
Suasana kantor Zen pagi ini terlihat sangat sibuk, para pekerja sedang bersusah payah di depan komputer masing-masing. Mereka semua juga sangat terkejut saat baru saja membuka aplikasi kantor tiba-tiba banyak keanehan.
Zen terlihat baru saja masuk ke dalam kantor, raut wajah laki-laki itu terlihat sangat serius, langkah kakinya juga sangat cepat. Dia sudah mendapat kabar ini dari asisten pribadinya, itu sebabnya dia terburu-buru.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Zen saat baru saja masuk ke dalam ruangannya. Di sana sudah ada asisten pribadanya dengan ahli IT perusahaan. Zen kemudian duduk di kursinya, dengan cepat mengotak-atik komputernya.
"Dari yang saya lihat belum ada satu data pun yang tercuri, untung saja karena kita pernah membuat penguat tambahan pada sistem data peruasahaan, Pak. Tapi bagaimanapun kita masih harus berhati-hati karena virus yang dikirimkan masih belum sepenuhnya hilang," jelas asisten pribadinya.
Kejadian pengiriman virus dalam server perusahaan seperti ini bukan kali pertamanya terjadi, sebagai perusahaan besar pasti akan banyak sekali pesaing yang berbuat curang seperti ini. Ini memang tidak mengejutkan bagi Zen, tapi bagaimanapun dia tetap takut terjadi hal yang diluar kendali da seluruh data perusahaan akan bocor. Itu pasti akan menguntungkan bagi pesaing, itu sebabnya sejak beberapa tahun lalu Zen selalu melakukan penguatan server perusahaan agar tidak mudah dibobol.
Sebenarnya Zen sudah muak dengan semua ini, dia tidak suka kalau ada pesaing yang berbuat licik dengan cara ingin membobol data perusahaan lewat pengiriman server seperti ini. Lebih baik mereka datang secara langsung saja, atau mereka bisa bersaing secara baik dengan fokus pada bisnis masing-masing.
"Kita harus menghilangkan virus ini secepatnya, jangan sampai ada yang tertinggal. Aku tidak ingin kita lengah lagi, jika perlu setelah ini kita mengganti beberapa sandi server agar lebih aman." Zen menjelaskan itu sambil fokus dengan layar komputer. Masalah seperti ini selalu membuat dirinya tegang, bahkan Zen sampai pernah seharian di depan layar komputer untuk mengetahui siapa pengirim virus itu.
"Baik, Pak."
Sebenarnya Zen mencurigai satu orang, yakni Haris Handerson. Karena hanya itu pesaingnya yang selalu berlaku picik, hanya dia satu-satunya pesaing terberat Zen. Haris selalu memiliki banyak cara untuk menghancurkan perusahaannya, tapi herannya Haris selalu menyerang diwaktu-waktu yang sangat pas. Hal itu membuat Zen curiga kalau memang ada seseorang yang dikirim untuk mengawasi.
__ADS_1
Zen serta orang IT perusahaan sangat bersusah payah untuk mengembalikan server perusahaan, mereka harus melakukannya dengan cepat karena hal ini akan berpengaruh besar dalam kinerja perusahaan hari ini. Jika mereka lama pasti ada banyak hal yang terlewatkan, Zen tidak ingin hal itu berpengaruh pada pemasukan perusahaan.
"Dengarkan aku baik-baik. Kejadian seperti ini bukan pertama kalinya, aku curiga kalau ada mata-mata dalam perusahaan yang membantu Haris dalam menjalankan aksi ini. Tolong selidiki hal ini untukku," perintah Zen pada asisten pribadinya.
Dia tidak ingin membuang waktu, sembari dia mengembalikan server yang eror, dia juga harus mendapatkan informasi yang menjadi spekulasi dalam kepalanya.
"Baik, Pak. Saya akan mencari tahu." Asisten Zen pun keluar dari ruangan. Tugas seperti ini sangat gampang baginya, entah cara apa yang dilakukannya sampai setiap pekerjaannya selalu mendapatkan acungan jempol dari Zen.
