Duda Perjaka Salah Kamar

Duda Perjaka Salah Kamar
Bercerita pada Julia


__ADS_3

Julia, dengan nama lengkap Julia Bakhtiar, sekali lagi memeluk tubuh Juli — Juliani Baktiar, dia ingin menguatkan sauadara kembarnya itu. Julia merasa tidak enak karena Juli mendapatkan perilaku yang sangat kurang menyenangkan, pernikahannya dengan Zen sudah sangat tidak diharapkan, tapi sekarang Juli malah menjadi menantu yang selalu disalahkan.


"Sebenarnya aku ingin sekali membalas saat mereka semua melakukan hal buruk kepadaku, tapi aku tidak ingin masalahnya semakin besar," ungkap Juli dengan suara pelan. Raut wajah wanita itu semakin murung memikirkan nasibnya yang sangat sial menurutnya.


Julia mengurai pelukannya, wanita itu menatap lekat wajah kembarannya kemudian mengusap pipinya lembut. "Jika mereka melakukannya berulang kali dan melewati batas, sesekali kamu membela diri tidak masalah, dan mungkin itu harus. Karena mereka tidak berhak melakukan hal semacam itu, tunjukkan kalau kamu tidak lemah. Jika kamu terus diam dan terlihat lemah, mereka akan malah semena-mena sama kamu," tutur Julia dengan tulus.


Juli menghela napas, wanita itu tidak menyangka kalau nasibnya akan seperti ini. Terkadang dia juga merasa sedikit iri dengan Julia, karena kehidupannya selalu berjalan dengan lancar dan banyak orang yang mencintainya, Julia selalu dipuja dalam setiap projek yang dia kerjakan. Dia juga dikenal dengan wanita yang serba bisa, itu sebabnya banyak orang yang menjadikan Julia sebagai motivator.


Namun, Juli tidak ingin larut dalam keirian itu. Dirinya sendiri sebenarnya juga mampu seperti Julia, hanya saja jalan yang dia tempuh sedikit berbeda, Juli lebih cenderung menyembunyikan diri, padahal dia juga tidak kalah hebat dari Julia. Buktinya dia adalah owner dari Citrasan Group.


"Aku akan tetap kuat jika ada kamu yang selalu mendukung. Lagipula pernikahan ini juga tidak akan lama, aku hanya akan menunggu satu tahun. Itu tidak akan lama." Juli mengatakan itu dengan senyuman getir, menguatkan dirinya sendiri. Satu tahun bukanlah waktu yang sesingkat itu, dia masih akan mengalami banyak hal.


"Aku janji akan selalu bersamamu. Jika perlu aku juga akan membalas perbuatan keluarga Sanjaya terhadapmu," balas Julia dengan raut wajah serius. Wanita itu lebih berani mengambil keputusan besar, jika dia sudah marah, apa pun bisa dia lakukan pada orang yang melakukan kesalahan. "Dengarkan aku, kamu tidak perlu khawatir. Menghancurkan keluarga Sanjaya tidak sesulit itu, kita bisa melakukannya. Apalagi kita sudah bisa menebak alasan mereka mau menjodohkanku dengan Zen, semuanya hanya demi bisnis. Jadi, kita bisa menghancurkan mereka lewat bisnis juga," lajutnya menggebu.


Juli yang mendengar itu masih belum merespon. Dia mencermati baik-baik maksud dari Julia, keputusan seperti ini tidak boleh dilakukan dengan gegabah. Takutnya malah ada masalah baru yang nanti muncul, bisa-bisa semakin kacau saja. "Maksud kamu bagaimana?" tanya Juli memastikan.


Julia membenarkan posisi duduknya, dia lebih mendekat pada Juli. Kemudian menatap Juli dengan lekat, sebelum akhirnya mulai menjelaskan, "Begini. Aku berencana membalas perbuatan mereka kepadamu dengan cara menekan langsung keluarga Sanjaya. Jika mereka masih saja tidak memperdulikan peringatan yang kuberikan, aku akan meruntuhkan pertahanan Zen di Sanjaya Group dengan kuasa BA Group. Ah, aku juga bisa meruntuhkan dengan bantuan perusahaanku. Itu terdengar lebih bagus."

