
Juli sama sekali tidak tahu mereka berada di mana sekarang. Namun yang pasti, Juli yakin kalau Zen tidak akan membawanya ke tempat yang menyeramkan. Juli masih mengekor di belakang Zen sambil membawa koper miliknya. Sementara Zen, tentu saja dia membawa koper miliknya sendiri.
Sepasang pengantin baru itu ke luar dari lift. Mereka kini tiba di salah satu pintu unit apartemen yang tidak diketahui oleh Juli. Zen menempelkan kartu aksesnya ke pintu dan akhirnya pintu apartemen pun terbuka. Juli baru tahu kalau ini apartemen milik Zen.
Pandangan Juli mengedar ke segala arah. Apartemen yang dimiliki Zen cukup luas dan nyaman untuk mereka tinggali. Juli yakin, Zen melakukan ini juga untuk dirinya. Zen menghentikan langkahnya, dia menoleh ke belakang ke arah Juli yang tampak kebingungan.
"Untuk sementara waktu, kita tinggal di sini terlebih dulu sampai aku menemukan rumah yang cocok untuk kita tinggali." Zen mengatakan isi hatinya selama perjalanan.
Zen memiliki satu unit apartemen di dekat perusahaan tempatnya bekerja. Juli juga tidak merasa keberatan harus tinggal di apartemen. Terlebih lagi, apartemen itu terasa sangat nyaman.
"Aku tidak masalah." Juli menganggukkan kepalanya paham.
Untuk ke sekian kalinya, Zen menghela napas kasar. Juli kembali bingung dibuatnya, tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Zen saat ini. Juli memilih menunggu sampai Zen bicara.
"Di apartemen ini hanya ada satu kamar dan terpaksa kita harus tidur di kamar yang sama." Zen akhirnya mengungkapkan kegelisahannya yang lainnya kepada Juli.
Juli mengerti. Lagi pula saat di mansion, Juli juga sudah satu kamar dengan Zen dan tidak merasa kenapa-napa.
__ADS_1
"Aku mengerti."
Zen mengajak Juli ke kamar untuk membereskan barang-barang mereka. Zen juga berniat untuk tidur di sofa lagi seperti hari-hari sebelumnya. Meski sebenarnya Zen sangat merindukan ranjangnya, tapi Zen memilih mengalah untuk Juli.
"Bukannya apartemen ini lebih dekat dengan kantor tempat kamu kerja?" Juli yang bingung mencari bahan obrolan, akhirnya dia menanyakan hal ini kepada Zen.
Kepala Zen mengangguk, "Ya. Kamu benar," jawabnya.
Mereka terdiam cukup lama. Tidak ada yang memiliki ide untuk membuka obrolan. Entah itu Zen ataupun Juli. Keduanya sama-sama kebingungan karena ini pertama kalinya mereka benar-benar berada di dalam ruangan hanya berdua. Terlebih lagi bagi Juli. Meski kemarin mereka tinggal di kamar yang sama, tapi posisinya di mansion itu ada banyak orang. Berbeda dengan sekarang, apalagi apartemen ini sangatlah kecil dibandingkan dengan mansion tempat tinggal mereka kemarin.
"Oh ya, besok pagi kamu tidak perlu repot-repot bangun pagi untuk membuatkan aku sarapan. Aku bisa sarapan di kantin kantor atau di kafe depan." Zen mencoba memberi ruang untuk Juli supaya istrinya itu bisa istirahat dari rutinitas dapur yang biasa dia lakukan selama berada di mansion beberapa hari yang lalu.
Sepasang suami istri itu kembali terdiam. Sungguh, suasana ini sangatlah canggung bagi mereka. Juli malah jadi teringat akan kejadian waktu mereka terbangun di kamar hotel waktu itu. Juli jadi malu sendiri setiap kali bertatap pandang dengan Zen. Walau mereka sudah sah menjadi suami istri.
"Sebelum-sebelumnya, apakah kamu tinggal di sini?" Juli cukup penasaran pada kehidupan Zen sebelum menikah dengannya. Wajar saja kalau Juli penasaran, toh hanya sekadar ingin tahu belaka. Tidak lebih dari itu.
