
Tiga hari berlalu setelah kepergian Agam ke Bali, entah apa yang di lakukan Agam dan Jesica di Bali yang jelas mereka sedang berbagaia berdua sedang Shania harus mengabiskan waktu setiap harinya hanya berdiam diri di rumah megah sendirian.
"Shan!" panggil Renita begitu Shania menerima panggilan ponselnya
"hai, Ren" sapa Shania tak kalah girang bisa berbincang dengan sahabat masa kecilnya
"apa kabar?" tanya Shania
"Sehat, baik banget" sahut Renita riang seperti biasanya, ia gadis yang banyak tertawa seakan hidupnya tanpa beban tak jarang siapapun yang bersamanya akan merasakan atmosfir bahagia walau hanya melihat Renita tertawa
"Shan aku ada kabar baik"
"ada apa? bahagia banget kedengarnya"
"Di Rumah sakit tempat aku bekerja sedang cari accounting baru, kamu mau ya? aku sudah rekomendasikan kamu lo"
"beneran?"
"iya, kamu tinggal masukin CV aja, sisanya aku yang urus"
"pengen sih Ren, tapi aku tanya mas Agam dulu ya"
"iya kamu tanya saja dulu, sebenarnya kalau dari segi gaji mungkin ngga ada apa apanya di banding kekayaan suami kamu tapi menurut aku ini bisa jadi tempat untuk mengapresiasikan diri kamu kan?"
"aku ngga masalah kalau soal gaji Ren, sebenarnya aku juga bosan kalau sepanjang hari harus ada di rumah, lagi pula mas Agan jarang pulang"
"jarang pulang?" tanya Renita heran
"heem..." Shania kelabakan menyadari ia kelepasan bicara
"maksudnya, dia kalau pulang sering malam saat aku sudah tidur" terang Shania
"nanti aku kasih kabar secepatnya Ren," lanjut Shania mengalihkan pembicaraan agar Renita tidak curiga
"baiklah aku tunggu secepatnya ya, ngga sabar mau satu kantor sama kamu"
"iya Ren, makasih ya" tutup Shania
Shania memencet beberapa tombol di ponselnya mencari kontak Agam hendak menelfonya.
Satu kali panggilan tidak di respon, panggilan kedua pun sama hingga panggilan ketiga
"hallo..."terdengar suara perempuan dari seberang yang tak lain adalah Jesica
Shania terdiam tak bersuara, hatinya kembali bergetar mendengar suara itu
"berikan ponselnya pada mas Agam, ada yang mau saya bicarakan"
"owwhhh...ini Sha..ni...a, istri kedua Agam Hartanto" ejek Jesica
"maaf Shania, mas Agamnya masih nyenyak tidur tuh, kelelahan dia semalam"lanjut Jesica sengaja ingin menyakiti hati Shania
"baik, sampaikan jika aku menelfonya" sahut Shania menahan amarahnya
Shania terdiam memejamkan mata dan mengatur nafasnya, ia memilih meletakan ponsel dan berjalan keluar agar perhatianya teralihkan, ia tak ingin menangis sendirian hanya karena ucapan Jesica
"bi...." sapa Shania saat melihat bi Marni sibut mengupas mangga muda di taman belakang
__ADS_1
"bikin apa bi?" tanya Shania langsung ikut bersimpuh di lantai tanpa alas
"mbak jangan duduk di situ, saya ambilkan alas" larang bi Marni
"sudah, ngga perlu"
"tapi mbak...."
"bi, saya biasa kok seperti ini" sahut Shania memotong kalimat bi Marni
"bibi sedang apa?" tanya Shania
"ini mbak, baru saja ada mangga jatuh mau saya bikin rujak"
"kenapa yang sudah jatuh? petik saja yang baru bi"
"tidak apa mbak, ini juga masih bagus, kan sayang kalau di buang"
Shania tersenyum sembari memperhatikan bi Marni memotong mangga dan membuat sambal untuk runjak
"ayo mbak ikut ngerujak" ajak bi Marni saat rujak buatanya sudah siap, pedas manis asem rasanya jadi satu cukup membuatnya berkeringat
"enak bi" ucap Shania setelah ikut menyicipi satu dua potong mangga
Kesedihan Shania teralihkan saat bercengkrama dengan bi Marni bersama asisten rumah tangga yang lain, tak ada jarak antara mereka meski Shania adalah istri dari bos yang di segani di rumah ini.
Sesekali tertawa karena kepedesan tau menertawakan mang sopir yang sampai menangis karena menahan peda namun tak mau berhenti makan runjaknya,mereka berlima duduk bersimpuh tanpa alas di teras samping taman belakang rumah. Benar benar suasana yang membuat Shania nyaman untuk pertama kalinya sejak menempati rumah besar itu sebagai istri Agam
Hari menjelang sore namun ponsel Shania masih sepi, sebenarnya Shania berharap Agam akan balik menelfonya saat tau pagi tadi ia lebih dulu menghubungi Agam
Shania hendak menelfon Agam namun ia urungkan mengingat kejadian tadi pagi saat Jesica yang menerima panggilanya, enggan mengalami perasaan itu Shania akhirnya memilih mengirim pesan saja.
