
Shania berjalan menyusuri jalan setibanya ia di rumah, sengaja berjalan lambat menikmati udara sore di tengah keheningan halaman rumahnya yang luas
Ia berbisik dalam hati, berulang kali menyakinkan diri apa ia sanggup bertahan lebih lama dalam hubungan pernikahan mereka yang jelas sudah tidak sehat, rasanya tak ada harapan baginya untuk mengambil hati Agam
Setetes airmata pun lolos dari sudut matanya,ia biyarkan membasahi pipinya yang polos tanpa make up
"aku harus bagaimana ya Tuhan?" batinya sejenak menghentikan langkah memandang lurus ke depan, melihat betapa megah istana yang ia tempati
Kehidupannya terlihat sempurna dari luar, tapi jika menelisik lebih dalam saat ini kehidupanya tak lebih baik dari sangkar emas.
Lamunan Shania teralihkan saat tiba tiba ponselnya berdering, sekilas ia melihat nama yang tertera di layar "mama". Seketika kedua tanganya mengusap pipi yang kian basah oleh airmata, tak ingin mama khawatir Shania menarik nafas sebelum menerima panggilan dari sang mama
"hallo ma..." jawab Shania berusaha terdengar sedang bahagia
"hallo nak, apa kabar sayang?" sapa mama dari seberang yanv terdengar khawatir dengan padanya
"Shania baik ma, mama gimana? sehat kan?"
"alhamdulillah, mama juga sehat nak, hanya saja mama tiba tiba kangen sama kamu, kepikiran kamu terus dari semalam"
Shania tersenyum
"Shania juga kangen ma,"
"bagaimana kabar Agam?" tanya Mama
"kalian baik baik saja bukan?" lanjut mama seperti bisa merasakan kepahitan yang Shania rasakan
Shania terdiam sejenak, ia melipat bibirnya seakan menahan tangis agar tidak di sadari mama
Shania kembali terdiam seusai percakapannya dengan mama, ia menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan seraya menyunggingkan senyum menyakinkan bahwa dirinya kuat menjalani semua ini
Ia bergegas melanjutkan kegiatanya, sore ini ia ingin merapikan taman belakang rumahnya karena beberapa pesanan bunga nya sudah sampai sedari pagi
"menyibukan diri adalah hal yang efektif untukku sekarang, mari mencoba lebih kuat Shan" gumam Shania pelan
" Bi Marni tolong bawa kemari bunga yang saya pesan tadi" pinta Shania yang sudah siap dengan sarung tangan dan sekop kecil yang di pegangnya
"baik mbak" bi Marni pun ikut antusias melihat keceriaan Shania
"mau saya bantu mbak?" tanya Bi Marni setelah selesai membawa puluhan bungan pesanan Shania
"ngga perlu bi, biyar saya sendiri" jawab Shania tersenyum menatap bi Marnia
Bi Marni yang paham apa yang di inginkan Shania, ia hanya membalasnya dengan ikut tersenyum kemudian meninggalkan Shania dengan perlengkapan taman yang sudah ia siapkan lebih dulu
Waktu berjalan lebih cepat saat Shania sibuk dengan bunga bunga cantik yang menyegarkan pikiranya, ia bisa kembali tersenyum saat menyiran tanaman tersebut
Tak terasa hari sudah gelap, Shania bergegas mandi dan bersiap melaksanakan sholat maghrib yang telah berkumandang
__ADS_1
Shania bersimpuh lama meski runtutan rukun sholat telah ia selesaikan, ia bersujud lebih lama dari biasanya, hening begitu terasa
Setetes demi setetes air mata jatuh membasahi mukena yang ia kenakan, meski tak bersuara namun jelas tersirat hatinya sedang berteriak, Shania masih berdiam diri di atas sajadah tak banyak doa yang ia panjatkan, ia hanya sedang mengadu kepada Tuhanya layaknya seorang anak kecil yang ingin menangis di pangkuan sang ibu ketika ia terluka
Lima menit berlalu, kini Shania menengadahkan kedua tanganya, matanya tertuju pada langit langit kamarnya, air mata masih tak hentinya membasahi kedua pipinya
"ya Allah, beri hamba kekuatan untuk bertahan, beri hamba kemampuan untuk membuang rasa marah" Nafasnya tersengal sejenak
"jika pernikahan ini adalah takdir yang Engkau tetapkan bagi hamba, hamba mohon teguhkan hati hamba untuk menjalaninya"
Shania mengakhiri doa dengan menutup kedua mata, menghapus air mata dan kembali mencium tempat sujudnya. Ia pun masih enggan melepas mukena karena saat seperti inilah momen yang paling menenangkan baginya
derttt... ponsel Shania terus bergetar sehingga membuat dia segera bergegas meraihnya
"Shan, senin depan kamu sudah bisa mulai kerja, selamat ya" pesan dari Renita yang di akhiri dengan lambang cinta
"terimakasih Ren, semoga mejadi kebaikan buat aku" balas Shania tersenyum penuh harapan
...................
