
Haris Handorsen baru saja mendengar kabar kalau mata-matanya sudah ketahuan oleh Zen, mereka semua dikirim ke penjara. Laki-laki itu sangat marah karena rencananya gagal lagi untuk menghancurkan Zen.
"Arrkkhh!" teriak Haris sambil membanting laptop miliknya.
Laki-laki itu memang memiliki tempramen yang kuat, dia cenderung akan menghancurkan barang-barang disekitarnya jika sudah marah dan kecewa akan hal yang sedang dikerjakan. Seperti hari ini, dia lagi-lagi gagal untuk membobol server perusahaan Zen dan pesuruhnya juga ketahuan.
Selama ini Haris memang memiliki dendam pribadi dengan Zen sejak lama, dari lama juga dia berusaha untuk meruntuhkan perusahaan Zen. Tapi sampai sekarang usahanya belum berhasil juga, padahal Haris sudah melakukan banyak hal untuk bisa merusak server perusahaan Zen.
Sekarang ini dendam Haris semakin bertambah karena dia juga baru tahu kalau Zen sudah menikah, dan yang dinikahinya itu adalah wanita yang Haris cintai. Bisa dikatakan Juli adalah cinta pertama Haris, dia tidak bisa menerima hal itu. Haris heran kenapa Zen selalu saja beruntung dan merampas semua yang menjadi impiannya.
"Kenapa harus Zen, kenapa? Kenapa dia selalu saja beruntung," geram Haris dengan sorot mata merah karena marah.
Hari ini Haris tidak terlalu marah karena gagal membobol sever perusahaan Zen, sekarang dia lebih marah karena tidak bisa memiliki Juli. Haris masih ingin mendapatkan cinta pertamanya itu, dia masih tidak terima karena Haris yang harus memilikinya. Karena masalah ini, Haris kembali mengenang masa lalunya saat pertama bertemu dengan Juli.
"Dasar culun!" Kalimat itu ditujukan kepada Haris kecil yang saat ini terduduk di tanah sambil memegangi lututnya yang berdarah.
Tiga orang pembuly itu hampir setiap hari mengganggu Haris saat jam pulang sekolah, mereka selalu memaksa mengambil uang yang dimiliki Haris karena mereka tahu kalau orang tua Haris selalu memberikan uang saku yang banyak.
"Sini tas kamu." Salah satu dari mereka melepas paksa tas gendong Haris, kemudian mereka mengobrak-abrik isinya, mereka menjatuhkannya sembarangan.
"Hari ini aku nggak ada uang sisa," ucap Haris lemas sambil menahan tangis karena lututnya terasa sangat perih.
"Alah, jangan bohong kamu. Di mana kamu menyimpan uangnya, disaku, ya?" tebak dari salah satu mereka. Kemudian dengan cepat mereka langsung merogoh setiap saku baju sekolah Haris.
"Sudah kubilang hari ini uangku tidak sisa." Haris berusaha meninggikan suaranya untuk membela diri. Dia sudah lelah menghadapi pembulian seperti ini, setiap pulang sekolah dirinya selalu merasa tidak aman. Padahal Haris sudah pernah melaporkan perbuatan teman-temannya itu, mereka sudah diberikan hukuman, tapi tetap tidak ada kapoknya. Entah sampai kapan Haris harus menghadapi ini semua.
__ADS_1
Ketua dari mereka bertiga tidak terima dengan jawaban Haris, dia pun menginjak lutut Haris yang terluka. Haris pun menjerit kesakitan, tapi sekeras apa pun teriakannya tidak akan ada yang mendengar dan akan menolongnya karena dia selalu dibawa ke gang sepi.
"Lepaskan! Itu sangat sakitttt, tolong!" teriak Haris dengan penuh kesakitan. Dia tidak bisa menahan lagi air mata yang sejak tadi dia tahan, biarlah dia terlihat sangat lemah.
