
"Shania!" teriak Agam memanggil namanya penuh kemarahan
"Sedang apa kamu disini?!"
"Mas, ini sudah hampir tengah malam dan aku baru saja pulanng, sebaiknya kita istirahat karena kamu juga pasti lelah kan?" Shania berusaha sabar menghadapi kemarahan Agam
"Lantas kenapa kamu malah ke kamar tamu? cepat kembali."
Shania kembali menarik nafasnya
"Baiklah, tapi berhenti teriak teriak! aku sudah lelah bekerja seharian."
Shania kembali ke kamar dan langsung bersiap tidur seusai membersihkan diri, tanpa memperdulikan Agam yang terus memandanginya dari sofa sudut kamar
"Selamat malam mas,"
"Kamu beneran mau tidur tanpa menjelaskan apapun kepadaku?"
Shania memejamkan mata sejenak kemudian kembali duduk menghadap menatap Agam.
"Hari ini aku banyak pekerjaan mas, jadi terpaksa harus pulang malam, mohon maaf karena aku lupa mengabarimu." terang Shania
"Tapi bukankah apa yang aku lakukan juga tidak pernah kamu perdulikan? lantas kenapa sekarang kamu meributkan hal ini?"
"Siapa yang perduli apa yang jadi kegiatanamu, aku..."
"Aku hanya kesal karena saat lelah pulang kerja kamu tidak dirumah." elak Agam menutupi kegelisahanya
"Lelah?" tanya Shania menelisik
"Lelah bekerja? atau lelah dengan istri pertamamu?"
"Apa maksudmu?"
"Jangan jadikan aku sebagai pelampiasan kemarahanmu mas," pungkas Shania mengakhiri perdebatan itu
flasback on
Tadi siang Shania harus pergi ke Rumah sakit pusat untuk mengambil beberapa berkas, karena staf yang bersanggkutan sedang cuti sakit.
"Kara, kamu kembalilah ke rumah sakit lebih dulu" perintah Shania pada Kara yang menemaninya
"Kak Shania mau kemana?"
"Saya ada urusan sebentar, begitu selesai saya langsung kembali ke Rumah sakit"
"Baik kak." Kara pergi meninggalkan Shania di samping sebuah kafe
Ternyata alasan Shania berhenti dan menyuruh Kara pergi lebih dulu karena ia melihat Jesica dan Agam sedang bertengkar di dalam kafe yang hanya berbatas kaca dengan Shania saat ini.
Entah apa yang mereka ributkan Shania tak begitu jelas mendengarnya, namun beberapa kali Jesica menyebut nama Shania dengan penuh amarah.
__ADS_1
Flasback off
Agam tak berkutik dengan semua kalimat yang Shania ucapkan, karena memang benar hari ini Agam di buat penat dengan pertengkaran pertengkarannya dengan Jesica yang seakan tak ada akhirnya, Jesica selalu saja meributkan keberadaaan Shania bahkan Jesica selalu menuntut semua waktu Agam tercurah padanya. Belum lagi tuntutan dari keluarga besar Agam atas pernikahannya dengan Shania , benar benar membuanya lelah.
Agam kembali minum di ruang kerjanya, sebenarnya sudah lama ia menghilangkan kebiasaan mabuknya sejak sang ibu sakit parah,namun permasalahan yang ia hadapi akhir akhir ini membuatnya kembali dengan kebiasaan buruk itu karena berharap dengan minum ia bisa melupakan semua permaslahan.
Fakta bahwa ia sebenarnya sudab menikaji Jesica bawah tangan sangat berat ia tanggung karena harua di rahasiakan dari orang tua Agam, sedang Jesica terus menuntut meminta pengakuan atas keberadaanya. Belum lagi perasaanya terhadap Shania yang dia sendiri belum bisa memahaminya.
"Mas," panggil Shania lirih saat ia terbangun karena Agam memeluknya dari belakang
"Aku lelah Shan, bisa kah kamu memeluku?"
Shania berfikir sejenak sebelum akhirnya berbalik memeluk Agam.
Shania terus memandangi Agam, suami yang sangat ingin ia hormati kini berada begitu dekat denganya namun begitu jauh keesokan harinya.
Agam mengecup lembut bibir Shania, begitupun sebaliknya hingga mereka melawati malam ini berdua.