Hari senin tiba, hari pertama Shania masuk ke dunia kerja, ia akan bersosialisasi dengan lingkungan baru, teman teman baru bahkan suasana baru, banyak harapan yang ia tumpukan pada pekerjaan ini terlepas dari gaji yang akan ia terima
"bi...." panggil Shania yang setengah berlari dari kamarnya
"iya mbak" sahut Bi Marni yang sedang mencuci piring di dapur
"baik mbak, jadi hari ini hari pertama bekerja?"
"iya bi, doakan semoga saya bisa beradaptasi secepatnya"
"semoga lancar, dan yang paling penting harus bahagia menjalaninya"
"pasti bi, semoga menjadi kebaikan buat saya"
"apa mas Agam tahu kalau mulai hari ini mbak Shania bekerja?"
"mas Agam sudah tahu dan saya juga dapat
ijin untuk bekerja bi, bibi tenang saja ya"
"baiklah" Bi Marni tersenyum
Shania bergegas pergi ke Rumah sakit tempat ia bekerja, di hari pertamanya ia begitu sibuk mempelajari berkas yang ada di meja kerjanya, mencoba memahami sistem di Rumah sakit tersebut
Jam dinding di kantornya sudah menunjukan pukul lima sore namun Shania masih sibuk dengan berkas di depanya,sepertinya dia begitu menikmati kegiatan barunya kali ini
"selamat sore bu" sapa Renita mengaggetkan Shania yang tidak menyadari kehadiranya
"hai Ren, bikin kaget saja" sahut Shania menatapnya
__ADS_1
"serius banget sampai tidak sadar aku masuk? ngomong ngomong...."kalimat Renita terjeda karena ia menujuk ke arah jam diding di belakangnya
"sadar ngga ini sudah jam berapa Shan?kamu ngga pengen pulang?"
"astaga sudah jam lima sore?" Shania terkejut dan bergegas mencari ponsel yang sejak pagi masih ada di tas tidak ia keluarkan
"ya Allah mas Agam telfon sampai enam kali Ren"
"nahkan, pasti kena marah" goda Renita
"aduh aku harus segera pulang" Shania cepat cepat membereskan pekerjaanya dan pergi meninggalkan ruang kerja
"biyar aku antar Shan," tahan Renita yang melihat Shania begitu gelisah
"tapi....."
"aku ada janji tak jauh dari rumahmu jadi kita searah" jelas Renita yang tahu Shania akan menolaknya dengan alasan tak ingin merepotkan Renita karena memang sebenarnya arah rumah mereka berlawanan
"baiklah, ayo" Shania berjalan lebih dulu ke besmen tempat mobil Renita di parkirkan
"Shan..." Renita membuka percakapan di tengah perjalanan mereka
"sebenarnya ada apa sih? kenapa kamu harus sepanik itu saat tahu suamimu menghubungi beberapa kali?"
"hemm..." Shania terbata menjawab
"apa dia tipe yang tempramen?" tanya Renita menelisik
"kamu ngga perlu sepanik itu kan sampai semuanya serba terburu buru itu bisa membahayakan kamu lo Shan" lanjut Renita khawatir
"bukan begitu Ren, hanya saja hari ini mas Agam baru pulang dari Bali dan aku belum sempat bilang kalau hari ini aku mulai bekerja" jawab Shania berbohong karena tak ingin Renita curiga dengan kondisi rumah tangganya
"oke, tapi lain kali jangan terlalu buru buru seperti tadi, aku yakin suamimu akan mengerti"
"iya, I"m sorry"
Tiga puluh menit perjalan Rumah sakit sampai kediaman Shania, melihat Shania kembali bersikap ceroboh ketika sampai di halaman rumah, sehingga ia hampir terjatuh karena bergegas membuka pintu saat mobil belum sepenuhnya berhenti, membuat Renita bertanya tanya apa yang terjadi dengan sahabatnya itu
"Shan!" bentak Renita khawatir
"its oke" Shania tersenyum menenangkan Renita
"terimakasih untuk tumpanganya, besok kita makan siang bersama" pungkas Shania bergegas meninggalkan Renita yang terlihat khawatir menatap kepergianya.
................
..........
.................
__ADS_1