
Shania terududuk lesu di sofa ruang tamu sekembalinya dari berbelanja bersama mama,pintu yang ia biarkan terbuka memperlihatkan pemandangan taman yang ada di halamanya, beberapa bunga mawar mekar menyebabkan kupu kupu hinggap di atasnya. Shania tersenyum melihat pandangan itu di tambah rintik hujan yang mulai turun membasahi tanaman membuat kupu kupu itu terbang tak beraturan menjauh dari air hujan yang semakin deras.
Bau aroma tanah kering yang tersapu oleh air hujan manjadi pertanda dahaganya musim kemarau menunggu musih hujan tiba. Sejenak Shania memejamkan mata mengingat kembali perbincanganya dengan mama beberapa jam yang lalu.
Flasback
"Shania, maafkan mama jika tadi kamu kurang nyaman dengan perbincangan mama dan Jesica" ucap mama membuka pembicaraan selagi menunggu pesanan mereka selesai di sajikan
"tidak apa ma" jawab Shania tersenyum menyakinkan
"Shania boleh tau ma siapa Jesica? kenapa mama terlihat tidak menyukainya" tanya Jesica berpura pura tidak mengenalnya sekalipun ia tau bahwa Jesica adalah kekasih Agam bahkan sekarang Shania harus menyembunyikan fakta pernikahan siri mereka berdua dari orang tuanya.
"Jesica adalah..."
Kalimat mama terhenti sejenak
"kalau mama enggan cerita ke Shania maka ngga perlu cerita ma"
"kamu harus tau kok sayang, mama berharap pernikahan kamu dan Agam semakin kuat dari hari ke hari tanpa ada gangguan dari masalalu Agam" terang mama
"Jesica adalah kekasih Agam sebelum menikah dengan kamu, mereka cukup lama menjalin hubungan namun mama dan papa tidak pernah merestui hubungan mereka, beberapa kali mama pernah memergoki Jesica jalan bersama pria lain namun ia berdalih bahwa itu sepupunya" lanjut mama
Mama terdiam sejenak sebelum melanjutkan ceritanya
"karena kami tidak pernah menyetujui hubungan mereka membuat Agam jadi banyak membangkang bahkan kami sering bertengkar kerena masalah ini, penjelasan mama mengenai laki laki yang mama jumpai bersama Jesica pun Agam tidak pernah mempercayainya" lanjut mama menceritakan masalalu Agam
"sampai akhirnya mama jatuh sakit kerena terlalu memikirkan Agam, mama takut anak mama hanya akan di mamfaatkan oleh Jesica"
Shania fokus mendengarkan cerita mama sembari sesekali meminum milkshake dan kue yang sudah tersaji di hadapan mereka.
"lalu ma?" tanya Shania penasaran
"setelah mama sakit itulah Agam baru melunak, ia berjanji akan menjaga jarak dengan Jesica sampai mengetahui kebenaran tentang laki laki yang mama maksudkan itu, sampai akhirnya kalian berdua menikah" lanjut mama di akhiri senyum manis menatap Shania yang asyik memakan sepotong kue
"syukurlah ma" ucap Shania berusaha tetap tenang menyembunyikan semuanya meski di dalam hati ingin rasanya menceritakan fakta yang sebenarnya tentang pernikahan Agam dan Jesica.
__ADS_1
Menceritakan kehidupan pernikahan yang Shania dan Agam jalani, namun melihat mama yang begitu banyak berharap pada pernikahan mereka rasanya Shania tidak tega jika harus memupusnya di usia pernikahan yang bahkan belum genap satu bulan.
Shania meyakinkan diri nya sendiri bahwa dia akan sanggup bertahan dalam pernikahan ini dan yakin suatu saat Agam akan melihat keberadaanya.