"terserah" jawab Agam tak berselang lama
Shania lama memandangi layar ponselnya, membaca berulang kali pesan yang Agam kirim hanya satu kata "terserah".
Shania mengembuskan nafas dengan kasar, rasanya susah terbiasa menerima perlakuan ini dari Agam.
"tak perlu bersedih Shan" gumam Shania pada dirinya sendiri
Dua hari berlalu, Shania tengah siap dengan berkas di tanganya sesuai persyaratan pihak Rumah Sakit, ia sudah membuat janji dengan Renita di kantin Rumah sakit, ya Renita adalah dokter umum di Rumah sakit tersebut sekaligus anak tunggal dari direktur Bapak Agus Sugondo
"Shan..." panggil Renita begitu melihat Shania sudah tiba, Renita sudah lebih dulu menunggu di temani secangkir kopi yang menjadi favoritnya
"hai Ren, lama nunggu?"
"nggak, baru kelar jaga malam aku" keluh Renita
"aduh anak Direktur tetep jaga malam ya?" goda Shania
"apaan si Shan?" elak Renita yang memang tidak suka menyombongkan diri
"gimana? sudah lengkap syaratnya?"
"sudah dong, ini aku bawa semua" Shania menyodorkan map coklat
"Ren, tapi apa tidak masalah aku daftar lewat kamu?"
__ADS_1
"hey Shania, aku hanya memberikan rekomendasi ke pihak Hrd, masalah nanti kamu di terima atau tidak itu bukan kewenangan saya dong, jadi jangan usah berkecil hati" ucap Renita melegakan
"tapi ngomong ngomong kamu sudah dapet izin dari suamimu?" tanya Renita
Shania sejenak terdiam mendengar pertanyaan itu, ia mengingat kembali bagaimana tanggapan Agam soal ini, begitu cuek terlihat sekali tidak perduli.
"sudah kok, dan di izinkan" jawab Shania tersenyum menyakinkan Renita
"tapi kenapa akhirnya kamu memilih bekerja Shan? jelas bukan karena gaji dong secara suami kamu itu hartanya juga ngga akan abis meski kamu belanja setiap hari " tanya Renita menelisik
"semua baik baik saja bukan?"
Shania tersenyum getir sembari mengangguk mengiyakan pertanyaan Renita bahwa ia baik baik saja.
Renita dan Shania mengahabiskan waktu bersama, makan, nonton, shoping dan karaokean bareng. Terakhir mereka bertemu saat Renita menjadi tamu undangan di pernikahan Shania dua bulan yang lalu, setelahnya mereka sama sama sibu dengan kegiatan masing masing sehingga sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk bertemu, padahal sebelumnya mereka berdua bagaikan sepasang sendal yang harus selalu berdampingan.
"Shan, boleh aku bertanya?" raut wajah Renita terlihat serius
"apa?" Shania tersenyum sembari mengangkat kedua alisnya
"kenapa kamu tiba tiba menikahi Agam? dan mendadak sekali? bahkan aku hanya kamu kirim undangan via kurir?" lanjut Renita memberanikan diri
Shania kembali terdiam tak tahu harus menjawabnya bagaimana
"something wrong?" Renita menyadari Shania tidak nyaman dengan pertanyaan yang ia ajukan
"its oke kalau kamu ngga mau cerita, itu juga yang jadi alasan kenapa aku menunda bertanya selama dua bulan ini, karena pasti ada sesuatu yang membuatmu tak nyaman seperti ini"
"I'm Sorry Ren, aku hanya...." Shania tak melanjutkan kalimatnya
Renita menarik nafasnya dan membuang kasar
"mau aku antar pulang?" tawar Renita mengalihkan pembicaraan
"tidak perlu Ren, aku bisa naik taxi"
"baiklah, kebetulan aku juga harus balik ke Ruumah sakit ada urusan"
Shania mengangguk
"sampai jumpa ya" Renita hendak pergi namun di tahan oleh Shania
"Ren, nanti aku pasti ceritakan semuanya"
Renita terdiam menatap Shania, ia tau saat ini sahabatnya sedah bersedih merasa tak nyaman dengan situasi mereka sekarang
"Shan, its oke! hanya perlu selalu kamu ingat bahwa aku selalu ada untukmu dalam keadaan dan situasi apapun, jadi datanglah padaku saat kamu memerlukan ku meski dalam kondisi terburukmu" ucap Renita menggenggam tangan Shania yang sedari tadi tak hentinya ia mainkan
Setetes demi setetes bulir airmata Shania jatuh membasahi tangan mereka yang saling menggenggam
"selalu ingat ya , seperti inilah gunanya sahabat" lanjut Renita di ikuti dengan pelukan yang begitu menghangatkan hati Shania
Saat semua yang ia alami tak bisa ia tumpahkan ke siapupun karena tak ingin membuat keluarga besarnya bersedih tapi kini ia mendapat perlakuan yang begitu hangat dari sahabat masa kecilnya.
Perhatian yang penuh ketulusan seperti obat bagi hatinya yang sudah menganga penuh luka
......
__ADS_1
.............
.....................