
Hari ketiga Ayah di Rumah sakit nampaknya belum ada perubahan yang signifikan,alat bantu masih terpasang pada tempatnya. Shania sesekali menatap sedih sang ayah yang semakin tak berdaya,usia yang sudah renta membuat beberapa kerutan di wajahnya semakin terlihat. Beliaupun terlihat semakin kurus dari hari ke hari.
"Shan..." tegur Ibu menepuk pundak sebelah kiri Shania yang sedang berdiri memandangi Ayah dari balik celah pintu
"Ibu sudah datang?" Shania segera mengusap kedua pipi yang sudah basah dengan air mata sejak tadi
"sudah sarapa belum?" tanya ibu mengajaknya duduk di kursi tunggu
"belum bu" jawab Shania singkat
"kalau begitu makanlah, ini Ibu bawa sedikit makanan untukmu" ibu kemudian membuka kotak nasi yang di tentengnya.
"nanti saja bu, Shania belum lapar" tolak Shania yang saat ini tidak memiliki ***** makan
"tapi kamu dari kemarin sore kan belum makan nak, jangan sampai kamu ikut sakit"
"iya nanti aku makan bu"
Ibu terdiam sejenak memandangi Shania yang nampak tertekan
"Shan...ada yang mau Ibu ceritakan"
Shania menoleh menatap ibu
"sebenarnya...." ibu menghentikan kalimatnya karena ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Shania
"ada apa bu?"
"ini soal Fahri nak"
"kenapa dengan kak Fahri? Apa Ibu juga tidak menyukainya?dia pria yang baik bu"
"Ibu tau sayang dia laki laki yang baik,hanya saja..." lagi lagi kalimat ibu terputus
"ada apa sih bu? Ada yang aku ngga tahu?"
"sekitar satu bulan yang lalu, Ibu Fahri menghampiri Ayahmu di tempatnya bekerja"
"maksud ibu? tante Fatma nyamperin Ayah?"
"iya..."
"dari yang Ayahmu ceritakan ke Ibu, bu Fatma menyampaikan keberatanya atas kedekatan kamu dan Fahri, Fahri adalah anak tunggal mereka, dan mereka merasa kamu dan keluargamu tidak layak bersanding dengan mereka"tutur ibu menceritakan apa yang terjadi
"yang harus kamu tahu,Ayah bukan tidak menyukai Fahri tapi beliau khawatir kamu akan terluka jika memaksakan diri masuk ke keluarga mereka sedangkan mereka tidak menyukaimu"lanjut ibu
__ADS_1
Shania terdiam mendengarnya, ia mengingat kembali beberapa kali pertemuannya dengan Ibu Fahri, memang saat itu reaksi orang tua Fahri tidak begitu baik terhadapnya namun ia abaikan.
"yang lebih buruknya lagi, bu Fatma itu marah marah kepada Ayah di depan kantor pak Alex dan di lihat banyak karyawan yang lainya" tutur ibu melanjutkan ceritanya
"benarkah bu?" Shania setengah tak percaya wanita seanggun tante Fatma bisa memperlakukan Ayahnya begitu hina
"Ibu mohon kamu pikirkan baik baik nak, mana yang menurutmu lebih baik" ucap ibu kemudian masuk ke ruang rawat ayah.
Shania berjalan menyusuri lorong Rumah sakit, tatapanya kosong, banyak pikiran yang mengganggunya di tambah mengetahui penghinaan yang ayahnya terima. Kakinya terhenti di sebuah bangku kayu di bawah pohon sudut taman Rumah sakit,angin pagi yang begitu segar membawa sisa sisa embuh yang hampir menguap karena panas matahari membasuh wajahnya, menyibakan rambutnya.
Shania masih termenung tak bergeming.
Dua jam berlalu Shania masih di tempatnya, belum menemukan jawaban atas pertanyaanya sendiri. Ia merasa enggan melakukan apapun hanya ingin duduk santai melihat anak anak berpakaian Rumah Sakit asyik bermain meski dengan selang infus ditanganya. Sampai dering telfon yang berulang kali membuatnya beranjak ke kamar Ayah dengan segera setelah Damar mengatakan Ayah mengalami kejang.
Benar saja setibanya Shania di depan ruang rawat sang Ayah, ibu sedang menangis di pelukan sang adik sedang di dalam sana sudah penuh dengan dokter dan berapa perawat yang menangani ayah.
"bu...bagaimana Ayah?"
Ibu hanya menggeleng
"mbak Lia, ada apa?" tanya tante Rosa yang datang bersama Agam
"Ayah tadi kejang dan sesak nafas tante" jawab Diki adik bungsu Shania
Tante Rosa seketika memeluk Shania yang tak hentinya menangis, pelukanya terasa begitu hangat seperti pelukan seorang ibu kandung. Sejenak hati Shania merasakan ketulusan tante Rosa,kepedulianya membuat Shania nyaman.
