
_________________________
Happay Reading
__________________________________
Malam ini, ternyata bukan hanya Kara yang tak ada di rumah tapi Hera juga ikut berkencan. Ternyata Kleon menjemputnya saat mobil Kevan pergi dari perkarangan rumah itu.
Kini Hera dan Kleon sudah berada di kafe, melakukan dinner :'D .
Dengan dua gelas minuman dan dua piring makanan pesanan mereka, itu sudah lebih dari cukup. Berbincang tentang sesuatu hal yang tak penting untuk dengar atau lebih tepatnya, garing.
"Habis ini mau ke mana?" Tanya Kleon saat selesai menelan makannya. "Terserah sih, tapi, Hera masih mau di sini." Jawabnya sedikit cengengesan. Kleon mengangguk paham.
Keduanya kembali asik dengan makanan nya. Kleon tampak ingin menanyakan sesuatu kepada Hera, tapi dia enggan untuk bertanya. Takut, jika pertanyaannya membuat sakit hati Hera atau pun membuat gadis itu tak nyaman.
Hera pun begitu memerhatikan gerak gerik Kleon yang tampak nya ingin bertanya sesuatu.
"Kakak kenapa?"
"Gapapa."
"Kok kaya bingun gitu?"
"Enggak ah."
"Jangan bilang kak Kleon mau ngelamar Hera?" Seketika reaksi Hera berubah menjadi kaget. "Dih, masih muda." Jawab Kleon datar.
"Gapapa, pernikahan dini."
"Pimikiran yang jauh." Decih Kleon tersenyum tipis.
"Ehe, Hera cuma becanda kak. Kakak mau nanya sesuatu yah? Keliatannya sih gitu. " Kata Hera membuat Kleon terdiam,
"Kalo iya, boleh?"
"Tentu." Hera mengangguk mantap. Membenarkan posisi duduk nya, tampak nya ia tak sabar mendengar pertanyaan dari Kleon. Kleon berdehem,
"Kenapa kamu suka tempat yang ramai?" Tanya Kleon satu napas, Hera sedikit terkejut dengan pertanyaan Kleon. Tapi, ia harus tampak biasa saja.
__ADS_1
"Karna, sesuatu yang ramai membuat ku nyaman." Jawab Hera tersenyum.
"Kok gitu? Seharusnya kamu lebih leluasa melakukan ini itu sendiri." Bantah Kleon.
"Hera beda sama yang lain,"
"Beda?"
"Penyakit Autophobia." Gumam Hera sedikit menunduk. "Takut akan kesendirian?" Kleon memastikan dan Hera hanya mengangguk.
Pantesan aja, kemana-mana selalu ada yang nemenin.
"Sejak?" Tanya Kleon lagi. Dasar, ternyata di balik coolnya Kleon juga kepoan.
"Sejak ayah membunuh ibu," Jawaban itu membuat Kleon terkejut, sedangkan Hera berusaha menahan tangisnya.
"saat ayah mengunci ku di lemari, saat ayah membuat ku pingsan di dalam sana. Dan, saat aku benar-benar di tinggal oleh seorang ibu. " Sambung Hera, tampaknya dia memang ingin menjelaskan semuanya kepada Kleon.
Kini, air matanya sudah tak tertahankan lagi. Jatuh tanpa seizinnya. Kleon memberikan tisu kepada Hera, ia mendongak.
"Maaf, seharusnya aku gak nanya."
Kini mereka di mobil Kleon.
"Di sini aja nangis nya, gak perlu malu."
****
Kini mobil itu sudah tak tampak lagi di taman itu. Kara hanya bisa diam sebelum Kevan berhenti di pinggir jalan. Kara yakin, pasti Kevan mengajaknya pergi karena wanita itu.
"Ngapain kabur? Itu Nayon kan sama anak nya?" Tanya Kara memiringkan badannya agar jelas melihat wajah Kevan. Yang di tanyain bungkam.
"Kak, jawab." Sambung Kara mencibir. Dengan tiba-tiba Kevan menghentikan mobilnya membuat Kara kaget.
"Astaga kak, jangan bunuh Kara dulu.
Amal belum banyak." Gerutu Kara memperbaiki rambutnya.
Tiba-tiba Kevan menakup wajah Kara membuat gadis itu membelalak. Ternyata, Kevan ahli dalam membuat seseorang terkejut. "Maaf, mungkin setiap pertanyaan itu gak akan ku jawab." Kata Kevan menatap Kara. Kini kening Kara sudah mengerut kesal. Ia melepaskan tangan Kevan dari pipinya.
__ADS_1
"Kok gitu? Setiap pertanyaan memiliki jawaban." Komentar Kara. "Tapi, untuk pertanyaan mu gak ada jawaban. Melainkan rahasia." Balas Kevan santai. Tapi Kara, masih kesal dengan itu.
"Rahasia? Baiklah, Kara kan cuma penguntit, buat apa tau rahasia seseorang. " Balas Kara dengan wajah memalasnya. Ia kembali duduk dengan benar dan menghadap ke jendela.
"Sebananya, Nayon bukan temen sekolah ku dulu, melainkan mantan pacar. Dan dia hamil di luar nikah saat masih pacaran dengan ku."
Mendengar itu, membuat Kara kembali mengarah ke Kevan mendengarkan kata setiap kata yang di lontarkan oleh Kevan.
"Trus, yang buat kamu kesal sama dia?"
"Semua Kenyataannya." Jawab Kevan singkat.
Dia pergi saat rasa ini mulai tumbuh untuknya.
Batin Kevan.
"Lalu, suami Nayon?"
"Apa urusan nya suami dia dengan ku."
"Pasti, semua itu yang ngebuat kamu lebih memilih di perpus kan?"
Kevan hanya mengangguk.
"Maaf yah, aku kepoin urusan pribadian kakak."
"Kamu penguntit plus kepoan." Balas Kevan tersenyum seadanya. Dan begitu pula Kara, kikuk dengan ucapan Kevan tadi.
****
Pasti baginya takut untuk sendirian, dia berbeda. Sebaiknya aku menemani nya, kemana pun itu.
___________
Jika dimasa lalu ia bahagia dengan Nayon, maka, di masa ini dan seterusnya aku akan membuatnya lebih bahagia dari masa lalunya.
_________________________
Annyeong chingu :')
__ADS_1
Thanks vote + komen