
"Juli, kamu harus lebih tegas lagi kepada mereka. Jangan lemah, kamu harus punya power. Bagaimanapun juga, status kamu itu menantu di keluarga Sanjaya. Bahkan kamu itu menantu pertama. Harusnya kamu lebih dihargai daripada yang lainnya." Julia memberi semangat untuk kembarannya.
Juli terdiam. Setelah dipikir-pikir, apa yang dibilang Julia itu tidak salah. Meski Juli berstatus menantu, tapi dia istrinya Zen dan tidak ada yang boleh menyentuhnya sedikitpun.
"Pokoknya, kamu harus bisa keras sama mereka. Meskipun itu ibu mertua kamu sendiri, Jul. Ingat ya, Zen pasti akan lebih membela kamu daripada ibu tirinya. Dia 'kan tidak suka sama ibu tirinya. Jadi sudah pasti, kamu tetap yang nomer satu untuk Zen."
"Tapi ... aku tidak begitu yakin kalau Zen akan lebih membela aku ketimbang ibu tirinya, Julia." Juli menundukkan kepalanya. Pandangannya tertuju pada ke sepuluh jarinya yang ada di atas paha.
"Tidak, kamu harus yakin." Julia menyemangati Juli, kembarannya.
Mereka berdua terdiam sejenak. Juli dengan pikirannya mengenai Zen, sedangkan Julia berpikir untuk membuat Juli lebih kuat lagi supaya tidak dijadikan mainan di mansion keluarga Sanjaya.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Juli meminta pendapat dari kembarannya. Barang kali Julia memang memiliki ide yang cemerlang dan bisa dia terapkan.
Julia memilah-milah ide yang sekiranya cocok dengan Juli. Tak lama, Julia menggeleng-gelengkan kepalanya. Membuat Juli sedikit kebingungan.
"Kamu kenapa, Julia?" Juli mendekatkan wajahnya ke arah kembarannya.
"Aku tahu kamu harus berbuat apa, Jul."
Kedua mata Juli memicing ke arah Julia. Menunggu apa yang akan dikatakan oleh kembarannya yang berparas cantik dan seksi itu.
Yup, Julia Bakhtiar dan Juliani Bakhtiar, adalah anak kembar tidak identik, wajah dan tubuh mereka sangat berbeda bentuknya.
"Apa?"
"Supaya kamu bisa lebih tegas dan keras sama mereka. Sebelumnya kamu harus memiliki fisik yang kuat dulu. Untuk mewujudkan itu, lebih baik kamu berlatih menunggangi kuda bersamaku. Malah kalau bisa, kamu juga harus latihan silat supaya kamu bisa menjaga diri dari serangan mereka. Kita 'kan nggak tahu, mereka akan berbuat apa sama kamu." Julia rasa, ini ide yang sangat cocok untuk Juli.
__ADS_1
Julia dengan sengaja mengajak Juli untuk berkuda dan berlatih silat seperti hobinya. Namun Julia tidak yakin, apakah Juli akan setuju dengan usulannya barusan. Selama ini, Julia tahu kalau Juli tidak tertarik akan dua hobinya itu karena terlalu banyak memakai tenaga dan katanya membuat lelah.
"Bagaimana?" Julia menunggu jawaban Juli, dia berharap kali ini jawabannya berbeda dengan jawaban yang sebelum-sebelumnya.
Juli menganggukkan kepalanya. "Baik, aku setuju sama usul kamu. Aku bakal latihan berkuda dan silat kayak kamu."
Tanpa disangka-sangka oleh Julia, kali ini kembarannya setuju diajak latihan berkuda dan silat. Julia sangat senang, dia sampai memeluk adiknya dan Julia janji kalau dia akan membantu Juli dengan sepenuh hati.
"Kalau begitu, kapan kita bisa mulai latihan?" Juli sudah tidak sabar ingin merasakan naik kuda seorang diri.
"Wooo... kayaknya kamu lebih antusias daripada aku." Julia menyenggol lengan Juli dengan genit.
Juli tertawa, dia mengiyakan lalu Julia mengatakan kalau besok mereka bisa langsung latihan berkuda. Julia juga langsung menelepon asistennya supaya mengosongkan jadwalnya untuk besok. Julia akan menghabiskan waktunya bersama Juli. Meski hanya beberapa jam saja.
