
"Dari mana saja kamu!" bentakan keras Agam yang menyambut kepulangan Shania
"Mas, sudah di rumah?" Shania mencoba tenang meski hatinya terasa gemetar
"Apa ponselmu sudah tidak berguna?" marah Agam dengan mata membelalak
"Maaf mas, ponselku mode getar jadi tidak tahu kalau ada telfon masuk"
"Jelaskan dari mana saja kamu!"
" Hari ini hari pertama aku bekerja mas,"
"Bekerja?!" Agam terdengar semakin marah
"Atas ijin siapa kami bisa bekerja?"
Shania memejamkan mata mengatur nafasnya
"Mas, bukankah aku sudah membicarakan ini denganmu dan kamu mengizinkanya?lantas kenapa kamu harus semarah ini sekarang?"
Agam nampak berfikir mengingat kembali
"Kenapa? lupa?" Shania menahan airmatanya
" Jelas kamu lupa, karena kamu sibuk bercinta dengan Jesica bahkan saat menerima telfon dariku"
Shania pergi meninggalkan Agam yang terdiam,masih berfikir mengingat kembali barang kali ada yang ia lupakan selama ia berada di Bali
"Shan," panggil Agam namun urung ia lanjutkan saat melihat Shania menangis di sudut kamar
Agam memilih kembali keruang kerja untuk melihat beberapa berkas yang sudah menunggunya
Sekilas Agam mencoba mengingat kembali perbincanganya dengan Shania, karena tak kunjung menemukan jawaban akhirnya Agam membuka kembali riwayat panggilan maupun pesan di ponselnya namun masih tak ia temukan.
"Shan," Agam memanggil Shania pelan saat keadaan sudah lebih baik
"Apa mas? mau di buatkan kopi?"
"Boleh,"
Tak berselang lama Shania kembali dengan membawa secangkir kopi di tanganya
"Ini mas" Shania meletakan cangkir kopi di atas nakas samping ranjang kemudian bersiap tidur tanpa memperdulikan Agam
Keesokan harinya Shania yang sedang sibuk membuat sarapan di kejutkan dengan kedatangan Jesica, ia menerobos masuk tanpa permisi bahkan saat melewati Shania
"Bi, Saya berangkat ke Rumah sakit" ucap Shania menahan marah
"Sarapanya bagaimana mbak?"
"Bilang ke mas Agam suruh Jesica yang menyiapkanya
"Shan!"panggil Agam saat melihat Shania pergi
__ADS_1
"Jes, ngapain kamu pagi buta begini?" Agam terlihay kaget melihat Jesica ada di hadapanya
"Sayang, aku kangen lo" jawab Jesica manja
"Oke, " Agam tersenyum melihat sikap manja Jesica
"Bi, tolong siapkan sarapan untuk kami" pinta Agam
"Kenapa bukan non Jesica yang siapkan sarapan untuk mas Agam?" sahut Bi Marni kesal melihat tingkah Jesica
"Ayolah bi, jangan merusak pagi saya"
Tanpa menjawab Bi Marni melanjutkan menyiapkan sarapan yang tadi tengah ia siapkan bersama Shania, meski dengan setengah hati akhirnya nasi goreng lengkap dengan ayam dan telur sudah tersaji di meja makan kurang dari tigapuluh menit.
"Sayang, hari ini kita belanja ya" pinta Jesica bergelayut di lengan Agam
"Maaf sayang, hari ini aku banyak pekerjan karena kemarin kita pergi ke Bali"
"Baiklah, aku mengerti"
Shania tengah bersiap pulang meski hati kecilnya begitu enggan bertemu dengan Agam, namun ia tetap harus pulang karena dia tidak bisa pergi tanpa izin suaminya.
Dengan berat hati ia membuka pintu rumah saat matahari sudah benar benar tenggelam.
