Duda Perjaka Salah Kamar

Duda Perjaka Salah Kamar
Kemarahan Bakhtiar


__ADS_3

Sekali lagi, Zen menggebrak meja kerjanya, laki-laki itu marah besar. Dia tidak menyangka kalau kelakuan ibu tirinya semakin menjadi saja, kurang apa lagi selama ini dia tetap diam dan menuruti setiap perintahnya. Tetapi dia tidak puas saja menghancurkan kehidupannya, Zen sudah muak dengan semua ini.


"Kurang ajar! Aku sudah muak dengan semua ini!" teriak Zen sambil menyingkirkan semua dokumen yang ada di atas meja kerjanya.


Napas laki-laki itu terlihat naik turun, tanda amarahnya sudah sangat memuncak, dia merasa kalau tidak sanggup lagi menghadapi perilaku licik yang dilakukan oleh ibu tirinya. Selama ini Zen sudah mencoba sabar, tapi kali ini benar-benar sudah keterlaluan.


"Arrkhh!" teriak Zen sekali lagi sambil mengacak rambutnya frustasi.


Kemudian laki-laki itu masuk ke dalam kamar di ruang kerjanya, Zen lebih memilih untuk tidur sejenak untuk melupakan kejadian ini. Karena tidak ada gunanya juga dia marah-marah dan melabrak Lusi karena pada akhirnya nanti wanita itu akan berbohong untuk menutupi kejahatannya, dan hal itu selalu saja berjalan dengan mulus. Berakhir dengan dirinya yang tersisih karena ayahya lebih membela Lusi daripada dirinya, wanita itu benar-benar licik.


Zen merebahkan tubuhnya di atas kasur, laki-laki itu menatap langit-lagit kamar yang terasa sangat kosong. Seperti kehidupannya sekarang kosong, bedanya adalah ada masalah dalam kehidupannya. Zen berangan, andai saja ibu kandungnya masih hidup mungkin saja kehidupannya tidak akan seperti ini.


Ternyata gambaran ibu tiri yang pernah dia tonton dalam sinetron benar adanya, meskipun tidak semua ibu tiri seperti itu tapi nyatanya Zen mendapatkan ibu tiri yang licik. "Sampai kapan aku terus seperti ini?" gumamnya.


Perlahan Zen mulai memejamkan mata, dia ingin melupakan sejenak semua masalahnya. Sekarang yang dia butuhkan adalah berpikir dengan tenang, dia tidak boleh gegabah dalam mengambil keputusan nantinya. Karena Zen yakin kalau masalah ini akan terus berlanjut, apalagi ini ada kaitannya dengan keluarga Bakhtiar. Zen baru tahu kalau wanita yang tidur dengannya adalah adik dari Julia yang akan berjodoh dengan dirinya, setelah ini pasti akan ada masalah yang semakin besar.


"Lebih baik aku tidur dulu saja."


Sementara itu, asisten pribadi Zen sedang sibuk membereskan dokumen-dokumen yang tadi diberantakkan, pemuda itu melakukannya dengan senang hati. Dia tidak pernah mengeluh dengan pekerjaannya, dia selalu patuh dengan Zen. Karena baginya Zen adalah penolong, dia memiliki hutang besar pada Zen.

__ADS_1


Asistennya juga merasa sangat prihatin dengan apa yang dialami oleh Zen, dia sudah sering kali melihat atasannya itu menderita karena ulah dari ibu tirinya. Itu sebabnya pemuda itu tetap bertahan dengan Zen meskipun terkadang sikapnya sangat kejam, karena Zen kerap kali kesepian dan hanya asistennya yang selalu ada untuknya.


* * *


Di tempat lain, Juli masih menangis, kali ini Julia sudah ada bersamanya. Dia merasa sangat terkejut dengan hal yang menimpa kepada Juli, dia juga tidak sadar kalau semalam tidak tidur dengan Juli tapi sendirian. Julia merasa sangat bersalah kepada Juli karena salah masuk kamar, dia juga tidak sadar kalau masuk ke kamar yang salah.


"Aku sangat takut, Lia," ucap Juli sambil memeluk erat kembarannya itu. Air matanya juga terus saja keluar membasahi pipinya.


