Duda Perjaka Salah Kamar

Duda Perjaka Salah Kamar
Rencana Picik Luci


__ADS_3

"Ada apa Mama datang ke kamarku? Nggak ketuk pintu lagi." Leon protes karena Luci tiba-tiba datang ke kamarnya tanpa aba-aba terlebih dulu.


Leon — Leon Demi Sanjaya, anak kandung kedua dari Luci, adik tiri kedua Zen.


Luci mendekati putranya yang sedang asik menonton film di laptopnya. Leon sedikit kurang suka kalau ada orang yang mengganggu waktunya di saat dia sedang serius seperti ini.


"Leon, Mama ada ide bagus banget buat kamu." Luci mendekati putranya. Dia bahkan ikut duduk di atas ranjangnya Leon.


Karena sudah kesal kepada Luci, Leon pun sedikit ogah-ogahan untuk mendengarkan Luci bicara. Terlebih lagi, Leon tidak yakin kalau apa yang akan Luci bicarakan ini adalah hal yang menguntungkan untuknya.


"Ish, ada apa, Ma?" Leon yang mulanya berbaring dalam kondisi tengkurap, jadi beralih duduk dan siap mendengarkan ide bagus yang dibilang mamanya tadi.


Luci memperlihatkan foto Julia kepada putra keduanya. Kening Leon mengerut, dia tidak paham akan maksud mamanya memperlihatkan foto Julia kepadanya. Pandangan Leon berpindah dari layar ponsel mamanya ke wajah Luci.


"Kamu tahu 'kan kalau dia ini Julia?" tanya sang Mama, Luci.


"Mama ini amnesia apa bagaimana sih? Ya jelas aku tahulah, 'kan dia ini, kembarannya Kakak Ipar, Juli. Bagaimana aku bisa lupa?" Leon tampak kurang suka akan pertanyaan mamanya yang menurutnya sangat tidak berbobot.


"Bukan itu yang Mama maksud, Leon."


"Ya terus apa, Mama?"


"Kakak kamu 'kan sudah menikah dari satu tahun yang lalu. Jadi harapan Mama hanya kamu seorang." Luci menatap putra keduanya penuh harap.


Ya, putra pertama kandungnya, adik tiri pertama Zen yang bernama lengkap Lucas M Sanjaya, yang sudah menikah setahun lalu, belum memiliki keturunan hingga saat ini, bahkan masih belum bisa merebut posisi CEO yang diinginkan Luci.

__ADS_1


"Sumpah, aku nggak paham apa kata Mama." Leon menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha tidak peduli lagi apa kata sang mama.


"Maksud Mama itu, Mama mau kamu mendekati Julia sampai kalian menikah." Luci mengutarakan niat yang sesungguhnya, memperlihatkan fotonya Julia kepada Leon.


Leon seketika menggelengkan kepalanya.


"Enggak ah, apaan sih Mama ini? Masa perkara istri juga mau ikut campur. Aku nggak mau pokoknya!" tolak Leon.


"Leon, kamu lihat dulu baik-baik. Julia ini sangat cantik dan seksi. Selain itu, dia juga memiliki perusahaan sendiri." Luci masih berusaha mencuci otak putra keduanya untuk menuruti apa yang dia inginkan.


Meski Julia lebih cantik daripada Juli, tapi Leon tetap tidak mau menuruti apa kata Luci. Lagi pula, Leon tidak ingin memiliki pasangan yang ditentukan oleh orang tua. Tentunya itu pemikirannya untuk sekarang ini.


"Kalau kamu menikah sama Julia, kamu juga pasti akan hidup mewah." Segala cara masih dilakukan oleh Luci untuk mengambil hati putra keduanya. "Cuma kamu harapan Mama satu-satunya, Leon. Kalau kakak kamu belum menikah, sudah pasti Mama bakal minta Lucas untuk melakukan ini."


"Aku tetap nggak mau, Ma." Leon kembali menolak permintaan gila mamanya.


"Aw!" pekik Juli saat jarinya tidak sengaja terkena pisau.


Leon yang berada di dapur, sontak mendekat ke arah Juli. Laki-laki itu segera memegang tangan Juli dan membasuh lukanya Juli dengan air keran. Tanpa sepengetahuan Leon dan Juli, ternyata Luci tidak sengaja menyaksikan apa yang mereka lakukan saat Luci ingin mengejar Leon.


