Duda Perjaka Salah Kamar

Duda Perjaka Salah Kamar
Derita di Mansion Sanjaya


__ADS_3

Apa yang dikhawatirkan Zen benar-benar terjadi. Baru tiga hari mereka tinggal di mansion, Zen sudah mendengar ibu tirinya meminta hal aneh-aneh. Kemarin ibu tirinya meminta Zen untuk menaikkan jabatan adik tirinya dengan alasan kalau selama Zen menjabat sebagai CEO, Zen belum pernah menaikkan jabatan adik tirinya yang pertama.


"Zen, lalu kapan kamu mau menaikkan jabatan adikmu? Bukankah lebih cepat lebih baik?" Ibu tirinya Zen kembali mendesak Zen dengan masalah yang sama seperti kemarin. Zen yakin, pasti ibu tirinya itu tidak akan berhenti merengek sampai dia mengabulkan apa yang diminta untuk menaikkan jabatan adik tirinya.


"Belum tahu." Zen menjawab apa adanya.


Ibu tirinya tampak kecewa mendengar jawaban Zen. Ini bukanlah jawaban yang dia inginkan. Tentu saja dia berharap Zen segera menaikkan jabatan putra pertamanya. Jelas saja bagi ibu tirinya Zen, adik tiri pertamanya Zen itu putra pertamanya karena Zen bukanlah darah dagingnya.


"Ibu mohon, naikkan jabatannya biar gajinya juga naik. Memangnya kamu tidak kasihan sama adikmu?" Ya, anak-anak Lusi memang adiknya Zen, tetapi hanya sebapak, bukan seibu! Sikap mereka pun, tak ada baiknya pada Zen.


"Iya Zen, memangnya apa susahnya sih menaikkan jabatan adik sendiri? Lagi pula kamu 'kan CEO-nya. Itu bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan." Ayahnya Zen ikut membujuk Zen supaya menuruti apa yang diinginkan istrinya.


Zen merasa obrolan pagi ini sudah membuatnya jengah. Dia berdiri dan pamit dari sana meninggalkan Juli seorang diri bersama orang-orang yang mendukung ibu tirinya. Tanpa Zen sangka, di depan malah dia bertemu dengan adik tirinya yang nomer tiga.


"Kak, aku minta uang dong buat beli make-up, pakaian, sepatu, handphone sama tas baru. Masa aku pakai HP yang sama sih dari dua bulan yang lalu. Aku mau ganti." Seorang perempuan dengan pakaian serba mewah mendatangi Zen yang akan berangkat kerja.


Zen hanya meliriknya tanpa minat. Dia melihat adik tirinya dari atas sampai bawah. Zen tahu, adiknya itu baru saja pulang dari semalam. Entah dari mana juga Zen tidak tahu dan tidak mau tahu.

__ADS_1


"Minta saja sama ayahmu dan kakak-kakakmu," balas Zen tanpa minat. Zen meninggalkan adik perempuannya begitu saja.


Hari ini, Zen akan ke kantor sebentar. Sebenarnya dia masih berada di masa libur menikah, tapi Zen ingin memeriksa kantor. Zen juga tidak akan bekerja, hanya mampir sebentar.


"Ish, dasar pelit. Lagian ayahku juga ayahnya dia. Kakakku juga adiknya dia." Adik perempuannya Zen menggerutu.


Zen memiliki tiga adik tiri, yang pertama itu kini bekerja di perusahaan tempatnya bekerja. Sebenarnya Zen tahu kalau adik tirinya yang pertama itu memiliki hati yang baik, tapi sayangnya dia sering terpengaruh oleh ibunya sehingga adik tirinya itu sering sekali iri kepadanya. Zen tahu betul, adik tirinya itu tidak akan bisa menyaingi dirinya karena kemampuan otak mereka jelas berbeda. Ibunya terlahir dari keluarga jenius, jadi tentu saja Zen juga berotak jenius. Berbeda dengan ibu tirinya. Adik pertamanya itu juga sudah menikah dari satu tahun yang lalu. Setelah itu, adik tiri keduanya Zen juga seorang laki-laki dan dia pemalas. Sukanya menghambur-hamburkan uang dan tidak mau bekerja. Sementara yang terakhir, sudah jelas perempuan yang meminta dibelikan ini itu kepadanya tadi.


