Dua Cinta Beda Rasa

Dua Cinta Beda Rasa
Hati ku yang penuh luka


__ADS_3

"Dok, bagaimana kondisi istri saya?" tanya Agam pada Dokter yang datang berkunjung


"Semua baik baik saja, siang ini bu Shania boleh pulang, tapi yang harus di perhatikan bahwa jangan terlalu banyak tekanan." terang Dokter.


"Baik dok, terimakasih."


Agam memandang Shania yang masih enggan bertatap muka denganya, sedih rasanya di abaikan oleh Shania namun ini adalah harga yang harus ia bayar untuk setiap tetesan air mata Shania.


Perasaan Shania lega mendengar keadaanya membaik begitu juga dengan calon bayinya. Masih enggan berinteraksi lebih dengan Agam ia memilih lebih banyak diam, meski kini ia sudah mengizinkan Agam berada di ruangan yang sama dengannya.


"Shan, aku urus administrasi rumah sakit sebentar, mau aku panggilkan suster?"


"Ngga mas," Sahut Shania ketus tanpa menatap Agam yang sedari tadi memandang sendu padanya.


Shania akhirnya meninggalkan Rumah sakit begitu Agam menyelesaikan semua biaya dan adminiatrasi terkait, lega rasanya melihat Shania bisa pulang ke rumah dalam keadaan baik baik saja begitu apalagi fakta bahwa ia akan menjadi Ayah dari bayi yang di kandung Shania membuatnya lebih bahagia.


"Aku,mau pulang ke rumah ibu." ucap Shania ketus


"Hari ini kita pulang kerumah dulu, besok pagi aku antar ke rumah ibu," jawab Agam lembut penuh hati hati


"Mas, aku ngga mau pulang kerumah!"


"Tapi sayang, mama papa sudah menunggu di rumah, mereka semua tahu kamu pulang hari ini, jadi mereka menyiapkan penyambutan untuk mu," jelas Agam sembari tersenyum dan mencoba mengusap punggung tangan Shania


"Tapi aku...."


"Aku mohon sayang, besok pagi kita kerumah ibu," sela Agam


Shania diam tanpa menjawab, meski enggan rasanya kembali kerumah yang penuh kenangan tidak menyenangkan itu,Shania tidak ingin mengecewakan kedua mertua yang sangat menyayanginya dengan tulus sejak awal pernikahan mereka berdua.


"Selamat kembali kerumah anak mama," sambut mama memeluk hangat Shania


"Selamat juga untuk kehamilan kamu, akhirnya mama akan jadin nenek,"lanjut mama perlahan melepas pelukanya


"Selamat ya Shan, papa doakan yang terbaik untuk kalian berdua,"


"Makasih pa, ma," jawab Shania datar


Mama dan papa menyadari situasinya cukup canggung saat ini namun mereka tidak ingin merusak suasanya dengan banyak bertanya.


"Oke, sekarang kita makan dulu, mama sudah memasak semua makan yang pasti kamu suka," ajak mama mencairkan suasana


Mama berjalan sembari menggandeng lengan Shania namun langkahnya terhenti saat Shania enggan bergerak satu langkahpun.


"Ma," Mata Shania berkaca kaca


Mama, Papa dan Agam saling memandang menunggu kalimat yang akan Shania ucapkan. Ketiganya merasa ada yang memompa jantung lebih cepat hingga ada rasa takut yang tercipta.


"Ma, Shania minta maaf...tapi..." Ucap Shania parau


"Sha.." Shania memejamkan mata, menarik nafas dan membuangnya perlahan


"Sha..nia mau berpisah dari mas Agam"


Semua yang mendengar kalimat Shania barusan tercengang tak percaya meski bagi Agam itu bukan perkara baru namun ia pun tak menyangka Shania akhirnya mengucapkanya di depan orang tuanya.


"Shan, apa yang kamu bicarakan?" tanya mama syok


"Shan,papa tahu hubungan kalian sedang tidak baik,tapi jangan seperti ini nak, semua bisa di bicarakan lagi."

__ADS_1


"Pa..."


"Shania memutuskan ini bukan dalam sehari dua hari, Shania sudah berjalan di atas duri sejak awal menikah dengan mas Agam, banyak hal yang sudah Shania uapayakan untuk meraih hati mas Agam," Air mata Shania menetes


"Namun, Shania gagal pa."


Tangis Shania pecah, meski tak bersuara airmatanya memgalir deras membasahi pipi hingga baju yang ia kenakan, Kaki nya melemas tak kuat menopang badan dan hatinya yang sudah lelah.


Agam hanya terdiam mendengar setiap kata yang terlontar dari bibir mungil Shania, membuat ia kembali merenungkan kesalahan yang ia perbuat selama ini. Agam memang pantas menerima kemarahan Shania, namun membayangkan Shania meninggalkanya membuat Agam ketakutan yang tidak bisa ia jelaskan apa penyebabnya.


