
Rasa lelah seusai melewati semua prosesi pernikahan membuat Shania tanpa sengaja tertidur di sofa kamar hotel setelah membersihkan diri. Sedangkan Agam sendiri sedang asyik merokok di lantai bawah, ia seperti enggan harus satu kamar dengan Shania hingga ia dengan sengaja berlama lama di lantai bawah.
"bagaimana dia bisa tertidur di sofa seperti itu" gerutu Agam yang memasuki kamar jam saru dini hari
Shania terbangun saat mendengar alarm ponselnya berbunyi tepat Adzan subuh di kumandangkan. Ia segera bangkit untuk mengambil air wudhu bersiap melaksanakan sholat Subuh.
"mas... mas"panggil Shania mencoba membangunkan Agam untuk melaksanakan sholat subuh bersama
"apan sih, ganggu saja" bentak Agam menampik tangan Shania yang menyentuh lenganya
Shania terkejut mendapatkan perlakuan kasar Agam untuk pertama kalinya namun ia abaikan.
"sholat subuh mas" Shania mencoba membangunkanya lagi namun tetap sama Agam justru membalik badannya sehingga menghadap ke arah berlawanan dengan Shania
Tak ingin membuat Agam semakin marah akhirnya Shania melaksanakan sholat subuh sendirian
Cahaya matahari mengusik tidur Agam, ia menggeliat mencari ponsel yang ia letakan di atas meja samping ranjang.
"cari apa mas?" tanya Shania yang baru selesai berganti baju setelah mandi
Agam menatapnya, memakai gaun putih dengan rambut basah yang ia bungkus handuk serta bau wangi khas sabuh membuat Agam sedikit terpana dengan pamandangan pagi ini.
"ponsel" jawab Agam ketus mengalihkan pandanganya
"ini mas" Shania mengulurkan ponsel yang Agam cari
"aku sudah pesankan sarapan untuk di antar ke kamar" ucap Shania sembari mengeringkan rambut dengan hairdryer
Agam mengabaikanya dan berlalu menuju kamar mandi.
Shania memandanginya dengan sedih.
Tak lama kemudian layanan kamar hotel tiba mengantarkan pesanan Shania. Shania yang sibuk membereskan beberapa barang ke koper karena siang ini juga mereka harus cekout meminta Agam makan lebih dulu tanpa menunggunya. Agam pun mengiyakan tanpa memperdulikan Shania.
Pukul sebelas siang mereka meninggalkan hotel menuju kediaman Agam. Agam memang sudah sejak selesai kuliah dan bekerja di perusahaan Ayah memilih tinggal di rumahnya sendiri tanpa orang tuanya.
Selama perjalanan keheningan begitu terasa, sama sekali tak ada percakapan di antara mereka berdua, Agam sibuk dengan ponselnya sedang Shania mencoba menikmati pemandangan yang ia lewati meski hanya lalu lalang kendaraan yang memadati jalanan Ibukota.
Rumah minimalis dengan kombinasi putih tulang dengan hijau daun, satu kolam renang dan dua kolam ikan menjadi pemanis di halaman rumah yang cukup luas. Beberapa tanamam dan bunga pun tersusun rapi di sepanjang jalan dari pintu gerbang sampai pintu utama.
"bi Marni...." teriak Agam memanggil asisten rumah tangganya
"ya mas" jawab seorang perempuan paruh baya yang tak berselang lama ada dihadapan mereka
"bi, ini Shania,istriku" Agam memperkenalkan Shania pada bi Marni. Mendengar Agam memperkenalkam dirinya sebagai istri membuat jantung Shania berdetuk lebih kencang, hormon nya seperti meningkat hingga membuat ia tersenyum tanpa ia sadari
" Shania, ini bi Marni, asisten rumah tangga kita" Agam memeperkenalkan bi Marni kepada Shania
__ADS_1
"halo bi, saya Shania" Shania mengukurkan tangan hendak menjabat tangan bi Marni dan menciumnya karena bagaimanapun beliau lebih tua darinya
"nyonya, jangan begitu" tampik bi Marni merasa tak nyaman dengan sikap Shania yang kelewat sopan
"tolong bibi bantu semua keperluan Shania sehingga dia tidak perlu merepotkan saya" ucap Agam ketus
"baru saja seneng di bilang istri, sekarang tempramennya sudah balik lagi" gumam Shania kesal mendengar kalimat Agam
"baik mas" jawab Bi Marni sembari mengambil koper dari tangan Shania
"ngga usah bi,biyar saya bawa sendiri" tolak Shania
"Shania, meski bi Marni ini asisten rumah tangga disini tapi dia lebih penting untuk rumah ini dari pada kamu, jadi pastikan kamu tidak membuat masalah!"gertak Agam tajam
Deg... Jantung Shania seakan berhenti berdetak, seketika rasa sakit menyeruak memenuhi ruang hatinya yang tiba tiba membuatnya sulit bernafas, sedari kecil ia di perlakukan begitu lembut penuh kasih sayang di keluarga sebagai anak perempuan satu satunya, ia begitu di jaga bagai permata hingga tidak pernah mendengar suara keras apalagi kasar dari kedua orang tuanya.
Kalimat Agam terasa lebih tajam dari pisau,begitu cepat menggores luka hati Shania di hari pertamanya menjadi seorang istri, ingin rasanya airmata yang telah memenuhi kelopak matanya menetes namun sekuat tenaga ia tahan.
