
Setelah Agam menerima pesan dari Jesica ia bergegas pergi mengendarai mobilnya, tak memeperdulikan lagi Shania yang sedang terluka.
Shania melihat kepergian Agam dari jendela kamar, sekejap saja mobilnya sudah tak terlihat di halaman rumah.
"buru buru kah mas? pasti menemui Jesica" gumam Shania sendu
Enggan meratapi kepergian Agam yang tak memperdulikanya, Shania memilih berbaring di ranjang berusaha memejamkan mata, berharap saat ia tertidur ia bisa istirahat dari sakit hatinya
ting...tong... bel rumahnya berbunyi berulang kali membuat Shania terbangun dari tidurnya
"siapa malam malam begini?" gumam Shania
Shania menuruni tangga hendak membuka pintu, karena sepertinya bi Marni terlalu lelah selain itu kamar bi Marni memang berada di belakang dekat taman
"mas..." Shania kaget saat membuka pintu ternyata Agam yang pulang dalam keadaan mabuk berat
"hati hati" khawatir Shania saat membantu Agam berjalan
"kenapa sampai mabuk begini sih" gerutu Shania
"awwww...." teriak Shania saat Agam tiba tiba saja muntah dan mengenai pakaianya
"lepas dulu pakaianmu mas,kotor semua"
Shania dengan sabar memganti pakaian Agam, melepas sepatu dan membaringkanya, ia terus mengomel meski tak ada satu pun yang mendapat respon Agam.
Sudah pukul dua dini hari saat Shania selesai membereskan semua kekacauan yang Agam buat, ia cukup kelelahan kerena mengurus Agam yang berbadan tegap dengan tinggi 170 cm begitu menguras tenaganya
Saat hendak berbaring, ia memandangi Agam yang tak berdaya di sampingnya, saat terlelap seperti ini wajah Agam terlihat begitu teduh, ada kalanya menatap Agan terlelap justru menenangkan bagi Shania. Namun saat Agam mendapatkan kesadaraanya terasa bagai pisau yang siap melukai Shania kapan saja.
"mas..." panggil Shania pelan membangun kan Agam yang masih terlelap di ranjangnya meski sinar matahari menembus wajahnya
"mas, sudah siang" panggil Shania lagi, kali ini ia menggoncang pelan tubuh Agam
"memangnya tidak kerja?" tanya Shania sembari meletakan secangkir kopi panas di atas nakas
"hemm..." sahut Agam sembari meregangkan badannya
"kepalaku pusing sekali" gumam Agam
Shania hanya menengoknya sebentar lantas berlalu meninggalkan Agam
"bersiaplah, aku ambilkan sarapanmu" ucap Shania
"jelas saja pusing, mabuk berat begitu" gerutu Shania sendiri
Tak butuh waktu lama, Shania sudah siap dengan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur dan ayam di tanganya. Meski hatinya masih tidak karuan usai yang terjadi kemarin siang, Shania tetap berusaha mengerjakan apa yang menjadi kewajibanya
"kenapa masih belum bersiap kerja mas?" tegur Shania saat melihat Agam sedang asyik dengan ponselnya padahal jam dinding sudah di angka delapan
"bawel!" gerutu Agam melirik tajam ke arah Shania
"urus saja urusanmu sendiri!" bentak Agam
__ADS_1
"ini sarapanmu" ucap Shania lalu keluar dari kamar itu
"saat kesadarannya sudah kembali rumah ini bersiap menjadi neraka" gumam Shania yang memilih duduk di taman belakang rumah sembari melihat bunga dan rumput hijau
"setidaknya masih ada sudut rumah ini yang nyaman bagiku" batin Shania memejamkan mata menikmati angin pagi yang masih segar tanpa polusi
deertt...derrtt Shania di kejutkan dengan dering ponselnya sendiri
"hallo bu.." sapa Shania pada sang ibu yang menelfonya
"apa kabar nak?" jawab ibu dari seberang sana
"Shania sehat, alhamdulillah. Ibu apa kabar?"
"Ibu juga sehat nak, hanya kangen sekali rasanya hampir dua bulan tak melihatmu"
"maafkan Shania belum bisa jenguk ibu"
"Iya, ibu mengerti. Agam pasti sangat sibuk"
"nanti coba Shania bicara sama mas Agam untuk meluangkan waktu mengunjungi ibu"
"iya nak, tapi tak perlu di paksakan jika memang Agam sibuk, kami mengerti suamimu itu bukan orang sembarangan"
"iya, coba Shania bicarakan dulu"
"baiklah sudah cukup ibu denger suara kamu nak, sehat sehat di sana,salam untuk suamimu"
"iya nnti Shania sampaikan, ibu juga jaga kesehatan, jangan terlalu banyak fikiran" pesan Shania sebelum mengakhiri pembicaraan mereka
"iya bi, ada apa?" Sahut Shania menghampiri bi Marni
"di panggil mas Agam mbak"
"baik, makasih ya bi"
Shania bergegas menaiki tangga dengan tergesa, ada rasa senang saat mendengar Agam mencarinya untuk pertama kali sejak pernikahan mereka. Hampir saja terjatuh saat kaki Shania terbentur pinggiran tangga yang menuju kamarnya di lantai dua.