__ADS_1


Setelah menjelaskan rencana yang akan dilakukan Julia merasa sangat puas, dia tidak sabar menjalankan rencana itu. Bahkan wanita itu sudah membayangkan bagaimana rencana itu akan berjalan dengan lancar dan sukses, sampai akhirnya keluarga Sanjaya tidak akan bisa berbuat buruk kepada Juli.


"Tidak, tidak," tolak Juli sambil menggelengkan kepalanya tiga kali.


Mendengar penolakan itu membuat Julia mengerutkan dahinya, dia tidak paham dengan keinginan adiknya itu. "Kenapa tidak? Bukankah itu pantas untuk keluarga Sanjaya?" tanya Julia bingung.


"Zen tidak berhak mendapatkan itu, Lia," jawab Juli, "karena yang salah di sini bukan Zen. Dia sama sekali tidak melakukan apa pun, yang jahat kepadaku hanyalah ibu mertua dan adik iparku saja."


"Lalu Zen?"


Julia terdiam mendengar penjelasan Juli, dari cara bicaranya sangat menunjukkan ketulusan. Seakan dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada Zen, Julia jadi merasa tidak enak karena merencenakan sesuatu yang kelewatan tadi.


"Jika itu maumu, baiklah. Aku tidak akan melakukan apa pun kepada Zen, kita fokus pada yang lainnya saja." Hanya itu yang bisa Julia katakan. Wanita itu berhenti sejenak, sebelum menambahkan sesuatu. "Aku sedikit merasa lega mendengarnya, setidaknya Zen tidak sama seperti yang lainnya. Aku yakin kalau dia akan menjadi orang yang melindungimu nanti."


"Aku tidak berharap lebih dengan hal itu. Tapi bagaimanapun, aku berterima kasih banyak kepadamu Julia."


"Jangan katakan itu, itu hanya akan membuat kita seperti orang asing." Julia mengusap lembut kepala Juli. "Ah, sudah lupakan masalah ini sejenak. Karena kamu sudah di sini, kita makan dulu, yuk!" ajak Julia.

__ADS_1


Juli hanya menanggapinya dengan anggukan.


"Tunggu sebentar, aku akan mengganti baju yang lebih nyaman dulu." Setelah mengatakan itu, Julia mengganti bajunya dengan cepat. Dia tidak ingin membuat Juli menunggu terlalu lama, jika dipikir-pikir mereka juga sudah lama tidak makan bersama karena kesibukan masing-masing.


Sembari menunggu Julia mengganti baju, Juli mencoba lebih menenangkan dirinya lagi. Dia merasa lega karena ada orang yang mendengar keluhannya, setidaknya dia tidak memendamnya sendiri, itu terasa sesak baginya.


"Ayo, aku sudah siap!" seru Julia setelah selesai. Dia mendekat pada Juli kemudian dia menggandeng tangan kembarannya itu untuk keluar dari ruangan. "Sudah lama bukan kita tidak keluar seperti ini?"


"Eum, lumayan. Itu karena kamu sangat sibuk, tidak ada waktu untukku," jawab Juli sambil mengerucutkan bibirnya, tangannya juga melingkar erat pada lengan Julia.


"Hey, hey, jangan katakan itu. Kamu juga selalu sok sibuk ya saat kuajak keluar." Julia berusaha membela diri. Dia tidak ingin menjadi yang tersalahkan, karena Juli juga memiliki kesibukan yang tidak kalah darinya.


Juli terkekeh mendengar itu. "Ya, sekarang kita baru sadar kalau jarang sekali menghabiskan waktu berdua seperti ini. Jadi, hari ini kita harus bersenang-senang, oke?"


"Tentu saja. Apa pun yang kamu inginkan akan aku turuti hari ini."


Kedua saudara kembar itu terlihat sangat bahagia. Setidaknya dengan seperti itu Juli sedikit melupakan kesedihannya, meskipun pada akhirnya nanti juga akan tetap kembali ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2