Duda Perjaka Salah Kamar

Duda Perjaka Salah Kamar
Perjodohan Tidak Boleh Batal!


__ADS_3

Sanjaya yang baru saja menerima telfon dari Bakhtiar masih belum paham dengan apa yang sebenarnya terjadi, dia penasaran kenapa Bakhtiar terdengar sangat marah dalam telfon tadi. Berulang kali dia menekankan kalau Zen harus ikut datang nanti, Sanjaya takut kalau ada kesalahan yang dilakukan oleh Zen.


"Jadi sekarang kita harus datang ke rumah Bakhtiar?" tanya Lusi yang duduk di sebelah Sanjaya. Sebenarnya wanita itu sudah menduga kalau hal ini akan terjadi, karena rencana yang dia susun di awal terjadi juga.


"Iya, kita harus datang dengan Zen juga. Entah apa yang dilakukan oleh anak itu, Bakhtiar terdengar sangat marah tadi." Sanjaya menghembuskan napasnya, kemudian dia berusaha untuk menghubungi Zen.


Dia tidak ingin menunda lagi untuk bertemu dengan Baktiar, Sanjaya tidak ingin kalau masalahnya akan bertambah besar. Untung saja Zen langsung mengangkat telfon darinya, Sanjaya secara langsung menegaskan untuk ikut dirinya ke rumah keluarga Bakhtiar.


Zen sendiri tidak menolak, karena dia yakin kalau hal ini akan terjadi juga. Zen juga berharap kalau masalah ini segera diselesaikan dan dirinya juga bisa bebas dari rasa bersalah, bagaimanapun dia di sini sebagai orang yang terjebak sekaligus bersalah juga.


* * *


Keluarga Sanjaya baru saja sampai dikediaman Bakhtiar, Sanjaya lebih dulu turun dari mobil kemudian disusul dengan Zen yang turun dari mobilnya sendiri, karena mereka menaiki mobil masing-masing.


"Ayo cepat," perintah Sanjaya. Raut wajah pria paruh baya itu terlihat sangat serius, meskipun belum tahu kesalahan apa yang sebenarnya dilakukan oleh Zen, tapi Sanjaya sudah merasa sangat kesal. Dia berharap masalah ini tidak berdampak pada perjodohan Zen dengan Julia.


Lusi juga berpura-pura cemas, tetapi Zen sejak awal sudah menatap sinis ibu tirinya itu. Ingin rasanya dia mengumpat dan mengomelinya, tapi Zen sudah terlalu malas dengan hal itu.


Mereka semua dipersilahkan masuk ke dalam rumah, di ruang tamu mereka semua tampak sangat tegang. Terutama Sanjaya, dia merasa tidak sabar mendengar apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


Tidak lama setelah itu, Bakhtiar keluar dengan istrinya, di belakang mereka juga ada kedua anak kembarnya. Raut wajah mereka semua sudah tidak enak, bahkan terkesan sangat marah.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Sanjaya saat Bakhtiar sudah duduk di sofa.


Tidak langsung menjawab, Bakhtiar lebih dulu menatap tajam ke arah Zen. "Tanyakan saja pada putramu itu. Perbuatan memalukan seperti apa yang baru saja dia lakukan," jawabnya kemudian.


Sanjaya langsung menoleh pada Zen, dia menyenggol lengan putranya itu sebagai tanda permintaan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Zen diam saja, dia terlalu malas untuk menjelaskan. Apalagi itu hal yang sangat memalukan bagi dirinya, dia sangat ingin sekali membongkar semuanya kalau dalang di balik semua kejadian ini adalah Lusi, tapi Zen tidak memiliki bukti apa pun.


"Dia tidak akan menjawab, katakan saja secara langsung. Jika terus seperti ini aku akan bingung apa yang sebenarnya terjadi," ujar Sanjaya.


Bakhtiar menghembuskan napasnya pelan, sebenarnya cerita seperti ini sangat berat baginya. Tapi dia tetap harus menjelaskan agar Sanjaya tahu kesalahan fatal apa yang telah dilakukan oleh putranya kepada putrinya, ini akan sangat mempermalukan harga diri keluarga Bakhtiar. Pria itu menjelaskan secara detail apa yang telah dialami oleh Juli dengan penuh amarah, dia juga terus menatap nyalang pada Zen.


