Dua Cinta Beda Rasa

Dua Cinta Beda Rasa
Maaf semoga belum terlambat


__ADS_3

Setiap malam yang di lewati di ranjang rumah sakit terasa panjang, Shania lebih memilih sendiri tak ingin di temani Agam meski sebenarnya ia tahu Agam tetap menunggunya di luar ruangan.


Sesekali Shania memandangi pintu yang menjadi penghalang mereka berdua, namun hatinya masih enggan menatap Agam apalagi berbincang. Ruangan VVIP yang di lengkapi dengan fasilitas terbaik di rumah sakit ini nyatanya tak memberikan kenyamanan bagi Shania, ingin rasanya ia segera pulang, namun hatinya pun ragu kemanakah kini yang menjadi tujuanya pulang.


Dua hari di rumah sakit, membuatnya banyak berfikir dalam kesendirian. Masih adakah harapan bagi rumah tangganya? Lantas bagaimana dengan nasib calon buah hatinya jika sesuatu yang buruk terjadi pada pernikahanya? Bahkan ada seucap kata yang terlintas di benaknya namun seketika ia sesali. " Kenapa aku harus hamil dalam keadaan seperti ini?"


Kembali tangis Shania pecah, memikirkan nasib calon bayi membuat hatinya teriris. Shania meringkuk memeluk kedua kaki yang di lipatnya, membenakan wajah di antara keduanya berharap tangisnya tak akan terdengar oleh Agam di luar sana.


Agam terdiam saat sayup sayup mendengar tangis Shania, ia pun begitu terluka mendengarnya. Agam berbaring di kursi tunggu, memejamkan mata meski tak sepenuhnya tertidur, ia selalu terjaga semenjak kejadian terakhir kali antara ia dan Shania.


"Dok, bagaiamana kandungan saya?" tanya Shania saat kunjungan dokter di pagi hari


"Baik baik saja bu, tapi kami harapkan ibu menjaga kondisi tubuh terutama fikiran ibu sendiri."


Shania terdiam begitu pun Agam yang berada di sampinganya.


"Ketenangan diri ibu sendiri menjadi faktor penting bagi perkembangan janin." terang dokter panjang lebar


"Baik dok," ucap Shania


Dokter memberi penjelasan dan pengarahan guna menjaga tumbuh kembang calon bayi begitu juga dengan beberapa kondisi yang harus di perhatikan mengingat ini adalah kehamilan pertama bagi Shania.


Agam kembali menghampiri Shania setelah mengantar Dokter keluar ruangan.


"Shan, mau makan sesuatu?" tanya Agan memberanikan diri


"Ngga mas,"


"Shan,"


"Mas, aku mau tidur,"


"Tolong beri aku kesempatan untuk bicara, mau sampai kapan kita diem diem begini?"


"Mau bicara apa lagi mas? apa yang aku lihat sudah cukup menyadarkan aku seberapa besar porsi aku di hati kamu?"


"Aku yang salah, maafkan aku atas apa yang terjadi terakhir kali,"


"Maaf? untuk apa?"


"Bukankah itu yang kamu inginkan? kehancuran rumah tangga kita, bukan dengan begini semua menjadi lebih mudah bagimu?" mata Shania berkaca kaca, tak bisa ia pungkiri peristiwa itu menimbul luka yang masih menganga di dalam hatinya

__ADS_1


"Mas,...." Shania terbata menahan tangisnya


"Rasanya aku tidak sanggup lagi," lanjut Shania sambil meneteskan airmata


"Aku minta maaf, aku yang salah, aku minta maaf." kini air mata Agam pun menetes dengan sendirinya


"Hati aku pun hancur melihat kamu seperti ini,"


Shania tersenyum kecut, rasanya kalimat itu tak pantas keluar dari mulut Agam.


"Ceraikan aku mas,"


Kalimat yang selama ini haram bagi Shania akhirnya kini keluar dari mulutnya, bukan tampa beban ia mengatakanya namun hatinya yang tak bisa lagi bertahan.


"Shan, kamu sedang hamil."


"Lantas kenapa jika aku hamil?!" sahut Shania sedikit berteriak


"Bagaimana mungkin aku menceraikan kau saat ada anak aku dalam perutmu?!"


Shania tersenyum menyeringai


"Kamu juga tidak ingin anak ini kan?" ucap Shania, ujung jarinya meremas bantal yang sedari tadi ia peluk.


Shania menarik nafas panjang dan menghembusakan perlahan.


"Aku mohom beri kesempatan Shan, bagimana mungkin aku menceraikan kamu saat kamu sedang mengandung anakku?"


"Ini bukan anak kamu!" bentak Shania


"Aku sudah berjuang sebisa ku mas untuk bertahan di sisimu dengan harapan kelak akan ada waktu dimana kamu memberikan sedikit ruang untuku, tapi setelah apa yang aku saksikan terakhir kali," Isak Shania pecah, bibirnya kelu, hati nya teriris berulang kali saat harus mengingat kejadian malam itu.


