
Langkah Shania gontai, keseimbanganya hilang seiring diamnya Agam atas pertanyaanya, sikap diamnya semakin menggores perasaan Shania. Ingin hati mendengar Agam menjawab bahwa ia akan lebih berat pada Shania meski sebenarnya tahu itu tak mungkin.
Begitu pun dengan Agam yang masih terduduk setengah berlutut di tempatnya, Fikiranya bimbang bagaimana harus bersikap dalam kondisi seperti ini. Agam tak ingin kehilangan Shania namun juga mustahil baginya meninggalkan Jesica.
"Apa yang kamu fikirkan Gam? cepat kejar Shania!" bentak papa yang kesal melihat Agam hanya diam saja
Sejenak Agam terdiam,namun akhirnya dia bangkit mengejar Shania yang sedang mengemas pakaianya ke dalam koper.
"Shan, kita bicarakan ini,jangan seperti ini,"
"Apa lagi mas yang mau di bicarakan?" Shania menatap Agam lekat lekat
"Aku hanya ingin semuanya segera berakhir, aku lelah mas."
Agam terdiam
"Ini sudah hampir malam,kamu mau kemana? aku mohon Shan, fikirkan kondisi bayi kita,"
"Bayi kita mas?" Shania tersenyum getir, mengiba pada dirinya sendiri
"Pernahkan kamu menginginkanya?" ucap Shania
"Aku bahagia mendengar kamu hamil, percaya lah aku pun sangat menantikan kelahiranya"
"Benarkah? tapi yang aku ingat kamu selalu menyesalinya!"
"Shan, aku minta maaf atas semua kebodohanku, aku minta maaf."
Shania terduduk di ujung ranjang, kepalanya mulai pusing dan pandanganya mulai kabur, jarinya meremas selimut sembari memejamkan mata menahan sakit.
"Shan, kamu baik baik saja?" Agam panik karena ingat kembali pesan dokter untuk menjaga kondisi mental Shania
"Istirahat lah, aku mohon, malam ini saja, kita akan bicarakan ini besok,"
"Aku mohon Shania, fikirkanlah bayi yang kamu kandung," Agam menuntun Shania untuk berbaring di atas ranjang dan menarik selimutnya.
"Aku ambilkan air hangat,"
Shania memandangi punggung Agam yang berjalan memjauh darinya, ia menatap sendu Agam hingga tak terlihat oleh kedua matanya. Shania menyadari Agam pun mengingin bayi yang ia kandung, dia juga bisa merasakan kebahagian Agam saat tau ia sedang hamil. Sudut hatinya mengiba melihat reaksi dan usaha Agam untuk mempertahankanya namun jika mengingat tentang keberadaan Jesica itu merobek kembali perasaan Shania.
Rasa hormat Shania pada Agam sebagai seorang istri luntur karena kejadian malam itu, kejadian itu yang berhasil merobohkan semua benteng pertahanan yang sudah ia bangun sejak awal menikah, rasanya semua guncangan dapat ia tahan tapi runtuh dalam semalam. Agama yang ia yakini menuntun Shania menghormati Agam sebagai suami, namun karena hasratnya dengan Jesica lah menjadikanya rusak.
Shania terbangun di tengah malam saat ponselnya terus bergetar, sayup sayup ia membuka mata hendak meraih ponsel yang terletak di meja, sedang di sampingnya terbaring Agam yang terus memegangi tangan Shania meski sedang terlelap. Jam dinding menujukan pukul dua dini hari, Shania perlahan membuka ponsel melihat nama ibu yang tertera di layar.
"Kenapa ibu jam segini kirim pesan?" gumam Shania sedikit khawatir
"Shan, bagaimana kabarmu nak, ibu merindukanmu." Kalimat itu yang tertulis di layar ponsel Shania
"Shania baik bu, sehat, kenapa ibu belum tidur?"
"Tak apa, ibu hanya terbangun dan tiba tiba merindukanmu, syukurlah kamu sehat nak,"
__ADS_1
"Besok Shania pulang ya bu,"
"Tak apa sayang, Agam pasti sibuk, cukup bagi ibu mendengar kamu sehat, kembalilah tidur,"
"Ibu juga kembali tidur, sudah malam bu, jaga kesehatan, Shania akan segera pulang,"
Lama Shania terdiam memandangi layar ponselnya yang perlahan mulai gelap, ia termemung memikirkan reaiksi ibu jika mendengar semua yang terjadi padanya. Membayangkannya saja sudah membuat Shania khawatir,ibu pasti sangat terluka jika mengetahui kenyataanya, dan lagi tentang keinginannya bercerai dari Agam.
Seketika Shania menatap Agam yang terlelap di sampingnya, raut kelelahan terlihat jelas dari wajahnya. Perlahan tangan Shania membelai rambut rambut halus yang menutupi dahi Agam, air mata Shania kembali menetes meratapi apa yang terjadi pada rumah tangga mereka.
"Aku sempat mengaggumi mu mas, tapi kini hanya sakit hati yang tersisa di sini" gumam Shania pelan.
"Aku pernah berniat berbakti kepadamu sebagai ladang surgaku, tapi kini yang aku inginkan hanya berhenti melihatmu"
Shania menutup mulutnya yang mulai bersuara karena isak tangisnya, perlahan ia turun dari ranjang, membuka jendela kamar sehingga udara malam ia biarkan menyapu wajahnya. Sejenak perasaannya membaik, ia pun mengusap tangis dengan kedua tanganya, membiarkan matanya memandang jauh tanpa batas.
