
Shania sekuat tenaga menahan airmata yang sudah memenuhi kelopak matanya memaksa ingin mengalir bebas, hatinya seperti di gores sembilu, tak bisa di jelaskan bagaimana perasaanya saat ini, memang benar pernikahan mereka tanpa cinta tapi mendengar kenyataan sang suami telah menikahi perempuan lain tetap saja itu melukai hati Shania.
Kran wastafel kamar mandi Shania nyalakan dengan sengaja, bahkan shower pun ia nyalakan meski airnya terbuang percuma, ia ingin menutupi tangis yang tak bisa lagi di tahanya. Tersedu duduk bersimpuh di lantai mendekap kedua kaki yang ia lipat tak perduli lagi meski kini pakaianya basah oleh air yang mengalir.
"ini menyakitkan" gumam Shania dalam hati
Keesokan harinya Shania terbangun saat mendengar alarm dari ponselnya tepat pukul setengah lima, sayup sayup terdengar suara adzan subuh yang baru saja selesai di kumandangkan, ia menggelihat meregangkan tubuh yang rasanya sakit semua seusai menangis berjam jam di kamar mandi.
Sejenak ia menatap Agam yang masih terlelap berbataskan guling di sampingnya, ia sedih mengingat kembali kalimat Agam kemarin.
"ternyata ini bukan mimpi" gumam Shania lesu
Shania beranjak dari tempat tidurnya, meraih jepit rambut di atas nakas berjalan sembari mengikat rambutnya ke atas, ia bergegas hendak sholat subuh kemudian menyiapkan sarapan untuk Agam.
Sepiring nasi goreng lengkap dengan ayam dan telur telah tersaji di meja makan bersanding dengan secangkir teh panas.
"mas, sarapanya sudah siap" ucap Shania saat melihat Agam sudah siap dengan pakaian kerjanya
"aku tidak selera makan" sahut Agam ketus
"setidaknya minum tehnya mas,"pinta Shania
"lain kali tidak perlu repot repot begini!"
Agam berlalu begitu saja tanpa menyentuh apapun yang di siapkan Shania. Shania pun hanya bisa menatao kepergianya dengan sedih, lagi lagi ia terluka.
"yang sabar ya mbak" ucap bi Marni yang sedari tadi melihat kejadian ini
Shania hanya membalasnya dengan tersenyum lalu berlalu meninggalkan dapur.
"mbak Shania tidak sarapan dulu?" tanya Bi Marni
"tidak bi, bibi makan saja nasi gorengnya" balas Shania tanpa menghentikan langkahnya
Shania kembali duduk di sudut ranjang menatap foto pernikah berukuran besar yang terpajang di dinding kamarnya. Melihat betapa cantik dan tampan merak berdua hari itu, bahkan dalam foto itu mereka berdua nampak tersenyum bahagia layaknya pasangan yang menikah.
"pernikahan seperti apa yang akan aku jalani ya Tuhan" gumam Shania sendu
"membayangkanya saja aku takut" lanjutnya
tok..tok...tok
"mbak Shania" panggil bi Marni dari balik pintu kamar
"iya Bi, ada apa?" sahut Shania
"ada tamu mbak, di bawah"
"cari saya atau mas Agam?"
"cari mbak Shania"
__ADS_1
"siapa ya Bi?"
"atau saya bilang saja mbak Shania tidak di rumah?" tawar Bi Mirna terlihat Khawatir
"tidak perlu, saya akan turun menemuinya"
"tapi mbak..." kalimat bi Marni terhenti
"siapa si Bi?" Shania penasaran karena Bi Marni terlihat tidak nyaman
"non Jesica" jawab Bibi singkat
Mendengar nama itu kembali mengguncang hati Shania, itu adalah Nama yang ia dengar semalam dari mulut suaminya.
"ngapain dia kesini?"
"kurang tahu mbak, atau saya suruh dia pergi?"
Shania berfikir sejenak sembari mengatur nafasnya kerena menahan marah
"saya akan menemuinya"
Wanita dengan tinggi kurang lebih seratus enam puluh senti meter, berbalutan dres warna merah marun dengan ramput hitam panjang yang ia biarkan terurai tengah duduk di ruang tamu menunggu Shania, tak jauh dari sana Shania tengah berdiam dirim memperhatikanya. Shania menarik nafasnya pajang mempersiapkan diri menemui perempuan yang menjadi madunya.
