
Jika semua orang berlomba-lomba ingin mendapatkan Julia, berbeda dengan Haris. Baginya, perempuan yang ada di dalam hatinya tetaplah Juli Bakhtiar seorang. Tidak ada yang bisa menandingi pesona Juli di mata Haris. Menurut Haris, walaupun Julia berparas cantik tapi Juli lebih menarik. Bukan berarti Julia tidak menarik. Namun namanya jatuh cinta juga tidak bisa diganggu gugat lagi.
Haris masih kebingungan mencari cara. Kali ini dia kembali mencoba membobol data-data milik perusahaan Sanjaya. Sayang sekali, usaha Haris kembali gagal untuk ke sekian kalinya. Meski Haris sudah mengerahkan segala kemampuannya untuk melakukan apa pun yang dia bisa, tapi semesta sepertinya memang tidak berpihak padanya dari awal. Meski sudah begini, Haris tetap tidak mau tinggal diam, dia masih ingin melakukan cara lain untuk melancarkan aksinya.
"Arghk!" Haris berteriak kencang sekali seraya meremas rambut pendeknya yang ditata rapi.
Demi melancarkan aksinya, Haris mencoba memutar otaknya. Dia berpikir keras, barangkali ada hal yang bisa dia lakukan. Di saat Haris memikirkan cara untuk melangsungkan balas dendamnya, dia tiba-tiba teringat bahwa Zen memiliki adik tiri perempuan. Sebelah sudut bibir Haris tersungging ke atas. Menampilkan sebuah senyuman misterius yang belum dimengerti.
"Sepertinya aku ada cara lain." Haris yakin, ini ide yang sangat tepat.
Tanpa pikir panjang, Haris mengambil kunci mobilnya dan pergi ke tempat di mana dia bisa memulai aksi balas dendamnya dengan cara lain.
"Tidak ada rotan, akar pun jadi," ucapnya lirih.
Mobil yang dikendarai Haris telah tiba di sekitar kampus terkenal yang dia yakini kalau adik tirinya Zen itu berkuliah di sana. Dari info yang Haris dapat, Jenny, gadis dengan nama lengkap Jenny Yuiz Sanjaya, putri satu-satunya dari Agung Sanjaya, memang kuliah di Harnus University. Bukan hal aneh bagi Haris, namanya putri dari orang kaya. Wajar saja kalau Jenny dikuliahkan di kampus swasta yang cukup populer di kalangan anak muda dan para alumni.
Haris menunggu Jenny di dalam mobilnya, tak jauh dari gerbang Harnus. Dia juga sudah memiliki beberapa foto Jenny untuk memastikan parasnya. Cukup lama Haris berdiam diri di mobilnya dalam kondisi mati. Hawa panas tentu saja menyerang dirinya. Bagi Haris, ini sebuah perjuangan demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
Kedua mata Haris tiba-tiba melotot saat dia melihat Jenny sedang bersama beberapa temannya sedang menikmati kopi di taman bagian depan kampus. Haris meyakinkan dirinya kalau dia bisa melakukannya. Dia turun dari mobil dan berjalan ke arah Jenny duduk. Sebelumnya, Haris juga sudah membeli kopi di pedagang kaki lima.
Jenny sedang asik bercanda bersama teman-temannya. Sampai tak lama, Jenny menjerit kencang ketika dia merasa pahanya terkena air panas. Saat mendongakkan kepala, Jenny melihat ada seorang lelaki gagah berwajah tampan.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak sengaja." Haris memasang tampang memelas.
Haris memang sengaja berjalan dengan tangan kanannya memegang ponsel dan tangan kirinya memegang cup kopi. Posisi itu membuat Jenny beranggapan kalau Haris memang tidak sengaja dan terlalu fokus pada ponselnya. Padahal, apa yang dilakukan Haris itu memang sengaja semua, supaya dia bisa mendekati Jenny.
"Kamu ini bagaimana sih? Kamu tahu nggak? Paha aku rasanya kayak melepuh tahu." Jenny benar-benar marah akan apa yang dilakukan Haris barusan.
Untuk kedua kalinya Haris meminta maaf. "Aku bakal ganti deh, lebih baik kamu ikut aku sekarang. Kita berobat dan ... biar aku ganti rok kamu yang basah di toko terkenal di depan, di Bulken Fashion."
