Duda Perjaka Salah Kamar

Duda Perjaka Salah Kamar
Tipu Muslihat Ibu Tiri


__ADS_3

Keluarga Bahktiar meminta undur diri lebih dulu karena mereka harus mengantar keluarga jauh ke bandara. Keluarga Bakhtiar merasa tidak enak kalau harus membiarkan mereka ke bandara sendiri tanpa diantar. Kini, di meja makan restoran hotel hanya tersisa keluarga inti Sanjaya beserta Juli.


"Apakah tidak sebaiknya kalian tinggal di mansion saja mulai hari ini? Kalian 'kan sudah menikah, jadi alangkah lebih baiknya Juli berada di bawah pengawasan keluarga Sanjaya." Ibu tirinya Zen memberi usul mengenai di mana Zen dan Juli harus tinggal setelah pesta pernikahan berlangsung kemarin.


Zen yang memang sudah menyelesaikan sarapannya, dia mengelap bibirnya dengan kain lap yang disediakan di setiap sajian. Zen menatap ibu tirinya dengan senyuman sinis, sedangkan Juli tetap diam. Pandangan Zen beralih ke arah Juli yang malah menundukkan kepala saat dia tatap.


Bagaimana mungkin aku mau tinggal di mansion. Apalagi dia ini perempuan yang lemah. Batin Zen sambil menatap Juli yang duduk tepat di sampingnya.


Zen mengalihkan pandangannya lagi ke arah ibu tirinya. Perempuan setengah baya itu masih tersenyum ke arahnya, tapi Zen yakin kalau itu bukan senyuman tulus.


"Iya benar kata Ibumu, lebih baik kalian tinggal di mansion bersama kami. Lagi pula, kita belum tahu tentang kehidupan Juli lebih banyak 'kan?" Kali ini ayahnya Zen yang angkat bicara. Tentu saja dia lebih mendukung istrinya dibanding putranya sendiri.


"Tidak usah, kami tidak akan tinggal di mansion." Zen menolaknya mentah-mentah.


Juli melirik ke arah Zen. Dia tidak menyangka kalau Zen akan menolak permintaan orang tuanya, karena Juli tidak pernah membantah orangtuanya, dia anak yang baik dan patuh.


"Justru karena kami sudah menikah, lebih baik kami tinggal terpisah dari orang tua supaya tidak ada yang ikut campur dengan hubungan rumah tangga kami." Zen memberikan alasan yang sebenarnya masuk akal, tapi tidak untuk ibu tirinya.

__ADS_1


Zen berdiri, dia pamit untuk pergi lebih dulu. Zen juga mengajak Juli supaya mengikutinya. Acara sarapan berakhir sampai di sana karena sang pemeran utama telah meninggalkan restoran dan tidak ingin berurusan dengan ibu tirinya lebih lama lagi.


***


Belum ada dua hari Juli dan Zen resmi menjadi suami istri. Bahkan belum ada lima jam mereka berada di tempat tinggal mereka sendiri, tiba-tiba Zen mendapatkan telepon dari ayahnya untuk ke mansion sekarang. Mulanya Zen menolak, tapi Juli memaksa. Hingga mau tak mau, Zen pun menuruti apa kata mereka.


Di sinilah Zen dan Juli berada sekarang. Di mansion keluarga Sanjaya. Zen dan Juli mendapat kabar kalau ibu tirinya jatuh sakit. Bahkan barusan, saat sepasang pengantin baru itu tiba, Juli melihat ibu tirinya jatuh pingsan. Dengan panik, Juli membantu adik iparnya menggendong ibu tirinya Zen ke kamar. Seorang dokter juga didatangkan ke rumah dan mengatakan kalau ibu tirinya Zen hanya kelelahan seusai acara pernikahan.


Juli duduk di samping ibu mertua tirinya. Dia juga memijat kaki ibu tirinya Zen. Juli merasa kasihan, dia benar-benar tidak tega melihat kondisi ibu tiri dari suaminya terbaring sakit.


"Juli, Ibu harap kamu mau ya tinggal di mansion bersama kami," pinta ibu tirinya Zen.