"ada yang bisa di bantu?" tanya Shania begitu menghampiri Jesica yang sedang asyik merokok
"owh... ini yang Shania" Jesica mematikan rokok dan berdiri berjalan mengelilingi Shania, matanya seakan menelanjangi Shania dari ujung ramput hingga kaki
"perkenalkan saya Je..si..ca" ucap Jesica mengulurkan tangan namun Shania abaikan
"perlu kamu tahu, bahwa saya juga istri Agam, bahkan kami melaksanakan pernikahan kami dua hari lebih dulu dari pernikahan kalian, dengan kata lain saya lah yang istri pertama, sedangkan kamu hanyalah istri kedua yang bahkan tidak dia inginkan"
Shania tetap diam berusaha mengendalikan kemarahannya.
"pernikahan kalian sebenarnya bukan masalah buat saya, karena Agam sudah jelas memilih saya hanya saja saya perlu mengingatkan kamu untuk tidak melewati batasanmu, jangan lupa bahwa kalian hanya terpaksa menikah!!" tegas Jesica
"oh ya? apa pernikahan kalian sah?" tanya Shania terkesan abai
"jelas pernikahan kami sah" sahut Jesica
"tapi jangan lupa Nona Jesica, pernikahan kalian tidak sah secara hukum bahkan pernikahan kalian harus di sembunyikan dari keluarga besar kami bukan? jadi apa kamu masih begitu yakin jika akhirnya pernikahan kalian yang akan bertahan?"
Jesica terlihat sangat marah mendengar kalimat Shania hingga tangannya melayangkan tamparan yang mendarat di pipi sebelah kiri Shania,
plaakk... bahkan suaranya saja terdengar menyakitkan
"non, jangan seperti ini" sela bi Marni menghalangi Jesica berbuat yang lebih buruk
"saya dan Agam telah bertahun tahun bersama, kami merencanakan tentang masa depan kami berdua namun semuanya berantakan saat kamu tiba tiba muncul menjadi penghalan bagi kami" teriak Jesic penuh kemarahan
"saya yang lebih dulu mencintai dia, kenapa kamu harus muncuk dan mengambil tempatku?!" lanjut Jesica melampiaskan kekesalanya
__ADS_1
"bi Marni, tolong bawa dia keluar dari rumah ini" pinta Shania yang tidak kuat lagi menahan tangisnya
"saya tidak rela jika kamu mengambil Agam dariku!" teriak Jesica saat bi Marni dan Pak satpam membawanya keluar dari rumah Shania
Seluruh badan Shania terasa tak bertulang,ia terduduk lemas di sofa setelah kepergian Jesica, benteng ketegaran yang ia pertahankan sedari tadi kini runtuh tak bersisa.
Mengetahui ada wanita lain yang terluka karena pernikahannya dengan Agam membuatnya meras bersalah namun apa yang bisa dia lakukan?
"mbak Shania baik baik saja?" tanya Bi Marni mengampiri
"tolong buatkan saya teh panas ya bi" pinta Shania
Sedetik kemudian Bi marni telah kembali menghampiri Shania yang masih berdiam diri di sofa ruang tamu sembari membawa apa yang Shania minta
"ini mbak Tehnya" ucap Bi Marni
"makasih ya bi"
"saya ambilkan salep ya mbak, itu masih merah sekali pipinya"
"tidak perlu bi, nanti membaik sendiri"
"tapi mbak..."
"tolong tinggalkan saya sendiri" sela Shania yang ingin menyendiri
Hari sudah menjelang maghrib saat Agam pulang bekerja dan mendapati Shania sibuk di dapur.
"sudah pulang mas?" sapa Shania sembari berlari kecil menghampiri Agam
"iya" jawab Agam singkat
"kamu mandi dulu, aku buatkan teh sebentar"
Agam tak menjawab hanya berlalu begitu saja menuju kamar mereka di lantai dua.
"mas," panggil Shania yang tidak mendapati Agam di kamarnya
"apa ini?" gumam Shania saat hendak meletakan secangkir teh di atas meja namun melihat sebuah kotak perhiasan berisi kalung lengkap dengan liontin yang sepertinya sengaja di biyarkan terbuka
Perlahan Shania meraihnya, mengambil kalung yang terselip di dalamya.
"Je..si..ca" gumam Shania mengeja nama yang tertuli sebagai liontin di kalung tersebut.
Tanpa sadar airmatanya menetes dengan sendirinya namun dengan segera ia mengusapnya saat mendengar pintu kamar mandi terbuka
"siapa yang mengijinkamu menyentuhnya!" bentak Agam. Shania terhentak mendenganya, ia menatap mata Agam yang di penuhi kemarahan
"maaf, aku hanya...."
"jangan pernah berani menyentuh barang barangku!" Bentak Agam menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
__ADS_1