"tampan tapi ngga punya empati" gerutu Shania dalam hati
"tante yang kuat,om pasti baik baik saja" ucap Agam mendekati Ibu Shania, ibu tersenyum mendengarnya
"maaf apa ada mbak Shania?" tanya perawat yang baru saja keluar
"saya Shania" sahut Shania cepat
"silahkan masuk mbak Shania, pak Bram mencari anda"
"Agam, kamu temani Shania masuk" perintah mama Rosa
Agam dengan terpaksa menemani Shania masuk menemui ayah, ia tidak bisa menolak karena tidak mungkin berdebat dengan sang mama di tempat seperti ini.
"yah..." panggil Shania lirih
"dok, gimana Ayah saya" pandangannya beralih pada dokter yang berdiri disamping mereka
"untuk saat ini perlu pemantauan khusus, mohon dari pihak keluarga ikut membantu agar beliau tidak terlalu banyak pikiran"
__ADS_1
Shania mengangguk pelan mengerti apa yang di maksud dokter
"kalau begitu kami permisi" ucap dokter
"terimakasih dok" sahut Agam mengantarkan sang dokter sampai depan pintu
"Shania..."panggil ayah lirih
"iya yah, ini Shania" Shania menggenggam tangannya
"sudahkan kamu putuskan?"
Shania terdiam sejenak
"nak Agam" panggil Ayah menyadari kehadiran Agam di samping Shania
"ini adalah pemandangan yang Ayah impikan"lanjut Ayah tersenyum meilhat Agam dan Shania berdiri berdampingan
"tapi om..." Shania menarik tangan Agam untuk menghentikanya bicara
Shania menaik nafas panjang sebelum mengatakan "baik yah, Shania mau menikah dengan Agam"
Agam terkejut mendengarnya, matanya membulat kemerahan menahan marah dengan jawaban Shania. Agam meremas tangan Shania yang masih menggenggamnya kuat kuat seraya menunjukan protes atas keputusan yang Shania ambil. Shania menyeringai menahan sakit hingga membuat lenganya memerah karena Agam.
"benarkah?Ayah sangat bahagia nak" ucap Ayah tersenyum
"maaf om, saya permisi harus kembali ke kantor" sela Agam kemudian berlalu meninggalkan Shania begitu saja
Agam melampiaskan kemarahanya pada kaca mobilnya, tidak perduli jari jemarinya berdarah karena goresan pecahan kaca. Shania adalah harapan satu satunya untuk menolak perjodohan ini justru menyetujuinya. Agam yang dari beberapa bulan yang lalu sudah mengetahui rencana orang tua mereka tak berhasil membujuk sang papa untuk membatalkanya, Agam justru hampir kehilangan semua asetnya jika tetap membangkang menolak permintaan pak Alex.
Agam yang sejak lahir sudah bersendok emas, rasanya tak akan sanggup jika kehilangan semua fasilitas yang ia miliki.
Beberapa minggu berlalu, semua persiapan pernikahan telah di kebut oleh pihak keluarga Agam, karena mengingat kesehatan Ayah maka keluarga Agam menawarkam jika seluruh prosesi pernikahan pihak mereka yang mengurusnya.
Pesta pernikahan yang megah di hotel bintang lima dengan ratusan tamu undangan pun di gelar, Shania tampil anggun dengan balutan gaun panjang warna putih dengan riasaan wajah yang menakjubkan, seperti seorang ratu ia tampil cantik membius tamu undangan yang terkagum melihat kecantikanya. Agam yang melihatnya pun sejenak terpesona melihat betapa sempurnanya Shania malam ini.
Tumpukan kado dan seserahan begitu banyak tak terhitung jumlahnya, ucapan selamat pun banyak di terimanya dari para tamu undangan.
"kak Fahri" gumam Shania panik melihat Fahri berada dalam barisan tamu yang akan menaiki pelaminan
Shania terhuyung hampir jatuh sebelum akhirnya tangan Agam menahanya
"selamat Shania" ucap Fahri mengulurkan tanganya namun Shania tak sanggup menjabatnya. Air matanya justru menetes dengan sendirinya,dadanya tiba tiba terasa begitu sesak seperti terhimpit bongkahan batu yang besar sehingga tak memberinya celah untuk bernafas
"terima kasih" sahut Agam menjabat tangan Fahri saat menyadari ada yang tidak beres dengan Shania, ia meremas jas Agam seraya mohon pertolongan
__ADS_1
"bernafaslah perlahan, jangan buat malu kita sedang di lihat banyak mata" bisik Agam kesal
Shania hanya meliriknya kemudian kembali mencoba tersenyum menyambut para undangan yang lain, sesekali ia menatap sekeliling mencari sosok Fahri, perih rasanya harus menyambut Fahri sebagai tamu undangan di pernikahanya, perasaannya kini harus ia pupus mengingat ia telah resmi menyandang status sebagai istri Agam Hartanto