
Shania pagi pagi buta sudah pergi mengendari mobil hitam yang menjadi hadiah pernikahan dari mertuanya, ia pergi tanpa menyiapkan keperluan Agam bahkan tanpa berpamitan denganya, bukan karena marah namun rasanya Shania sedang enggan berurusan dengan Agam.
Hampir tengah hari Shania begitu sibuk dengan urusan pekerjaan bahkan dia harus dua kali berkunjung ke Rumah sakit cabang, menenggelamkan diri pada pekerjaan rasanya jauh lebih baik daripada ia di pusingkan dengan urusan rumah tangganya denang Agam yang kian tak karuan.
"Shania belum pulang juga bi?" tanya Agam mencari keberadaan Shania tak tak terlihat batang hidungnya
"Belum mas, tadi mengabari kalau hari ini pulang malam karena masih di Rumah sakit cabang"
"Oke,"
Agam beralih dengan laptop diruang kerjanya, melihat laporan perkembangan projek yang sedang ia lakukan, hampir dua jam namun Shania belum terdengar suaranya dari balik ruang kerja Agam.
"Bi," panggil Agam
"Shania belum pulang juga?"
"Belum mas, mungkin sebentar lagi,"
Agam menutup pintu dengan kasar, merasa kesal karena hampir jam sepuluh malam Shania belum pulang di tambah lagi sama sekali tak memberi kabar, jangankan menelfon mengirim pesan pun tidak.
Agan dengan kesal meraih ponsel berniat menelfon Shania namun ia urungkan saat terdengar suara Shania menyapa bi Marni yang masih menunggunya di ruang tv.
"Shan!" bentak Agam
"Jam berapa ini?!"
"Maaf mas, banyak pekerjan."
"Selalu itu yang jadi alasanmu!"
"Memang benar aku sedang ada banyak pekerjaan," Shania menghela nafas
"Berhenti! aku belum selesai bicara!" Agam mencengkeram lengan Shania keras hingga ia meringis kesakitan
"Mas, sakit!" Agam gelagapan menyadari Shania kesakitan karena ulahnya, lengan kanan Shania memerah saat Agam melepasnya
"Aku banyak pekerjaan, lagi pula apa masalahmu mas? bukankah sejak dulu kamu tak perduli apapun tentang ku? lantas sekarang apa yang kamu ributkan?!"
"Shania!!" bentak Agam semakin memerah raut wajahnya, tanganya pun mengepal menahan amarahnya.
Shania memejamkan mata serasa mencari kekuatan menahan airmata yang kini memenuhi kelopak matanya. Tanganya berpegang erat pada hand bag yang ia bawa sekali lagi ia sedang mencari kekuatan untuk bertahan.
__ADS_1
"Oke, aku minta maaf karena tidak memberi kabar," airmata Shania lolos dari sudut matanya, ia mengucapkan maaf dengan terbata menahan isak tangisnya. Luka ini bukan karena bentakan Agam namun semua yang sudah ia lewati rasanya inilah puncak kesabaranya.
Hening sesaat ketika tidak ada yang bicara di antata keduanya, Shania enggan meneruskan kalimatnya karena tak ingin tangisnya semakin pecah, sedang Agam merasa ada yang menggores hatinya saat melihat Shania menangis di hadapanya untuk pertama kali.
Malam itu berlalu dengan keheningan yang begitu terasa, baik Agam dan Shania berasa tidak memiliki tenaga bahkan untuk berucap satu kata saja , Shania berbaring memunggungi Agam yang berulang kali menatap kearahnya, tangis Shania tadi mengusik perasaanya.
Shania bangun saat adzan subuh berkumandang, ia bergegas bangun hendak melaksanakan sholat subuh namun ia terdiam sejenak memandangi Agan yang tidur di sebelahnya, begitu tampan saat ia terlelap seperti ini, berbeda sekali saat ia sadar kasar dan acuh kepadanya
"Pagi bi," sapa Shania yang melihat bi Marni sudah bersiap di dapur lebih dulu
"Pagi mbak, sudah bangun?"
"Saya ngga bisa tidur bi,"
"Ya sudah,kembali tidur saja mbak"
"Iya, agak pusing ini bi." Shania memenggang pelipis keninganya terasa pusing namun hanya sebelah sisi kanan kepala
"Tapi saya harus buatkan sarapan mas Agam bi, kemarin saya yang salah karena bagaimana pun saya ini istrinya sudah seharusnya saya lah yang mengurusnya."
Shania mengikat rambut asal kemudian bersiap dengan bumbu dapur. Setelah benerapa saat dua piring spageti sudah siap di meja makam, tak lupa Shania pun membuat teh hangat untuk menemani Agam sarapan.
Sembari membawa secangkir teh, Shania berniat membangunkan Agam karena waktu sudah hampir terang, yang artinya Agam sudah harus segera bersiap pergi bekerja.
