindu.
__ADS_1
"Gak salah sih, asalkan gak ngelewati batas." Ujar Kara.
Tiba-tiba Hera teringat akan sesuatu yang di berikan Arta untuknya tadi. Hera berdiri menuju meja belajarnya mengambil paperbag putih itu.
"Itu apaan?" Tanya Roseta. "Dari kak Arta."
"Widih, buka."
Ada kotak di sana, isinya, lipstik dan boneka. Boneka yang mirip dengan Hera. Comel.
Kagum, sangat kagum. Hera mengulas senyum lebarnya begitu pula yang lain colek - colekan melihat tingkah Hera.
Hera mengambil ponselnya yang berada di tempat tidurnya. Mencari nomor kontak yang ingin dia hubungi.
"Nelpon siapa?" Tanya Kara. "Mau nelpon kak Arta, mau bilang makasih."
"Helleh modus lu." Ledek Ara. Tapi di hiraukan Hera.
Panggilan di terima.
kak,
Kenapa?
Hm, makasih lagi ya kak.
Buat apa nih?
Buat lipstik sama bonekanya. Hera suka.
Sans aja Jen,
Tau aja kakak apa yang Hera suka.
Kan cewek, yah pasti suka pake lipstik lah boneka juga.
Kara, Ara dan Roseta tertawa mendengar pembicaraan kedua pasangan itu. Hera melirik sekilas teman nya memerintah kan untuk diam.
Pukul 22:30 panggilan berakhir, dan Hera pun langsung meletakan ponselnya tanpa melihat apa pun. Dan pergi tidur sesuai apa yang di perintahkan untuk Arta.
--------------------------
__ADS_1
Thank untuk kalian yang baca :')