
"mas, kenapa belum pulang?" tulis Shania di apljkasi pesan yang hendak ia kirim namun ragu
Agam sudah lebih dari tiga hari tidak pulang ke rumah Shania, sudah jelas dia kerumah Jesica selama ini.
"mama papa sedang ada di rumah, aku harap hari ini kamu pulang mas" tulis Shania
"ya" jawab Agam tak berselang lama
Shania menatap layar ponsel lesu, ironis sekali.
"Shan, sedang apa?" tanya papa yang menghampiri Shania di teras belakang rumah
"pah" sapa Shania tersenyum
"Shania baru saja telfon mas Agam untuk segera pulang," jawab Shania
"tak perlu buru buru barangkali Agam memang sedang sibuk, papa mama hanya ingin berkunjung saja" ucap papa tanpa curiga kenapa sudah jam delapan malam Agam belum pulang
"tak apa pah, supaya kita bisa ngobrol bersama" sahut Shania
"baiklah" Papa tersenyum mandangi Shania
"bagaimama pernikahan kalian? apa kamu bahagia?" lanjut papa bertanya
Shania sejenak berpikir, pertanyaan itu seakan mata pisau yang siap melukai hatinya kembali.
"iya, Shania bahagia pa" jawab Shania dengan senyum kecut yang di paksakan
"kami baik baik saja, papa mama doain semoga kami selalu bisa melewati semuanya bersama" lanjut Shania menutupi kegelisahanya
"assalamualaikum pa" sapa Agam, terdengar suaranya dari ruang tv
"waalaikum salam" balas papa berjalan menghampiri Agam
Shania menatap pilu punggung ayah yang berjalan memebalakanginya, ia terdiam memilih tetap berdiri di tempatnya, menarik nafas berulang kali dan mencoba menghembuskanya perlahan, dadanya mulai sesak dan mata yang mulai berair mengingat semua yang ia alami selama pernikahan.
Pertanyaan papa "apakah kamu bahagia?" tiba tiba saja seakan menggema di kedua telinga yang begitu mengusiknya.
"Shan!" panggil Agan setengah berteriak membuyarkan lamunana Shania
"ya mas" jawab Shania kaget sehingga ia terhuyung hampir jatuh
"gam, bisakan lebih lembut?" tegur mama yang memperhatikan Shania
"kamu ngga apa apa nak?" tanya mama khawatir
"iya ma, Shania hanya sedikit pusing saja"
"sebaiknya kami istirahat"
"tak apa ma," Shania merangkul manja lengan mama menuntunnya duduk di ruang tv bersama papa dan Agam
Kini mereka berempat sedang santai sembari membicarakan hal hal sederhana tentang hari hari mereka, Shania dan Agam pun banyak berbohong menceritakan kehidupan pernikahan mereka yang tersirat sangat bahagia.
Shania beberapa kali tersenyum melihat keakraban mereka berempat, dalam hati Shania berdoa semoga kelak momen ini akan menjadi peristiwa yang membahagiakan baginya tanpa sandiwara, namun harapan itu pupus saat melihat Agam yang begitu lancar membicarakan pernikahan yang begitu indah, Shania berfikir mungkin Agam sedang menceritakan kehidupan pernikahannya dengan Jesica.
Di tengah canda tawa mereka bertiga, Shania termenung di sudut pikiranya sendiri, ia merasa suaminya semakin jauh dari jangkauanya. Mendengar cerita Agam yang antusias membagikan momen bahagia pernikahan kepada mama papa membuat Shania berkecil hati.
__ADS_1
"seindah itukah pernikahanmu dengam jesica mas?" batin Shania menatap suaminya lekat lekat
"sedang bagiku semua yang aku dengar darimu hanyalah sebuah cerita" gumam Shania
"pa, sebaiknya kita pulang, hari sudah malam" ajak mama
" lagi pula Shania dan Agam perlu istirahat, dan lagi Shania terlihat sedang kurang sehat" lanjut mama mengusap punggung tangan Shania sembari tersenyum penuh kasih sayang
"baiklah, kalau begitu kamu pulang dulu, lain kali kalian yang harus berkunjung ke rumah kami" sahut papa
"pasti pa, tunggu Shania sehat" jawab Agam begitu perhatian
"mama pulang ya nak, kamu sehat sehat" pesan mama sembari memeluk dan mencium pipi Shania, terlihat mama memang begitu menyayanginya
"iya ma, mama papa hati hati di jalan" ucap Shania mengantar kepergian orang tua mereka
"apa perlu drama seperti itu?!" bentak Agam tiba tiba setelah memastikan orangtuanya sudah pergi
"maksud kamu?"tanya Shania tak mengerti
"harus berlagak sakit? atau sengaja ingin mempelihatkan betapa buruknya pernikahan kita?" lanjut Akbar. Shania menghela nafasnya
"aku sedang tidak ingin bertengkar, oke?!"
