Duda Perjaka Salah Kamar

Duda Perjaka Salah Kamar
Ada Seseorang di Kamar


__ADS_3

Kilau cahaya matahari menerobos masuk ke sela-sela gorden jendela kamar hotel di mana Zen tertidur, laki-laki yang merasa silau itu melenguh dan perlahan mulai membuka matanya.


Yang pertama dia rasakan saat membuka mata adalah kepala yang sangat berat, ternyata rasa pusing yang dia alami semalam belum hilang juga. Kemudian saat dia akan mengubah posisinya, dia baru menyadari kalau ada seseorang yang berada di sampingnya tengah memeluk dirinya. Zen menoleh, seorang wanita masih terlelap dengan rambut yang sedikit acak-acakan, perlu beberapa detik bagi Zen untuk menyadari kalau dia sama sekali tidak kenal dengan wanita itu.


Detik berikutnya, saat Zen mengedipkan matanya sebanyak tiga kali, dia baru sadar. Dengan kecepatan penuh, Zen menarik lengannya yang dijadikan bantal oleh wanita itu langsung ia tarik, dia melompat turun dari kasur.


"Yaa! Siapa kau, kenapa berada di sini?" histeris Zen sambil berusaha mengambil celananya dan memakainya dengan cepat.


Bersamaan dengan itu, wanita itu langsung ikut terbangun. Dia juga perlu beberapa detik untuk menyadari semua yang sedang terjadi, dia menatap Zen cukup lama, kemudian dia menatap badanya sendiri yang setengah tertutup selimut. Saat menyadari keadaan dirinya, wanita itu langsung menarik selimutnya sampai ke leher, lalu mengganti posisinya menjadi duduk.


"Aaaa! Siapa kamu, dan apa semua ini?" Wanita itu bertanya hal yang sama.


Hening beberapa detik, mereka berdua saling menatap dengan penuh tanya dan keheranan. Entah apa yang terjadi semalam sampai Zen tidak bisa mengingatnya sama sekali, dia benar-benar terkejut dengan semua ini. Mata nanar Zen melihat sekeliling, semuanya tampak berantakan, pakaiannya dan pakaian wanita itu berserakan di lantai.


"Apa yang kau lakukan pada diriku?" tanya Zen ketakutan. Seingatnya semalam dia hanya masuk ke dalam kamar karena merasa pusing dan langsung tertidur, tapi kenapa semua ini malah terjadi.


"Seharusnya aku yang menanyakan itu kepadamu!" jerit wanita itu. Air matanya kini sudah membasahi pipinya, dia sangat syok dengan situasi sekarang. Dia juga sama sekali tidak bisa mengingat apa yang terjadi semalam, dia merasa kotor dengan dirinya sendiri.


Zen mengumpat, dia sama sekali tidak bisa mengingat kejadian semalam. Laki-laki itu mencengkram rambutnya dengan kuat, berharap bisa mengingat semuanya, tapi usahanya nihil. Zen berharap ini semua jebakan, dia tidak melakukan apa pun, dia harus yakin dengan semua itu. Laki-laki itu terus saja mondar-mandir di tengah teriakan histeris wanita yang masih terduduk di kasur dengan balutan selimut tebal itu, sampai akhirnya dia menyadari sesuatu saat melihat dirinya di pantulan cermin besar di sudut ruangan.

__ADS_1


Laki-laki itu mendekat ke sana, melihat bercak-bercak aneh yang ada disekitar leher dan dadanya. "Apa semua ini? Tidak, tidak mungkin. Sebenarnya apa yang kau lakukan, siapa kau sebenarnya?!" tanya Zen dengan teriakan.


Zen paham betul kalau belas-bekas seperti itu hanya bisa didapatkan setelah melakukan hubungan badan, tapi sayangnya dia tidak bisa mengingat apa pun. Itu berarti wanita yang berada di kasur pasti sudah menjebaknya.


"Hentikan dramamu itu! Seharusnya kau meminta maaf kepadaku karena telah me---" Wanita itu sama sekali tidak kuat untuk melanjutkan ucapannya, hatinya terasa sangat sakit. Dia tidak menyangka kalau kehormatannya akan terenggut dengan cara tidak terhormat seperti ini.