"Sebenarnya ada masalah apa dalam pernikahan kalian? dan apa maksudnya sejak awal pernikahan kalian?" tanya mama mulai emosional


"Ma tenang dulu," reda papa


"Mari kita duduk dan membicarakan ini," ucap papa sembari menuntun mama ke sofa tak jauh dari mereka berdiri saat ini


"Sekarang jelaskan pada kami ada masalah apa di antara kalian berdua?" cecar papa


"Agam! kenapa kamu hanya diam saja?!" bentak mama marah


"Shan, mama mohon nak, jangan bicarakan hal buruk karena itu bisa jadi doa,"


"Shania minta maaf ma,"


"Jelaskan! ada apa dengan rumah tangga kalian?" tangis mama pun pecah melihat anak anaknya terluka


Agam dan Shania sama sama tak bergeming, antara takut dan malu mengakui semuanya


"Jelaskan!kenapa tidak ada yang bicara!"


"Ma..." ucap Agam lirih


"Sebenarnya...." Tubuh Agam gemetar menanti reaksi orangtuanya


"Sebelum aku menikahi Shania, aku sudah lebih dulu menikah dengan Jesica," Agam menutup mata usai mengakhiri pengakuannya


"Apa?" tanya mama tak percaya


"Bisa kamu ulang nak?" Mama pun tak kalah hebat gemetar menahan kemarahannya


"Maafkan aku ma,"


"Kamu menikah dengan Jesica? perempuan itu?!"


Agam hanya mengangguk sembari menundukan kepala


"Pikiran kamu di mana AGAM HARTANTO!" pekik Ayah


Shania memejamkan mata mendengar bentakan papa, semenjak pernikahn mereka ia hanya tau kedua mertuanya adalah orang yang berhati lembut, jangankan membentak menegur Shania pun belum pernah.


"Aku memang bersalah pa,"


plaak.. tamparan papa mendarat di pipi Agam


Seketika Shania pun terkejut melihat kemaran papa yang di luar kendali.


"Pa..." Shania mencoba meredam emosi papa


"Papa perlu kasih pelajaran pada anak yang sudah hilang arah ini!"

__ADS_1


"Kami ngga habis pikir dimana otak kamu? bagaimana bisa kamu memperlakukan Shania seperti ini?!"


"Jadi selama ini keharmonisan kalian hanya sandiwara?" tanya mama


"Ma, tenang ya ma,"


"Shan, mama yang salah menididik anak mama, mama minta maaf"


"Ma,jangan seperti ini..."


"Shania yang ngga bisa meluluhkan mas Agam,bukan salah mama"


"Agam minta maaf, semua aku yang salah," Agam berlutut di hadapan mama memohon pengampunan


Mereka semua larut dalam kesedihan dan kekesalan. Rasa bersalah menghantui satu sama lain. Baik Agam maupun Shania tidak ada yang mampu meredam kemarahaan orangtua mereka. Tamparan yang Agam terima pun belum cukup meredakan kekecewaan papa


"Benarkah kalian akan berpisah?" celetuk mama


"Iya, tolong kembalikan Shania kerumah orang tua Shania ma,pa"


"Nggak!"


"Aku mau ngga mau bercerai ma, aku menyesali semuanya," Sela Agam panik


"Aku ngga mau berpisah dari kamu sayang," Agam meraih tangan Shania, menggenggamnya kencang seakan tak mengizinkannya terlepas


"Shan, aku mohon beri aku kesempatan terakhir" pinta Agam


"Membayangkan kamu meninggalkan aku rasanya semua tulang ku hilang, aku janji akan memperbaiki semuanya."


"Untuk tinggal dirumah ini saja aku ngga bisa mas, "


"Oke, kita akan cari rumah baru."


"Apapun yang kamu inginkan akan aku lakukan kecuali perceraian."


Agam masih berlutut memeganggi tangan Shania, Shania pun tertunduk mentap Agam yang berada tepat di depanya. Bagi Shania ini adalah moment dimana ia melihat sang suami dari sisi yang amat berbeda sejak merek menikah. Sorot matanya di penuhi dengan ketakutan, genggaman tanganya terasa dingin di selimuti penyesalan.


Mama dan papa hanya bisa melihat semuanya tanpa bisa mencampuri keduanya, meski ingin sekali menolak keingin shania tapi mereka menyadari ini bukan persoalan yang bisa mereka campuri.


"Kamu akan menuruti semua apa yang aku mau?" tanya Shania tiba tiba


"Iya, apapun yang kamu sayang, asal beri aku kesempatan"


Shania terdiam sejenak,


"Je..si..ca tinggalak dia?"


Seketika Agam terdiam mematung, mencerna apa yang baru saja ia dengar, berfikir jawaban apa yang akan keluar dari mulutnya,dan bagaiman ia harua bersikap sekarang.


"Kenapa mas?" tanya Shania menyadari reaksi Agam.


"Tidak bisakah?"


Agam masih terdiam...


"Baiklah, tidak perlu kamu jawab karena aku tau jawabanya!"


.......like nya kaka, coment juga ya........

__ADS_1


"


__ADS_2