Dua Cinta Beda Rasa

Dua Cinta Beda Rasa
Maka biyar aku yang pergi


__ADS_3

Shania berdiri dan meningggal Agam yang masih terpaku, tak sangggup memilih salah satu antara Jesica atau Shania, ia sendiri pun frustasi akan kebodohanya sendiri.


Lama Agam terdiam memikirkan ribuan langkah dan keputusan mengenai pernikahan yang ia jalani dengan dua istri, sejujurnya ia pun mulai lelah dengan situasi ini. Baik Jesica maupun Shania memiliki porsinya sendiri di hati Agam.


"Mas, aku mau kerumah ibu," celetuk Shania sudah siap dengan koper besar di tanganya


"Kenapa bawa koper sebesar itu?" tanya Agam khawatir


"Aku hanya ingin menginap beberapa hari,"


"Baiklah, kamu boleh di sana sampai perasaanmu membaik, dan aku akan menjemputmu lagi"


Shania hanya diam tanpa menjawabnya, begitu pun di sepanjang perjalanan ia hanya diam meski Agam berungkali mencoba membuka percakapan. Shania mamandang kosong keluar jendela sembari memainkan cincin pernikahan yang ada di jari manisnya.


Fikiran Shania mengembara entah kemana, melanglang buana tanpa tujuan. Semua kata kata yang Agam ucapkan tidak begitu ia dengarkan,hanya sesekali ia menjawab iya atau sekedar mengangguk tanpa menoleh kearahnya.


Hati Shania terasa sudah hampa, seperti telah hilang sarinya, andai bukan karena kehamilanya saat ini,sudah pasti ia memilih menggugat cerai, namun saat ini tidak bisa ia lakukan karena Agama melarang perceraian saat sedang hamil.


"Assalamualaikum ibu" Sapa Shania memasuki rumah karena pintu sudah setengah terbuka


"Wa'alaikum salam, anak ibu pulang," sahut ibu berhambur kepelukan Shania


"Agam juga datang?"


"Iya bu, bagaimana kabar ibu?" sapa Agam mencium tangan ibu


"Ibu sehat, senang melihat kalian datang."


"Ayo masuk sayang, ibu sudah memasak untuk makan siang, kalian pasti lelah,"


"Iya bu," Agam menarik koper Shania hendak membawanya ke kamar


"Shan, koper siapa itu?" Ibu bertanya penuh curiga karena sejak kedatangan Shania sebelumnya yang hanya seorang diri, ibu sudah menaruh curiga bahwa ada sesuatu yang salah dengan anak perempuanya itu.


"Koper Shania bu," jawab Agam


Ibu memandang Agam dan Shania bergantian, seakan menanti penjelasan atas apa yang ia curigai.


"Shania akan menginap beberapa hari bu karena saya ada pekerjaan di luarkota," terang Agam


"Owh... ibu akan senang sekali kamu temani nak" kelegaan terpancar dari wajah ibu


"Kalian istirahat dulu ibu akan siapkan makan siang"


Shania dan Agam saling diam meski berada satu ruang di kamar Shania, kecanggungan begitu terasa di antara keduanya hingga dering ponsel Agam yang tak jauh dari Shania berdering keras, jelas tertulis di sana nama Jesica yang melakukan panggilan.


Menatap nama yang tak sengaja ia baca membuat hati Shania kembali gemetar, seketika ia memilih pergi meninggalkan Agam.


"Shan, mau kemana?"


"Mau cari udara segar mas,"


"Aku temani ya?"


"Ngga perlu, urus dulu istri pertamamu!"

__ADS_1


Shania berjalan santai menyusuri jalanan menuju taman komplek, sesampainya di sana ia melihat banyak balita dan anak anak yang sedang bermain sebagian besar dari mereka di dampingi oleh orangtuanya. Pemandangan ini miris baginya, ia mengusap perutnya yang masih rata, tak terlihat jika ia sedang hamil dua bulan namun kenyataanya di dalam sana ada calon bayi yang kelak akan ia lahirkan. Shania membayangkan jika kelak perceraian yang ia inginkan saat ini terjadi,lantas bagaimana dengan nasib anaknya yang akan tumbuh tanpa keluarga yang utuh?


"Aku harus bagaimana?" gumam Shania dalam hati


Ia kembali menatap anak anak yang saling tertawa dan bercanda dengan teman teman seusianya, terpancar jelas kebahagiaan dari malaikat malaikat kecil tanpa dosa ini.


"Shan," sapa seseorang sembari menepuk bahunya dari belakang


"Kak Fahri," Shania terkejut


"Tadi sempat ragu apa benar ini kamu, dan ternyata benar,"


"Bagaimana kakak bisa ada di sini?"


"Kebetulan ada acara dekat sini dan tadi tidak sengaja melihatmu"


"Gimana kabar kamu Shan?"


"Ya, beginilah kak,"


"Kenapa? sehat kan?"


Shania tersenyum mengiyakan, dan tanpa di sadari air mata Shania menetes.


"Eh.. kenapa?" Fahri duduk di sebelah Shania khawatir


"Kenapa menangis?" lanjut Fahri


"Hanya..."


