Dua Cinta Beda Rasa

Dua Cinta Beda Rasa
Pecah, remuk redam


__ADS_3

Jantung Shania berdegup kencang, hati kecilnya masih berharap tekhawatiranya tidak akan menjadi kenyataan. Perlahan Shania memberanikan diri membuka handle pintu kamar, selangkah demi selangkah ia memasuki kamar dengan hati hati.


Air mata itu menetes dengan sendirinya saat mendapati Agam bersama Jesica sedang asyik memadu cinta di kamar Shania,bibirnya kelu, hatinya sesak bak di himpit dua batu besar, belum lagi di tambah sakit kepala yang tiba tiba datang. Hampir mirip sebuah penyiksaan, Shania meremas ujung pakaian yang ia gunakan, hendak mencari kekuatan atau mencari sandaran.


Apa yanh Shania bayangngkan benar menjadi pemandangan yang sedang ia saksikan, bahkan Agam sedang asyik bekerja tanpa menyadari keberadaan Shania, "ini sudah tidak benar".


"Keluar!" pekik Shania


Pyaarr... Vas bunga di atas meja pun Shania lempar sekuat tenaga, pecahan kacanya berserakan hingga sebagian menggores kaki Shania.


"Shan," Betapa kagetnya Agam menyadari Shania melihat semua yang ia lakukan.


Bergegas Agam berganti pakaian begitu pun dengan Jesica, terlihat sekali rasa takut di wajah Agam, ia sadar perbuatanya kali ini sudah melampaui batas.


"Kell..lu..ar..!" ulang Shania geram


"Suruh perempuan itu pergi, atau kamu akan melihatku benar benar menggila." ancam Shania


"Jes, sebaiknya kamu pulang" perintah Agam


Menyadari keadaanya sudah di luar kendali,Jesica pun meninggalkan rumah Agam dengan suka rela tanpa banyak bicara, meski sebenarnya dalam hati ia menikmati suasana ini.


Sembari menangis Shania menarik spray dan selimut lalu membuangnya, melempar bantal dan guling sembarangan.


"Shan, aku bisa jelaskan, aku mohon tenanglah."


"Apa yang akan kamu jelaskan! sedang aku menyaksikan semuanya sendiri mas!"


Agam terdiam.


"Aku benar benar tidak menyangka kamu akan sanggup melakukaan hal seperti ini di kamar ku, memang tak ada tempat lain?" Isak tangis Shania tak bisa lagi ia tahan


"Aku minta maaf Shan,"


"Kamu tega mas, ini penghinaan buat aku!"


Shania berlari hendak meninggalkan kamar itu namun tiba tiba ia menyerngit kesakitan karena kakinya menginjak pecahan kaca yang masih berserakan, darah segar mengucur dari kakinya, pandanganya menjadi gelap, begitupun dengan nafas yang terasa semakin berat.


Dan akhirnya Shania terjerembah pingsan di lantai.


"Shan, Shan!" panggil Agam panik


"Shan, bangun!" ulang Agam berkali kali sembari mengguncang tubuh Shania


Agam semakin panik saat ada darah yang mengalir di kaki Shania.


"Ada apa mas?" tanya Bi Marni memberanikan diri mendekat

__ADS_1


"Bi, suruh supir siapkan mobil kita harus ke Rumah sakit segera. Cepat!"


Shania sudah terbaring di ranjang Rumah sakit masih belum sadarkan diri, sesuai informasi dokter ia akan segera bangun sehingga Agam tetap duduk di samping ranjang dengan banyak berdoa, ia begitu takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Shania. Mengingat kembali ada darah yang mengalir di kaki Shania ketakutan itu semakin menjadi, ia tak pernah terfikirkan akan sepanik ini melihat Shania dalam bahaya. Hati kecilnya di penuhi dengan rasa bersalah yang luar biasa, begitu pun penyesalan yang sekarang rasanya bertumpuk tumpuk begitu menyiksa.


"Dok, bagaimana kondisi putri kami?" tanya Mama begitu sampai di rumah sakit


"Bisa saya bicara dengan suami beliau?"


"Saya suaminya dok," Agam dengan cepat bangkit dari duduknya


"Begini pak, dari hasil pemeriksaan Bu Shania sedang hamil dua bulan, pendarahan yang tadi terjadi bisa di sebabkan karena terlalu banyak beban yang sedang di fikirkan."


"Hamil dok?" Agam tertegun tak menyangka, ia merasa bahagia sekaligus sedih mendengarnya


"Iya, bu Shania sedang hamil muda jadi saya harapkan banyak dukungan dari keluarga supaya beliau bisa menjaga fikirannya, terutama peran suami sangat penting dalam mendampingi beliau,"


"Alhamdulillah, Shania hamil pa," Mama bersyukur hingga matanya di penuhi dengan air maya kebahagiaan.