"Tenanglah. Sebentar lagi Ayah dan ibu akan datang, semua akan baik-baik saja." Julia berusaha menenangkan, meskipun dirinya sendiri merasa terguncang. Dia tahu kalau panik, Juli akan semakin ikut panik, itu akan sangat tidak baik.


Tubuh Juli terus saja bergetar, dia masih sangat takut, semua ini seperti mimpi buruk yang menjadi kenyataan bagi dirinya. Andai saja kemarin malam dia tidak minum lebih dulu, mungkin dia akan bisa menghadang Zen untuk tidak melakukan hal itu kepadanya, tapi sayangnya kesadarannya juga tidak stabil, itu sebabnya dia tidak bisa berbuat apa pun.


Tangisan Juli semakin menjadi saat Rosida memeluk dirinya, Juli merasa sangat malu tapi dia sangat ingin mendapatkan perlindungan dari seluruh keluarganya.


"Bagaimana ini bisa terjadi, ceritakan semuanya, Nak." Rosida berusaha tegar dan ingin mendengar hal yang terjadi. Dia tidak akan membiarkan orang yang melakukan ini kepada putrinya bebas begitu saja.


"Iya, Nak. Katakan siapa yang melakukan ini?" Bakhtiar menyahut. Pria paruh baya itu juga merasa geram, apalagi melihat bekas-bekas merah akibat cumbuang dan lebam akibat cengkraman kuat yang tertinggal dibadan Juli.


Meskipun tidak terlalu ingat betul dengan kejadian malam itu, tapi Juli tahu kalau yang melakukan semua ini adalah Zen. Calon dari Julia, dia juga merasa tidak enak mengatakan hal ini karena akan merusak hubungan yang baru saja akan dibangun antar keluarga. Tetapi, bagaimanapun Juli tetap harus menceritakan semuanya karena ini menyangkut harga dirinya.

__ADS_1


Semua orang sangat terkejut dengan apa yang diceritakan oleh Juli, mereka sangat tidak menyangka kalau yang melakukan hal buruk kepada Juli adalah Zen. Bakhtiar tidak terima dengan semua itu, dia merasa dikhianati.


Pria paruh baya itu langsung menghubungi Sanjaya, tidak mengulur waktu lagi karena ini menyangkut kehormatan putrinya. Rosida dan Julia juga masih belum bisa mempercayai semua ini, tapi nyatanya semuanya benar.


Juli sendiri masih belum bisa mengendalikan diri, wanita itu terus saja menangis. Jiwanya masih terguncang, entah apakah dia bisa mengembalikan kepecayaan dirinya lagi.


"Kamu tenang saja, ayah akan memberikan pembelajaran pada keluarga Sanjaya," ucap Bakhtiar untuk menenangkan Juli. Dia juga masih berusaha untuk menghubungi Sanjaya, pria itu lama menjawab telfonnya. Hal itu semakin membuat Bakhtiar kesal.


Sekitar lima kali Bakhtiar mencoba menghubungi Sanjaya, akhirnya panggilan keenam barulah telfonnya diangkat.


"Halo? Tumben pagi-pagi sudah menelfon." Sapaan itu lebih dulu dilontarkan oleh Sanjaya dari seberang sana. Dari nada bicaranya pria itu sepertinya tidak mengetahui apa pun.


"Jangan banyak omong! Kita harus bertemu sekarang juga, bawa putramu juga," balas Bakhtiar dengan sangat ketus.


Sanjaya yang mendengar hal itu merasa terkejut, pria yang saat ini sedang bersantai di mansion dengan istrinya itu seketika langsung menjadi serius. "Ada apa? Kenapa kamu terdengar sangat marah seperti itu?" tanya Sanjaya.


"Kau akan mengetahui jawabannya. Cepat datang ke rumahku dengan membawa putramu!" jawab Bakhtiar dengan penuh penekanan.


Detik itu juga sambungan telfon langsung terputus, Bakhtiar tidak ingin terlalu banyak bas-basi ditelfon. Dia ingin semuanya diselesaikan secara langsung, dia juga ingin melihat bagaimana respon dari keluarga Sanjaya.

__ADS_1


"Sekarang kita pulang. Kamu tenang saja, semuanya akan baik-baim saja. Keluarga Sanjaya harus bertanggung jawab dengan semua hal yang telah dilakukan oleh putranya," ucap Bakhtiar dengan penuh amarah.


__ADS_2