"Jadi, aku ingin kalau perjodohan antara putriku dengan putramu itu batal!" tegas Bakhtiar di akhir penjelasannya.


Mendengar itu membuat Lusi tidak suka, wanita itu langsung menyela, "Tidak bisa seperti itu. Bagaimana bisa perjodohan ini batal? Apa kalian tidak memikirkan jika rumor kita gagal menjadi besan?"


Zen yang berada di sana hanya bisa melirik sekilas pada Lusi, ternyata wanita itu masih sangat menginginkan dirinya menikah dengan anak dari keluarga Bakhtiar. Benar-benar sangat tidak punya malu, padahal Zen juga senang jika perjodohan dibatalkan.


Bakhtiar dan istri saling menatap, mereka memikirkan apa yang dikatakan oleh Lusi memang ada benarnya. Karena berita mengenai perjodohan ini sudah banyak yang mengetahui, jika batal pasti akan ada rumor-rumor yang tidak sedap.

__ADS_1


"Kami memohon maaf dengan sungguh-sungguh atas kesalahan yang dilakukan oleh Zen, kami tahu pasti sangat sulit bagi kalian untuk memaafkannya. Tapi, tolong pikirkan sekali lagi mengenai pembatalan perjodohan ini," pinta Lusi dengan sungguh-sungguh. Entah kenapa wanita itu sangat terobsesi untuk menjadikan Zen menantu dari Bakhtiar. "Bagaimana kalau Zen menikah dengan Juli sebagai bentuk pertanggungjawaban?"


"Itu benar. Lagipula tidak masalah jika bukan Julia yang menjadi menantu kami, Juli juga putri kalian, jadi masih sama-sama keluarga Bakhtiar," sahut Sanjaya. Dia berusaha untuk meyakinkan agar perjodohan ini tidak batal.


Bakhtiar dan Rosida masih diam, melihat kedua putri mereka. Sebenarnya ini situasi yang sangat sulit, mereka tahu kalau pasti ada rasa kecewa dalam hati Julia karena batal menikah, tapi Juli juga memerlukan pertanggungjawban.


"Tanyakan kepada putramu apakah dia mau menikah dengan Juli?" tanya Bakhtiar, "aku tidak ingin nantinya putriku menderita setelah menikah. Aku tidak ingin pernikahan ini didasari dengan rasa kasihan."


Sanjaya menoleh pada Zen, kemudian dia menatap sorot mata putranya itu. Dari situ dia bisa melihat kalau Zen memang masih belum bisa menerima semua ini, tapi Sanjaya yakin kalau seiring berjalannya waktu, semua akan bisa diterima oleh Zen. Karena Sanjaya paham betul kalau hati putrnya itu memang terkadang keras, tapi ada saatnya bisa luluh.


"Aku bisa memastikan kepadamu, kalau Zen mau melakukan perjodohan ini," jawab Sanjaya.


"Baiklah. Zen akan menikah dengan Juli, pernikahan ini akan dilakukan secepat mungkin."


Sementara itu, Zen menatap dua wanita yang saat ini duduk di hadapannya. Dia melihat sorot mata Julia yang terus saja menatapnya, Zen tahu kalau itu tatapan kecewa juga amarah. Mungkin dia sangat marah dengan apa yang terjadi pada Juli, dia juga kecewa karena tidak jadi berjodoh dengan Zen.


Sementara di sebelah Julia, Juli hanya diam saja sambil menundukkan kepalanya. Wanita itu sejak tadi tidak berani menatap Zen, mungkin ada rasa trauma yang tercipta setelah kejadian malam itu. Juli terus saja memilin ujung baju miliknya untuk mengurangi rasa gugupnya.


Melihat hal itu membuat Zen merasa sedikit bersalah, ada rasa penyesalan yang muncul dihati. Kenapa dia harus salah masuk kamar dan berakhir memperkosa Juli. Sekarang dia harus bertanggungjawab dengan cara menikah dengan wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2