Sementara Zen pergi ke kantor untuk mengecek keadaan kantor, di mansion Juli merasa tersiksa. Meski statusnya di mansion itu sebagai menantu, tapi dia tidak diperlakukan selayaknya keluarga. Juli merasa dirinya seperti dijadikan pembantu gratis di mansion milik mertuanya sendiri.


"Kak Juli, aku mau smoothie mangga dicampur anggur sama stroberi dong. Buatin ya, dan jangan pakai lama." Adik tirinya Zen yang perempuan sering menyuruh Juli melakukan ini dan itu, contohnya seperti barusan.


Segelas smoothie sudah berhasil dibuat oleh Juli. Dia membawa gelas tadi ke hadapan adik iparnya yang perempuan. Tanpa mengucapkan terima kasih, adik iparnya itu sudah menghabiskan segelas smoothie buatan Juli barusan.


"Oh iya Jul, kamu bisa bikin teh 'kan? Ibu mau teh ya." Kali ini ibu tirinya Zen yang meminta dibuatkan teh.


Sungguh, Juli tidak bisa beristirahat. Dia selalu melakukan ini dan itu sesuai apa yang mereka inginkan. Apalagi hari ini Zen tidak ada di rumah, mereka semakin saja membuat Juli bekerja lebih keras dari hari-hari biasanya.

__ADS_1


"Juli, kamu harus menyiapkan menu makan malam untuk kami semua. Jangan sampai ada yang rasanya tidak enak ya." Ibu tirinya Zen kembali menyuruh Juli memasak, padahal di mansion ada asisten rumah tangga yang siap melakukan apa pun.


Untuk ke sekian kalinya, Juli tidak bisa menolak. Perempuan itu memasak seorang diri di dapur. Hingga akhirnya semua hidangan sudah selesai ditata di atas meja makan. Juli juga sudah mandi supaya yang berada di meja makan tidak mencium aroma badannya yang tidak sedap.


Seluruh anggota keluarga sudah berada di meja makan. Termasuk Zen yang sudah pulang sedari dua jam yang lalu. Tentu saja Zen tahu kalau yang menyiapkan semua menu makan malam ini adalah Juli. Zen menganggap kalau semua ini pantas diterima oleh Juli. Lagi pula, suruh siapa Juli mengiyakan permintaan ibu tirinya untuk tinggal di mansion bersama mereka. Padahal Zen sudah jelas-jelas menggelengkan kepalanya.


"Juli, mana air putihnya untuk minum?" tanya ibu tirinya Zen.


Juli terkesiap, dia baru sadar kalau di meja makan belum ada air minum. Juli segera mengambilnya dan berniat menuangkan air putih di dalam teko kaca itu ke masing-masing gelas. Namun tanpa Juli tahu, adik ipar tirinya yang perempuan itu sengaja menyenggol tangan Juli hingga air putih di teko tadi mengenai semua lauk-pauk yang ada di atas meja makan.


"Maaf, aku tidak sengaja," ucap adik tirinya Zen dengan wajah kaget. Dia padahal sengaja ingin membuat Juli kena omel oleh ayahnya.


Juli ikut was-was, takut kalau dia disalahkan akibat kejadian ini. Juli berharap, Zen akan membela dirinya tanpa Juli meminta.


"Maaf, aku kurang hati-hati." Juli ikut angkat bicara.


Ayahnya Zen terlihat marah saat mengetahui kalau semua lauk-pauk di atas meja makan sudah tidak bisa dimakan karena terkena tumpahan air putih. Jantung Juli berdetak kencang dan rasanya panas dingin sendiri.

__ADS_1


"Kamu ini bagaimana sih? Tidak becus, padahal apa susahnya menuangkan air dengan benar? Sekarang kamu mau apa? Gagal sudah makan malam hari ini." Ayahnya Zen memarahi Juli di depan semua keluarga yang ada di meja makan. Hilang sudah rasanya harga diri Juli, malu di depan suami, mertua dan adik ipar.


Ibu tiri dan adik tirinya Zen tersenyum mendengar Juli kena omel ayahnya Zen. Sementara Juli, dia menahan tangis.


__ADS_2