Duda Perjaka Salah Kamar

Duda Perjaka Salah Kamar
Awal Mula Salah Kamar


__ADS_3

Zen saat ini masih menunggu dengan sabar kabar dari asisten pribadinya, dia berharap kalau asistennya itu bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Sembari menunggu, Zen juga masih berusaha untuk mengingat kejadian semalam, rasanya semua masih terasa seperti aneh.


"Ah, kenapa aku harus tidak ingat. Padahal seingatku aku tidak meminum alkohol saat pertemuan keluarga, aku tidak mungkin mabuk," gerutu Zen sambil mondar-mandir.


Tok ... tok ....


Suara ketukan pintu itu langsung menghentikan aktifitas Zen, laki-laki itu langsung menyuruh orang itu masuk. Rupanya itu adalah asistennya, Zen pun langsung bersemangat mendengar kabar yang dibawa. Asisten pribadinya itu selalu bisa diandalkan, kali ini Zen juga yakin kalau dia akan membawa jawaban.


"Bagaimana? Apa kamu mengetahui sesuatu?" tanya Zen tidak sabaran.


Pemuda itu mengangguk sebanyak dua kali. "Semua yang terjadi semalam itu ulah ibu tiri Anda," jawabnya kemudian.


Mendengar jawaban itu membuat Zen berdecak, dia sebenarnya sudah curiga dengan ibu tirinya. Tapi kali ini dia berusaha untuk tidak mempercayai pikirannya, tapi nyatanya semua itu benar. "Lagi-lagi dia, memang kurang puas selalu mengusik kehidupanku!" gerutu Zen dengan penuh amarah. Laki-laki itu mengepalkan tangannya, menatap lurus ke depan dengan tatapan tajam, tidak terima dengan semua yang terjadi.


* * *


Acara pertemuan antara keluarga Bakhtiar dan keluarga Sanjaya dilakukan disebuah hotel mewah di kota, kali ini pertemuan mereka terasa sangat resmi. Mereka akan membahas mengenai perjodohan antara anak-anak mereka, tetapi yang lebih terlihat tertarik adalah para orang tua.


Di sisi lain, Juli datang dengan kembarannya, Julia. Mereka berencana untuk menghabiskan waktu bersama dengan meminum alkohol setelah acara pertemuan keluarga selesai, itu sebabnya mereka memesan satu kamar tanpa sepengetahuan orang tua mereka karena jika mereka ketahuan mabuk maka habislah riwayat mereka.

__ADS_1


"Aku akan menunggumu di kamar," bisik Juli pada kembarannya yang masih sibuk mengobrol dengan keluarga Zen. Lagipula dia sudah merasa bosan dengan obrolan keluarga, dirinya juga tidak tertarik untuk mendengarkannya.


"Iya, tunggu aku. Jangan mulai minum lebih dulu." Julia juga berbisik, dia tidak ingin ada yang mendengar rencananya dengan saudara kembarnya itu.


"Tenang saja. Aku akan minum sedikit hehe," balas Juli. Kemudian wanita itu pamit undur diri pada semua orang dengan sopan, dan meninggalkan tempat jamuan.


Juli berjalan santai di lorong hotel, dia merasa senang karena akhirnya sudah bisa lepas dari suasana membosankan itu. Sekarang dia ingin bersenang-senang di kamar dan beristirahat sambil menunggu Julia datang. Sepanjang lorong Juli tidak ada hentinya bersenandung untuk menghilangkan rasa bosan, dia juga fokus mencari nomer kamar pesanannya.


"Nah, ketemu," ucapnya dengan semangat saat menemukan nomer kamar 66. Juli menempelkan kartu kuncinya, lalu masuk ke dalam kamar.


Wanita itu terkagum saat masuk ke dalam kamar, beberapa botol anggur sudah tersedia di atas meja. Dia tidak sabar untuk meminumnya dan mabuk bersama dengan saudara kembarnya, pasti akan sangat menyenangkan.


Dia akhirnya memilih untuk merebahkan diri dulu di kasur sambil menunggu kedatangan Julia, tetapi dia tidak bisa tahan dengan godaan minuman di depannya. Pada akhirnya Juli membuka satu botol lebih dulu.


