
Di sebuah pertemuan keluarga malam ini, sedang membahas mengenai perjodohan Zen dengan putri dari keluarga Bakhtiar, lagi-lagi Zen mau menerima perjodohan ini karena ditekan oleh sang ibu tiri dan itu T-E-R-P-A-K-S-A! Karena tidak ingin terus beradu keras dengan sang ayah.
Katanya, perjodohan ini demi kepentingan bisnis, jika kedua keluarga bersatu maka bisnis akan berkembang kemakin pesat. Itu sebenarnya alasan yang sangat aneh bagi Zen, baginya hal seperti itu hanya terjadi dalam sinetron saja, ternyata dia mengalaminya juga.
Zen juga sudah berusaha untuk menolak perjodohan ini, tapi mau bagaimana lagi jika ayahnya yang sudah memerintah, dia tidak bisa membantah. Entah kenapa ayahnya sangat menurut dengan keinginan ibu tirinya, Zen sampai meyakini kalau wanita itu menggunakan pelet yang sangat kuat.
Sebenarnya, jika perjodohan ini berhasil akan menjadi pernikahan kedua bagi Zen, karena dulu dia pernah menikah. Jangan berpikir kalau pernikahan sebelumnya itu didasari dengan cinta, tidak, itu sama sekali tidak terjadi. Dulu, Zen hanya menikah karena terpaksa, bahkan pernikahannya hanya berlangsung selama satu hari saja, ya, satu hari!
Saat itu posisi CEO sedang membutuhkan pengganti, dan syarat untuk menjadi CEO adalah sudah menikah, sebenarnya syarat itu sedikit aneh, apalagi semua orang juga sering mengejek Zen jomblo dan tidak ada wanita yang tertarik kepada dirinya. Itu sebabnya dia ingin mebuat semua orang terkejut dengan pernikahannya, dia juga ingin membuktikan kepada semua orang kalau dirinya juga bisa menggait hati wanita. Zen tidak ingin kalau posisi itu diganti oleh saudara tirinya, itu sebabnya dia mencari seorang wanita yang bisa diajak kerja sama. Saat itu dia membuat perjanjian pada seoarang wanita yang ia yakini bisa menjaga rahasia, jadi posisi CEO akan menjadi miliknya dengan utuh.
Semua orang juga percaya kalau Zen menikah bukan karena jabatan, tapi memang saling mencintai. Tetapi, dibalik semua itu Zen sudah memiliki rencana.
"Baca surat itu betul-betul, aku tidak ingin terjadi kesalahpahaman di kemudian hari," ucap Zen sambil menyerahkan selembar surat perjanjian.
Seoarang wanita yang duduk di hadapannya itu mengambil suratnya, lalu membacanya. Sebenarnya surat itu tidak terlalu penting baginya, karena yang terpenting adalah dia mendapatkan uang. Lagipula, dalam perjanjian itu Zen berjanji tidak akan menyentuhnya sama sekali, dan dilihat dari wajah Zen juga meyakinkan, jadi dirinya tidak perlu khawatir.
"Baiklah. Aku sudah membacanya, aku setuju, asal uang yang kau janjikan itu benar." Wanita itu mengatakannya dengan sedikit tekanan.
__ADS_1
"Aku bukan orang yang suka ingkar janji," respon Zen santai.
Wanita itu mengangkat alisnya sebentar, kemudian mulai menandatangi surat perjanjian itu. "Sudah aku tanda tangani. Jadi, sehari setelah pernikahan kau akan memberikanku uang dan aku akan pergi."
Zen hanya menanggapinya dengan sebuah anggukan, kemudian laki-laki itu tersenyum tipis, merasa puas karena akhirnya dia akan menikah dan akan mendapatkan posisi CEO di perusahaan. Dengan seperti itu, saudara tirinya akan berada di bawahnya.
Mengingat semua itu membuat Zen merasa muak, kehidupannya terasa seperti ini terus. Dia terus saja dipaksa melakukan apa yang menjadi keinginan ibu tirinya, itu pun karena masalah bisnis.