Haris berharap Jenny akan mengikutinya dengan mudah.
Jenny menatap teman-temannya, mencoba memastikan kalau sepertinya pergi bersama laki-laki yang baru dia temui itu tidak akan terjadi apa-apa. Semua teman-temannya Jenny menyerahkan segala keputusan di tangan Jenny. Sementara Haris, dia masih memaksa Jenny supaya mau ikut dengannya.
"Kamu jangan sembarangan kalau mau ganti rugi ya, rok yang aku pakai ini harganya mahal dan limited edition. Pokoknya aku bakal tuntut kamu kalau sampai barang yang kamu kasih buat ganti rugi itu nominalnya lebih kecil dari harga rok ini." Jenny malah jadi terang-terangan membahas mengenai harga.
Haris tentu saja tidak masalah kalau dia harus mengeluarkan uang banyak. Asalkan apa yang Haris inginkan terwujud. Jadi semua ini akan dia anggap investasi untuk hasil yang lebih dari ini.
"Kamu nggak usah khawatir, aku pasti bakal beliin yang lebih bagus dari rok kamu, Kamu tahu kan butik Bulken Fashion?" Haris mengembangkan senyumnya ke arah Jenny.
Jenny yang memang awalnya sempat terpesona oleh sosok Haris, dia mau saja diajak Haris pergi. Jenny beranggapan kalau dia bisa mendapatkan Haris. Apalagi setelah Jenny lihat-lihat, sepertinya Haris ini memang orang dari kalangan atas.
"Ya udah, ayo. Aku mau." Jenny mengiyakan ajakan Haris.
__ADS_1
Jenny sudah berjalan lebih dulu. Dia akan pergi mendahului Haris tapi tangannya dicegah oleh Haris. "Biar tidak kelihatan kotor." Haris melepas jaketnya dan memakaikan jaket itu ke pinggangnya Jenny supaya noda kopi di bagian depan tidak terlihat.
Tangan Jenny bergerak ke arah dada kirinya. Jantungnya berdegup kencang tak keruan. Jenny merasa dirinya jatuh cinta pada pandangan pertama.
Haris benar-benar membawa Jenny ke sebuah butik terkenal yang memiliki barang dengan super mahal. Jenny tentu tahu akan butik yang dia datangi ini, tapi dia belum pernah masuk ke dalam butiknya, karena butik Bulken Fashion, adalah butik terbaik dari keluarga Underground.
"Ini seriusan kita ke sini?" tanya Jenny terkagum-kagum.
"Iya, aku serius. Sekarang kamu bebas boleh pilih rok, celana atau dress yang kamu mau sebagai tanda ganti rugi atas kopi yang tidak sengaja aku tumpahkan tadi. Kamu nggak perlu mikirin soal harga, aku pasti akan bayar." Haris sengaja memanjakan Jenny untuk mendapatkan hati perempuan itu.
Dari info yang Haris dapatkan, Jenny itu memang menyukai pria kaya dan tampan. Kebetulan Haris memiliki dua kriteria yang dicari oleh Jenny. Kalau sudah begitu, tentu saja Haris tidak akan menyia-nyiakannya.
"Oh iya, kita belum kenalan. Nama kamu siapa? Kalau aku, Haris." Haris mengulurkan tangannya ke arah Jenny, berharap Jenny akan langsung menerimanya.
"Kenalin, namaku Jenny." Nada bicara Jenny berubah menjadi sangat lembut saat bicara dengan Haris barusan.
Haris mengangguk-anggukkan kepalanya paham. Dia merasa, usahanya kali ini berhasil. Nyatanya, Jenny sudah tidak ketus seperti saat Haris belum mengajak Jenny ke butik ini tadi.
"Nama kamu cantik ya, kayak orangnya."
Gombalan lama keluar dari mulut Haris. Namun walau sudah gombalan versi lama, Jenny tetap masih klepek-klepek mendapat gombalan seperti itu dari Haris. Sungguh di luar dugaan. Tadinya Haris pikir, mendekati Jenny akan sulit. Ternyata sangat mudah.
__ADS_1