Luci memerhatikan dari jauh. Leon meminta Juli menunggunya mengambil kotak P3K. Bahkan, Leon juga meneteskan obat merah dan membalut lukanya Juli pakai plaster. Di saat semua itu berlangsung, Luci memiliki ide licik. Perempuan setengah baya itu bahkan memotret Juli dan Leon yang sedang di dapur. Luci juga mengingat-ingat apa yang pernah terjadi dan setelah dipikir lebih dalam, Leon terlihat sangat memerhatikan Juli dan menunjukkan ketertarikan kepada menantunya itu.


"Masih sakit?" tanya Leon usai berhasil menempelkan plaster pada luka di jari telunjuknya Juli.


Juli menggelengkan kepala. "Tidak. Makasih ya, Leon. Kamu sudah membantu aku menangani ini." Juli berkata dengan tersenyum ramah.

__ADS_1


Leon tersenyum sambil mengiyakan. Begitu pula dengan Juli membalas kembali senyuman itu. Mereka masih belum sadar kalau Luci terus mengabadikan momen mereka berdua di ponselnya. Leon segera pamit dan kembali ke kamarnya. Begitu pula dengan Juli yang juga melanjutkan kegiatan masaknya.


Luci memiliki ide gila. Karena usahanya membujuk Leon untuk mendekati Julia tidak mempan, akhirnya Luci berniat untuk memfitnah Juli. Luci bahkan tidak peduli akan putra keduanya sendiri demi melancarkan aksi jahatnya.


"Mama ngapain?" Jenny memergoki mamanya sedang melihat Juli di dapur.


Jantung Luci rasanya hampir copot. Wanita setengah baya itu menepuk bahu putrinya dan mengajak Jenny ke kamarnya. Jenny jadi bingung, kenapa mamanya itu mengajak dirinya sambil mengendap-endap.


"Mama kenapa sih? Habis lihat apa?" Jenny tampak bingung. Dia melemparkan tasnya ke atas meja belajarnya yang tidak pernah dipakai belajar.


Luci memperlihatkan foto-foto Leon dan Juli yang dia ambil tadi kepada Jenny. "Mama punya ide menarik."


"Apaan? Nuduh Juli sama Kak Leon selingkuh?" Jenny mencoba menebak apa yang ada di dalam pikiran mamanya.


Luci menggeleng. "Lebih tepatnya lagi, Mama mau bilang ke Zen kalau Juli berusaha menggoda Leon padahal dia sudah memiliki suami."


Jenny tampak kaget mendengar ide gila mamanya kali ini. Jenny tahu kalau mamanya itu memang gila dan akan melakukan segala cara, tapi idenya kali ini memang benar-benar di luar dugaan.


"Gimana? Kamu juga setuju 'kan sama ide Mama?" Luci meminta pendapat dari putri bungsunya akan ide yang yang dia punya sejak beberapa menit lalu.


"Lebih baik jangan deh, Ma. Apa yang akan Mama lakukan itu memiliki dampak dan risiko yang sangat tinggi. Takutnya nanti masalahnya malah meleber ke mana-mana." Jenny mengingatkan mamanya supaya tidak bertindak gegabah akan hal ini.


Sebagai ibu, mulanya Luci tidak setuju dengan teguran yang diberikan putri bungsunya. Dia merasa kalau idenya memang yang paling baik untuk membuat Juli buruk di mata Zen dan semua orang.


"Mama harus pikirkan lagi untuk ke depannya. Masalah ini nanti akan menimbulkan keretakan dengan AB Group. Memangnya Mama mau hal itu terjadi?"

__ADS_1


Luci terdiam, apa yang dibilang Jenny ternyata ada benarnya juga. Luci tidak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya bisa menerima teguran dari Jenny demi keselamatan mereka bersama.


"Ya sudah, Mama tidak akan melakukan itu, tapi Mama akan tetap menyimpan foto-foto ini untuk hal yang akan terjadi di kemudian hari." Luci yakin sekali, suatu saat pasti dia akan membutuhkan foto yang dia dapat tadi saat Leon bersama Juli di dapur.


__ADS_2