"ada apa mas?" tanya Shania terengah engah sembari menahan sakit pada ujung ibu jari kakinya
"siapkan pakaianku, aku akan berangkat ke Bali siang ini"
"owh?" Shania terkejut masih bingung
"cepat! jam satu aku harus sudah ada di Bandara!" bentak Agam saat melihat Shania melamun
"iya mas" Shania bergegas menyiapkan keperluan Agam
"untuk berapa lama? harus bawa pakaian formal berapa pasang mas?"
"sekitar satu minggu, baju formal satu pasang saja, itu pun belum tentu di pakai" sahut Agam yang sibuk dengan ponselnya
Sejenak Shania berfikir untuk waktu satu minggu kenapa hanya bawa satu pasangan bukahkah di sana untuk bekerja?
__ADS_1
"satu pasang? apa cukup? bukankah kamu ke sana untuk urusan pekerjaan mas?" tanya Shania
"bukan!" sahut Agam ketus
Shania terdiam sembari menyiapkan pakaian yang akan ia masukan kedalam koper
"hallo Iqbal" Agam sedang menelfon asisten pribadinya di kantor
"iya, selama satu minggu ke depan kosongkan semua agenda saya, kamu rescedul ulang ha, hari ini saya harus berangkag ke Bali sampai hari minggu depan" ucap Agam memberi arahan pada Iqbal
"dan tolong kamu suruh supir jemput Jesica antar ke Bandara jam 11 siang, pastikan nam satu siang Jesica sudah sampai di Bandara"lanjut Agam memberi perintah
Jantung Shania seketika berhenti mendengar ucapan Agam, lagi lagi paru parunya sulit bernafas, ada rasa marah yang tak bisa di luapkan, rasa kecewa yang tak bisa dia sampaikan dan sakit hati yang harus ia pendam.
Sejenak Shania menghentikan kegiatanya, ia menarik nafas panjang Agar paru parunya bisa kembali normal seperti sebelumnya. Mata yang sudah berair sekuat tenaga ia tahan agar tak menetes. Sesekali Shania mengusapnya agar Agam tak menyadarinya
"sudah selesai?" tanya Agam saat menyudahi pembicaraanya dengan Iqbal
"hem..." Shania hanya bergumam
"jadi aku sedang mempersiapakan bulan madu suamiku dengan istri keduanya?" ucap Shania menyindir Agam yang tampak sangat antusias
"ironis sekali" lanjut Shania
Agam melirik tajam ke arah Shania
"kenapa? bukankah kamu paling senang melakukan kewajibanmu sebagai istri? menyiapka keperluan suami juga bagian dari tugas istri bukan?" tanya Agam membalik ucapan Shania
"jadi apa yang kamu keluhkan?" lanjut Agam menyeringai menatap Shania
"mas!" bentak Shania pelan untuk pertama kalinya
"apa?!" bentak Agam lebih keras
"jangan merusak moodku hanya untuk perdebatan yang ngga penting ini,anggap saja kamu sedang melakukan perkerjaanmu atas semua fasilitas yang sudah kamu nikmati" Ucap Agam yang langsung mengena di hati Shania
"kamu keterlaluan mas"
"Shania! jangan berlebihan! bukankah kita sama sama tidak menginginkan pernikahan ini? dan sudah sejak awal saya katakan padamu untuk tidak memcampuri urusan pribadiku"
Shania terdiam, kini airmata yang ia tahan sedari tadi tak bisa lagi ia sembunyikan, setetes demi setetes membasahi pipinya yang putih bersih.
Perempuan cantik ini kini tak punya sisa kekuatan untuk memulai lagi pertengkaran dengan Agam. Tangan Shania memegangi kedua pipi, memberikan kekuatan pada dirinya sendiri.
"seharusnya sejak awal kamu menolak menikahiku mas, jika kamu sebegitunya membenci pernikahan ini seharusnya kamu tidak melakukanya sema sekali" sahut Shania lirih kemudian beranjak pergi meninggalkan Agam bersama kemarahanya
Agam terdiam mendengar kalimat Shania, ia terpaku melihat kepergian Shania bahkan saat pakaiannya belum selesai di kemas, sudut hati Agam seakan tersentuh oleh kalimat lirih Shania namun ia masih mengabaikanya
"bi Marni!" panggil Agam
Shania terdiam kembali di sudut kamarnya, menangis sendiri meluapkan rasa sakitnya, tersiksa oleh perasaan yang tak di hargai sedikitpun oleh suaminya
Tak berselang lama mobil Agam meninggalkan rumah megah mereka, Shania hanya memandangi kepergianya dari jendela kamarnya
__ADS_1
Airmata itu kembali jatuh melihat Agam tetap pergi tanpa memperdulikan perasaan Shania