Duda Perjaka Salah Kamar

Duda Perjaka Salah Kamar
Memberitahu Julia


__ADS_3

Hari ini, Juli bisa menemui Julia di kantor. Tentu saja Juli bisa ke luar dari mansion juga berkat bantuan Zen. Lelaki itu beralasan ingin pergi berdua bersama Juli. Padahal Juli mengatakan dirinya ingin bertemu Julia. Sementara Zen, dia memilih pergi seorang diri sembari menunggu Juli selesai bicara dengan Julia.


Juli menemui Julia di sebuah studio tempat Julia menjalani pemotretan untuk brand yang memilih dirinya menjadi brand ambassador. Julia terlihat sangat lihai berada di depan kamera. Juli menatap kakaknya dengan senyuman, dia sangat suka melihat kembarannya itu berpose di depan kamera yang dipegang fotografer terkenal.


"Terima kasih untuk hari ini." Fotografer yang memotret Julia menyudahi acara pemotretan hari ini. Tidak mau kalah, Julia juga mengucapkan ucapan terima kasih atas kerja keras semua yang terhubung dalam project hari ini.


Julia menghampiri adiknya yang sudah menunggunya dari beberapa menit yang lalu. Perempuan berparas cantik itu mengajak sang adik ke ruang make-up yang di mana tidak boleh sembarang orang masuk selain mendapat izin oleh Julia.


"Bagaimana kabarmu? Apa kamu baik-baik saja?" Julia melihat wajah kembarannya yang sepertinya sedang murung.


Juli menggelengkan kepalanya, membuat pergerakan Julia terhenti. Perempuan dengan profesi sebagai model, artis dan seorang owner di perusahaan otomotif milik keluarga Bakhtiar itu memandang Juli lekat-lekat. Julia seketika memeluk tubuh Juli erat-erat. Dia tahu, cepat atau lambat pasti Juli akan mengadukan hal tidak baik kepadanya. Julia sudah menduganya.


"Ada apa? Apa yang dilakukan Zen kepadamu? Ceritakan padaku, Juli!" Julia mengajak Juli duduk di sebuah sofa yang ada di dalam ruang make-up.


"Bukan Zen yang menyakitiku, Julia." Juli bukannya membela Zen, tapi dia berkata apa adanya.


Kening Julia mengerut, dia belum paham akan arti pembicaraan Juli saat ini. "Lalu?" tanyanya lagi supaya Juli lebih memperjelas apa yang dia maksud.

__ADS_1


"Keluarganya Zen yang bertindak buruk kepadaku. Mereka sering menyuruhku ini dan itu, padahal di mansion ada pembantu. Semalam, adik tirinya Zen yang perempuan dengan sengaja menyenggol tanganku sehingga membuat air dalam teko yang aku pegang tumpah dan mengenai makanan di atas meja makan." Juli menceritakan semuanya kepada Julia. Juli tidak bermaksud mengadu, tapi dia ingin berbagi hal yang kurang mengenakkan yang dia alami selama di mansion bersama keluarga suaminya.


"Lalu apa yang terjadi setelahnya?" Julia mengusap setetes air mata yang jatuh dari pelupuk mata adik kembarnya.


"Ayahnya Zen memarahiku habis-habisan. Bahkan dia menyebutkan menantu yang ceroboh dan tidak tahu caranya melakukan pekerjaan rumah. Dia memarahiku di depan semua keluarga dan pembantu yang ada di sana, aku ... aku merasa malu, Lia," kata Juli.


Julia tentu merasa kasihan. Dia memeluk kembarannya. Julia ingin menenangkan Juli, supaya kembarannya itu tidak terlalu terpuruk. Ada kemarahan di dalam benak Julia, tapi dia tidak tahu harus melampiaskannya kepada siapa. Tidak mungkin Julia mendatangi keluarga Sanjaya dan marah-marah kepada mereka. Itu hanya akan membuat nama baik keluarga Bakhtiar buruk di mata mereka.


