
"Shan..." seru Fahri yang menghampirinya dengan buket bunga yang ada di tanganya
"hai kak..." Jawab Shania melambai kearahnya
"maaf terlambat, baru selasai praktekku" keluh Fahri menyesal terlambat menghadiri wisuda Shania
"it's oke kak" ucap Shania dengan senyum cantik yang selalu membuat Fahri terpesona
"Om,Tante apa kabar?" sapa Fahri yang baru menyadari orang tua Shania berdiri tidak jauh dari mereka
"kabar baik nak Fahri" ucap ibu menerima uluran tangan Fahri yang hendak menjabatnya
"sudah selesai acaranya?aduh sayang sekali saya datangnya terlambat"ucap Fahri mencairkan suasana saat melihat tatapan Ayah kurang berkenan dengan kehadiranya
Ibu hanya menyambutnya dengan senyum
" Enggak apa-apa kak yang penting acaranya lancar,kakak masih bisa sempetin waktu kesini aku sudah sangat berterimaksih"
"Ayah,kita cari makan dulu ya" ajak ibu sembari diam diam mencubit pinggang pak Bram memberinya isyarat untuk mengiyakan ajakanya
Ayah mengangguk dengan senyum kecut yang terlihat sekali di paksakan,
Baik ibu maupun Shania merasa tidak enak dengan sikap ayah yang terlampau dingin setiap kali Fahri muncul, Ayah memang sejak awal tidak menyukai kedekatan antara Fahri dan Shania, karena beliau lebih suka melihat Shania bersanding dengan anak sahabatnya yang tidak lain adalah bos di kantor tempatnya bekerja, yakni Alex Hartanto.
"mari nak Fahri di nikmati makanannya" ucap ibu mepersilahkan begitu makanan yang mereka pesan selesai di sajikan
"iya tante, mari..." jawab Fahri sopan
"ayo kak," Shania menatapnya dengan senyum seakan memberinya isyarat untuk mengabaikan sikap acuh sang ayah
Mereka berempat menikmati makan bersama sebagai perayaan atas keberhasilan Shania menyelesaikan studynya hingga meraih gelar sarjana ekonomi, meski dengan banyak perjuangan dan drama selama menyusun skripsi. Tak bisa di pungkiri Fahri banyak berperan dalam membantu Shania menyelesaikan tugas tugas kuliahnya meski ia sendiri sedang di repotkan dengan berbagai kegiatan untuk menyelesaikan kuliah profesinya sebagai dokter.
" sekali lagi selamat ya Shan, sekarang sudah bergelar Shania Cahya Nadhifah sarjana ekonomi" ucap Fahri sedikit meledek
"ahk... Aapan si kak" pipi Shania memerah menahan malu
"kalau begitu saya permisi dulu Tante,Om" Ucap Fahri menyudahi pertemuan mereka siang ini
"kenapa buru buru sekali?" tanya ibu
"saya harus kembali ke Rumah sakit, lain waktu saya main ke rumah tante"
"baiklah, nak Fahri hati hati di jalan ya" pesan Ibu
"kakak hati hati ya" ucap Shania, Fahri mengangguk mengiyakan
"Om, saya permisi mau kembali ke Rumah sakit"
__ADS_1
"ya" ucap ayah singkat
Shania mengantar kepergian Fahri sampai lobi lestoran, ia berungkali memohon maaf atas sikap dingin sang Ayah, namun bagi Fahri sendiri sudah terbiasa menerima perlakuan seperti itu dari ayah Shania
Tak berselang lama setelah kepergian Fahri, Shania dan kedua orang tuanya pun meninggalkan lestoran tersebut untuk segera pulang, rasa lelah selama prosesi wisuda di tambah rasa kesal karena melihat sikap acuh sang Ayah membuat badan Shania terasa sakit dari ujung kaki hingga kepala
"Shan" panggil Ayah begitu membuka pintu rumah
"apa Yah?" tanya Shania menoleh ke arahnya
"ada bingkisan untukmu" ucap Ayah mengakat sekotak box besar yang di letakan begitu saja di depan pintu
"dari siapa Yah?" tanya Shania penasaran
"dari...." Ayah membolak balik kotak tersebut mencari nama pengirimnya
"dari pak Alex Hartanto, sahabat ayah" ucap Ayah
"apa isinya nak?" tanya ibu ikut penasaran
"buka di dalam saja ya buk"Shania memasuki rumah dan duduk di ruang tengah bersiap membuka bingkisanya
"waaaww....." ucap Shania kegirangan melihat hadiah yang di terimannya
"apa isinya?"