"Ingin rasanya memeluk kamu Shan, tapi aku tahu kini sudah tidak bisa lagi,"


"Maafkan aku kak,"


Fahri tersenyum sembari menepuk pelan punggung tangan Shania


"Tak apa Shan, kalau berjodoh Allah pasti kasih jalanya sendiri."


"Asal kamu bahagia itu cukup buat aku," lanjut Fahri


"Bagaimana kabar kamu? dan dimana suamimu?"tanya Fahri mencoba mencairkan kecanggungan antara mereka.


"Mas Agam ada dirumah ibu kak sedang istirahat, tadi aku hanya ingin jalan jalan" terang Shania tidak ingin memperlihatkan kesulitan yang ia alami.


Tiga puluh menit berlalu mereka berbincang, membicarakan pekerjaan, kehidupan yang mereka jalani sekarang dan sesekali mengingat masalalu, Dari perbincangan itu Shania tahu kini Fahri telah berhasil menyelesaikan study kedokteran dan semakin dekat dengan cita citanya. Sesuai dengan apa yang pernah mereka berdua impikan.


"Senang bertemu dengan mu Shan, tapi aku harus pergi karena aku ada jadwal oprasi sore ini,"


"Baiklah kak, semoga oprasinya lancar,"


"Sampai ketemu lagi lain hari,"


Shania berdiri menghantar kepergian Fahri dengan melambaikan tangan, senyum manis Shania tersungging menghiasi bibirnya.


Shania kembali tersenyum getir sekilas mengingat kembali masalalunya dengan Fahri, mereka saling memiliki perasaan untuk satu sama lain meski belum sempat terutarakan.

__ADS_1


"Dari mana?" tanya Agam saat Shania tiba kembali di rumah ibu


"Dari taman komplek," jawab Shania ketus


"Kenapa belum pergi, banyak pekerjaan kan?" Tanya Shania kasar


"Aku ingin di sini menemanimu,"


"Mas!" pekik Shania


"Apa aku terlihat begitu mudah bagimu?kenapa kamu mengabaikan keinginanku? apa perasaanku tidak penting bagimu?"


"Kamu terlalu egois!"


"Shan, aku hanya berusaha menebus kesalahanku dengan tetap di samping kamu."


"Tapi aku tidak menginginkanya!"


"Ayolah sayang, sudahi pertengkaran ini," Agam meraih kedua tangan Shania, menggenggamnya berniat meredakan kemarahan Shania


"Setelah semua yang kamu lakukan kamu masih meminta aku bertahan mas? apa kamu ngga punya malu?"


"Tapi aku menyayangimu Shan,"


"Lantas sekarang kamu tidak ingin berpisah dari ku tapi juga tidak ingin melepaskan Jesica?!"


"Kamu keterlaluan mas!" Pekik Shania tidak perduli lagi jika ibu mendengarnya, Shania sudah hilang kesabaran menghadapi keegoisan Agam.


"Shan, pelankan suaramu."


"Mas, jika Jesica pilihanmu maka tolong biyarkan aku yang pergi, aku tidak akan meminta apapun darimu cukup talak aku!"


"Lebih baik aku pulang sekarang, kamu bisa tinggal di sini sementara dan jika perasaanmu sudah membaik aku akan menjemputmu."


"Apa hanya ini yang bisa kamu lakukan, menghidarinya."


"Sampaikan salam untuk ibu,"


"Jangan pernah menjemputku saat kamu belum bisa memutuskan siapa yang akan ada di hati kamu, harus kamu ingat mas aku tidak mau di madu!"


Agam sejenak menatap Shania, perempuan ini kini memiliki ketegasan yang sebelumnya tak pernah Agam lihat. Sorot mata Shania sedikit mengancam Agam, hatinya terusik dengan setiap nada yang Shania ucapkan.


Agam mengendarai mobilnya dengan lambat, pikirannya mengembara memikirkan segala kemungkinan dari keputusan yang akan ia ambil. Shania sudah dengan tegas mengatakan ia tak ingin di madu, namun bagaimana dengan Jesica wanita yang ia cintai jauh sebelum mengenal Shania.


Kini saat Shania tak lagi berada dekat denganya, Agam bisa melihat perbedaan antara Shania dan Jesica dengan jelas. Bagaimana Shania melayani dan melakukan kewajibanya sebagai seorang istri berbanding terbalik dengan yang Jesica lakukan. Dari situ Agam menyadari bahwa Shania adalah perempuan sempurna sebagai istrinya.


Sudah hampir dua minggu sejak kejadian malam itu Agam tidak berkunjung ke rumah Jesica, bahkan ia pun jarang berkomunikasi lewat ponsel denganya. Agam memerlukan banyak ruang untuk menjernihkan fikiran dan hatinya sendiri, belum lagi desakan dari kedua orang tuanya yang menuntut penjelasan atas semua yang terjadi dalam kehidupan rumah tangganya baik itu dengan Jesica ataupun Shania.


"Sayang, ini sudah hampir dua bulan kamu di rumah ibu"


"bolehkan aku menjemputmu?"


Pesan text yang Agam kirim untuk Shania. Hampir setiap hari Agam mengirim pesan untuk Shania namun selalu di abaikan, jangankan di balas di baca pun jarang.


"Sudah hampir dua bulan mas apa kamu masih belum bisa memutuskan aku atau Jesica?"

__ADS_1


"Maka biyarkan aku yang pergi." Balas Shania


__ADS_2