"Aku tidak bisa berkata apa-apa Juli, tapi aku akan selalu ada waktu untukmu setiap kamu mencariku." Julia berjanji, dia akan menampung apa pun yang ingin Juli curahkan kepadanya.


Julia merasa heran, kenapa perlakuan keluarga Sanjaya sangat berbeda ketika bersamanya dan bersama Juli. Saat bersamanya, mereka sangat baik dan mengelu-elukan Julia sebagai calon menantu yang sempurna. Namun ketika bersama Juli, sikap mereka sangat berbanding terbalik. Seolah-olah mereka tidak menginginkan Juli yang menjadi menantu mereka. Padahal semua ini terjadi juga karena perbuatan ibu tirinya sendiri.


Juli menggelengkan kepalanya. "Aku tidak tahu mengenai hal itu. Mungkin mereka memang menginginkan kamu yang menjadi menantunya."


Julia menghela napas panjang. Dia benar-benar tidak mengerti apa alasan mereka melakukan itu. Namun setelah dipikir-pikir, mungkin ibu tirinya Zen itu mengincar dirinya menjadi menantu karena profesinya yang seorang model dan artis dengan bayaran mahal. Tidak hanya itu, Julia juga seorang model dari brand ambassador dari beberapa brand terkenal yang memiliki harga selangit. Tidak tertinggal, semua orang tahu bahwa Julia juga seorang owner di perusahaan otomotif milik keluarga Bakhtiar.


Sebenarnya, Julia dan Juli memiliki seorang kakak laki-laki yang sangat menyayangi mereka dan seorang pekerja keras. Namun mereka berdua masih bimbang, antara akan menceritakan hal ini kepada kakak mereka atau tidak. Sementara Juli, tidak bisa memutuskan sendiri. Seseorang yang dia miliki saat ini hanyalah Julia. Baginya tempat terbaik untuk berbagi penderitaan yang dia alami hanyalah kembarannya seorang karena cuma Julia yang tahu bagaimana perasaannya kini.

__ADS_1


"Maafkan aku, Julia. Aku datang-datang malah membawa kabar buruk." Juli merasa bersalah atas apa yang dia bawa untuk kembarannya.


Julia menggelengkan kepalanya. "Tidak, Juli. Kamu tidak perlu sungkan terhadapku. Bagaimanapun juga, aku turut andil dalam hubungan kalian."


Juli merasa lega. Setidaknya dia memiliki Julia untuk dijadikan tempat berbagi. Terlebih lagi, Julia juga bersedia.


"Apa Zen pernah menyentuhmu?" tanya Julia dengan wajah menyelidik.


Kepala Juli menggeleng. "Dia tidak pernah menyentuh aku. Kamu tidak perlu khawatir."


Helaan napas lega terdengar dari hidung Julia. Ini sangat melegakan untuk didengar. Setidaknya Zen menepati janjinya sejauh ini.


"Kamu tidak sibuk?" Kali ini ganti Juli yang bertanya.


"Pemotretan tadi jadwal kegiatan terakhirku hari ini. Tadinya aku mau ke kantor tapi tidak ke kantor juga tidak apa-apa. Lebih baik aku menghabiskan waktu bersama kamu hari ini." Julia menenangkan Juli, kalau hari ini jadwalnya memang kosong.


Mereka masih berbincang-bincang di sana. Julia juga sempat meninggalkan Juli untuk berganti pakaian sebentar. "Kamu sendiri bagaimana? Tidak ke kantor untuk memeriksa pekerjaan mereka?" tanya Julia seraya keluar dari ruang ganti.

__ADS_1


"Nanti saja kalau ada waktu yang tepat, tapi sepertinya tidak untuk waktu dekat ini." Juli menjawab tanpa menatap ke arah Julia, pandangannya fokus pada majalah yang tersedia di atas meja.


Banyak orang yang tidak tahu mengenai siapa Juli sebenarnya. Bahkan Zen yang notabenenya suami sahnya pun tidak tahu kalau sebenarnya Juli ini adalah owner di perusahaan Citrasan Group. Sebuah anak perusahaan dari BA Group yang dipimpin oleh kalak laki-laki mereka.


__ADS_2