"Shania meneteskan airmata saat nama Jesica lah yang Agam sebut"
"Tak apa Shan, kamu hanya melakukan kewajibanmu sebagai istrri" gumam Shania menenangkan hatinya sendiri
Pagi ini Shania terbangun tapi tak mendapati Agam di sampingnya, ia meraih ponsel yang tiba tiba berdering memecah keheningan
"Maaf atas kejadian semalam, aku tak sadar melakukanya" pesan masuk dari Agam di ponsel Shania
Shani terduduk lemas membacanya, hatinya kembali sakit begitupun dada nya yang tiba tiba mengeras, Shania memeluk kedua kakinya dan membenamkan kepala menangis melampiaskan sakit hatinya atas perlakuan Agam kepadanya. Rasanya semua kesedihan di hatinya meledak seketika hingga Shania tidak perduli lagi jIka tangisannya kali ini akan di dengar para pegawai dari luar kamarnya.
Shania meraih mukena setelah tertatih menyelesaikan wudhu, ia bersimpuh begitu lama meski semua urutan Sholat sudah selesai ia laksanakan.
Shania menangis menumpahkan semua perasaanya. Entah berapa lama ia bersimpuhhingga ia tertidur di atas sajadah yang ia gunakan.
"Mbak,"panggil bi Marni pelan sembari mengelus pelan pundak Shania
"Iya mbak," jawab Shania sedikit kaget
"Mohon maaf terpaksa saya bangunkan, karena di bawah ada bapak dan ibu"
"Mama dan Papa?"
"Iya mbak, Orang tua mas Agam sedang menunggu mbak Shania di bawah"
"Baik bi, saya segera turun"
Shania bergegas mencuci muka kemudian sedikit mengggunakan riasan menutupi matanya yang bengkak karena terlalu lama menangis sejak tadi pagi.
"Mama, Papa" Sapa Shania
"Hai sayang, bagaimana kabarmu?" jawab Mama seraya memeluk Shania penuh kasih sayang
"Shania sehat ma, Mama Papa sehat kan?"
__ADS_1
"Sehat sayang, alhamdulillah" Jawab Papa
"Kepana ngga kabarin dulu mau kesini ma, jadi kan Shania bisa siap kaan jamuan untuk papa mama."
"Tak perlu repot, mama bisa lihat kalian sehat suda cukup"
"Ngomong ngomong dimana Agam?" tanya Ayah menyadari Agam tak kunjung terlihat
"Mas Agam sedang keluar sebentar pa, ada urusan pekerjaan"
"Bekerja saat hali libur begini?" tanya mama heran
"Tak apa ma, mungkin urgent jadi harus segera di tangani"
Shania,mama dan papa berbincang cukup lama di ruang tengah, di temani teh dan beberapa kue yang bi Marni siapakan memberi kebahagian kecil bagi ketiganya.
"Mama, papa" Sapa Agan begitu sampai rumah
"Dari mana saja kamu? kami sudah hampir dua jam menunggu" protes mama
"Maaf ma, aku..." Agam terbata memberi alasan
"Shania bilang ada pekerjaan penting?" Cecar papa penasaran
"Owh iya pa, ada beberapa kendala di kantor tapi papa tenang saja sudah Agam bereskan"
"Good Job, Papa tahu bisa mengandalkanmu"
"Kalau begitu kami permisi pulang sudah terlalu lama mama mengganggu Shania"
"Akh mama, jangan bilang seperti itu, Shania senang jika mama papa berkenan berkunjung kemari"
"Tapi lain kali kalian lah yang seharusnya sering mengunjungi kami, kami berdua ini sudah tua akan sangant senang jika anak anak kami sering berkunjung"
"Agam, jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan! perhatikan juga istrimu" ucap Mama kembali memeluk Shania
"Iya ma," jawab Agam sembari menatap Shania
"Ya sudah kami harua pulang"
"Mama papa Hati hati di jalan"
Shania dan Agam mengantat kepergian orangtua mereka.
"Shan, aku tadi pergi ke proyek karena ada..."
"Iya mas," potong Shania enggan mendengarkan Agam menyelesaiakan kalimatnya
Agam tertegun melihat sikap Shania yang terkesan menghindarinya. Bahkan sejak bersama Mama dan papa tak sekalipun Shania bicara sembari menatapnya.
"Apa lagi ini" gumam Agam frustasi
__ADS_1
.................Lika, coment kaka.......................