
"Sekali lagi aku peringatkan jangan menyuruh istriku untuk mengerjakan pekerjaan rumah!" Zen kembali mengulangi ucapannya.
Lusi hanya terdiam, wanita itu tidak bisa membela diri karena Zen tidak akan mempercayainya meskipun beralasan apa pun. Dalam hati dia merasa sangat kesal karena Juli mendapatkan pembelaan dari Zen, Lusi kesal kenapa Zen harus datang diwaktu yang tidak tepat. Padahal setelah ini Lusi berencana ingin memberikan pekerjaan tambahan untuk Juli.
"Di mansion ada banyak pembantu. Apa kamu tidak puas dengan pekerjaan mereka sampai menyuruh istriku untuk mengelap kaca?" Amarah Zen benar-benar memuncak, dia sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh ibu tirinya.
Sementara itu, Juli merasa sangat senang karena mendapatkan pembelaan dari Zen. Entah kenapa momen itu menjadi hal yang hangat baginya, Juli merasa tidak sendiri lagi disaat seperti ini, dia juga sudah merasa sangat lelah setelah melakukan banyak pekerjaan.
Juli sama sekali tidak memalingkan wajahnya dari Zen, dia merasa sangat kagum dengan laki-laki yang menikahinya dengan terpaksa itu. Ternyata Zen tidak sedingin itu, dia bisa membela dan membela Juli juga. Tanpa sadar Juli tersenyum, entah itu senyum karena mendapatkan pembelaan atau karena hal lainnya.
Setelah puas mengomel pada ibu tirinya, Zen kemudian menggandeng tangan Juli untuk dibawa masuk ke dalam. Langkahnya begitu cepat sampai Juli kesulitan untuk menyamainya, tapi setidaknya sekarang dia bisa terbebas dari perintah Lusi.
Melihat itu Lusi hanya bisa mengumpat dalam hati, wanita itu merasa sangat marah dengan apa yang dikatakan oleh Zen. Seakan tadi harga dirinya sebagai ibu hilang, Lusi tidak akan terima hal itu lagi, dia pasti akan membalasnya nanti. Bukan hanya balasan untuk Zen tapi untuk Juli, karena kejadian hari ini Lusi malah lebih ingin memberikan Juli banyak pekerjaan rumah.
"Awas aja kamu Juli. Kamu akan tersiksa selama tinggal di rumah Sanjaya ini," gumam Lusi dengan penuh emosi terpendam.
Zen dan Juli baru saja masuk ke dalam kamar. Barulah Zen melepaskan gandengannya pada tangan Juli, laki-laki itu sedikit mengatur napasnya agar emosinya juga ikut stabil, dia juga sedikit melonggarkan dasi dilehernya.
__ADS_1
"Jika dia menyuruhmu untuk melakukan pekerjaan rumah lagi cepat katakan kepadaku. Aku akan memarahinya, enak saja dia menyuruhmu. Di rumah ini tidak kekurangan pembantu sampai kamu harus ikut bekerja juga," tutur Zen sambi membalikkan badan menghadap Juli.
Wanita itu sedikit menundukkan kepalanya, lebih tepatnya dia canggung untung bertatapan langsung dengan Zen. Entah kenapa setiap kali dia lebih dekat dengan Zen selalu ada getaran aneh yang timbul, Juli mengira itu karena dia takut kepada Zen karena raut wajah suaminya itu selalu saja terlihat tegas dan dingin.
"Kalau aku bisa menghubungimu pasti aku lakukan," balas Juli pada akhirnya.
"Apa tadi dia menyuruhmu banyak hal?" Zen masih berusaha bertanya. Dia hanya ingin memastikan apa saja yang telah dilakukan oleh ibu tiri yang tidak punya adab itu.
"Aku hanya ...." Juli ragu untuk mengatakan semuanya.
"Katakan saja, tidak perlu ragu," ucap Zen seolah tahu keraguan Juli. Itu terlihat jelas dari raut wajah wanita itu.
Mendengar hal itu membuat Zen semakin geram, dia tidak menyangka kalau pekerjaan yang telah dilakukan Juli sebanyak itu, Lusi benar-benar keterlaluan.