"Shania kemaba bi?" tanya Agam yang bergegas turun setelah bangun dan menyadari Shania sudah tidak di sampingnya, ia berandai andai membayangkan Shania pergi meninggalkanya saat ia terlelap.
"Ada di taman belakang mas," jawab Bi Marni
Agam bergegas mencari keberadaan Shania di taman belakang sesuai apa yang bi Marni katakan, Agam menghembuskan nafas lega begitu melihat sosok Shania yang ia cari sedang duduk sembari memberi makan ikan.
"Sudah bangun? bagaimana perasaanmu?" Sapa Agam hati hati
Shania tersenyum
"Mau teh apa kopi?" tanya Shania
Agam tercengang mendengar pertanyaan Shania, namun ia lega karena itu menandakan Shania sudah lebih baik, ini adalah kebiasaanya yang selalu membuatkan kopi setiap pagi untuk Agam.
"Tak perlu mas, biyar aku yang buat," sahut Shania segera beranjak dari duduknya
"Kamu tunggu sini ya?"
Agam mengangguk sembari tersenyum senang mendengarnya, "Sepertinya perasaanya sudah membaik." batinnya
"Ini mas kopinya," Shania mengulurkan secangkir kopi
"Terimaksih" sambut Agam senang, ia perlahan meminumnya
"Mas..."
Agam mendongakan pandanganya menatap Shania yang hendak berbicara tapi tanpa melihat ke arahnya
"Jika Jesica adalah pilihanmu, maka aku iklas," lanjut Shania
Shania nampak tenang saat mengutarakanya, ia sudah mampu mengendalikan emosi dan perasaanya,bukan karena tanpa beban saat mengucapkanya namun lebih ke rasa putus asa karena menyakini ini adalah batas akhirnya.
"Shan,," sela Agam
"Mas, tak ada gunanya kita berdebat tentang ini karena pada kenyataanya hati kamu ada pada Jesica," sahut Shania memotong pembicaraan Agam
__ADS_1
"Aku menyadari bahwa sejak awal tempat aku memang bukan di sisi kamu, Jesica lah yang lebih dulu memiliki kamu,,,"
"Aku minta maaf untuk semua itu, seandainya aku tahu lebih awal mengenai keberadaan Jesica aku pasti akan memilih menolak pernikahan kita, " terang Shania
"Sekarang saatnya kamu melepasku mas, aku sudah gagal dan aku tidak ingin mencoba lagi."
"Shan, aku tahu semua yang sudah aku lakukan melampaui batas, tapi mohon dengarkan aku lebih dulu,"
"Mas, sebelum kamu bicara, ketahuilah aku sudah tidak sanggup jika harus di madu," tegas Shania
Agam terdiam mendengar pernyataan tegas Shania, istri yang dulu selalu lembut padanya tidak banyak bicara kini telah berubah, Shania menekankan setiap kata yang ia ucapkan.
"Aku sudah iklas ingin berpisah darimu mas, apa yang membuatmu berat?" tanya Shania lirih
"Jika memang Jesica yang jadi pilihanmu tolong lepaskan aku."
"Tapi kamu sedang hamil!"
"Kita akan bercerai setelah anak ini lahir, dan sampai hari itu tiba aku ingin kita tinggal terpisah."
"Shan, aku tidak bisa membiyarkan kamu pergi,"
"Apa yang membuatmu tidak bisa mas? bukankah dari awal ini yang kamu inginkan? aku hanya memberimu kesempatan untuk mempercepatnya."
"Dan lagi aku sudah tidak mau setiap malam harus menangis!"
"Tidak bisakah kamu tetap disisiku Shan? aku berjanji akan bersikap baik kepadamu,"
Shania menghembuskan nafas kasar, hatinya mulai kesal dengan sikap keras Agam.
"Apa yang membuatmu berat melepasku?!" teriak Shania emosional
"Karena aku mulai menyukaimu! membayangkan kita berpisah sudah menghancurkan perasaanku!adan aku tak sanggup!" Sahut Agam dengan nada tak kalah tinggi.
Shania tertegun menatap Agam, ia memandang lurus kedua mata Agam yang tidak berkedip saat mengakui perasaanya.
Entah harus senang atau sedih Shania menyikapi ini semua karena pada kenyataanya Jesica tetap ada di antara mereka. Jesica masih memiliki ruang hati Agam lebih banyak darinya, sempat terlintas dalam benak Shania jika harus membuat Jesica kehilangan Agam pun rasanya tidak adil bagi Jesica.
Kenyataan jika Shania yang terlambat datang dalam kehidupan Agam, membuatnya memilih mengalah dan pergi agar sakit antara mereka bertiga segera di akhiri namun bagaimana sekarang saat situasinya berubah, saat Agam pun mulai menyayangi Shania dan takut kehilangnya.
"Shan, aku menyayangimu, entah ini di mulai sejak kapan namun saat kamu ingin berpisah dariku rasanya saat itu juga duniaku runtuh," terang Agam
"Lantas bagaimana dengan Jesica?"
"Aku minta maaf mengenai Jesica,tapi aku mohon beri aku ruang sebentar lagi."
Shania terdiam kembali, memandang Agam yang terus menatapnya, kedua tangan mereka saling bertaut, fikiran Shania kacau begitu juga perasaanya.
......
..
__ADS_1
.
...... happy reading.....