
Shania kembali dengan rutinitasnya sebagai seorang istri, ia bangun pagi untuk menyiapkan sarapan, pakaian, dan semua kebutuhan Agam seperti biasa hanya saja interaksinya dengan Agam yang sengaja ia kurangi, bicara seperlunya tidak lagi seperti dulu. Dulu Shania akan melakukan banyak hal dengan senang hati hanya untuk mencari perhatian Agam, berusaha memberikan pelayanan dan perhatian dengan sepenuh hati namun kali ini hanya sebatas menggugurkan kewajibanya sebagai istri.
Bukan karena tidak menginginkan perhatian Agam tapi karena Shania merasa satu tahun yang sudah ia lewati dengan semua usahanya tidak membuahkan hasil, Agam masih sama, jauh dari jangkauanya.
"Shan,"panggil ibu dari seberang telfon
"Apa kabar nak? ibu kangen sekali,"
"Shania sehat bu, ibu juga sehat kan?"
Sudah lima belas menit Shania dan Ibu saling berbincang, mereka membicarakan banyak hal, cukup untuk mengobati kerinduan satu sama lain. Setiap kali ibu menanyakan Agam, Shania selalu menjawab semua baik baik saja. Ia masih tak sanggup menceritakan semuanya karena tak ingin sang ibu ikut terluka.
"Maaf bu, Shania belum bisa menceritakan semuanya, izinkan aku mencobanya sebentar lagi bu," gumam Shania pelan sembari menahan airmatanya
"Shan, mana kopi ku?" tegur Agam membuyatkan lamunan Shania
"Maaf, sebentar mas,"
"Bi, tolong buka pintu." perintah Agam pada bi Marni karena bell rumahnya berbunyi
"Biyar saya saja bi," sahut Shania seusai meletakan kopi permintaan Agam di meja makan
Agam sibuk melihat tabletnya meski ini hari libur pertamanya ia dirumah selama menikah dengan Shania, karena biasanya ia pergi pagi pagi entah joging, golf, ke rumah Jesica atau sekedar pergi keluar rumah tanpa tujuan.
"Mas, ada tamu." ucap Shania datar
"Siapa?! pagi pagi begini?"
"Sayang..." Jesica menerobos masuk menghambur memeluk Agam yang tercengang melihat kedatangannya
"Jes, kenapa pagi pagi begini kesini?"
"Aku kangen, harusnya kan kamu sama aku setiap minggu pagi," manja Jesica
"Ini tehnya Jes, silahkan di minum" Shania dengan tenang meletakan secangkir teh di hadapan mereka, menahan amarahnya bahkan ia mencoba tersenyum melihat keduanya.
"Silahkan ngobrol berdua, aku ke atas ya mas,"
"Oke Shania kamu pengertian sekali dan terimakasih untuk tehnya." sahut Jesica
Shania sekali lagi tersenyum sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua bercengkrama di meja makan.
"Bi, bisa carikan saya obat?" pinta Shania
"Mbak Shania pusing lagi?"
"Iya, sejak semalam,"
"Sebaiknya ke dokter mbak, beberapa hari ini sering pusing kan?"
__ADS_1
"Ngga apa bi, kurang tidur saja mungkin,"
"Baiklah, mbak Shania istirahat saja, saya buatkan teh."
"Makasih bi,"
Shania berbaring sembari memijit pelan pelipisnya, beberapa hari ini dia memang sering pusing dan kadang tiba tiba pandanganya kabur tanpa tahu sebabnya.
Di meja Agam tidak bisa berhenti memikirkan sikap Shania barusan, kenapa ia bisa sesantai itu saat Jesica datang bahkan bisa membuatkan teh dengan tanganya sendirj tidak seperti biasanya yang akan selalu marah jika berhubungan dengan Jesica.
"Shan," panggil Agam
"Ya mas," Shania menengok ke sumber suara
"Perlu sesuatu?"tanya Shania saat melihat Agam justru diam saja setelah memanggilnya
"Eee...? Nggak."
"Jesica sudah pulang? kenapa nggak kamu antar? kasian kan dia sudah jauh jauh kemari untuk nemuin kamu."
"Dia bisa naik taksi."
Shania mengangguk mengerti kemudian kembali pada novel yang sedang ia baca, mengabaikan Agam yang masih merasa janggal dengan sikap Shania.
"Kamu mau pergi?" tanya Agam saat melihat pakaian Shania yang rapi
"Aku yang selama satu tahun ini sibuk pada pernikahan kita dan apa kamu mau tahu mas bagaiamana rasanya?" Shania bangkit dan menghampiri Agam yang berdiri menatapnya , melangkah kian dekat hingga ujung hidung keduanya hampir bersentuhan.