"Maafkan aku Julia, aku sudah tidak tahan. Aku akan mencicipinya sedikit saja." Juli menuangkan anggur itu ke gelas, lalu meminumnya dengan penuh kenikmatan. "Wah, rasanya sangat luar biasa. Sudah lama aku tidak minum anggur, rasanya sangat membuat candu," sanjungnya.


Karena merasa keenakan, Juli tidak sadar kalau dia hampir menghabiskan satu botol anggur sendirian. Dia juga mulai mabuk, kepalanya sudah terasa berat, itu karena kadar toleransinya dengan alkohol masih sangat rendah, jadi Juli mudah sekali mabuk.


Di sisi lain, Lusi sedang berusaha untuk membuat Zen dan Julia dekat. Wanita itu menyuruh Zen dan Julia mengobrol berdua di meja yang berbeda dengan keluarga, mereka juga dipesankan khusus minuman penutup yang sebenarnya itu adalah minuman yang sudah diberikan sesuatu, seperti obat perangsang.

__ADS_1


Diam-diam Lusi terus memperhatikan mereka, dia berharap reaksi obat yang diberikan pada minuman segera terjadi. Dan benar saja, dimulai dari Julia yang pamit ke toilet karena merasa tidak enak dengan perutnya. Lusi yakin itu hanya sebuah alasan, dia akan masuk ke dalam kamar. Ini adalah waktu yang ditunggu-tunggu, Lusi sudah melakukan kerja sama dengan salah satu pegawai hotel untuk mengarahkan Julia ke kamar nomer 99 yang mana kamar itu dipesan oleh Zen.


Saat berjalan sempoyongan di lorong, disitulah pegawai suruhan Lusi bereaksi, dia mengarahkan ke kamar nomer 99. Karena merasa sangat pusing Julia menurut saja, dia tidak curiga sama sekali. Sesampainya di kamar pun dia langsung berbaring di kasur dan tidak mencari keberadaan Juli, saudara kembarnya.


Tidak lama setelah itu, Zen yang masih di ruang pertemuan juga pamit masuk ke kamar lebih dulu karena merasa tidak enak dengan badannya.


Saat awal berjalan semuanya masih baik-baik saja, tapi semakin lama kepalanya semakin terasa berat dan dia merasa kalau badannya mengeluarkan reaksi yang aneh, seakan gairahnya bergejolak. Dengan susah payah Zen terus berjalan menyusuri lorong sambil berusaha untuk mencari nomer kamar pesanannya.


"Ah, kenapa nomer 99 tidak ada," gerutunya sambil memegangi kepala. Dia juga kesal karena tidak menemukan kamar yang dicari, padahal Zen merasa sudah berjalan sangat jauh.


Tubuh Zen semakin tidak kuat, dia berusaha berjalan dengan badan yang menempel pada pinggiran tembok. Sampai akhirnya dia melihat nomer kamar, tetapi Zen salah, yang dia lihat itu angka 99 tapi sebenarnya itu angka 66. Laki-laki itu tidak fokus dan tidak bisa membedakannya karena kepala dan pengelihatannya semakin memburuk, akhirnya dia buru-buru masuk ke kamar yang dia yakini itu kamar nomer 99. Pintu kamar nomer 66 itu tidak tertutup sempurna, sehingga Zen dengan mudah masuk meskipun kartu kamarnya salah dan dia hanya asal tempel kartu.


Saat sudah masuk ke dalam, Zen melihat Juli sedang duduk di tepi ranjang sambil memegang sebotol anggur. Melihat hal itu membuat gairah Zen semakin memanas, buru-buru Zen mendekati wanita itu.


Karena sama-sama tidak sadar, semuanya terjadi begitu saja. Mereka berdua saling menumpahkan gairah masing-masing, bahkan setiap gerakan yang mereka lakukan terasa sangat panas seakan mereka berdua sudah memendam hastrat itu sejak lama.


Baik Zen dan juga Juli sangat menikmatinya, tetapi mereka sama-sama tidak sadar dengan apa yang terjadi. Malam itu benar-benar menjadi petaka bagi mereka berdua, entah bagaimana mereka menghadapi situasi ini besok. Padahal rencana Lusi bukan seperti ini, dia menginginkan kalau Zen tidur dengan Julia.


"Aah!"

__ADS_1


"Aah!" Suara-suara syahdu malam itu terdengar di dalam kamar mereka.


__ADS_2