"Zen, turuti saja apa kata ibumu. Kamu tidak kasihan? Dia sampai pingsan memikirkan kalian." Ayahnya Zen mendesak menyuruh Zen mengiyakan apa yang diminta ibu tirinya.


Zen mendesah pelan. Dia tahu, pasti ini hanya akal-akalan ibu tirinya saja. Tidak mungkin ibu tirinya itu meminta ini itu tanpa maksud dan tujuan.


"Juli, kamu mau 'kan tinggal di sini bersama kami? Memangnya kamu tidak kasihan melihat kami yang sudah tua ini?" Ibu mertua tirinya Juli kembali merayu supaya Juli mengiyakan apa yang dia minta.

__ADS_1


Zen menatap Juli, dia menggelengkan kepalanya beberapa kali. Memberi isyarat kepada Juli supaya istrinya itu menolak permintaan ibu tirinya untuk tidak tinggal di mansion. Sementara ibu tirinya Zen kembali memohon kepada Juli dengan wajah melasnya. Posisi ini membuat Juli bingung. Di satu sisi dia ingin menuruti apa yang dikatakan Zen sebagai suaminya, tapi di sisi lain Juli juga ingin menjadi menantu yang berbakti kepada kedua mertuanya selama mereka masih ada di dunia. Juli hanya tidak ingin memiliki penyesalan di kemudian hari karena mengabaikan ini.


"Juli, kamu tidak kasihan kepada Ibu? Apa yang Ibu inginkan tidaklah sulit. Ibu hanya ingin kalian tinggal di sini menemani kami." Satu desakan kembali Juli dengar dari mulut ibu tirinya Zen.


Ibu tirinya Zen sengaja, dia memanfaatkan kebaikan dan ketulusan hati Juli supaya mau menuruti apa keinginannya. Sementara Juli, dia masih memikirkannya.


"Kalau memang itu mau Ibu, aku sama Zen akan tinggal di sini mulai sekarang. Aku akan menjadi menantu yang berbakti ke Ibu sama Ayah." Juli mengiyakan permintaan ibu mertua tirinya untuk tinggal di mansion bersama mereka.


Kedua mata Zen terbelalak mendengar apa yang dikatakan Juli. Baru saja tadi pagi dia menolak permintaan ibu tirinya untuk tinggal di mansion, tapi sekarang Juli malah mengiyakan permintaan gila itu. Benar sekali, Zen menganggap itu sebuah permintaan gila karena Zen yakin betul bahwa ibu tirinya memiliki rencana yang mengerikan untuk kemudian hari.


"Terima kasih ya, Jul. Kamu memang menantu yang baik. Beruntung sekali Zen bisa memiliki istri seperti kamu," puji ibu tirinya Zen kepada Juli yang sudah berhasil dia tipu dengan rayuannya.


Juli menganggukkan kepala. Dia berharap kalau ini bukan keputusan yang salah. Zen juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Juli yang sudah menyetujuinya. Andai saja tadi Juli lebih memilih mendengarkannya, mereka tidak akan berada di dalam situasi yang seperti ini.


"Zen, kamu lihat 'kan? Juli mau tinggal di mansion, jadi tidak ada alasan lagi untuk ke luar dari mansion." Ayahnya Zen menepuk-nepuk bahu putra sulungnya dengan senang.


Zen tetap diam. Di dalam hatinya, dia merutuki pilihan Juli yang membuatnya tidak nyaman tinggal di mansion.

__ADS_1


"Juli, Ibu ingin makan apel. Apa kamu mau mengupaskannya untuk Ibu?"


Juli menganggukkan kepalanya. Dia seketika mengambil apel dan pisau yang tersedia di atas nakas samping ranjang tidur di kamar utama. Diiringi senyuman, Juli dengan tulus mengupaskan apel untuk ibu mertua tirinya. Sementara Zen, dia memilih meninggalkan mereka berdua di kamar. Baru saja Juli mengiyakan untuk tinggal di mansion, ibu tirinya sudah berulah. Zen yakin, keesokan harinya dan seterusnya pasti ibu tirinya akan membuat masalah yang lebih dari ini. Hanya saja, Zen tidak bisa lagi mengajak Juli ke luar. Semuanya sudah terlanjur disetujui.


__ADS_2