***
"Enggak kok, Bu. Aku memang lagi ada janji sama Julia." Juli menepis tuduhan ibu mertua tirinya.
Seorang asisten rumah tangga datang bersama Julia. Luci kaget melihatnya. Julia memberi salam ramah kepada Luci dan seketika raut wajah Luci berubah.
"Ya sudah, kalian hati-hati ya di jalan." Luci kalah karena Julia sendiri yang menjemput Juli ke mansion.
Juli yakin, pasti Luci tidak akan mencegahnya di depan Julia. Terlebih lagi, Juli juga membawa nama Zen sebagai izin yang diajukan. Namun nyatanya, Juli memang sudah izin pada Zen pagi tadi sebelum suaminya berangkat kerja.
Juli sangat senang. Ini pertama kalinya dia akan belajar berkuda. Di awal-awal, tentu saja Julia mengajarinya. Bahkan Julia sendiri yang menjadi mentor berkuda Juli selama kembarannya itu berlatih.
"Juli, buka matamu. Ini sangat mendebarkan dan mengasyikkan." Julia terus memecut kuda yang dia tunggangi bersama kembarannya.
__ADS_1
Juli masih saja memejamkan mata. Dia tidak berani membuka mata. Terlebih lagi, sepertinya Julia begitu kencang memecut kuda yang mereka tunggangi. Sehingga membuat Juli benar-benar ketakutan.
"Aku tidak berani," balas Juli.
"Bagaimana kamu bisa berkuda kalau kamu tidak berani membuka matamu. Memangnya, ada orang yang berkuda sambil memejamkan matanya?" Julia masih terus memaksa kembarannya hingga akhirnya Juli pun membuka mata.
Apa yang dibilang Julia ternyata benar. Berkuda itu tidak semenakutkan yang dia bayangkan. Lama-lama, Juli merasa nyaman sampai tak terasa sekarang sudah siang. Julia menepikan kudanya dan mengajak Juli istirahat.
Kedua anak kembar itu istirahat di kafetaria yang ada di tempat mereka berkuda. Julia juga ingin mengajak Juli mengobrol santai. Pasalnya setelah Juli menikah, Julia jadi lebih jarang bertemu dengan Juli. Sehingga membuat mereka juga jadi tidak memiliki waktu mengobrol lebih banyak.
"Julia, aku ingin mengajukan pertanyaan padamu, tapi aku mohon kamu jangan tersinggung atas pertanyaanku." Juli harap-harap cemas. Sebenarnya pertanyaan ini sudah ada di dalam benaknya sejak beberapa waktu lalu, tapi Juli terus-menerus mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Kamu mau tanya apa memangnya? Tanyakan saja." Julia mengizinkan.
Lama sekali Juli berpikir dan akhirnya Juli memiliki keberanian. "Apa kamu kecewa karena kamu gagal menikah dengan Zen?"
Julia menghentikan gerak tangannya. Rasa es krim di dalam mulutnya tiba-tiba berubah mendengar pertanyaan Juli barusan. Demi apa pun, Julia tidak menyangka kalau Juli bakal mengajukan pertanyaan seperti ini kepadanya.
"Julia, kenapa kamu diam?" Juli jadi semakin penasaran.
Kepala Julia menggeleng. Dia memilih menikmati es krim yang dia pesan. Jarang-jarang dia bisa makan enak begini demi menjaga berat tubuhnya agar tetap ideal, karena pekerjaannya sebagai model papan atas.
"Aku sama sekali tidak kecewa. Aku tidak memiliki perasaan apa pun pada Zen." Julia menjawab segala rasa penasaran yang hinggap di hati Juli.
Mereka saling bertatap pandang. Juli masih ingin mendengar penjelasan lebih lanjut dari Julia mengenai batalnya pernikahannya dengan Zen.
"Kamu yakin? Kamu tidak sedang berbohong di depanku 'kan? Katakan saja sejujurnya kalau memang kamu cemburu, Julia." Juli lagi-lagi mendesak.
__ADS_1
Julia menghela napas panjang. "Kamu tidak perlu khawatir Juli. Aku sama sekali tidak memiliki perasan kepada Zen. Mulanya aku memang sedikit tertarik saat akan dijodohkan dengannya tapi aku tidak suka padanya."