"ada yang mengganggu pikiranmu Shan?"tanya mama yang memperhatikan Shania terdiam seusai mendengar cerita masalalu Agam dan Jesica
"akh... ngga ma, itu kan sudah jadi masalalu mas Agam" Shania mencoba tersenyum menyakinkan mertuanya bahwa ia sama sekali tidak terusik dengan cerita yang beliau sampaikan
"makasih nak, kamu sangat pengertian, mama selalu berdoa di setiap sholat agar pernikahan kalian bahagia"
"aamiin" jawab Shania sendu mengingat ia pun memiliki doa dan harapan yang sama
"di makan ma, nanti kita lanjut belanja lagi" Shania kembali tersenyum
Flasback off
"mbak Shania kenapa pintunya ngga di tutup? di luat hujan deras" tanya Bi Marni hendak menutup pintu
"jangan di tutup bi, biayarkan saja"
"biyarkan saja," Ucap Shania sembari mengangguk dan mengangkat kedua alisnya mengertj maksud bi Marni namun ia sengaja melakukan ini
"baiklah mbak, tapi jangan terlalu lama nanti mbak Shania bisa sakit kerena anginya cukup kencang"
"iya bi, sebentar saja"
"saya permisi mbak mau ke belakang"
"iya" jawab Shania mengangguk mempersilahkan bi Marni meninggalkannya karena dia memang sedang ingin berdiam diri menikmati air hujan sendirian.
Hujan tak kunjung reda saat matahari sudah sepenuhnya tenggelam, Shania yang masih berdiam diri di sudut sofa rasanya enggan sekali beranjak, angin yang semakin dingin memasuki ruang tamu yang kedua pintunya masih terbuka,lantai pun sebagian basah oleh air hujan terbawa kencangnya angin yang menembus memasuki ruang tamu namun seakan tak perduli Shania masih mengabaikanya.
Bi marni pun hanya berani menatap sang majikan dari balik tembok penyekat ruang tamu dengan ruang Tv, tak berani menegurnya kembali, terlihat dari raut wajah sedang banyak yang di pikirkanya sehingga bi Marni memilih meninggalkan Shania termenung sengaja memberikan ruang untuk ia menyendiri.
"dan jam segini kamu pun belum pulang mas" gumam Shania yang melihat jam tanganya sudah bertuliskan pukul tujuh malam.
__ADS_1
Shania menghela nafas panjang, menenangkan hatinya yang masih saja bergejolak.
Baru saja Shania hendak menutup pintu terlihat mobil Agam tiba, Shania memilih menunggunya masuk.
"pulang mas" sapa Shania di ikuti dengan mencium tangan suaminya
"lekas mandi mas bajumu basah" kata Shania semabari membawa jas Agam yang ia lepas begitu memasuki rumah
Agam berlalu tanpa menjawab Shania sepatah katapun, Shania menghentikan langkahnya kecewa melihat respon Agam yang seakan tak melihat keberadaanya.
Shania memilih mengabaikan perasaanya dan menuju dapur hendak membuat teh panas untuk Agam agar badannya hangat karena sudah basah oleh air hujan.
"mas, ini aku bawakan teh panas" kata Shania menghampiri Agam duduk di bibir ranjang seusai mandi
"ya, " sahut Agam menerima secangkir teh yang Shania sodorkan
"kamu mau kemana mas?" tanya Shania heran melihat Agam langsung berdiri membawa ponsel dompet dan kunci mobil.
"aku ada urusan, tak perlu menungguku karena aku tidak pulang malam ini"
Shania terdiam sejenak
"apa kamu akan kerumah Jesica?" tanya Shania memberanikam diri tanpa menatap mata Agam
"apa masih perlu aku jawab?" ucap Agam ketus sembari membanting pintu kamar cukup keras
Air mata Shania kembali lolos dari sudut matanya, ia terisak di tengah hujan deras yang mengguyur kota Jakarta, tanpa ada yang mendengar jeritan hatinya. Shania tak memiliki ruang untuk mencurahkan semuanya, ia hanya bisa melewati semua ini sendiri.
Melihat Agam bahkan rela menerobos lebatnya hujan demi menemui Jesica semakin membuat Shania terluka, rasanya memang tidak ada ruang di hati Agam untuk dirinya.
Shania terduduk memeluk kedua kaki yang ia lipat, menenggelamkan kepala di antara keduanya, menangis kuat kuat melampiasakan semua kekecewaan dan sakit hati yang ia rasakan.
"Aku harus bagaimana agar bisa mempertahankan pernikahan ini Ya Tuhan, banyak harapan atas pernikahan kami" gumam Shania sembari terisak perih mengingat betapa pernikahan ini menjadi tumpuan harapan kedua keluarga besar mereka baik itu keluarga Agam atau kedua orangtuanya sendiri.
Entah berapa lama Shania menangis di temani derasnya hujan hingga membuat ia kelelahan dan akhirnya tertidur dengan sendirinya. Hujan yang semakin malam semakin deras seperti pertolongan Tuhan untuk memberikan kesejukan bagi hati Shania.
__ADS_1