"Bisa dibilang begitu." Zen mengangguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
Zen selesai membereskan pakaiannya ke lemari. Selain berbagi kamar, Zen juga harus berbagi lemari dengan Juli. Dia memindahkan beberapa pakaiannya ke tempat yang sejajar dengan pakaiannya. Jadi tempat yang kosong bisa diisi dengan pakaian milik Juli.
"Aku mau ke dapur, mau bikin mie. Kamu mau?" Zen memberi tawaran kepada Juli, siapa tahu istrinya itu juga mau makan mie instan setelah berlelah-lelah ria membereskan barang-barang milik mereka.
"Tidak, aku sudah kenyang." Juli menggelengkan kepala.
Zen mengerti, akhirnya dia ke dapur dan memasak mie untuk dirinya sendiri. Sementara Juli, dia masih fokus membereskan pakaiannya. Juli ingin mengucapkan terima kasih kepada Zen tapi dia masih belum berani. Juli takut kalau Zen nanti mengira dirinya kegeeran padahal Zen pindah karena memang ingin pindah. Juli akhirnya menahan rasa ingin berterima kasihnya itu untuk Zen dan menunggu sampai ada waktu yang tepat.
"Atau sebaiknya aku bilang sekarang saja?" Juli kembali merasa bimbang, tapi lagi-lagi dia urungkan.
Juli memilih membawa handuknya ke kamar mandi dan membasuh tubuhnya dengan air dingin. Sebenarnya Juli sudah mandi, tapi kegiatan barusan membuatnya kembali berkeringat. Juli merasa tidak enak kalau sampai dia bau keringat saat berada di samping Zen. Meski Juli tidak memiliki rasa suka kepada Zen, tapi dia takut dibilang gadis jorok oleh Zen. Juli hanya ingin memiliki kesan wangi bagi Zen.
***
Berbeda tempat, berbeda pula suasananya. Jika di apartemen milik Zen, suasananya cukup canggung, maka suasana di mansion milik Agung Sanjaya cukup panas. Kepergian Zen dan Juli membuat ketiga saudara tirinya bersorak gembira dalam hati. Mereka tidak bisa mengatakannya dengan lantang tapi terlihat dari raut wajah masing-masing.
Ketiga anaknya Luci senang akan keadaan sekarang. Mereka benar-benar merasa merdeka dan bebas. Tanpa mereka tahu bahwa Agung merasa kecewa karena Luci menjual sahamnya tanpa dia ketahui.
__ADS_1
Di ruang keluarga, kini hanya tersisa ketiga anaknya Luci beserta istrinya Lucas. Sementara Agung, dia berada di dalam ruang kerjanya dan Luci di kamar utama. Di satu sisi, Luci sedang gelisah memikirkan Agung yang mengetahui salah satu rahasianya. Namun di sisi lain, Luci juga berharap kalau Agung akan menepati janjinya dan menurunkan jabatan Zen kalau lelaki itu meninggalkan mansion. Kalau Agung benar-benar menurunkan jabatan Zen sebagai CEO, Luci berharap Agung akan menggantikannya dengan Lucas. Luci masih berharap keinginannya yang satu ini terwujud.
Lucas, putra pertamanya Luci itu sudah menikah dari satu tahun yang lalu dan dia memiliki istri yang baik hati. Istrinya itu adalah putri dari pemilik perusahaan air bersih di kota tempat tinggal mereka — Sanjuak Water. Sementara putra keduanya Luci itu bernama Leon. Seorang lelaki yang malas melakukan apa-apa dan sukanya hanya menghambur-hamburkan uang tanpa mau mencari. Bahkan Leon juga tidak tertarik bergabung dengan perusahaan milik Agung Sanjaya. Dan terakhir, Jenny adalah putri bungsunya Luci yang sedang kasmaran dengan Haris. Sepertinya, pendekatan yang dilakukan Haris beberapa hari lalu itu berhasil. Nyatanya, Jenny benar-benar kesengsem akan pesona yang Haris berikan. Bagaimana tidak, Haris sengaja memamerkan hartanya kepada Jenny. Tentu saja Jenny akan kepincut dengan begitu mudahnya.