
Zen memegang kepala. Rasa pening yang luar biasa menghampirinya. Dia tidak tahu kenapa tubuhnya malah seperti ini. Padahal awalnya dia merasa bahwa pertemuan keluarga itu tidak terlalu melelahkan. Tidak ada banyak kegiatan juga yang dia lakukan. Lantas kenapa tiba-tiba saja kepalanya terasa sangat pening bahkan matanya sekarang berkunang-kunang.
"Mungkin hanya kelelahan." Zen berusaha memikirkan kemungkinan terbaik. Dia tidak akan berpikir bahwa ada kemungkinan yang meracuninya dalam hal ini. Bukan suatu hal yang mustahil memang apabila hal itu bisa terjadi pada dirinya. Dia tahu bahwa ada banyak pihak luar yang memusuhinya.
Sebagai putra dari salah satu pengusaha sukses di kota mereka, ayahnya memiliki banyak saingan bisnis di luar sana. Sebab itulah wajar apabila ada banyak orang yang barangkali melakukan tindakan ekstrim seperti meracuni atau membunuh mereka dengan berbagai macam cara.
"Dan hingga sekarang kau bahkan belum menikah?"
Kalimat paling menyakitkan yang keluar dari mulut ayahnya seakan terus bergema di kepalanya bahkan hingga saat ini. Zen ingat betul bagaimana masa lalunya hanya demi mendapatkan posisi sebagai CEO dari perusahaan Sanjaya Group. Persyaratan yang menurutnya sangat tidak masuk akal hanya karena sang ayah yang tak lain adalah Agung Sanjaya menuruti perkataan dari istri keduanya setelah istri pertamanya meninggal.
"Persyaratan macam apa itu? Tidak masuk akal apabila kemampuan memimpin perusahaan berkaitan dengan kehidupan pernikahan," jawab Zen pada saat itu yang tidak terima sama sekali dengan keputusan dan sikap ayahnya yang berubah setelah menikahi Luciani yang kini menjadi ibu tiri Zen. Sejak menjadi Ibu tiri, namanya pun menjadi Luciani Sanjaya.
"Justru karena kau tidak pernah memimpin, setidaknya seorang wanita itulah yang membuatku khawatir padamu." Ayahnya tetap saja mencari alasan yang membuat persyaratan itu terlihat masuk akal. Namun mau bagaimanapun dipaksa, tetap saja tidak bisa. Zen masih merasa kalau hal itu sangat konyol dan tidak mungkin dia lakukan. Namun rayuan dari Luciani jauh lebih kuat daripada dia, sekalipun dia adalah anak kandung dari Agung Sanjaya. Cinta memang bisa membuat siapa saja menjadi gila, termasuk juga ayahnya yang kini sudah tidak memedulikan ahli waris yang sah dalam keluarga mereka.
"Apa aku harus melakukan semua hal konyol itu. Tanpa ditanya sekalipun, semua orang sudah tahu bahwa aku adalah pewaris sah dari semua yang kau miliki, termasuk perusahaan itu." Zen tak habis pikir.
__ADS_1
Agung berbalik memandanginya. Bahkan Zen tidak akan pernah berpikir kalau ayahnya akan memandanginya seperti itu.
"Terserah kau saja. Kau bisa memutuskan apa pun yang kau inginkan. Kau bisa menggantikan posisiku di Sanjaya Group hanya ketika kau berhasil menikah."
Dan pada akhirnya saat itu secara terpaksa, dia pun memutuskan nikah kontrak dengan seseorang hanya untuk memenuhi persyaratan itu. Dia memutuskan untuk menikah dengan seorang gadis cantik yang sedang butuh uang. Terlalu main-main karena memang dia tidak pernah berniat untuk menikah.
Hubungan mereka resmi secara negara, namun keesokan harinya dia menceraikan gadis itu.
"Ambil semua uang yang kau butuhkan. Berapa pun jumlahnya. Kau bisa mengambil sebanyak yang kau mau. Yang pasti sekarang, kita sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi." Itulah yang dia ucapkan pada gadis itu setelah memutuskan untuk bercerai. Dia memberinya sejumlah uang yang tentu saja nilainya tidak sedikit karena gadis itu memang butuh banyak. Dan lagi, Zen sama sekali tidak menyentuhnya selama sehari menjadi istri.
