Duda Perjaka Salah Kamar

Duda Perjaka Salah Kamar
Kedatangan Julia di Kamar Pengantin


__ADS_3

Selesai sudah akhirnya rentetan acara pada pesta pernikahannya dengan Zen. Juli menghela napasnya lega. Sebentar lagi dia akan bisa melepaskan high heels yang melekat di kakinya. Seharian sudah dia berteman dengan high heels yang menyiksa itu. Dengan langkah pelan, Juli berjalan menuju kamar pengantin di hotel. Benar sekali, acara party sore sampai malam ini diadakan di hotel. Bukan di gedung tempat mereka menikah siang tadi. Otomatis pihak keluarga mempelai juga berada di hotel.


Sebelum masuk, Juli berhenti dulu di depan pintu kamar hotelnya yang bakal dijadikan ruang tidur untuknya dan Zen. Juli menggelengkan kepalanya berkali-kali. Bayangan tentang kejadian pagi itu kembali melintas tanpa permisi di dalam benak Juli. Entah kenapa, rasanya sangat sulit melupakannya. Padahal Juli sudah berusaha semampunya untuk tidak memikirkannya tapi tetap saja teringat tanpa tahu kondisinya. Kadang kala, Juli juga merasa dirinya tidak berarti tapi semua sudah terjadi.


"Hah, aku pasti bisa melewatinya. Kalaupun tidak bisa, ya harus bisa." Juli kembali menyakinkan hatinya sendiri kalau ini bukanlah apa-apa.


Tangan kanannya memegang kartu untuk masuk ke kamar, dan pintunya terbuka sesaat setelah Juli menempelkannya pada layar. Belum sepenuhnya Juli masuk, dia sudah merasa ada seseorang yang mendorong punggungnya. Mulanya Juli mengira, orang itu Zen. Namun ternyata bukan, Julia ternyata yang sudah memaksanya masuk ke kamar.


Julia menutup pintu kamar hotelnya Juli. Dia memegang tangan Juli erat dan bibirnya berbisik, "Juli, aku mendukungmu."


Juli tidak mengerti apa maksud Julia. Dia hanya diam tanpa bertanya. Hingga tak lama, pintu kamar hotelnya terbuka. Siapa lagi kalau bukan Zen. Karena yang memiliki kartu akses kamar pengantin hanya mereka berdua. Julia segera melepaskan tangan Juli dan berdiri di samping kembarannya. Sementara Zen, dia menatap aneh ke arah Julia dan Juli. Perlahan tapi pasti, Zen berjalan lebih dalam ke kamar hotelnya.


"Ada apa kamu di kamar ini? Apa kamu ingin tidur bersama kembaranmu itu di malam pernikahan kami?" Zen terkekeh sinis menatap raut wajah Juli yang mendelik usai mendengar perkataannya.


Julia merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Dia mengeluarkan selembar kertas lalu dia sodorkan kepada Zen atau lebih tepatnya lagi kini berstatus sebagai adik iparnya. Meski sebenarnya Julia enggan mengakuinya.


Kening Zen mengerut melihat kertas di tangan Julia. Dia sama sekali tidak paham tapi juga tidak penasaran apa isi kertas tersebut. Sampai akhirnya Julia berkata, "Ambil kertas ini dan baca baik-baik supaya tidak ada satu katapun yang tertinggal."

__ADS_1


Zen memicingkan matanya lalu menghela napasnya dalam-dalam. Demi apa pun juga, Zen benar-benar tidak tertarik tapi Julia masih belum berhenti menyuruhnya. Hingga tanpa niat, Zen mengambil selembar kertas yang dilipat menjadi dua itu dari tangan Julia. Namun sayangnya Zen tidak melakukan hal seperti yang dibilang Julia untuk membacanya satu per satu kata yang tertera. Zen langsung membaca ke intinya saja.


"Kamu tidak salah ketik?" Zen bertanya kepada Julia seraya mengacungkan kertas yang diberikan Julia tadi.


Kepala Julia mengangguk. "Aku mengetiknya dalam keadaan sadar dan aku sudah memastikannya kalau aku tidak salah mengetik setiap katanya."


