
Zen memijat pelan pelipisnya. Kepalanya berdenyut tak keruan. Rasanya hampir pecah memikirkan pekerjaan dan ditambah melihat Juli begitu lemah menghadapi ibu tirinya di mansion. Zen juga melihat Juli disuruh ini dan itu oleh Luci. Terlebih lagi, Juli mau saja melakukan apa pun yang mereka suruh.
"Aku harus apa?" Zen bertanya kepada dirinya sendiri.
Pandangan Zen berpindah kepada Juli yang datang dari dapur. Istrinya itu baru saja mengupas buah-buahan yang diminta Luci. Sebelum Juli mendudukkan pantatnya di atas sofa dan bergabung dengan anggota keluarga lainnya, Zen sudah lebih dulu menarik pergelangan tangan Juli. Lelaki itu membawa istrinya ke kamar mereka. Juli jadi bingung akan apa yang dilakukan oleh Zen.
"Kamu ini apa-apaan sih?" Juli protes akan perlakuan Zen yang menurutnya sangat kasar.
Juli melihat pergelangan tangannya memerah akibat perbuatan Zen. Sementara Zen sama sekali tidak merasa bersalah atas tindakan yang dia lakukan barusan.
"Kemasi semua barang-barang kamu, dan kita pindah sekarang juga!" Zen memberi perintah kepada Juli. "Jangan banyak tanya, lakukan saja apa yang aku perintahkan." Zen mencegah apa yang akan dikatakan oleh Juli sebelum perempuan itu membuka suara.
Meski bertanya-tanya, Juli tetap melakukan apa yang dikatakan oleh Zen. Begitu pula dengan Zen sendiri. Lelaki itu sibuk memasukkan semua barang-barangnya ke dalam kopernya. Zen sudah tidak tahan berada di mansion bersama keluarganya.
"Jangan sampai ada yang tertinggal. Kalau sampai ada yang tertinggal, aku tidak akan mau mengambilkannya untuk kamu." Zen kembali memberi peringatan kepada Juli supaya tidak membuat kesalahan saat berkemas.
"Lebih cepat lagi." Zen membantu Juli memindahkan pakaiannya dari lemari ke koper.
Saat semua barang sudah dipastikan masuk ke dalam koper, Zen menarik tangan Juli. Lelaki itu berniat mengajak Juli pindah malam ini juga.
"Kita nggak pamit?" tanya Juli berbisik di samping telinga Zen.
__ADS_1
Sesampainya di depan ruang keluarga, Zen mengajak Juli berhenti sejenak. Semua mata memandang ke arah Zen dan Juli. Terlebih lagi ayahnya Zen. Agung yang mulanya sedang fokus menonton siaran televisi, kini beralih memandangi putra pertamanya.
"Kamu mau ke mana?" Agung melontarkan pertanyaan yang sudah bisa ditebak.
"Papa lihat 'kan? Aku bawa koper, jadi sudah jelas kalau aku bakal bawa Juli pindah dari sini." Zen menjawab tanpa takut.
Agung berdiri, dia mendekati putra dan menantunya yang sama sekali tidak berniat mendekati Agung atau keluarga yang lainnya. Luci pun ikut berdiri, mendampingi suaminya yang ingin berbicara dengan Zen.
"Apa kamu bilang? Pindah? Mau pindah ke mana kamu? Jangan seenaknya kamu meninggalkan mansion ini begitu saja!" Agung terpancing emosi.
Zen tidak takut meski dia sudah mendengar ayahnya membentaknya begitu kencang. Berbeda dengan Juli, sebagai menantu dan orang baru, jelas saja dia ketakutan mendengar suara teriakan Agung yang begitu menggelegar memenuhi seluruh ruangan yang ada di mansion.
"Papa nggak akan membiarkan kamu dan Juli pindah dari sini. Kalian harus tetap tinggal di sini bersama kami!" Agung tidak menerima penolakan.
"Kalau kamu berani meninggalkan mansion, Papa tidak akan segan-segan untuk menurunkan jabatan kamu." Agung memberi ancaman.