"Apa kau sama sekali tidak merasa rugi. Kau bahkan tidak menyentuhku dan kau memberanikan diri untuk memberikan uang sebanyak ini padaku," ucap gadis itu yang masih sangat merasa ragu apabila dia pergi secepat itu. Dia merasa kalau Zen tidak berusaha mendapatkan keuntungan apa pun dalam pernikahan mereka karena dia sendiri memang tidak mengetahui tentang masalah pribadi Zen dengan ayahnya.
"Tidak, tidak sama sekali. Terima kasih sudah mau melakukan ini untukku. Kau boleh pergi ke mana pun kau mau. Kalau kau ingin aku membelikanmu rumah, itu juga tidak masalah."
Gadis itu buru-buru menggeleng. Dia menolak karena merasa bahwa uang pemberian Zen sudah lebih dari cukup untuk bertahan hidup atau juga untuk dijadikan modal usaha.
__ADS_1
"Tidak, aku sudah tidak butuh apa pun lagi. Ini sudah lebih dari cukup. Aku mungkin bisa membeli mini house dengan sebagian uang ini."
Zen pun mengangguk. Dan itulah saat terakhir dia melihat wajah gadis itu sebelum kemudian mereka resmi bercerai. Dia sudah mengatur semuanya. Kalau perlu membayar mahal banyak orang hanya untuk mensahkan status perceraian itu.
Zen mengira kalau itu adalah akhir dari segalanya. Dia mengira kalau setelah ini dia sudah berhasil memenangkan posisi sebagai CEO di perusahaan mereka. Saudara tirinya sekarang masih berstatus tunangan dengan kekasihnya dan belum menikah.
Akan tetapi, ternyata masalahnya tidaklah segampang yang dia kira. Dia baru menyadari kalau permasalahan ini jauh lebih rumit dari perkiraan sebelumnya. Setelah dia berhasil menikah hingga bercerai, Luci yang tidak lain adalah ibu tirinya kini mendesak dirinya untuk kembali menikah dengan anak seorang pengusaha. Dan bisa ditebak kalau ini alasannya adalah demi bisnis.
"Kau tidak akan melewatkan kesempatan ini, bukan? Menikah dengannya bahkan bisa memperat hubungan bisnis ayahmu dengan ayahnya. Sebagai pengusaha, kau pasti sudah tahu sesuatu yang biasa kita sebut sebagai strategi. Dan itu memiliki arti luas. Kita bisa melakukannya dari segala sisi, termasuk juga dari kehidupan pribadi seperti pernikahan. Aku yakin kalau kau juga akan cocok dengan dia."
Zen merasa sangat muak mendengar apa pun yang dikatakan oleh Luci. Semuanya terlihat sangat konyol. Barangkali pikiran-pikiran inilah yang mudah membuatnya merasa mudah sekali pusing. Bahkan hanya dengan melakukan pertemuan keluarga yang tidak terlalu ramai saja sudah bisa membuat tubuhnya linglung.
Zen mengambil kunci kamar hotel di saku kemejanya. Kamar yang memang sudah sejak awal dibayar oleh keluarganya. Dia masih berusaha untuk menahan diri. Rasa menusuk semakin menyerang kepalanya. Dia berusaha memegang gagang pintu kamar hotel itu, memutar kunci sampai pintunya terbuka.
Dia pun masuk ke kamar itu lantas merebahkan diri. Zen menghela napas panjang. Biarlah untuk hari ini saja dia beristirahat. Hanya dengan mengingat semua masa lalu itu sudah cukup membuatnya lelah dan stress seperti ini. Dia belum tahu akan seperti apa nasib dirinya di kemudian hari.
__ADS_1
Biar bagaimanapun ayahnya belum mengambil keputusan tentang siapa yang akan menggantikan posisinya sebagai CEO di Sanjaya Group. Dan Zen tidak mengerti sama sekali kenapa dalam hal ini dia sama sekali tidak bisa memikirkan kemungkinan paling bagus. Dia tahu kalau ibu tirinya akan melakukan berbagai macam cara agar posisi dan kepimimpinan perusahaan itu jatuh pada tangan saudara tirinya. Semoga saja sang ayah masih bisa berpikir jernih untuk memutuskan hal sepenting ini.