
Karena tidak mengalami luka yang serius akhirnya Shania di ijinkan pulang setelah menghabiskan botol infus. Masih di temani bi Marnia ia bergegas memyelesaikan urusan administrasi Rumah Sakit, namum sesampainya di meja kasir ternyata semua tagihan biaya perawatan Shania telah di bayar lunas oleh Agam.
Shania tersenyum mendapati Agam tak melupakan kewajibanya sebagai suami.
"Sebenarnya saya malas pulang bi," gumam Shania
"Tapi mbak, kita harus pulang, Mas Agam sudah menunggu di depan."
"Mas Agam masih di sini? bukanya dia pulang?"
"Tadi saya yang telfon mengabari kalau mbak Shania tidak perlu rawat inap, dan tak berselang lama mas Agam bilang sudah menunggu di depan."
Shania kembali tersenyum mendengarnya
"Lain kali pakai supir saja, jangan bawa mobil sendiri." ucap Agam saat Shania sudah duduk di sampingnya
"Ngga perlu mas, aku masih bisa kemana mana sendiri, lagipula biasanya juga ngga ada masalah kan?"
"Kamu bilang ngga ada masalah? lantas yang baru saja terjadi itu apa?!"
"Ya karena lagi ...." Shania enggan melanjutkan kalimatnya karena ia tau ini tak akan ada akhirnya
"Kamu sudah pintar membalas ucapanku sekarang,"
"Ayolah mas, aku baru saja pulang dari rumah sakit setelah mengalami kecelakaan, tidak bisakah kamu berempati?"
Agam memandang Shania kesal, kemudian melajukan mobilnya dengan aman
"Lekas tidur!" perintah Agam begitu sampai rumah
"Lalu kamu mau kemana malam malam begini?" tanya Shania yang menyadari lima menit yang lalu ada pesan masuk dari Jesica di ponsel Agam
"Aku baru sakit tidak bisakah kamu di rumah?" Shania bertanya penuh harap
"Aku ada urusan sebentar."
Shania menelan salivanya, manarik nafas lalu membuangnya, ia tau harapannya tak akan terwujud karena pada dasarnya Jesica adalah prioritas Agam
Shania berlalu dari hadapan Agam tanpa mengucapkan satu kalimatpun, ia begitu lelah menjaga hatinya sendiri dari semua rasa sakit yang Agan timbulkan
"Aku hanya sebentar,"teriak Agam namun Shania abaikan
Dan benar saja, Agam bergegas menuju kediaman Jesica karena sebelumnya ia mendapat pesan jika Jesica pun sedang tak enak badan. Namun sesampainya di sana Jesica terlihat baik baik saja.
"Katanya demam? kenapa sibuk telfonan?" Agam mendengar Jesica sedang cekikikan berbincang dengan seseorang
"Sayang, akhirnya kamu datang?" sambut Jesica berusaha mengalihkan pembicaraan
"Aku cuma kangen saja sama kamu,"
"Jes, adakalanya kamu membuatku lelah." desah Agam frustasi
"Apa salahnya jika aku kangen sama suamiku?"
__ADS_1
"Tapi Shania itu sedang sakit!"
"Terus kenapa kalau dia sakit? ada bi Marni kan?"
"Aku ngga ngerti sama kamu!"
"Agam, aku ini istri kamu jadi..."
"Jesica!" bentak Agam
"Kamu juga harus ingat bahwa Shania itu juga istri sahku!"
"Owh. sejak kapan perempuan itu juga kamu anggap sebagai istri? apa kamu mulai tertarik?"
Jesica menangis mencoba menarik empati Agam
"Sudahlah! aku sedang tidak ingin berdebat, sebaiknya aku pulang."
"Nggak! kamu nggak boleh pulang!"
"Jes, aku mohon mengertilah," pinta Agam sembari melepas tangan Jesica yang terus memegangi lengannya
Agam berlalu meninggalkan Jesica yang menangis histeris, Jesica merasa Agam akan lepas kendali, ia takut Agam mulai perhatian kepada Shania dan jelas itu tidak baik untuk keberadaanya
"Kamu pulang mas?" sambut Shania
"Kenapa belum tidur?"
"Sedang menunggumu,"
"Aku hanya berusaha melaksanakan apa yang menjadi tugasku,"
"Sudah makan? mau aku siapkan?"
"Tidak perlu kamu juga baru sakit kan?"
