
"Dok,bagaimana kondisi suami saya?" tanya ibu begitu melihat dokter keluar dari pintu IGD
"alhamdulillah beliau sudah sadarkan diri, tapi sepertinya beliau memiliki beberapa masalah serius, untuk lebih pastinya kami perlu melakukan pemeriksaan menyeluruh pada beliau" jelas Dokter
"lakukan semua yang di perlukan dok" sela Shania yang baru saja datang usai sholat di mushola Rumah Sakit
"baik, kami akan segera melakukan pemeriksaan menyuluruh"
"apa kami boleh menemui Ayah?" tanya Damar adik bungsu Shania
"silahkan, tapi mohon bergantian dan pastikan jangan terlalu banyak mengajak beliau bicara,hindari beban pikiran yang berlebihan karena saat ini yang beliau butuhkan adalah istirahat yang cukup dan ketenangan" jelas dokter
"baik dok, terimakasih"
Dua hari sudah ayah mendapat perawatan di rumah sakit, anggota keluarga saling bergantian menjaga ayah di waktu siang maupun malam namun Shania sendiri belum pulang sama sekali sejak ayah masuk Rumah Sakit, dia adalah orang yang paling sedih melihat kondisi ayah dan lagi ada sedikit rasa bersalah di sudut hatinya.
"permisi" ucap seseorang dari balik tirai yang membatasi ranjang ayah dengan pasien lain
"ya" jawab Shania menoleh ke sumber suara
"Bram,bagaimana kondisimu?" tanya Pak Alex beserta istri dan kedua anak laki lakinya yang datang berkunjung
"sudah membaik,kenapa repot repot kesini?"jawab Ayah
Bola mata Shania membulat mendapati sosok Agam Hartanto menatap tajam kearahnya, seketika ingatan kembali ke percakapannya dengan ayah sebelumnya mengenai rencana pernikahan mereka. Shania mengerjapkan mata beberapa kali enggan membayangkan jika pernikahan itu benar benar terjadi, melihat sikap Agam saat ini yang begitu dingin semakin membuatnya takut.
"maaf kami baru sempat berkunjung" kata Bu Rosa istri pak Alex
"tak apa bu, kami justru jadi sungkan karena telah merepotkan" jawab Ibu Shania
"om,semoga lekas sehat" Agam dan Adam menjabat tangan ayah bergantian
Shania memilih meninggalkan ruangan demi memberikan keleluasaan bagi parap orang tua
mengobrol santai karena pada dasarnya mereka adalah sahabat lama,pasti banyak yang akan mereka bicarakan.
Shania duduk menyendiri di sudut kursi tunggu di depan ruangan sang ayah begitu pula dengan Agam dan Adam,suara Hening begitu terasa di antara ketiganya karena tak ada satupun dari mereka yang berniat untuk membuka pembicaraan.
Kecanggungan semakin terasa saat Adam memutuskan untuk pulang lebih dulu karena dia harus segera ke kampus untuk jadwal kuliahnya siang itu.
"kak Agam apa kabar?"sapa Shania memberanikan diri membuka pembicaraan namun Agam hanya meliriknya tanpa menjawab, ia justru pergi begitu saja meninggalkan Rumah sakit bahkan tanpa berpamitkan kepada orangtuanya
"dasar... Ada orang sedingin es begitu" gerutu Shania kesal mengayuhkan kepalan tanganya ke arah Agam yang berjalan memunggungi seakan hendak memukulnya.
"ayah memang selalu terlihat bahagia saat bercengkrama dengan pak Alex" gumam Shania tersenyum memandangi sang ayah sedang bercanda dan tertawa riang dari celah pintu kaca
__ADS_1
Shania kembali duduk di kursi tunggu memainkan poselnya,ia baru menyadari ada beberapa pesan dan panggilan dari Fahri sejak semalam namun ia abaikan karena fokus dengan keadaan ayah
"Shan, sudah tidur kah?hari minggu kakak jemput jam tujuh malam, ada yang mau kakak bicarakan" pesan paling atas yang Shania buka
"maaf kak baru aku balas, baik kak hari minggu aku ngga ada acara"
"oke Shania, sampai jumpa minggu malam" balas Fahri cepat
Shania tersenyum membaca berungkali pesan text tersebut, ia sudah memiliki firasat apa yang akan Fahri sampaikan kepadanya. Iya pun semakin geli membayangkan seperti apa saat hari akan menyampaikan perasaannya,bak gayung bersambut Shania tak berhentinya tersenyum.
Matahari mulai terbenam mengeluarkan cahaya kuning kecoklatan, memasuki ruangan ayah melewati tirai tipis yang menutup jendela kaca ruang VVIP di lantai empat Rumah Sakit tersebut. Pak Alex lah yang mengatur kepindahan ruangrawat ayah dari kelas 2 ke ruang VVIP yang penuh dengan fasilitas bak hotel bintang lima.
"selamat sore" sapa seorang dokter spesialis penyakit dalam yang memasuki ruang rawat ayah setelah mengetuk pintu terlebih dahulu
"sore dok" jawab Shania yang saat ini menunggui sang Ayah sendirian karena ibu dan kedua adiknya harus pulang mengambil beberapa pakaian ganti ayah
" Mbak Sania hasil lab pak Bram sudah keluar, bisa ikut saya sebentar? Akan saya jelaskan"
"di sini saja dok, saya juga mau dengar bagaimana kondisi kesehatan saya karena saya sering merasakan sakit di bagian dada" sahut Ayah menyela
"baik lah kalau begitu, dari hasil pemeriksaan pak Bram ginjal bapak mengalami pembekakan dan ini sudah dalam kondisi kronis sehingga menyebabkan organ yang laim pun mulai bermasalah"jelas dokter
Shania begitu terpukul mendengar penjelasan dokter yang panjang lebar dengan berbagai istilah medis yang dia sama sekali tidak memahaminya, hanya satu yang ia tau bahwa kondisi ayah sangat tidak baik dan ini ternyata sudah berlangsung lama hanya saja ayah tak pernah mengatakan yang sebenarnya
Shania menangis sesenggukan usai kepergian dokter,ia memeluk sang ayah menyayangkan kenapa ia terlambat mengetahui kondisi sang ayah.
