Duda Perjaka Salah Kamar

Duda Perjaka Salah Kamar
Menikah


__ADS_3

"Hallo pemirsa di semua penjuru Negeri. Seperti yang publik ketahui bahwa di hari ini, keluarga Sanjaya dan Bahktiar resmi menjadi besan. Bisa kalian lihat, ada banyak sekali pebisnis Tanah Air dan para kolega dari kedua belah pihak yang berdatangan." Seorang pembawa berita dengan hebohnya memberi tahu kepada media mengenai suasana di gedung pernikahan Zen dan Juli.


Suasana di depan gedung pesta pernikahan Zen dan Juli begitu ramai oleh awak media. Pernikahan ini memang digelar secara mewah dan terbuka untuk publik. Zen Sanjaya yang terkenal tampan dan berprestasi serta diinginkan banyak kaum hawa itu akan melepas masa lajangnya untuk kedua kali. Ini memang pernikahan keduanya Zen sebelum akhirnya dia pernah menikah dan bercerai.


Dua orang wartawan yang sudah mendapatkan izin masuk untuk meliput secara langsung pada saat pernikahan mereka berlangsung pun masuk ke dalam gedung. Di acara yang sakral ini, tidak ada yang mengeluarkan suara. Mereka menyaksikan bagaimana resminya hubungan suami istri antara Zen dan Juli. Segala doa baik dipanjatkan oleh semua orang yang menghadiri pernikahan kedua mempelai. Tentu saja sebagian dari tamu undangan mengharapkan pernikahan mereka langgeng dan sampai maut memisahkan. Namun ada pula yang hanya berpura-pura baik di depan, tapi pada kenyataannya menginginkan mereka berpisah dalam waktu dekat.


Berbeda dengan kondisi di depan gedung yang sedang ribut karena beberapa wartawan tidak diperbolehkan masuk. Beberapa pembawa berita menyayangkan kenapa bukan mereka yang boleh meliput secara langsung.


"Kalian sabar, nanti kalian akan mendapatkan video liputannya dari dua wartawan yang masuk ke dalam." Salah seorang petugas keamanan lagi-lagi menenangkan para media supaya tidak membuat kegaduhan.


Suasana di dalam gedung sangat meriah. Namun berbeda dengan suasana hati Juli dan Zen. Sepasang suami istri yang baru dinyatakan sah dalam beberapa detik yang lalu itu masih merasa tidak percaya. Terlebih lagi Juli, dia tidak yakin kalau laki-laki yang berdiri di sampingnya ini berstatus suami sahnya.


"Lihatlah ke depan, jangan melihatku terus-menerus." Zen membuat Juli kaget.


Juli terkesiap, dia tidak menyangka kalau ternyata Zen mengetahui bahwa dirinya memerhatikan Zen sedari tadi. Padahal Zen selalu menatap ke depan. Tanpa banyak kata, Juli menuruti apa kata Zen. Tidak hanya itu, dia juga memaksakan senyumnya. Juli tidak peduli andai orang-orang di depan sana tahu mengenai senyum palsunya. Karena yang Juli tahu, dia tidak ingin mempermalukan kedua orang tuanya dan keluarganya.

__ADS_1


"Baik, sekarang sesi foto bersama keluarga." Fotografer yang disewa untuk mengabadikan momen kebahagiaan Juli dan Zen memberi pengumuman supaya kedua belah pihak keluarga besar segera datang ke panggung pelaminan.


Demi sebuah foto pernikahan yang cantik untuk dipajang, Juli dan Zen harus bekerja sama memberi penampilan terbaik mereka. Salah satunya seperti Zen yang memperbolehkan Juli memegang lengannya.


"Kalian ini, memang pasangan yang serasi."


Zen tidak menghiraukan pujian yang keluar dari bibir ibu tirinya. Dia bahkan membuang muka saat ibu tirinya hampir memegang kedua pipinya. Bagi Zen, ibu tirinya sangat berlebihan hanya untuk meyakinkan publik dengan asumsi bahwa ibu tirinya sangat menyayanginya.