"non... yang sabar ya? mas Agam itu sebenarnya orang yang baik" ucap bi Marni menghibur
Shania hanya tersenyum dan menganggukan kepala mendengar kalimat bibi karena ia masih mencoba mengatur nafas dan menahan airmatanya.
Malam semakin larut saat Shania duduk di sofa sembari menonton tv, jam dinding sudah menunjukan pukul sebelas malam namun Agam tak kunjung pulang, Shania menunggu suaminya pulang seperti yang ia pelajari daei kebiasaan sang ibu yang selalu terjaga di malam hari menunggu kepulangan ayah yang kerap kali lembur hingga larut malam.
Shania banyak belajar dari kebiasaan ibu sebagai istri saat melayani ayah penuh kasih sayang dan ia ingin melakukan hal yang sama agar hubunganya dengan Agam harmonis meski pernikahan mereka bukan karena cinta.
Jam diding terus berputar menunjukan waktu semakin malam hingga Shania terakhir menatapnya sebelum tertidur adalah pukul dua belas malam namun Agam belum pulang.
"ya bi" sahut Shania yang masih di kuasai kantuk
"mas Agam sudah pulang"
"sudah pulang?"
"iya non, mas Agam minta bibi bangun non Shania"
"terus mas Agam di mana bi?"
"di kamar non"
"makasih ya bi, bibi tidur lagi"
Shania bergegas ke kamar mencari keberadaan Agam
"sudah pulang mas?tadi aku tungguin di depan" Tanya Shania
hening Agam tak menjawab sepatah katapun, ia hanya sibuk merapikan rambutnya yang basah seusai mandi
__ADS_1
"aku buat kan teh dulu"
Shania menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan, ia menata hatinya menghadapi semua sikap acuh Agam.
Tak berselang lama Shania berjalan meninggalkan dapur dengan secangkir teh panas yang akan ia berikan untuk Agam namun saat ia sampai di kamar di dapatinya Agam sudah tertidur pulas, dan lagi ia di abaikan.
"bukankah bisa bilang kalau kamu ngga mau teh?" gumam Shania sedih sembari meminum teh itu sendiri
Shania kembali ke dapur untuk meletakan cangkir itu,namun ia berhenti sejenak menatap aquarium besar yang ada di ruang tengah melihat ikan ikan kecil itu berenang dengan gembira meski di tengah malam seperti ini sedikit menghibur hatinya.
"baiklah sayang" kalimat yang Shania dengar dari depan pintu kamar seusai kembali dari dapur
"tidurlah, ini sudah malam"ucap Agam lagi, Shania sengaja menghentikan langkahnya
"mas Agam sedang bicara dengan siapa? kenapa begitu lembut kalimatnya?" batin Shania heran
"iya besok aku jemput pagi pagi, sekarang tidurlah sayang aku mencintaimu" kata Agam melanjutkan kalimatnya saat Shania masuk dan hendak menutup pintu kamar, Seluruh badan Shania bergetar mendengar kalimat terakhir Agam,tangan yang masih memegang handle pintu seakan menjadi kekuatan baginya agar tidak terjatuh
"kamu mendengarnya?" tanya Agam, Shania masih enggan menoleh kearahnya
"baguslah, aku tak perlu repot repot lagi menutupinya" lanjut Agam ketus
"dua hari sebelum kita menikah aku sudah lebih dulu menikahi kekasihku, Jesica" ucap Agam membuat pengakuan yang terdengar begitu tenang tanpa perasaan berasalah
Shania masih mematung di tempatnya, ia semakin menguatkan genggamanya pada handle pintu karena itulah satu satunya kekuatan agar ia tidak terjatuh saat seluruh badanya kini gemetar, bagai tersambar petir jam dua dini hari ia mendengar suami yang baru menikahinya dua hari yang lalu ternyata memiliki istri yang lain.
Meski pernikahan mereka tanpa cinta namun saat mengetahui kenyataan bahwa Shania di madu dengan perempuan lain nyatanya bisa menciptakan luka yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, rasa sakit yang tak pernah terbayangkan olehny dan yang semakin membuat Shania terhina adalah sikap Agam yang begitu acuh mengatakan semuanya tanpa beban
"jadi akulah yang jadi istri kedua?" tanya Shania terisak menahan tangisnya
"apa bedanya?! yang jelas kamu bukan istri yang aku inginkan!" tegas Agam
Shania semakin terisak mendengar jawaban Agam,seperti luka baru yang di siram air garam begitu perih ia rasakan
"tidak perlu bereaksi berlebihan, bukankah kamu sebernarnya juga tidak menginginkan pernikahan ini? jadi tidak masalah bukan jika aku menikahi wanita lain? begitu pun sebaliknya, aku tidak akan mencampuri kehidupan pribadimu" lanjut Agam
"yah" jawab Shania singkat dan bergegas kekamar mandi tanpa menatap Agam
Shania membasuh wajah berulangkali namun airmatanya tak juga berhenti menetes. Ia menyalakan semua keran di kamar mandi agar Agam tak bisa mendengarnya menangis.
Readers... di koment ya..
di like....
tambahkan ke favorit...
mohon dukunganya....
__ADS_1
semoga bisa selalu memeprbaiki kwalitas tulisanya...
yang sudah baca terimakasih banyak....