Flasback on
Derrtt derrrt... Dering ponsel Ayah Bram bergetar berungkali namun sang pemilik tidak menyadari karena sedang sibuk dengan pekerjaanya.
"pak Bram" panggil teman Ayah
"iya kang, ada apa?"
"hape nya bunyi terus, barang kali penting di angkat dulu atuh"
"aduh lagi naggung kang" jawab Ayah yang saat itu bekerja sebagai kuli bangunan dan sedang membawa dua ember berisi adonan semen
"sudah biyar saya yang bawa dulu, takut itu penting, lagi pula istrimu sedang hamil besar kan?mana tau dari istrimu" kata si Akang sembari mengambil dua ember yang ayah bawa
"makasih kang" ucap Ayah bergegas mengambil ponsel yang ada di dalam tas tak jauh dari tempatnya berdiri
"ibu" gumam ayah melihat ternyata benar sang istri yang menelfonya
"ada apa bu?" jawab Ayah
__ADS_1
"yah, pak Alex kecelakaan baru saja ibu lihat berita"
"astagfirullah, ya sudah Ayah pulang sekarang langsung keRumah Sakit"
Ayah bergegas pergi menuju Rumah Sakit tanpa menghiraukan pekerjaannya lagi bahkan izin pada pimpinannya pun tidak yang dia pikirkan adalah bagaimana kondisi sang sahabat, teman masa kecilnya.
Sesampainya di rumah sakit Ayah disambut oleh isak tangis bu Rosa istri Pak Alex dari cerita Bu Rosa Ayah mengetahui bahwa Pak Alex dalam kondisi kurang baik dan membutuhkan donor ginjal secepatnya.
Dengan berbagai pertimbangan dan tentunya juga izin dari ibu ayah akhirnya mendonorkan salah satu ginjalnya setelah pemeriksaan panjang yang harus di lewati. Seperti sudah menjadi takdir Tuhan semua pemeriksaan dan persyaratan untuk kelayakan sebagai donor ginjal Ayah memenuhinya.
"mas Bram dan mbak Lia, saya sangat berterimakasih sekali atas pengorbanan kalian" ucap bu Rosa beberapa hari setelah oprasi berhasil di laksanakan
"sama sama bu, semoga Alex segera membaik" ucap Ayah
"Bram..." suara lirih terdengar memanggil ayah
"Alex, kamu sudah bangun?" Ayah begitu senang mendapati sang sahabat sudah membuka matanya kembali
"pah... Syukurlah kamu akhirnya sadar" Bu Rosa memeluk sang suami penuh kelegaan
"Pah... Mas Bram yang telah mendonorkan ginjalnya untuk papa" kata Bu Rosa
"lantas bagaimana dengan kesehatanmu sendiri Bram?!" tanya pak Alex khawatir,tersirat ia marah dengan keputusan yang di ambil Ayah
"kamu tenanglah, ginjalku yang lain dalam kondisi baik jadi insyAllah aku akan baik baik saja" jelas Ayah menenangkanya
"yang penting sekarang kamu harus segera sehat, kasian istri dan anakmu" lanjut Ayah sembari memeluk ibu yang ada di sampingnya seakan juga ingin menyakin ibu untuk berhenti khawatir terhadapnya.
Flasback off
"dan karena kejadian itu juga membuat Ayah akhirnya bekerja di perusahaan Alex, meski sebenarnya Ayah tidak mau, namun baik Alex atau Ibumu terlalu khawatir Ayah harus berkerja exstra jika tetap jadi kuli bangunan"
lanjut Ayah menjelaskan
"lalu bagaimana dengan kondisi Ayah sekarang?" Shania mulai menangis,pikiranya kalut mengetahui kesehatan Ayah akan memburuk setiap hari karena banyaknya komplikasi
"tidak apa Shania, semua sudah Allah yang atur" ucap Ayah mengelus rambut Shania pelan
"Shania..." panggil Ayah lirih. Shania mendongakan kepala menatap sang ayah yang begitu teduh menatapnya penuh kasih sayang
"Ayah hanya punya satu permintaan terakhir, terimalah perjodohan mu dengan Agam"
"tapi yah, ngga bisa dong seperti ini , Shania bukan anak kecil"suara Shania melemah dengan airmata yang terus menetes memohon iba
"nak, percayalah Ayah hanya menginginkan yang terbaik untukmu" lanjut Ayah menyakinkan
__ADS_1
Shania akhirnya berlari keluar meninggalkan Ayah, ia tak kuasa menahan tangis yang membucah di dadanya, pikiranya saat ini dipenuhi dengan kekhawatiran dan keraguan, keputusan seperti apa yang akan dia ambil.Rasanya tak mungkin dia menikah dengan Agam, laki laki yang tidak ia cintai namun bagaimana dengan permintaan Ayah? Bisa jadi ini adalah permintaan terkhirnya. Lalu bagaimana dengan Fahri? Semua pertanyaan itu seperti saling bergantian memenuhi kepalanya.
Ibu hanya menatap Shania dari jauh,karena ingin memberinya ruang untuk lepaskan rasa sakitnya.Air mata pun tak kuasa ia bendung melihat kesedihan sang putri, hatinya ikut tegores setiap melihat Shania menangis namun mengingat apa yang terjadi rasanya Agam memang lebih baik dari Fahri.