"Me..le..lah..kan!" Setetes air mata kembali lolos dari mata cantiknya.
Shania segera mengusap airmata dengan sebelah tanganya, tak ingin tangis ini pecah, ia memilih segera pergi dari hadapan Agam.
"Aku berangkat!"
"Satu lagi mas, malam ini aku mau pulang ke rumah ibu."
"Biyar aku antar."
"Aku bisa sendiri!" sahut Shania cepat
"Aku harus bisa sendiri kan mas? karena aku tidak pernah punya tempat untuk bergantung." Lanjut Shania menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
Agam tertegun mendengarnya, ia tidak bisa bersikap dengan semua kalimat Shania, entah kenapa kata kata itu terdengar sebagai ancaman di telinga Agam. Rasa takut seketika menyeruak memenuhi ruang hatinya. Agam hanya bisa melihat kepergian Shania dari balik jendela tanpa berani menghentikanya meski sebenarnya ia tak ingin memberinya izin untuk keluar hari ini.
Agam memijit kepalanya yang tidak pusing, kemudian mengusap wajah dengan kedua tanganya, rasa gelisah ini begitu menganggu.
Hari ini Agam tak berniat meninggalkan rumah, berulang kali ia melihat jam dinding dan ponsel bergantian. Ia masih berfikir Shania tidak akan mungkin pergi kerumah ibu tanpa dirinya. Karena selama ini Shania tidak pernah pergi keluar rumah tanpa izin dari Agam.
"Sudah hampir jam sembilan malam tapi belum pulang juga? apa dia beneran ke rumah ibu? atau masih bersama teman temanya?" gumam Agam
__ADS_1
"Sudahlah, apa peduliku!" tampik Agam pada pikirannya sendiri
Shania tengah duduk asyik menonton tv di rumah orang tuanya, ia benar benar merasa damai ketika berada dekat dengan ibu.
"Shan, sudah malam kenapa belum pulang?"
"Shania mau disini bu, terlalu nyaman jadi enggan pulang,"
"Ngga boleh dong, Agam pasti sedang menunggumu pulang."
"Mana mungkin," gumam Shania lirih
"Pasti belum dapat izin Agam menginap di sini kan?"
"Shania sudah bilang mau kerumah ibu,"
"Iya, tapi ngga bilang kan mau menginap? dan ngga baik nak wanita yang sudah menikah pergi tanpa suaminya."
Shania mendengus kesal
"Iya bu, Shania pulang."
"Lain kali datang dan menginaplah dengan suamimu, ibu akan memasak kesukaanmu," goda ibu saat melihat putrinya merajuk
Shania melajukan mobil dengan enggan, ia sengaja berjalan pelan berniat mengulur waktu sehingga saat ia sampai rumah Agam sudah tidur jadi ia tak perlu berdebat denganya.
Jarak yang biasanya di tempuh kurang dari tiga puluh menit kini Shania tempuh dengan waktu hampir satu jam, dengan enggan ia masuk kerumah.
Semua lampu sudah di matikan kecuali lampu halaman dan teras rumah, bahkan lampu ruang tengah pun yang biasanya dibiarkan menyala kali ini mati.
"Aduh," rintih Shania saat ia hampir terjatuh karena menabrak sesuatu
"Apa ini?"
Shania menyalakan lampu, betapa kagetnya saat ia melihat sepatu perempuan, kemeja dan beberapa pakaian berserakan di ruang tengah. Hatinya seketika mengeras dan mata berkaca kaca membayangkan apa yang akan ia lihat.
Selangkah demi selangkah Shania berjalan mengkuti pakaian pakaian yang berserakan itu, di lantai, meja, dan tangga hingga langkahnya terhenti di depan kamarnya sendiri di lantai dua.
Tubuh Shania bergetar hebat membayangkan pemandangan apa yang akan ia lihat saat membuka handle pintu kamar itu.
"Tidak mungkin kamu akan malakukan hal itu di kamar kita kan mas?" batin Shania penuh harap
Shania menjulurkan tangan memegangi handel pintu, airmatanya sudah menetes membasahi kedua pipinya.
Berulang kali melepaskan peganganya karena merasa tak sanggup jika harus melihat kenyataan, namun sisi hatinya yang lain terus menyakinkanya untuk mengahadapi kenyataan itu, jangan jadi pengecut!
Shania tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika benar apa yang akan ia lihat di dalam kamar itu sama seperti yang ia takutkan, rasanya sudah habis alasan untuknya bertahan.
...............happy...reading...........
__ADS_1