"Baiklah, aku tidur lebih dulu"
Agam terus memandangi Shania yang tidur membelakanginya, Ia begitu frustasi dengan keadaan kedua rumah tangganya merasa ada yang salah dengan keputusanya menikahi Jesica dan Shania dalam waktu bersamaan. Namun Jesica adalah wanita yang ia cintai lebih lama sebelum kehadiran Shania, dan sudah menjadi impiannya agar bisa membangun rumah tangga dengan Jesica
Agam termenung di ruang kerjanya di temani beberapa botol minuman keras, entah sudah berapa banyak yang ia teguk hingga penglihatanya kini meulai kabur.
Pikirannya kini di penuhi dengan wajah Shania dan Jesica secara bergantian, bahkan rasanya Jesica sedang ada di depannya dengan pakaian yang indah memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya.
"Mas,!" ucap Shania pelan saat terbangun karena Agam mengecup pipinya
"Kamu cantik," celetuk Agam kembali mencium bibir Shania
Dan berlanjut ke adegan berikutnya, akhirnya Shania memberikan apa yang ia jaga selama ini untuk suaminya, meski lubuk hatinya enggan melakukan karena Agam dalam keadaan mabuk namun bagaimanapun Shania adalah istri sah Agam dimana Agam berhak penuh atas dirinya.
Adzan subuh berkumandang, dan suara adzan membangunkan Agam lebih dulu di banding Shania yang masih terlelap.
Mendapati dirinya tertidur di samping Shania dalam keadaan tanpa pakaian, Agam begitu terkejut hingga membentak Shania.
__ADS_1
"Shania!!"
"Apa mas?" kaget Shania belum sepenuhnya sadar
"Apa apan ini? apa yang kita lakukan semalam?!"
"Maksud kamu apa? Mas lupa?"
"Apapun yang terjadi semalam anggap saja sebuah kesalahan." geram Agam kesal
"Apa? kesalahan?" Mata Shania berkaca kaca, kalimat yang baru saja Agam ucapkan seakan ujung jarum yang menggores hatinya, perih meski tak berdarah.
"Iya, aku melakukanya tanpa sadar, karena seingatku semalam sedang bersama Jesica"
Shania kehabisan kata kata, mulutnya seakan tak bisa ia gerakan meski di dalam fikiranya di penuhi hujatan dan hatinya di selimuti kemarahan.
"Lagi pula kenapa kamu tidak menolaknya?"
"Kamu menyesalinya mas?" tanya Shania lirih
"Tentu, karena...." Kalimat Agan terhenti saat ia menoleh kearah Shania yang tidak bisa lagi menyembunyikan tangisnya
"Baiklah, keluar sekarang!" teriak Shania
Agam serba salah, ia menyadari bahwa kalimat yang ia ucapkan memang keterlaluan namun kejadian ini memang tidak ia harapkan.
Hari hari berlalu, Shania lebih memilih kembali fokus pada pekerjannya dan teman teman barunya di Rumah sakit, bahkan adakalanya ia dengan sengaja pulang terlambat hanya untuk membatu rekan rekan yang lain. Kejadian malam itu masih begitu terasa pedih di hati Shania apalagi saat ia harus berhadapan dengan Agam, expresi penuh penyesalan Agamlah yang memenuhi pikiranya hingga Shania merasa begitu terhina.
"Shania belum pulang bi?" tanya Agan sepulang kantor namun Shania tak menyambutnya seperti biasa padahal sudah hampir pukul sepuluh malam
"Belum mas, mungkin sedang banyak pekerjaan,"
"Apa dia mengabari jika pulang terlambat?"
"Tidak mas, sejak pagi non Shania belum menghubungi saya."
Agam menghela nafas berjalan menuju kamar yang kini terasa begitu kosong tanpa kehadiran Shania.
"Sudah mulai berulah dia," gerutu Agam, tak berselang lama terdengar mobil Shania memasuki halaman rumah, di susul suara sepatu hak tingginya memasuki kamar.
"Jam berapa ini?!" tanya Agam menyambut kedatanganya
"Jam sepuluh malam," Jawab Shania menengok jam tangan yang ia kenakan
"Kenapa baru pulang?"
"Banyak pekerjaan,"
"Apa hebatnya pekerjaanmu sampai lupa waktu begini? apa tidak cukup uang yang aku kirimkan tiap bulan? perlu aku gandakan empat kali lipat?" Cerca Agam di penuhi rasa marah
"Bahkan gajimu tidak akan cukup untuk membayar tagihan listrik di rumah ini!" ejek Agam
"Shania!" panggil Agam saat Shania berlalu keluat kamar tanpa menjawab semua pertanyaan Agam
__ADS_1
...........happy reading...............