Zen tertawa sinis. Dia berniat merobek kertas tadi tapi Julia menghentikan gerak tangannya. Sementara Juli, dia masih menunggu apa yang mereka bahas. Jujur saja, Juli sama sekali tidak tahu-menahu tentang isi kertas yang diberikan Julia kepada Zen barusan. Dia juga ingin mengetahuinya tapi belum ada di antara mereka berdua yang membahas atau membuka suara.


"Apa kamu masih waras?" Zen lagi-lagi bertanya diiringi kekehan tawa.


"Jelas aku sangat waras. Ini caraku melindungi kembaranku. Kamu harus menandatangani syarat yang aku berikan untuk tidak menyentuh Juli selama kalian berstatus suami istri. Kamu juga harus janji, setelah pernikahan kalian berjalan satu tahun nanti, kamu harus menceraikan Juli dan memberinya uang kompensasi sebanyak mungkin." Julia mengulangi syarat yang dia tulis di dalam surat yang dia berikan kepada Zen barusan.


Zen tersenyum sinis. "Aku tidak mau menandatangani surat perjanjian itu." Zen menolak mentah-mentah.


Julia memajukan tubuhnya supaya lebih dekat dengan Zen. "Aku juga tidak mau kalau adikku sampai kenapa-napa. Pokoknya, aku tidak mau mendengar kamu menyentuhnya."


"Lagi pula kalau aku menyentuh Juli, bukankah itu hal wajar? Aku suaminya, dan dia istriku." Zen masih kokoh atas pendirian nya.

__ADS_1


"Jangan kamu berani-beraninya menyakiti Juli atau mempermainkannya. Kalau sampai kamu berani menyakiti hati Juli, aku tidak akan tinggal diam." Julia bahkan sampai menunjuk-nunjuk wajah Zen hanya demi mengancam lelaki itu supaya tidak berbuat nekat.


Zen menghela napas panjang. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan raut wajahnya berubah drastis. "Aku masih waras dan aku bukan tipe laki-laki yang suka mengingkari janjiku."


"Bagaimana aku bisa percaya? Sementara kamu saja berkata demikian." Julia masih tetap menjawab apa yang dikatakan oleh Zen.


Juli hanya diam mendengarkan perdebatan Julia dan Zen. Dia ingin mengetahui akhir dari perdebatan ini akan seperti apa nanti.


"Pokoknya, tanpa menandatangani syarat yang kamu berikan, aku tetap tidak akan menyentuh Juli seujung kuku pun. Bahkan kalau kamu tidak percaya, kamu bisa mengatasi setiap hari atau menanyakannya kepada Juli setiap pagi." Zen kembali meyakinkan Julia. Berharap kakak iparnya akan percaya kepadanya.


Juli refleks memegang bagian dadanya saat Zen menatapnya. Entah kenapa, Juli merasa bahwa Zen seperti akan melucutinya dengan pandangan matanya. Zen hanya tertawa sinis melihat reaksi Juli.


"Bagaimana aku bisa percaya padamu, Zen? Kamu tidak ingat tentang apa yang sudah kamu lakukan kepada Juli malam itu? Kamu menyentuhnya dengan paksa." Julia mencoba mengingatkan Zen akan kejadian malam itu yang benar-benar tidak ingin diingat oleh Juli.


Zen meremas rambutnya yang masih tertata rapi. "Harus berapa kali lagi aku bilang kalau yang terjadi pada malam itu hanyalah sebuah kecelakaan dan kesalahpahaman semata. Aku berada di bawah pengaruh obat perangsang yang diberikan ibu tiriku."


Julia tertawa sinis. "Bilang saja kamu memang ingin meniduri Juli."

__ADS_1


Juli memegang lengan Julia, memohon kepada kakaknya agar tidak mengungkit tentang kejadian malam itu lagi. Juli sangat ingin melupakannya dan berusaha menganggapnya sebagai kecelakaan yang telah berlalu. Namun Juli tidak yakin akan bisa karena lelaki yang bersamanya pada malam itu sudah resmi menjadi suami sahnya di mata hukum.


"Semua itu salah paham, Julia. Bukan karena keinginanku. Aku dijebak." Zen hampir frustrasi karena Julia tidak percaya kepadanya. "Asal kamu tahu, hubunganku dengan keluargaku itu buruk."


__ADS_2