"Aduh, menantuku benar-benar cantik sekali." Ibu tirinya Zen ganti memuji Juli. Ada pandangan misterius di balik sorot matanya yang sama sekali tidak diketahui oleh Juli.


Tidak. Aku harus bertahan sampai pesta ini selesai. Aku tidak boleh lemah. Bagaimanapun juga, nama baik keluargaku sedang dipertaruhkan. Apalagi pesta ini disiarkan secara langsung. Batin Juli.


"Selamat ya atas pernikahan kalian, semoga segera mendapatkan momongan." Kolega kerja Zen datang, memberikan ucapan selamat.


Zen hanya menganggukkan kepalanya saja. Namun berbeda dengan Juli. Mendengar mengenai momongan, Juli jadi teringat akan hari di mana dia bangun dalam kondisi tanpa busana dan di sampingnya ada Zen yang berbagi selimut dengannya. Teringat akan hal itu, membuat Juli bergidik ngeri dan tanpa sengaja dia membayangkan mengenai kejadian besok pagi saat bangun tidur. Juli seketika menggelengkan kepalanya, dia menepis semua pemikiran yang menurutnya aneh dan tidak masuk akal.

__ADS_1


Samar-samar, Juli tidak sengaja mendengar beberapa tamu undangan memuji kecantikan wajahnya yang terbalut make-up. Mereka juga menganggap bahwa Zen ataupun Juli adalah orang beruntung karena bisa mendapatkan satu sama lain.


"Setelah pernikahan mereka, pasti hubungan kerja antara keluarga Sanjaya dan Bahktiar semakin erat. Secara, mereka sekarang ini statusnya besan. Tidak seperti dulu lagi," kata salah seorang tamu undangan yang sedang menikmati menu makanan yang dihidangkan secara prasmanan.


"Eh, kalian tahu nggak? Kembarannya Juli itu lebih cantik tahu, daripada Juli. Bahkan kembarannya itu seorang model." Ada perempuan bertubuh tinggi, dia salah satu teman kuliahnya Zen dulu yang diundang oleh pihak keluarga Sanjaya. Padahal Zen tidak mengundangnya.


"Oh iya, aku tahu. Benar juga apa kata kamu. Julia 'kan lebih cantik daripada Juli, kenapa Zen malah milih Juli ya daripada Julia?" Salah satu temannya Zen juga menyahut.


"Mungkin karena Juli lebih lugu kali, jadi lebih gampang dikendalikan," sambar teman satunya lagi yang mengenakan gaun berwarna merah muda.


"Iya juga ya, kalau dilihat-lihat memang wajahnya Juli itu lebih lugu dari Julia. Kasihan banget itu cewek."


"Aku malah lebih kasihan ke Zen. Padahal dengan tampangnya yang cakep, dia bisa ngedapetin Julia atau perempuan cantik lainnya di luar sana. Kenapa dia malah dapetin cewek kayak gitu sih? Nggak sepadan banget tahu nggak, jomplang."


Masih banyak lagi yang mereka bahas. Ada yang bisa Juli dengar dan ada yang tidak. Dia jadi merasa bersalah, tapi lagi-lagi Juli meyakinkan hatinya bahwa dirinyalah yang menjadi korban di sini. Bagaimanapun juga, Zen tetaplah pelaku. Meski Zen berparas tampan atau bahkan seperti dewa sekalipun.

__ADS_1


Karena pernikahan Zen dan Juli disiarkan di semua stasiun televisi secara live, tentu saja banyak pula warga yang menyaksikan acara pesta pernikahan mereka. Ada yang menonton dari awal, ada pula yang menonton saat pengucapan janji suci pernikahan saja dan ada yang masih menonton hingga kini. Banyak pula anggapan masyarakat mengenai Juli. Sebagian ada yang suka melihat pernikahan mereka. Namun ada pula yang tidak suka. Kebanyakan yang tidak suka itu dari mereka yang menjadi penggemar Zen.


__ADS_2