"sahabat Ayah benar benar baik ya"
Ayah hanya tersenyum bahagia melihat sang putri begitu senang mendapat hadiah dari sang sahabat atas wisudanya
"tapi yah...." Shania ragu ragu menyelesaikan kalimatnya
"kenapa Ayah begitu acuh terhadap kak Fahri? Dia itu banyak membantu menyelesaikan semua tugas tugas aku yah" tanya Shania akhinya memberanikan diri
"saat awal bertemu Ayah tidak sedingin ini terhadapnya kenapa sekarang Ayah terlihat begitu tidak menyukainya" lanjut Shania menuntut penjelasan
"ayah hanya tidak suka kamu punya hubungan lebih dengan Fahri, kalau sekedar berteman silahkan"
"tapi kenapa Yah? Dia baik,pintar dan yang jelas perduli sama aku"
"pokoknya Ayah tidak suka! Ayah kelak akan menikahkanmu dengan Agam" seru ayah meninggikan suaranya
"apa?!" Shania semakin terkejut mengetahui rencana sang Ayah
"Agam? Agam Hartanto?!" tanya Shania
"iya, anak sahabat Ayah"
__ADS_1
"laki laki dengan tempramen yang buruk itu?" wajah Shania memerah menahan amarahnya, berungkali mengusah wajah dengan kedua tanganya
"aku harap hanya bercanda soal ini"
"Shania, ayah bicara serius, kami sudah membicarakan mengenai pertunangan kalian setelah kamu selesai kuliah"
"apa apaan Ayah ini, Ayah ngga bisa dong memutuskan ini sesuai kehendak ayah sendiri tanpa membiacarakannya denganku, bukankah aku yang akan menjalaninya" Shania mulai terisak saat air mata tak bisa lagi di tahanya
"yah... " ucap Ibu mencoba menenangkan
"pokoknya keputusan Ayah sudah final, ayah hanya mau yang terbaik untukmu"
"Ayah tau kan bagaimana sikap Agam setiap kali kita bertemu? Dia tidak pernah menyukaiku" keluh Shania
Shania yang terlampau kesal pergi meninggalkan kedua orang tuanya begitu saja, ia enggan meneruskan perdebatan yang sudah jelas tidak akan ada kata sepakat. Ia memilih berdiam diri dikamarnya untuk mengurai kemarahannya karena dia tidak mau sampai melewati batas sopan santun kepada ayah.
"ayah ini benar benar dech" decak Shania kesal, ia berdiri mematung menatap ke arah luar jendela membiarkan wajahnya tersapu angin
"Shan...!" seru ibu tiba tiba mengaggetkan lamunan Shania yang mulai mereda kemarahanya
"Shania...tolong Ayah!" seru ibu lagi terdengar begitu panik menangan tangis
Shania bergegas berlari ke sumber suara dan betapa terkejutnya saat ia mendapati sang ayah terkapar di hadapannya
"Ayah...!"seru Shania kaget
"Ayah kenapa bu?"
"tadi Ayah tiba tiba pingsan saat kami sedang membicarakan masalah pernikahan kamu dengan Agam" jelas ibu
"kita bawa ke Rumah Sakit Bu" Shania mulai terisak meneteskan air mata. Ada sedikit rasa sesal di sudut hatinya mengingat kemarahannya kepada ayah beberapa waktu sebelumnya.
"mungkinkah karena perdebatan kami tadi?" gumam Shania dalam hati menatap sedih sang ayah
"maaf kan aku Ayah" gumamnya lagi
Ambulan tak berselang lama tiba di kediaman Shania, semua petugas bergegas memasang alat yang di perlukan sebagai bentuk pertolongan pertama untuk ayah. Ibu dan Shania menangis mendampingi sang ayah di dalam ambulan, mereka tak henti hentinya berdoa demi keselamatanya.
Sepuluh menit perjalanan mereka telah sampai ke IGD Rumah Sakit, di sana telah menunggu kedua adik Shania yang sebelumnya sudah di hubungi dan bergegas meluncur ke Rumah Sakit karena kebetulan ada di sekitar lokasi
Ayah langsung mendapatkan tindakan dari para medis yang bertugas, dokter dan para perawat keluar masuk ruang IGD entah apa yang mereka lalukan namun bagi Shania lorong ruang IGD itu seakan berubah menjadi gelap penuh kepanikan. Paramedis yang keluar masuk belum ada satupun yang bisa ia mintai jawab atas kondisi ayah, yang mereka katakan hanyalah "mohon bantu doa".
Hanya doa yang bisa Shania dan keluarga panjatkan, saat ini tangan Tuhan lah yang bekerja
"ya Tuhan, hamba mohon jagalah Ayah baik baik" pinta Shania dalam akhir sholatnya
kaka... di like ya di coment juga kkaka smua
__ADS_1