Dua Cinta Beda Rasa

Dua Cinta Beda Rasa
Bab 6 : Terabaikan


__ADS_3

Agam bergegas meninggalkan kamar setelah selesai berpakaian, dengan kasar ia meraih kotak perhiasan yang masih berada di atas meja tepat di depan Shania. Tanpa sepatah kata Agam meninggalkan Shania yang masih mematung mencerna keadaan. Agam terlihat masih menahan kemarahanya terlihat dari cara dia menutup pintu kamar yang membuat dinding ikut bergetar.


Shania menarik nafas panjang dan mengehembuskanya perlahan, menatap kepergian Agam dengan kesedihan, pilu rasanya menerima semua sikap kasarnya di awal pernikahan yang baru berusia beberapa hari.


Hanya tangisan yang menemani hari harinya, ia begitu terluka dengan semua perlakuan Agam terhadapnya,namun apa daya ia tetap suami yang harus di hormati seperti yang selalu di ajarkan kedua orangtuanya.


Shania bolak balik melihat jam dinding yang terpajang di kamarnya, jarum jam menunjukan sudah hampir tengah malam namun sepertinya belum ada tanda tanda kepulangan Agam, ia beberapa kali mencoba menghubungi dan mengirim pesan namun semua usahanya tidak mendapatkan respon dari Agam.


Shania menggeliat saat sinar matahari membuat tidurnya terusik, ia meregangkan badannya yang terasa lelah, menoleh ke sekeliling namun ia tak menemukan Agam di kamar.


"apa mas Agan tidak pulang semalam?" tanya Shania dalam hati


Shania merapikan pakaian dan mengikat rambutnya untuk bergegas ke ruang makan barangkali Agam sudah bersiap untuk bekerja namun Shania tidak menyadarinya karena terlalu lelap tertidur.


"Bi, mas Agam dimana?" tanya Shania saat melihat bi Marni sedang mengepel lantai ruang TV


"saya belum lihat mas Agam mbak" jawab bi Marni yang sejenak menghentikan kegiatanya


"apa mas Agam tidak pulang semalam?"


"sepertinya begitu, karena bibi semalam tidak dengar bel berbunyi"


Shania sejenak terdiam


"baiklah bi, saya coba telfon mas Agam"


"iya mbak" jawab bi Marni yang kembali menyelesaikan pekerjaanya


Shania mencari ponsel yang tertinggak di kamarnya, menekan beberapa tombol untuk menelfon Agam.


tttuuuuuttt.... tak ada jawaban hingga beberapa kali Shania mencoba tetap tak ada jawaban dari Agam


Tiba tiba perhatian Shania teralihkan saat melihat mobil Agam memasuki pekarangan rumahnya dari jendela kamar, ia segera bergegas menghampiri Agam.


" kamu dari mana mas? kenapa semalam tidak pulang" tanya Shania


"aku tidur di rumah Jesica, apa kamu lupa aku juga punya istri yang lain?!" jawab Agam ketus


Shania tersentak mendengt jawaban itu


"setidaknya lain kali tolong kabarin aku jadi aku tidak khawatir menunggumu pulang" ucap Shania mencoba tetap tenang


"kamu tidak perlu repot repot memperhatikan aku apalagi mengkhawatirkanku, jangan lupa kamu hanya sekedar istri pajangan bagiku" ucap Agam sembari menatap Shania tajam


"tapi,,,"


"siapkan pakaianku, pagi ini aku ada meeting penting!" perintah Agam menghentikan kalimat Shania


"iya mas"


Shania menuju kamar ganti untuk menyiapkan kemeja beserta jas yang akan Agam kenakan sekalipun saat ini hatinya terluka dengan kalimat Agam, Shania berulangkali mengela nafas dengan kasar sembari menepuk dada beberapa kali dengan harapan rasa sesak itu segera hilang.


"yang kuat Shania, yakinlah suatu saat semua akan membaik" gumam Shania pada dirinya sendiri


Beberapa menit kemudian Agam sudah bersiap dengan pakaian yang Shania siapkan, melihat Agam memakain jas yang ia pilihakan membuatnya sedikit senang, merasa pilihanya bisa di terima oleh suaminya.


"mas sarapanya" ucap Shania menghentikan langkah kaki Agam yang tampak tergesa gesa

__ADS_1


"tidak sempat"


"tapi nanti kamu sakit mas,"


"aku bisa terlambat" ucap Agam yang sibuk mengecek beberapa lembar kertas yang akan dia bawa


"aku siapin ya, sedikit saja"


Agam menoleh kearah Shania heran


"sedikit saja mas," pinta Shania sembari menyodorkan sesuap nasi goreng yang ia buat


"kamu bisa sembari melihat berkasmu, satu atau dua suap cukup" pinta ulang Shania


Agam membuka mulut menerima suapan Shania, ia terlihat menikmati masakan istrinya sembari tetap fokus melihat berkas berkas yang ada dihadapanya


"minta Satpam siapkan mobil" perintah Agam


"mobil sudah siap mas"


"sudah cukup sarapanya"


"baik,hati hati ya mas"


Agam berlalu tak merespon ucapan Shania, ia bergegas berangkat bekerja karena ada pertemuan dengan klien penting satu jam dari sekarang


Shania hendak mengantar Agam sampai pintu namun tiba tiba ponselnya berdering, tertulis nama mama mertuanya yang menelfon.