"Sekarang...." Nafasnya berat kerena tangisnya semakin menyiksa


"Harapan apa lagi yang aku punya mas?"


Shania semakin kuat menggenggam ujung bantal di sampingnya


"Aku bisa menahan semua rasa sakit, tapi apa yang kamu lakukan terakhir kali itu benar benar melukaiku"


"Aku tahu, aku yang salah, aku mohon.." Shania menatap Agam penuh amarah, matanya merah padam bak di selimuti semua kemarahan atas ketidak adilan yang ia terima selama ini.

__ADS_1


"Bisa bisa nya kamu bawa di ke kamarku mas?"


"Memang tidak tempat lain? sebegitu tidak perdulikah kami dengan keberadaanku?"


"Meski kamiu tidak pernah menginginkan aku, aku masih berhak kamu hormati karena aku juga istri mu!"


Agam banyak terdiam tak mendebat semua perkataan Shania,karena kini ia menyadari semuanya bahwa ia lah yang sejak awal bersalah. Shania terlalu baik untuk ia sakiti, karena ia juga korban dari perjodohan ini.


Shania dan Agam saling diam, hening sejenak. Shania harus kembali menata hati dan emosinya.


"Aku hanya bisa mengucapkan maaf Shan, seberapa banyak aku ucapkan pun rasanya tidak akan cukup mengobati lukamu," ucap Agam


""Tapi aku tidak bisa menceraikan kamu, membayangkan kita akan berpisah membuat aku ketakutan, entah karena apa," Agam mencoba menggenggam tangan Shania namun di abaikan


"Aku memang bodoh atas apa yang aku lakukan, aku memyesali semuanya."


Air mata Agam menetes membasahi selimut yang menutupi setengah badan Shania, sejenak hati Shania bergetar melihatnya namun ia tak ingin hanyut dan mengulang kesalahan yang sama.


"Mas, aku mau tidur, kepalaku terasa pusing," sela Shania


Shania memegangi kepala dengan kedua tanganya, sakit itu datang lagi, lebih sakit dari biasanya. Ia menyeringai dan merintih,sesekali ia akan memukul pelan kepalanya berharap bisa mengurangi rasa sakitnya. Agam tak kuasa melihat Shania begitu menderita dan memilih mengakhiri perbincangan kali ini, kesehatan Shania dan keselamatan calon bayinya adalah yang untama bagi Agam saat ini.


"Baiklah, kita bicara lain kali, kamu tenanglah Shania,"


Dengan berat hati Agam membiyarkan Shania tidur, meski ia masih ingin bicara mengingat setelah beberapa hari baru kali ini Shania mengizinkannya berbincang namun sesuai arahan dokter bahwa Shania tidak boleh mendapat banyak tekanan akhirnya Agam hanya bisa memandangi Shania yang sudah memejamkan mata.


Agam masih memandangi Shania yang kini sudah terlelap, wajahnya yang mungil terasa begitu sejuk di pandang, rasa nyaman menyeruak memenuhi perasaan Agam.


"Apa yang aku rasakan sekarang?kenapa begitu menyenangkam melihatnya terlelap seperti ini?" gumam Agam pelan


"Aku memang terlalu jahat padamu Shan," gumam nya lagi


"Maaf kan aku Shan, kamu layak mendapat kebahagiaan"


Angin malam berhembus menembus tubuh Agam yang hanya berbalut kaos tipis warna hitam yang ia kenakan sejak pagi. Duduk di bangku taman rumah sakit di temani kopi instan dan sebatang rokok yang ada di antara kedua jarinya. Memandang langit jauh yang tanpa batas, fikiranya mengembara dari awal pernikahan dengan kedua istrinya, Shania dan Jesica.


Rokok yang telah lama ia tinggalkan kini menjadi satu satunya teman baginya yang bisa mendengar dan berada di sampingnya tanpa menghujatnya.


Semua kenangan yang terlintas di ingatanya adalah luka yang ia timbulkan bagi Shania, kini ia bisa membayangkan apa yang di rasakan Shania selama ini.


Kehamilan Shania sejatinya adalah kabar yang paling membahagiakan bagi Agam, bahkan saat Dokter mengucapkan bahwa istri yang tak pernah ia cintai kini sedang mengandung darah dagingnya, hati Agam seperti bergetar hebat, jantungnya berpacu cepat penuh semangat. Kehamilan ini membuat Agam mampu melihat Shania dari sisi yang berbeda. Berbanding terbalik dengan Jesica yang sejak awal tak ingin di repotkan dengan prose hamil,melahirkan, menyusui apa lagi merawat bayi.

__ADS_1


Saat itu Agam mengabaikanya karena sedang di butakan oleh cinta pada Jesica, namun kini harapan ia akan menjadi seorang Ayah rasanya menggugah gairah hidupnya.


....................,,,,,,,,,,,


__ADS_2