Juli yang mendengar ancaman dari Agung, dia seketika menghentikan gerak langkahnya. Membuat Zen ikut berhenti. Juli tidak sampai hati untuk melihat Zen kehilangan posisinya yang sekarang hanya demi dirinya. Juli bukannya tidak tahu karena apa Zen melakukan ini. Tentu saja karena Zen tidak suka melihatnya disuruh oleh Luci dan Jenny untuk melakukan ini dan itu.
"Perlu kamu ingat Zen, pemimpin dan pemilik perusahaan itu tetaplah Papa. Jabatan kamu di perusahaan hanyalah seorang CEO. Papa adalah Ownernya, bebas memecat kamu kapan saja dan menggantikan posisimu dengan siapa saja." Agung mengancam putranya, berharap Zen akan takut dan mengurungkan niatnya.
Semua yang ada di ruang keluarga kaget mendengar perkataan Agung. Namun tidak dengan Zen. Dia sudah bisa menduga kalau papanya akan melakukan ini kepadanya. Zen hanya bisa terkekeh.
__ADS_1
Juli semakin tidak tega saja untuk meninggalkan mansion. "Lebih baik kita di sini saja.”
"Kamu tidak dengar apa Juli? Dia bilang kalau lebih baik, kalian di sini saja. Lagi pula, kamu sudah lupa permintaan Mamamu? Mama bilang, dia sudah tua dan ingin hidup bersama kalian." Agung mencoba menahan.
Zen tertawa sinis mendengar permintaan dari ayahnya. Sungguh, Zen sama sekali tidak termakan oleh perkataan Agung maupun Luci.
Luci yang mendengar ancaman Agung, dia malah berharap kalau Zen akan tetap meninggalkan mansion. Dengan begitu, Luci jadi memiliki peluang untuk menghasut Agung supaya suaminya itu mau memberikan posisi CEO kepada Lucas.
Zen membalikkan tubuhnya. Dia menatap ke arah papanya. Agung merasa dirinya menang, tapi dia belum tahu apa yang akan dilakukan oleh Zen setelahnya.
"Terserah Papa, aku tidak takut dengan ancaman yang Papa berikan," kata Zen dengan entengnya. Zen yakin, Agung pasti tidak bisa berkutik kalau dia nanti mengatakan yang sebenarnya.
Agung yang mulanya sempat senang, kini raut wajahnya berubah sangat marah. Juli juga tidak mengira bahwa Zen tidak memiliki rasa takut sama sekali. Malah sekarang ini, Juli yang ketakutan. Dia takut kalau Agung akan melakukan hal buruk setelah ini karena Zen tidak mendengarkan apa kata papanya. Tangan Juli bahkan sampai bergetar dan itu bisa dirasakan Zen selama lelaki itu menggenggamnya.
"Namun asal Papa tahu, saham Ibuku ada 50% dan aku sendiri memiliki saham 15% dari saham yang dijual Tante Luci dulu. Papa juga harus tahu, 50% saham Ibuku itu resmi menjadi milikku." Zen melemparkan senjata untuk mengancam ayahnya balik.
Agung tercengang mendengar bahwa saham yang dimiliki Zen di perusahaan itu sebesar 65% jika ditotal. Tidak hanya itu, Agung juga kaget kalau ternyata Luci pernah menjual saham sebanyak itu.
Luci yang mulanya senang mendengar bahwa Zen tetap akan meninggalkan mansion, kini berubah total. Tidak pernah menduga kalau ternyata yang membeli saham yang dia jual itu adalah Zen. Hal yang paling membuat Luci geram lagi, Zen membocorkan hal ini di depan Agung.
"Jadi, aku tidak peduli kalau Papa mau menurunkan jabatanku." Zen kembali bersuara.
__ADS_1
Tanpa banyak kata, Zen langsung menarik Juli dan kedua koper mereka. Zen benar-benar pergi meninggalkan mansion dan keluarganya. Bagi Zen, ini pilihan terbaik daripada dia harus melihat Juli disuruh-suruh terus oleh ibu tiri dan adik tirinya yang sama sekali tidak tahu diri.
Suasana di ruang keluarga masih tegang. Luci tidak berani mendekati suaminya. Luci yakin, pasti Agung sudah berpikir yang bukan-bukan mengenai dirinya.