"Kurang ajar. Berani sekali dia menyuruhmu banyak hal," geram Zen, "kalau begitu sekarang kamu bersihkan diri dan istirahatlah. Aku yakin kamu sangat lelah."
"Iya. Terima kasih karena kamu sudah membelaku tadi."
__ADS_1
"Ya, ya. Ah, jangan pernah lakukan lagi jika dia memerintahkanmu, ingat itu."
Juli hanya menanggapinya dengan anggukan ringan, kemudian dia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sementara itu, Zen merebahkan dirinya di sofa. Dia dengan Juli memang tidak berbagi kasur, Zen mengalah dan tidur di sofa. Karena mereka sudah sepakat tidak akan saling menyentuh, kecuali memang tidak sengaja dan terpaksa.
Zen merasa sedikit lelah hari ini karena masalah di kantor, saat pulang dia ingin ketenangan. Tetapi, yang dia dapatkan malah hal yang mengejutkan seperti ini. Zen merasa sangat bersalah dengan Juli, wanita itu harus melakukan pekerjaan rumah yang seharusnya tidak dilakukannya. Lusi memang kelewat jahat kepada Juli, hanya karena dia tidak jadi mendapatkan Julia sebagai menantu dia membalaskannnya kepada Juli.
Setelah menikah dengan Juli, baru hari ini dia bicara banyak degan Juli. Selama ini mereka hanya saling diam, apalagi saat berada di kamar, mereka hampir tidak pernah berbicara. Namun meskipun begitu, Zen tetap memperhatikan Juli.
Saat malam, Zen juga sering sekali memperhatikan Juli diam-diam, terkadang ada rasa bersalah yang terus menyelimuti hatinya saat melihat wajah polos Juli yang tertidur.
Terkadang Zen merasa sangat kasihan karena Juli terlihat berbeda dengan Julia, yang dia ketahui mereka sangat berbeda. Jika Julia terlihat banyak bakat dan dicintai banyak orang, berbeda dengan Juli yang jarang sekali tersorot oleh kamera. Bahkan yang Zen lihat dia mendapatkan perlakuan berbeda dari orang tuanya, itu sebabnya Zen berusaha tetap berbuat baik kepada Juli meskipun pernikahan mereka hanya keterpaksaan.
Padahal pemikiran Zen itu sangat salah, dalam keluarga Bakhtiar sama sekali tidak ada yang membedakan anak-anaknya, semua disama ratakan. Bahkan Juli selalu menjadi anak bungsu yang selalu dimanjakan dan dijaga dengan baik, hanya saja itu tidak terlalu terlihat karena Juli memang tidak ingin memperlihatkannya. Juli sendiri terkadang sampai malu karena terlalu disayang seperti anak kecil, padahal disudah dewasa.
Namun sekarang, Juli merindukan semua kasih sayang dari semua orang. Sekarang dia harus melewati kehidupan yang sedikit keras, Juli sendiri masih belum ingin memberitahu masalah ini kepada orang tuanya karena takut mereka akan khawatir. Cukup Julia saja yang mengetahui hal ini, setidaknya Juli masih memiliki orang yang bisa mendengar keluh kesahnya.
__ADS_1
Karena rasa kasihan itulah, Zen memberikan fasilitas yang lengkap untuk Juli. Dia memberikan kartu debit untuk kebutuhan belanja Juli, Zen tidak ingin istrinya kekurangan apa pun dan bisa bersenang-senang dengan bebas. Padahal Juli sebenarnya juga tidak membutuhkan hal itu, dia bisa membiayai kehidupannya sendiri. Tetapi untuk saat ini Zen masih belum mengetahui hal itu, itu sebabnya Juli menerima saja kartu itu meskipun tidak digunakan apa pun.
Setelah kejadian hari ini, rasa bersalahnya kepada Juli semakin meningkat. Zen merasa sangat gagal menjadi seorang suami yang bisa menjaga istrinya, setelah ini dia ingin lebih bisa melindungi Juli. Dia tidak ingin sampai melihat wanita itu menangis dan tersiksa di rumah Sanjaya.