Sementara itu, Zen terus berbenar. Laki-laki itu sedikit menghembuskan napas kasar karena melihat banyak kerusakan yang ditimbulkan akibat virus itu, ini adalah kasus yang terparah. Banyak yang harus diperbaiki, itu akan sedikit menguras waktunya, tapi tidak masalah. Dengan kejadian ini, Zen akan semakin memperkuat server perusahaannya agar tidak mudah ditembus oleh siapa pun, dia juga memiliki banyak kenalan dalam hal memperkuat server perusahaan. Zen yakin kalau mereka semua akan membantu dengan baik.
Beberapa jam berkutat dengan komputer, akhirnya Zen selesai dengan urusannya. Semua virus yang dikirim akhirnya hilang juga, server perusahaanya bisa berjalan lagi, meskipun masih banyak kekurangan akibat kerusakan yang ditimbulkan.
Pegawai IT Zen juga melakukan hal yang sama, laki-laki itu juga merasa sangat lelah. Tapi dia ikut senang karena ikut andil dalam menyelesaikan permasalah ini, setidaknya sekarang tinggal melakukan perbaikan pada beberapa bagian yang rusak.
"Kamu istirahat saja dulu. Kita akan melakukan perbaikan nanti, aku juga akan memanggil orang yang lebih ahli agar keamanan server perusahaan lebih kuat." Zen mengatakan hal itu sambil berjalan mendekat pada pegawainya. Laki-laki itu menepuk pundak pegawainya sebagai bentuk terima kasih karena sudah berusaha keras.
"Baik, Pak." Setelah itu, dia pamit keluar dari ruangan Zen.
__ADS_1
Sekarang Zen sendirian di ruangannya, dia ingin mengetahui kabar asisten pribadinya apakah mendapatkan informasi terbaru. Baru saja Zen akan menelfonnya, tapi suara ketukan pintu mengurungkannya. Zen pun menyuruh masuk, ternyata itu adalah asisten pribadinya, tapi dia tidak datang sendiri melainkan dengan tiga orang lainnya.
Zen yang melihat hal itu sedikit bingung. "Siapa mereka?" tanyanya kemudian.
"Ini adalah orang yang telah mengirim virus pada server perusahaan kita, Pak," jawab asisten itu. Raut wajahnya juga terlihat marah, apa pun yang membuat Zen kesal dia selalu merasa ikut terbawa suasana.
Zen mendekat pada tiga orang pegawainya yang kini tertunduk lemas. "Oh, jadi kalian yang melakukan ini semua? Aku tidak menyangka kalau orang dalam sendiri yang melakukannya," tekan Zen sambil menatap nyalang ketiganya.
"Aku yakin kalau kalian dikirim seseorang untuk bisa masuk ke perusahaan ini dan melakukan ini semua. Katakan padaku siapa yang menyuruh kalian?!" Zen semakin menaikan suaranya. Dia sudah tidak tahan memendam emosinya, dia tidak menyangka kalau orang-orang jahat itu sampai menjadi pegawainya sendiri. Ini terlalu menyakiti hatinya, Zen percaya kalau Haris ada di balik semua ini, tapi untuk saat ini dia masih belum tahu pasti.
Tiga orang itu juga diam saja, tidak ada yang membuka suara. Entah apa yang dijanjikan kepada mereka sampai mau bungkam.
"Jawab pertanyaanku!" bentak Zen karena tidak direspon sama sekali. Karena kehilangan kesabaran, laki-laki itu sampai menarik kerah baju salah satu dari ketiga pelaku. "Kalian tidak mau mengaku?"
"Kami melakukannya untuk diri sendiri," jawabnya pada akhirnya.
"Aku tidak percaya. Orang seperti kalian tidak mungkin melakukan hal seperti ini, katakan siapa yang menyuruh kalian untuk menjadi mata-mata dalam perusahaanku?!" Zen semakin geram. Wajahnya sampai merah karena marahnya terlalu memuncak.
__ADS_1
Meskipun ditekan sampai seperti itu, tidak ada satu pun yang mau menjawab. Hal itu membuat Zen kehabisan kesabaran, sampai akhirnya dia menonjok laki-laki yang ia cengkram kerah bajunya.
"Jebloskan mereka semua ke penjara sekarang juga!" teriak Zen.