Jika saja bukan karena untuk mempertahankan posisinya sebagai CEO perusahaan, Zen sama sekali tidak ingin menurut dengan apa yang diperintahkan oleh Lusi, ibu tirinya. Tetapi, Zen masih ingin mempertahankan posisinya sebagai CEO, daripada harus diganti dengan saudara tirinya, Zen tahu kalau mereka berdua ingin menyingkirkannya dari posisinya.
Saat ini, Zen sedang duduk berdua dengan Julia, calon yang akan berjodoh dengannya. Sebenarnya mereka bergabung dengan yang lain di meja besar, tapi Lusi tiba-tiba mengirim mereka untuk duduk berdua, katanya agar mereka bisa saling mengenal satu sama lain.
Zen dan Julia merasa sangat canggung, mereka sama sekali tidak memiliki obrolan yang harus dilakukan. Zen juga malas untuk memulai percakapan lebih dulu, jadi dia lebih memilih untuk meminum teh melati yang disajikan.
Julia sendiri sebenarnya ingin memulai obrolan tapi dia malu untuk memulai, alhasil dia hanya diam saja sambil sesekali mencuri pandang wajah Zen. Jujur, dari jarak sedekat ini wajah laki-laki itu terlihat sangat tampan.
"Eum ... Aku berharap kalau perjodohan kita bisa berjalan dengan lancar, ya." Akhirnya Julia mencoba untuk membuka obrolan. Dia tidak ingin suasananya menjadi sangat canggung.
__ADS_1
"Ya, semoga," balas Zen dengan santai, tapi terkesan malas juga.
Setelah mendengar balasan itu, Julia jadi bingung sendiri harus lanjut seperti apa lagi obrolannya. Sebelum lanjut, wanita itu juga menyempatkan untuk minum dulu. Karena terlalu gerogi, Julia sampai langsung menghabiskan satu cangkir tehnya. Hal itu sedikit membuat Zen terheran-heran.
Suasana hening itu sama sekali tidak berubah, mereka sama-sama diam. Beberapa saat kemudian, Julia merasa ada yang aneh pada dirinya, dia pun pamit ke kamar mandi.
Tidak berselang lama setelah itu, hal yang sama juga terjadi pada Zen. Laki-laki itu merasa kalau badannya mengeluarkan respon-respon aneh, dia juga merasa kalau kepalanya sangat pusing. Akhirnya Zen memutuskan untuk masuk ke dalam kamar yang telah ia pesan, mungkin saja ini karena badannya terlalu lelah.
Zen akhirnya bersusah payah sendiri, di saat seperti ini biasanya dia membutuhkan asisten pribadinya. Tapi malam ini, Lusi melarangnya untuk membawa asisten karena ini adalah pertemuan keluarga yang bersifat sangat pribadi, jadi Zen mematuhi hal itu. Awalnya Zen juga sempat menolak, tapi saat ayahnya ikut dalam menegur, Zen tidak bisa menolaknya.
Sepanjang lorong hotel, Zen tetap berusaha untuk mengokohkan dirinya agar tidak terjatuh. Dia harus menahan diri untuk bisa sampai ke kamar dulu, dia tidak ingin terkapar di lorong hotel, itu akan sangat memalukan nantinya.
"Tahan sebentar lagi, Zen. Kamu hanya perlu mencari kamar nomer 99," monolog Zen untuk menyadarkan dirinya sendiri. Dia juga terus fokus pada deratan-deretan pintu yang di depannya ada nomer, Zen tidak boleh sampai salah masuk kamar.
Dengan kepala yang semakin berat dan pengelihatan yang semakin memudar, Zen tetap bertahan untuk tetap sadar. Situasi seperti ini sangat mengganggu dirinya, andai saja tadi dia membawa asistennya, mungkin dia hanya akan pasrah dan dibantu masuk kamar. Tapi sekarang dia harus bersusah payah seperti ini, ibu tirinya memang selalu menyusahkan Zen.
Setelah bersusah payah berjalan dan mempertahankan kesadarannya, Zen akhirnya menemukan kamarnya. Laki-laki itu sedikit mempercepat langkahnya agar bisa cepat masuk ke kamar, saat sudah sampai di depan pintu. Zen langsung menempelkan kartu kunci dan pintu pun langsung terbuka.
__ADS_1
Dengan langkah yang masih sempoyongan Zen masuk ke dalam. "Akhirnya aku ada di kamar. Ayo kita bersenang-senang!"