"Mas Agam pasti sudah pulang" gumam Shania dalam hati namun langkahnya terhenti saat melihat sepasang sepatu yang bukan miliknya berada di samping pintu kamarnya
Dengan menahan air matanya Shania membuka pintu tanpa mengetuk
Dan benar saja apa yang ia lihat sama persis dengan yang ia bayangkan lima menit yang lalu saat ia menyadari ada Jesica di kamar itu
"Shan" Agan terkejut melihat Shania
"Keluaaar!!!!" teriak Shania begitu melihat Agam setengah telanjang
"Sayang, istrimu pulang" goda jesica
"Jes!" tegur Agam
"Ayolah sayang, biyar istrimu tau kalau kamu hanyalah miliku" lanjut Jesica
"Lain kali ketuk pintu terlebih dahulu" Agam beranjak bangun sembari memakai pakaianya
"Ketuk pintu?" tanya Shania heran, Shania menangis karena air mata ini tak bisa lagi ia tahan
"Baiklah," Shania mengehela nafasnya dan hendak berbalik pergi namun tanganya di tahan oleh Agam
"Mau kemana? sudah malam!"
"Apa perdulimu mas? asal kamu tau ini bukan lagi perselingkuhan tapi penghinaan bagi saya" bisik Shania di telinga Agam
Air mata yang terus mengalir menemaninya sepanjang malam, entah sudah berapa lama ia melajukan mobil volvo silver yang tak lain milik Agam menyusuri jalanan ibukota tanpa arah tujuan.
Hatinya begitu terluka hingga rasanya tak akan lagi bisa mersakan kasih sayang. Sesak di dada yang semakin menyiksa membuatnya menginjak gas semakin dalam
__ADS_1
Laju kendaran yang di luar kendali membuat mobil Shania menabrak pembatas jalan di tambah lagi ini kali pertama ia memakai mobil tersebut.
"Mas Agam" teriak bi Marni
"Ada apa bi?" tanya Agam ikut panik melihat wajah Marni merah padam menahan airmatanya
"Mbak Shania kecelakaan"
"Apa?dimana dia sekarang?" Agam terlihat khawatir
"Jes, sebaiknya kamu pulang sekarang"
"Dia pasti baik baik saja, barang kali itu hanya acting saja"
"Jesica!" bentak Agam dan bi Marni bersamaan
"Oke, oke aku pulang" Jesica terlihat kesal
"Sopir akan mengantarmu pulang" perintah Agam
Tanpa menunggu lama Agam bergegas ke lokasi kejadian bersama bi Marni, sesampainya di sana ia melihat mobilnya tersungkur di tengah sawah sedang Shania tak terlihat di lokasi tersebut
"Mas, menurut informasi mbak Shania di bawa kerumah sakit terdekat" ucap Bi Marni setelah bertanya kepada polisi yang mengamankan TKP
Agam dan Marni panik mencari keberadan Shania di rumah sakit yang di maksud, setelah bertanya ke staf yang bertugas di ketahuilah bahwa Shania masih di ruang UGD dan kondisinya baik baik saja hanya mengalami beberapa luka ringan
"Syukurlah" ucap Agam nampak lega mendengar penjelasan dokter yang bertugas
"Hebat ya, mau ganti rugi berapa itu mobil?" Agam menatap Shania lekat lekat
Shania enggan menjawab ia memilih memalingkan muka, saat melihat wajah Agam akan terlihat kembali kejadian dua jam yang lalu.
Shania mengela nafasnya yang kembali sesak
"Bi, suruh mas Agam pulang, aku baik baik saja" pinta Shania pada bi Marni meski sebenarnya Agam pun mendengar dengan jelas apa yang ia ucapkan
"Kamu..."
"Tolong bi" putus Shania memotong kalimat Agam
"Baik mbak"
"Sebaiknya Mas Agam pulang, saya yang akan menjagan non Shania di sini" ucap Bi Marni pada Agam
Bi Marni memejamkan mata memberi isyarat dapa Agam untuk segera meninggalkan tempat ini.
Dengan berat hati Agam pergi dari ruangan Shania meski ia tetap berada di lingkungan Rumah sakit, setengah dari hatinya tak kuasa meninggalkan Shania yang sedang terluka di dalam sana
Agam mengingay kembali beberapa kenangan saat ia berulang kali melihat Shania menangis sejak menjadi istrinya, tak jarang Agam akan terbangun karena isak tangis Shania di tengah solat malamnya atau saat ia berdiam diri di sudut kamar
Agam menyadari bahwa ia sudah begitu melukai perasaan perempuan itu yang sebenarnya juga korban dari pernikahan ini, namin keberadaan Jesica masih mendominasi perasaan Agam hingga ia kerap kalo mengabaika perasaan Shania
.........happy reading......
__ADS_1