Sekali lagi tubuh Shania melemas, seakan tak punya lagi harapan yang ia pupuk untuk hubungan pernikahan ini, rasanya begitu melelahkan, sakit yang luar biasa meski tak berdarah.
"Kenapa di bawa turun lagi mbak?" tanya Bi Marni yang melihat Shania kembali kedapur bersana teh yang masih ia pegangi.
"Mas Agam masih tidur bi," Shania mencoba tersenyum, ia kemudian berlalu dan memilih berangkat kerja meski sebenarnya ia berniat mengambil cuti hari ini karena sakit kepalanya semakin menganggu.
Hampir Seharian penuh Shania banyak termenung tak jarang ia tidak fokus dengan pekerjaannya bahkan saat di sapa rekan kerja pun Shania seakan tak mendengarnya. Pikiranya tengah kacau begitupun perasaanya. Semakin hari hatinya mendapat goresan baru di saat goresan yang lama masih terasa.
"Pulang jam berapa?" Notifikasih pesan masuk dari Agam, Shania hanya meliriknya sekikas tanpa membukanya
"Rasanya semakin berat mas," gumam Shania pelan
"Shan, makan siang yuk?" Ajak rekan kerja Shania
"Kamu pergi duluan ya, aku sedang tidak ingin makan, mau tiduran saja sebentar" jawab Shania
"Tapi kamu baik baik saja kan? karena aku perhatikan sejak tadi kamu kebanyakan melamun."
__ADS_1
"Tak apa Ren, aku baik baik saja hanya sedikit pusing, setelah istirahat sebentar pasti hilang."terang Shania
"Kamu yakin? mau aku mintakan Obat?"
"Nggak perlu Ren, beneran, aku baik baik saja"
"Oke, tapi kalau pusingnya semakin memburuk sebaiknya kamu periksakan!"
"Iya, pasti, sudah pergilah makan sudah di tunggu yang lain kan?"
"Baiklah, aku pergi dulu, nanti aku bawakan sesuatu."Shania mengangguk.
Selama perjalan pulang Shania banyak berfikir bagaiman hubungan ini bisa ia pertahankan, harus seperti apa lagi agar bisa mengambil perhatian Agam. Sejatinya saat Shania memutuskan mempertahankan pernikah meski tahu bahwa Agam telah menikah lebih dulu dengan Jesica, ia tahu akan konsekuensi yang akan ia hadapi, sikap acuh dan ketidakpedulian Agam itu sudah jelas bisa ia raba namun saat harus berhadapan dengan kenyaataan ternyata tak semudah yang ia bayangkan.
"Baru pulang?" tanya Agam saat Shania membuka pintu kamar
"Kenapa sekarang jadi aku yang harus menunggumu pulang?" lanjut Agam
"Maaf, lain kali aku usahakan pulang sebelum kamu sampai rumah," Sahut Shania acuh
"Kenapa berjalan seperti itu? ada apa dengan kakimu?" tanya Agam ketika melihat Shania berjalan pincang
"Tak apa hanya luka sedikit" Jawab Shania menengok tumitnya yang ternyata berdarah
"Duduk di situ, aku ambilkan obat"
"Ngga perlu mas!" tahan Shania cepat
"Biyar aku ambil sendiri,"
"Biyar aku saja, lihat kamu berjalaan saja seperti it...."
"Tapi aku masih bisa berjalan mas!" sahut Shania
"Dan pada kenyataanya aku harus bersiap untuk bisa melakukan semuanya sendiri karena aku tidak pernah punya tempat untuk bergantung!" Shania pergi begitu saja mengabaikan Agam yang masih berdiri mematung, Agam mencoba mencerna situasi mereka saat ini.
Agam terdiam melihat Shania pergi,ia tertegun dengan setiap kata yang Shania ucapkan, acuh dan terasa dingin di hatinya. Ada apa ini? Ada apa dengan Shania? itulah pertanyaan yang ada di kepalanya sekarang.
Shania terddiam di teras belakang rumahnya usahi mengoles salep dan menempel plester membalut lukanya, suara gemericik air di kolam ikan yang sedang ia pandang begitu terdengar jelas di tengah keheningan ini, namun anehnya suara air itu justru menenteramkan hati dan memberi kehangatan baginya, sejenak ia lupa akan luka yang begitu menyayatnya.
Sedang Agam yang masih belum beranjak dari tempat duduknya, kembali merasakan keanehan dari sikap Shania, meski seharusnya ia senang dengan perubahan istrinya yang berarti akan lebih mudah meninggalkanya namun justru kegelisahan yang kini ia rasakan, saat ini ingin sekali Agam berlari mencari Shania meminta penjelasan namun ia berusaha menahanya karena dia sendiri belum mengerti arti dari perasaanya itu.
__ADS_1
......................... happy reading.................
pic