"Ini adalah balasan yang pantas karena kamu tidak memberikan jatah uang pada kami! Sekarang rasakan sakit ini!" tekan si perundung itu dengan semakin menekan kakinya pada lutut Haris.
Bersamaan dengan itu jeritan Haris semakin kuat saja, dia sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakitnya.
Tiba-tiba saja suara sirena mobil polisi terdengar, sontak saja hal itu membuat para perundung ketakutan. Mereka semua panik dan pada akhirnya meninggalkan Haris sendirian dengan rasa sakitnya.
Haris sendiri merasa sangat lega karena mereka semua sudah pergi, meskipun Haris tidak bisa berdiri tapi setidaknya luka yang ada dilututnya tidak diinjak lagi karena itu sangat menyiksanya. Tangisan anak laki-laki itu semakin pecah, dia sebenarnya sudah tidak tahan dengan perundungan yang dia alami.
"Kamu nggak papa, kan?" Suara kecil itu membuat Haris terkejut dan spontan menghentikan tangisannya.
Haris masih diam, anak laki-laki itu menghapus air matanya. "Terima kasih," ucapnya kemudian.
"Oh, lihat lukamu semakin parah. Kita harus mengobatinya sekarang, apa kamu bisa berdiri?"
Haris mulai mencoba berdiri, dia bisa tapi sedikit bersusah payah. Melihat hal Haris sedikit kesulitan, gadis kecil itu mengatakan agar Haris diam sebentar di sana dan menunggunya kembali.
"Kamu mau ke mana?" tanya Haris.
"Tunggu saja. Aku akan segera kembali," jawab gadis kecil itu sambil berlari kecil meninggalkan Haris.
Pada akhirnya Haris duduk di batu yang ada di pinggiran gang, sebenarnya dia merasa ragu kalau gadis kecil itu akan kembali. Tapi dia tetap akan menunggu, dia masih belum mengetahui namanya.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu, gadis kecil itu kembali dengan membawa plester. "Maaf karena membuatmu menunggu. Aku pergi untuk membeli ini," ucap gadis kecil itu sambil mengangkat plester yang dia beli. "Aku akan membantu memasangkannya ke lukamu."
"Tidak perlu, aku bisa memasangnya sendiri," tolak Haris karena merasa tidak enak.
"Tidak masalah. Aku akan memasangkannya untukmu."
Pada akhirnya Haris menurut, dia terus memperhatikan ketelatenan gadis kecil itu saat memasangkan plester ke lukanya. Haris sampai tidak mengingat rasa sakitnya saat dipasangkan plester.
"Nah, sudah selesai. Lain kali kalo kamu diganggu lawan aja, jangan takut sama mereka. Jika kamu terus takut, mereka malah akan semakin sok kuat, lawan saja mereka. Oke?" celoteh gadis kecil itu sambil mengacungkan jempol pada Haris. Dia bermaksud untuk memberi semangat pada anak laki-laki itu.
"Iya, terima kasih. Jika tidak ada kamu tadi, entah apa yang akan mereka lakukan kepadaku."
"Makanya lain kali kamu harus melawan, tadi aku hanya kebetulan saja lewat. Jika tidak ada aku? Mereka pasti akan berbuat hal yang lebih lagi."
"Omong-omong siapa nama kamu?"
"Aku? Aku Juli. Sepertinya aku harus kembali sekarang, kamu bisa pulang sendiri, kan? Karena aku tidak bisa mengantarmu."
"Iya aku bisa sendiri. Sekali lagi terima kasih untuk hari ini, Juli."
"Sama-sama."
Dihari itulah Haris benar-benar kagum dengan sosok Juli, dia langsung jatuh cinta kepadanya. Haris juga selalu mencari tahu tentang Juli meskipun mereka sama sekali tidak bisa bertemu kembali.
Setelah penantian beberapa tahun, akhirnya Haris ingin mengungkapkan perasaanya kepada Juli, tapi wanita yang dia cintai itu malah sudah menikah dengan musuhnya sendiri. Padahal Haris sudah sangat siap untuk melamar Juli.
__ADS_1