
Juli baru saja pulang setelah puas menghabiskan waktu bersama Julia, dia merasa sangat senang hari ini karena ditraktir banyak oleh saudara kembarnya itu. Tetapi, saat dia baru saja turun dari mobil, suasana hatinya berubah lagi setelah melihat mansion besar keluarga Sanjaya. Seperti ada rasa trauma untuk masuk ke dalam, tapi bagaimanapun dia tetap harus masuk.
"Kamu kuat Juli," monolognya untuk menyemangati diri. Kemudian, barulah Juli masuk ke dalam dengan waspada, dia harap tidak berpapasan dengan siapa pun dan bisa langsung masuk kamar.
Juli merasa lega karena di ruang tamu tidak ada siap pun, dia pun buru-buru naik ke tangga. Tetapi, baru menginjak beberapa anak tangga, langkahnya itu harus terhenti.
"Dari mana aja kamu? Seharian nggak di rumah, pulang-pulang langsung mau masuk kamar?" Teguran itu berasal dari ibu mertuanya, Lusi.
Juli menghembuskan napasnya pelan, kemudian dia berbalik. "Maaf, Bu. Tadi aku hanya ber---"
"Ah, terserah kamu mau ngomong apa. Aku nggak mau denger penjelasan kamu," sela Lusi dengan cepat. Wanita itu tidak membiarkan Juli menyelesaikan kalimatnya. "Kamu nggak tahu apa, kalau di rumah itu banyak kerjaan. Sebagai menantu kamu seharusnya melakukannya, bukan malah asik keluyuran!"
"Maaf, Bu. Setelah ini akan aku kerjakan semuanya," jawab Juli. Lagi-lagi dia tidak berani membantah, meskipun dalam hati rasanya ingin sekali menolak.
"Nggak usah ditunda lagi. Sekarang kamu cuci piring sana, piring udah numpuk tuh. Setelah itu, kamu juga cuci pakaian anak-anak saya yang wangi, awas aja kalo nggak wangi," perintah Lusi seenaknya. Wanita itu berkacak pinggang dengan penuh keangkuhan, dia merasa senang karena bisa membentak Juli dan menyuruh apa pun yang dia inginkan.
Dengan kerendahan hatinya, Juli pun mulai melakukan pekerjaan yang diperintahkan oleh mertuanya. Daripada dia terus mendapat omelan, lebih baik dia menurut dan mengerjakan semuanya. Lagipula pekerjaan rumah seperti itu sudah biasa baginya, saat masih di rumah dulu Juli juga mandiri meskipun ada pembantu.
Juli berjalan ke dapur dan mulai mencuci piring kotor yang ada di wastafel, entah apa saja yang dimakan oleh orang rumah sampai banyak sekali piring kotor. Dan sepertinya Lusi memang sengaja tidak memperbolehkan pembantu untuk mencuci piring-piring itu karena memang ingin Juli yang melakukannya.
Lusi terus memperhatikan pekerjaan yang dilakukan oleh Juli, tak jarang wanita itu mengomel saat Juli melakukan kesalahan kecil yang seharusnya itu biasa saja, tapi Lusi terlalu berlebihan. Kesabaran Juli benar-benar diuji mendapatkan ibu mertua seperti Lusi, rasanya telinganya sudah lelah mendengarkan omelan wanita itu.
__ADS_1
"Sekarang pel lantai rumah sampai kinclong!" perintah Lusi dengan lantang.
Juli yang baru saja selesai memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci mengira kalau tugasnya sudah selesai, tapi masih ada lagi. Wanita itu hanya bisa menghembuskan napas jengah, tapi tetap melakukan pekerjaan yang diperintahkan.
Sementara itu, Lusi malah enak-enakan santai di ruang tengah sambil membaca majalah. Dia tidak ingin meninggalkan Juli bekerja tanpa pengawasannya, karena dia takut Juli malah kabur dari pekerjaannya.
Setelah selesai mengepel pasti ada lagi perintahnya. Kuharap ini yang terakhir, aku sudah lelah. Batin Juli.