"Shania!!" panggil Agam saat Shania hendak berlalu meninggalkanya
"jangan coba coba mempersulitku, kamu hanya istri yang aku pungut dari jalanan, aku berikan semua fasilitas dan uang yang bisa kamu habiskan tanpa batas bahkan aku berikan kamu kehormatan sebagai istri seorang Agam Hartanto, jadi tau dirilah!"
Suara Agam terdengar bak petir yang menggelegar di telinga Shania, begitu menggetarakan hati, menghujamnya meninggalkan luka.
Shania mengepalkan kedua tanganya, menahan amarah dan rasa sakitnya, ia berbalik menatap Agam dengan tangis yang tak bisa lagi ia sembunyikan
"aku memang gadis miskin, tapi aku perempuan yang menjaga kehormatanku sampai aku di minta oleh orang tuamu untuk di jadikan pendampingmu, beliualah yang meminta dari orangtuaku untuk mereka jadikan menantu" Shania memejamkan mata mencari kekuatan untuk melanjutkan kalimatnya
"aku memang istrimu mas, tapi bukan berarti aku bisa kamu injak injak semaumu, aku bertahan selama ini hanya karena orangtua kita, aku tidak gila akan hartamu seperti istri yang banggakan itu" lanjut Shania
"Shania!!" bentak Agam tak terima dengan perkataannya
"kenapa? kamu begitu marah saat aku mengusik Jesica?" Shania mengusap airmatnya
"aku juga istrimu mas, yang kamu pun punya kewajiban atas saya!"
"jangan mimpi!" Agam tersenyum menyeringai
Shania terdiam melihat respon Agam yang terlihat menghinanya
"apa kamu yakin Jesica adalah istri yang lebih baik dariku? yakinkah kamu dia juga menjaga kehormatanya sebaik aku?"
"Shania! jangan melewati batasmu!" bentak Agam sembari melempar vas bunga yang terbuat dari kaca
Prangg... vas itu pecah menjadi kepingan yang tak bisa lagi di satukan dan tanpa Shania sadari punggung kakinya tertancap pecahan kaca tersebut, darah mengucur namun Shania tak merasakan apapun. Saat ini hatinya lah yang terluka meski tak berdarah
"mbak..." bi Marni yang melihat kaki Shania berdarah berlari ke arahnya
"biyarkan saja bi!" perintah Shania
"tolong tinggalkan kami" lanjut Shania
__ADS_1
"tapi mbak sebaiknya di obati lebih dulu"
"aku bilang biayarkan saja, luka itu tak seberapa"
Agam diam menatap Shania yang berderai air mata, melihat kakinya yang sudah penuh dengan darah membuatnya sedikit melunak
"obati dulu kakimu"
"kenapa? kamu merasa kasihan padaku? apa aku sekarang terlihat begitu menyedihkan?" tanya Shania yang mulai menangis tersedu, bahkan sesekali ia menengadahkan kepalanya ke atas saat tangisnya tak bisa lagi ia kendalikan
"obati saja dulu!" bentak Agam
"bi Marni cepat ambilkan dia obat" perintah Agam
Shania terdiam saat bi Marni sibuk membersihkan luka di kakinya, luka itu cukup dalam namun Shania tak mengeluhkan sedikit pun.
"bi, terimakasih" ucap Shania beranjak meninggalkan ruang tv
"saya buat kan teh mbak" bi Marni menawarkan
"tidak perlu," sahut Shania singkat
Dengan tertatih Shania berjalan ke kamar melewati Agam yang masih duduk di sofa tidak jauh darinya, tanpa menatap Agam, ia berlalu begitu saja meski darah masih menetes dari kakinya.
Agam menatap Shania hingga tak terlihat ia memejamkan mata kemudian mengusap dahi dengan kedua tanganya
"tolong bereskan bi" ucap Agam pada bi Marni
"iya mas, mas Agam mau kemana?"
"mau cari angin sebentar"
"Agam..." panggil Bi marni terlihat serius.
Agam sudah ia anggap sebagai putranya sendiri karena bi Marnilah yang merawatnya sejak ia lahir, adakalanya Bi Marni akan memberi nasehat atau sekedar mendengar keluh kesah Agam.
Agam menoleh, ia tau apa yang akan bi Marni katakan
"iya bi, aku cuma di depan saja" jawab Agam bahkan sebelum bi Marni bicara
"Shania itu perempuan yang baik" ucap bi Marni
Agam tak menjawab ia hanya tersenyum meninggalkan bi Marni yang hendak membereskan pecahan kaca.
Agam menarik nafas, memejamkan mata, berdiam di bangku teras halaman rumahnya.
Memikirkan situasinya yang semakin hari semakin rumit.
"sayang, aku merindukanmu" pesan yang tertulis di layar ponselnya membuyarkan lamunan Agam
yah, pesan dari Jesica yang langsung bisa mengalihkan kembali perhatianya.
.....
..........
.................
__ADS_1
Happy readiing.