"hallo ma" jawab Shania bergegas mengangkat panggilan sang mertua


"halo sayang, siang ini ada acara?"


"kalau begitu kamu ikut mama ya?"


"mau kemana ma?"


"kita jalan jalan saja, bosen kan sudah berhari hari hanya di rumah?"


"baiklah ma" Shania tersenyum mendengar suara lembut mama mertua yang terlihat begitu menerima kehadiaranya sebagai menantu dengan tangan terbuka.


Sekitar pukul dua siang Shania dan mama sudah sampai di pusat perbelanjaan yang sering mereka kunjungi, Plaza dengan enam lantai yang menjadi pusat perbelanjaan paling besar di kota Jakarta dimana banyak merk terkenal baik dalam negri maupun luar negri yang mendisplay beberapa produk andalan mereka di tempat ini.


Bagi mama Agam sudah jelas merk merk berkwalitas dengan harga di atas rata rata yang menjadi tujuan akhirnya, namun bagi Shania membayangkan harga yang terpampang saja membuatnya nyalinya menciut, jangankan membeli hanya menyentuhnya saja Shania enggan


"yang ini bagus Shan?" tanya mama menenteng dres warna pastel


"bagus ma" jawab Shania terkesan dengan selera mama


"kamu coba ya" pinta mama


"Shania ma?"


"iya, kamu coba pas ngga untuk ukuran kamu"


"ngga perlu ma, Shania..."


"sudah, mama bilang coba" paksa mama mendorong Shania keruang ganti

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Shania keluar mengenakan pakaian yang di pilih mama,ia terlihat begitu cantik dan elegan, wajahnya yang teduh semakin terlihat lembut dan anggun mengenakan pakaian itu


"cantik sayang" ucap Mama memperhatikan penampilan Shania


"haii tantee..." sapa Jesica tiba tiba mengagetkan mereka berdua


Shania tertegun sejenak melihat Jesica berada di tempat yang sama dan terlihat sudah cukup dekat dengan mama dari caranya menyapa barusan. Shania menahan nafasnya menunggu respon mama terhadapnya.


"halo jesica" sapa mama acuh


"long time no see tante" Jesica meraih lengan mama sengaja ingin memperlihatkan ke Shania betapa dekatnya mereka


"tante apa kabar?"


"kamu sedang apa di tempat ini jesica?!" tanya Mama ketua tanpa merespon semua pertanyaan Jesica


Mama melepaskan tangan Jesica yang masih melingkar di lenganya


"jalan jalan saja tante, bosen di rumah" jawab Jesica mencoba tetap tenang di hadapan Shania


"kami tidak berasama Agam kan?" tanya mama menelisik sembari mengedarkan pandanganya ke sekeliling mencari keberadaan Agam


"tante...."


"jes! tante tekankan sekali lagi bahwa Agam sudah menikah dan tante harap kamu tau di batasanmu"


"tapi tan kami masih saling mencintai"


"tante tidak perduli, tante hanya mau anak tante mendapatkan yang terbaik untuk hidupnya!" lanjut mama kesal


Shania hanya memperhatikan mereka berdua tanpa ikut bicara


"Shania, ayo kita tinggalkan tempat ini" ajak mama


"dan rasanya mama tidak perlu memperkenalkan perempuan ini kepadamu" lanjut mama menatap ke arah Jesica tajam


"iya ma"


Mama dan Shania meninggalkan tempat itu dengan segera, mama berjalan tanpa menolah sembari menggenggam tangan Shania, terlihat beliau tidak nyaman dengan pertemuanya barusan atau lebih tepatnya memendam kemarahan terhadap Jesica.


"ma,,,,"panggil Shania


"iya sayang" jawab Mama gelagapan


"kita cari makan dulu, mama sepertinya perlu istirahat sebentar" ajak Shania mencoba mengalihkan perhatian mama dan kebetulan mereka berhenti tepat di depan Cipto Roso Cafe


Mama menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan, menoleh kesekeliling menyadari mereka telah berjalan jauh dari toko sebelumnya.


"maaf sayang" ucap mama


"its oke ma, ayo istirahat sebentar"


"baiklah sayang, kaki mama juga baru teras pegal" sahut mama sembari tersenyum ke arah Shania


up


up

__ADS_1


up...


kkaa...dlike ya..coment... faforit... 😀


__ADS_2