"Aku tidak ingin mendengar tangisanmu itu. Katakan siapa yang mengirimmu ke sini, wanita tidak tahu malu!" tegas Zen dengan amarah yang memuncak. Laki-laki itu yakin kalau ada yang sengaja menjebaknya.


"Hentikan ocehanmu itu, sialan! Keluarga Bakhtiar tidak serendah itu sampai harus men–"


"Oh, ternyata kau," sela Zen dengan cepat, "seharusnya aku menyadari dari awal kalau memang kau sengaja merangkak ke ranjangku agar kita bisa menikah! Iya kan!" tekan Zen dengan sarkas.


* * *


"Sial! Kenapa wanita itu harus ada di sana! Aku yakin kalau dia sengaja melakukan ini," monolog Zen saat memasuki ruangan kerjanya di kantor.


Dia baru saja sampai ke kantor, Zen memang lebih sering menghabiskan waktunya berada di kantor daripada pulang ke rumah. Kantor sudah menjadi rumah kedua bagi dirinya setelah ayahnya, Sanjaya, lebih memilih menikah lagi setelah ibunya meninggal. Hari-harinya serasa di neraka setelah ibu dan adik-adik tirinya tinggal di rumah, Zen tidak nyaman dengan semua itu.


Apalagi sekarang Sanjaya lebih memihak pada istri barunya ketimbang pada Zen, anak kandungnya sendiri. Saat di rumah, Zen merasa seperti orang asing yang singgah, itu sebabnya dia lebih memilih melakukan sebagian besar kegiatannya di kantor, dia sudah nyaman dengan semua itu.

__ADS_1


Karena merasa sangat pusing, Zen memilih untuk membersihkan dirinya terlebih dulu. Setelah itu, barulah dia menyelesaikan masalah yang baru saja terjadi, dia akan mencari tahu dengan jelas dalang di balik semua kejadian ini. Zen yakin ada orang yang mengendalikan semuanya.


Zen baru saja selesai mandi, dia merasa lebih segar. Dia juga berusaha untuk menutupi bercak-bercak yang tertinggal di lehernya, jadi Zen harus memakai baju yang kerahnya sedikit tinggi. Sedikit menyusahkan, tapi Zen tetap harus melakukannya daripada ada rumor yang menyebar.


Setelah bersusah payah untuk menutupi bekas-bekasnya di lehernya, barulah Zen memanggil asisten pribadinya untuk masuk ke dalam ruangannya.


Tidak lama setelah itu, asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan. Zen yang sedang sibuk melihat tanda merah di leher dipantulan cermin langsung spontan menarik kerah bajunya lebih ke atas, kemudian dia berusaha serileks mungkin. Jujur, dia merasa sedikit malu dengan semua ini.


"Pak Zen memanggil saya?"


"Iya. Duduklah, aku ingin mengatakan sesuatu," jawab Zen.


Asisten pribadinya itu sedikit merasa aneh dengan sikap atasannya, tapi dia tidak ingin memikirkannya terlalu lama dan langsung duduk.


"Aku ingin kamu menyelidiki sesuatu," ucap Zen saat asisten pribadinya sudah duduk di hadapannya. "Semalam aku tidur di hotel, kemudian ada seorang wanita yang masuk ke kamar dan kami ... intinya, coba selidiki apakah wanita itu sengaja mengikutiku atau ada orang lain yang menyuruhnya."


"Jadi Anda tidak tahu kalau ada wanita yang masuk ke dalam kamar hotel?"


"Waktu itu badanku tidak enak, kepala juga pusing. Aku tidak ingat bagaimana wanita itu masuk dan semua terjadi begitu saja, maksudku ... ah, lupakan. Cepat cari tahu saja," jawab Zen dengan bingung. Dia tidak ingin menjelaskan secara detail apa yang dia alami, dia hanya ingin tahu apakah ada orang dibalik kejadian semalam.

__ADS_1


"Baik, Pak. Saya akan mencari tahu dengan baik dan cepat."


__ADS_2