Wanita itu terus mengepel sambil menggerutu dalam hati, untung saja yang dipel hanya lantai bawah. Juli tidak bisa membayangkan jika dia disuruh mengepel seluruh lantai mansion besar itu.
"Aku sudah selesai mengepel, Bu. Boleh aku masuk kamar sekarang?" izin Juli pada Lusi yang saat ini sedang terkantuk saat membaca majalah.
Lusi terkejut dengan hal itu, wanita itu berusaha menyadarkan dirinya lebih dulu. "Apa kamu bilang, istirahat ke kamar? Tidak, tidak, masih ada pekerjaan lagi yang harus kamu kerjakan," tolak Lusi dengan tegas.
"Kamu lap jendela depan. Yang bersih, sana cepat!" jawab Lusi dengan bentakan. Wanita itu seakan masih belum puas membuat Juli melakukan banyak hal, padahal dia bisa menyuruh pembantu untuk melakukan pekerjaan rumah.
Juli yang tidak ingin berdebat langsung menjelankan perintah, dia harap setelah ini pekerjaanya benar-benar selesai. Wanita itu mulai membersihkan kaca bagian dalam dulu sebelum bagian luar.
Bersamaan dengan itu Zen juga baru saja datang, hari ini dia pulang lebih awal setelah menyelesaikan masalah kantornya. Dia ingin istirahat lebih cepat karena besok masih banyak yang harus diurus, tapi langkah laki-laki itu terhenti saat melihat Juli dari luar.
"Apa yang sedang dia lakukan?" Zen bertanya-taya pada dirinya sendiri. Dia masih memperhatikan Juli dari luar, sampai akhirnya dia menyadari kalau istrinya itu sedang mengelap kaca jendela.
__ADS_1
Saat itu juga Zen merasa tidak senang, dia memang tidak menyukai Juli dan pernikahan mereka juga karena keterpaksaan, tapi dia tidak suka jika Juli harus melakukan pekerjaan rumah.
"Aku yakin wanita tua itu yang menyuruh Juli melakukan pekerjaan rumah," geram Zen. Kemudian laki-laki itu mengambil vas bunga yang ada di atas meja teras rumah, lalu membantingnya dengan kuat.
Mendengar suara gaduh itu membuat Juli terkejut, wanita itu langsung menyudahi aktivitasnya dan keluar dari rumah untuk melihat apa yang terjadi. Bukan hanya Juli yang terkejut, Lusi yang berada di dalam juga langsung berjalan cepat keluar rumah.
"Juli, apa yang kamu lakukan? Suara pecah apa itu? Kamu tidak memecahkan kaca jendela, kan?" teriaknya dari dalam.
Sementara itu, Juli terkejut saat melihat kalau Zen sudah berada di luar dengan raut wajah marah. "Ada apa? Kamu yang memecahkan vas bunga ini?" tanyanya.
Zen tidak menjawab, laki-laki itu hanya menatap Juli dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
Zen langsung menarik lengan Juli dan memposisikan istrinya itu di sampingnya. Hal itu membuat Juli sedikit ketakutan, apakah Zen marah kepadanya atau ada hal lainnya. Juli sendiri tidak berani bertanya, karena melihat Zen yang terlihat sangat marah, alhasil dia hanya diam saja sambil menatap suaminya itu.
Zen sendiri hanya menatap lurus ke depan pada pintu rumah, dia menunggu kedatangan ibu tirinya. Dan benar saja, tidak lama setelah itu Lusi keluar.
"Apa yang ka---" Ucapan wanita paruh baya itu tidak sampai selesai karena melihat keberadaan Zen.
"Kamu yang menyuruh istriku untuk memberishkan kaca?" tanya Zen dengan nada bicara yang sangat dingin. Sorot matanya sudah sangat menegaskan kalau dia tidak menyukai hal itu.
Lusi seketika tidak bisa menjawab, dia bingung harus mengalihkan pertanyaan itu seperti apa. Lusi tidak mengira kalau Zen hari ini pulang lebih awal.
__ADS_1
"Aku peringatkan kepadamu jangan lakukan hal ini kepada istriku!" tekan Zen dengan tatapan penuh kebencian.