"Selamat ya nak, kamu akan jadi seorang ayah," ucap papa sembari memeluk Agam.


Agam sendiri masih terdiam mematung seusai kepergian dokter, fikiranya masih melayang seakan ini bukan sesuatu yang nyata bagaimana bisa ia memperlakukan Shania seperti itu saat ia sedang mengandung anaknya.


Agam tertegun kembali memandangi Shania yang masih tertidur, betapa cantiknya Shania kala ia menatapnya dari dekat. Tanpa di sadari senyum tersungging dari bibir Agam kala pandanganya berhenti di perut Shania.


"Ada anakku di dalam sana? " Batin Agam


"Maafkan semua sikap buruku Shan," gumam Agam


Agam merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya pada Shania, Hatinya ikut damai melihat Shania terlelap.


"Shan, kamu sudah bangun?" panggil Agam saat melihat ia membuka mata


Shania terdiam sejenak sedang mencerna keadaan,


"Dimana aku?"


"Kamu di rumah sakit, aku minta maaf atas......"


"Keluar!" pekik Shania memotong kalimat Agam


"Ada apa Sayang?" tanya mama saat mendengar teriakan Shania


"Ma, suruh dia keluar ma," pinta Shania kembali terisak


"Kenapa? dia suamimu."


"Shania mohon ma suruh dia keluar, "

__ADS_1


"Shan, aku minta maaf," Agam memgang tangan Shania namun ia lepaskan


""Aku yang Shan, aku mohon maaf,"


"Oke? beri aku kesempatan."


"Ahk..." rintih shania memagangi perutnya bagian bawah


"Keluarrrr!"


"Agam, sebaiknya kamu keluar dulu biyarkan Shania tenang" perintah papa menarik lengan Agam untuk segera meninggalkan ruangan.


"Tenanglah Shan, kontrol emosi kamu nak," mama memeluk Shania penuh kasih sayang


Tangis Shania pecah di pelukan ibu mertuanya, ia menangis sejadinya seakan melepaskan semua yang ia tahan selama ini. Sedang mama sendiri tak berani bertanya, ia hanya membelai lembut rambut Shania membiyarkanya meluapkan kesedihanya dengan begitu tidak akan menjadi bebah untuknya.


Agam terus diam di kursi tunggu tepat di depan kamar Shania, kali ini hatinya terasa teriris mendengar tangis Shania dari dalam sana, penyesalan kembali memenuhi lubuk hatinya, ingin rasanya memukul tubuhnya sendiri yang selama ini memperlakukanya dengan buruk.


Hingg hari mulai gelap baik Agam maupun Orang taunya tidak berani banyak bertanya pada Shania, mereka memilih memberi ruang bagi Shania untuk meredakan emosi.


Agam sendiri belum berani menemui Shania hari itu, ia memilih tetap berdiam diri di kursi tunggu sembari sesekali melihat kondisi Shamia dari balik kaca.


"Sebenarnya ada masalah apa antara kamu dan Shania?" tanya mama memberanikan diri


"Tidak ada apa apa mas," elak Agam acuh mencoba menghindar


"Tidak mungkin! kamu pasti membuat kesalah!" bentak Papa, seketika mama memgang tangan papa memberinya isyarat untuk tidak melanjutkan kemarahnya pada Agam karena hanya akan memperkeruh keadaan.


"Apapun masalahnya segera diperbaiki,tidak baik jika di biyarkan berlarut larut,"


Agam mengangguk pelan mendengar nasehat mama,ia kembali bangki melihat Shania yang ternyata sedang tidur.


"Shania bilang jangan beritahu ibunya dulu, takut membuatnya khawatir," Agam kembali hanya mengagguk


"Mama papa pulang dulu, besok kami kesini lagi"


Orang tua Agam pergi meninggalkan rumah sakit, kini hanya ada Shania dan Agam, namun Agam belum berani masuk menemui Shania langsung,kakinya terasa berat untuk melangkah melewati pintu. Ingin rasanya ia bersanding di samping Shania, merawat dan memberikan perhatian namun rasa takut lebih besar mengingat seberapa besar kesalahanya.


Shania sendiri melihat Agam berulang kali memperhatikanya dari balik kaca, namun tiap kali ia melihat Agam semua kenangan akan apa yang terjadi di kamar itu kembali menyiksanya. Ia masih enggan bertemu dengan suaminya.


Kembali Shania menangis dalam keheningan malam, belum lagi ia sudah tau jika sedang hamil, memikirkan janin yang ada di kandunganya pun membuatnya kembali bersedih.


"Maafkan bunda ya nak," gumam Shania mengusap perut


"Seharusnya kehadiranmu di sambut dengan kebahagiaan,tapi sepertinya Ayahmu pun tidak menginginkanya "


................happy reading........................

__ADS_1


__ADS_2